BELAJAR DARI KASUS DUBES SAUDI ARABIA

Kalau memang benar bahwa dubes Saudi Arabia  Usama melakukan pelanggaran dan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia, khususnya terkait dengan kasus  banser yang sesungguhnya sudah selesai tersebut, tentu kita, lebih lebih yang anggota nahdliyyin tersinggung dan menyesalkan hal tersebut.  Kenapa seorang duta besar Negara ikut ikutan dalam memberikan komentar buruk kepada  NU dan  semua anggotanya terkait sesuatu yang tidak tepat.  Bukankah  NU dan Ansor sendiri telah melakukan tindakan sebagai sanksi kepada oknum yang membakar bendea yang diduga milik HTI tersebut?

Kurang jelas apanya lagi, namun kenapa seorang Dubes malah seolah ikutan menyalahkan NUnya  yang bahkan dikatakan sebagai sesat, pesis  apa yang selama ini dilakukan oleh  wahabi.  Banyak cerita tentang sikap wahabi yang selalu memusuhi umat NU yang dikatakannya sebagai sesat, musyrik dan sebuatn tidak nyaman lainnya.  Mestinya mereka sadar bahwa jikalau NU itu sesat kenapa umatnya semakin banyak dan melakukan kegiatan yang mendukung aktifitas ke NU an mereka.

Sebagai warga nahdliyin tentu kita smeua akan merasakan  sakitnya jika sudah disentuh persoalan yang dmeikian, karena soal diterima ataukah ditolak amalan kita hanya Allah sendiri yang akan menentukannya, bukan mereka yang mengaku sebagai kaum yang paling benar. Jika mereka benar kenapa lalu memojokkan dan menguliti kaum lainnya, dan bukannya dengan cara yang baiik mengajak ke jalan yang lurus.  Apakah mereka takut bahwa kedok mereka lama lama akan ketahuan sehingga  dengan mencaci dan menganggap sesat kepada pihak lain saja mereka kemudian akan mendapatkan simpati banyak orang.

Mereka salah karena di Indonesia ini persoalan amaliyah sebagaimana yang dijalankan oleh para wali dan pendiri NU adalah amalan yang paling dapat diterima oleh smeua kalangan. Semua yang dijalankan pasti ada dalil dan landasannya, bukan seperti yang mereka dakwakan bahwa semua itu bid’ad dan sesat bahkan dianggap musyrik.  Mengepa mereka tidak melakukan penelitian mendalam untuk memastikan apakah amalan orang nahdliyin tersebuit benar benar sesat ataukah itu hanya beda persepsi saja yang dengan dmeikian masuk dalam ranah khilafiyah semata.

Jika benar apa yang selama ini berkembang di masyarakat bahwa dubes Arab Saudi tersebut ikut campur dalam urusan dalam negeri NU khususnya, sebagimana siaran pers yang sudah disampaikan oleh PBNU, tentu kita semua  mendukung siaran pers tersebut dan jika mampu dilakukan tabayyun  dengan cermat sebaiknya dilakukan agar smeuanya menjadi klir, dan jika benar dan kemudian dubes etrsebut meminta maaf terbuka dan tidak akan mengulangi perbuatannya kembali, maika kita tentu akan memaafkannya.

Namun jika dia tetap besikukuh dengan pendapatnya tersebut, maka secepatnya kita harus melakukan langkah langkah strategis agar persoalan ini tidak menjadi semakin besar dan pasti akan membahayakan kita smeua. Umat nahdliyin itu cukup banyak, tetapi mereka tidak mau sembrono untuk menggelar demo sebagimana umat lainnya. Namun jika sudah jelas persoalannya dan memaksa mereka keluar kandang, pasti akan semakin runyam dan pasti smeua akan menyesalkan kejadian etrsebut.

Sebagaimana kita tahu bahwa  dalam twiternya usamah, duta gesar Saudi Arabia telah menyatakan bahwa  NU sebagai organisasi yang menaungi banser dianggap sebagai organisasi sesat dan  apa yang disamp[aiakn olehnya tersebut sangat menyesatkan karena tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi kemudian dibarengkan dengan berkumpulnya orang orang dalam reuni 212 yang katanya sebagai protes terhadap pembakaran bendera tauhid, padahal sebagaimana kita ketahui juga bahwa bendera tersebut bukan bendera tauhid melainkan bendera HTI yang sudah dilarang di negera kita. Itu sesuai dnegan pernyataan dari polri.

Tentunya sebagai duta besar, Usama seharusnya tidak mencampuri politik di luar kewenangannya, khususnya terkait dnegan NU yang selama ini telah memberikan kontribusi yang besar di negeri ini.  Tentu hal tersebut sangat menyinggung perasaan seluruh warga nahdliyyin yang diangga sebagai organisasi sesat.  Namun pada saat ini  kita juga perlu hati hati. Jangan jangan twiter tersebut bukan milik dubes atau mungkin dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab, atau memang benar miliknya, karena dia termasuk wahabi yang selalu memusuhi NU dan kesempatan tersbeut dimanfaatkannya untuk  lebih memberikan citra buruk kepada NU.

Untuk itu sekali lagi kita harus melakukan tabayyun untuk masalah ini agar smeunay menjadi jelas dan sikap kita pun juga jelas arahnya, apakah kita akan melakukan upaya tertentu untuk  meminta kepada raja Abar Saudi untuk menarik dubesnya dan digantikan oleh sosok yang lain atau sikap lain yang tentu juga  tetap beradab.

Dengan kejadiana tersebut, sesungguhnya kita dapat mengambil pelajaran terhadap kasus tersebut sehingga akan semakin membuat kita  bijak dalam menyampaikan apapun pernyataan, baik secara lisan maupun tulisan, khususnya yang menyangkut penilaian kita terhadap pihak lain.  Jika  smeua itu benar, artinya   menganggap sesat kepada NU itu memang merupakan pernyataan Usama, maka itu perlu dicabut dan meminta maaf.  Dari aspek pernyataan itu swendiri dapat kita nilai bahwa pernyataan itu  bagai pedang dan dapat melukai siapapun.

Karena itu dalam setiap kita mengeluarkan pernyataan seharusnya dipikir terlebih dahulu, apakah nantinya akan menimbulkan raksi dan merugikan diri sendiri ataukah tidak.  Jangan sampai kita mengeluarkan pernyataan yang menyinggung pihak lain dan kemudian pihak lain tersebut bereaksi karena ketersinggungan tersebut yang dapat mengakibatkan putusnya hubungan atau memburuknya hubunagn yang sudah terbangund engan baik atau dapat menimbulkan kerusuhan dan lainnya.

Sekali lagi apapun yang kita sampaikan baik secara lisan maupun tulisan memang harus dipikirkan terlebih dahulu, sehingga tidak akan mengakibatkan  reaksi yang justru akan merugikan kepada diri sendiri. Apa yang disampaikan oleh usama tentu merupakan tindakan yang tidak bijak, karena  telah mencampuri urusan  diluar kewenangannya sebagai dubes dan  tentu  menimbulkan reaksi keras karena telah menyinggung persoalan yang sangat sensitive masyarakat NU.

Seharusnya seorang yang dipercaya menjadi petugas di Negara lain  akan tetap menjaga hubungan baik dengan smeua pihak, terutama dengan masyarakat di negera tersebut, karena dengan sikap yang baik tersebut pasti akan mendukung tugas tugasnya sebagai duta besar.  Salah satu yang dapat memberikan kepercayaan terhadapnya ilah jika dia selalu berushaa untuk melakukan hubungan yang baik dengan smeua pihak, dan bukan menciptakan  situasi yang pasti akan memperburuk situasi dan hubungan.

Kita masih berharap bahwa  pihak kedubes Arab Saudi  akan mampu menjelaskan duduk peroalannya  dan  akan lebih nyaman jika memang twiter tersebut bukan milik Usama dan bukan dia yang menulisnya. Namun jika dia terus diam seribu bahasa tentu kita dapat menebak bahwa dialah memang yang telah menulis twitannya tersebut, dan karena itu sikap kita memang mendukung apa yang sudah disampaikan oleh ketua umum PBNU sebagaimana disiarkan secara langsung atau melalui tulisan yang disebarkan ekpada sleuruh pengurus NU di seluruh Indonesia.

Tentu kita juga harus tidak mudah emosi dengan melakukan reaaksi keras, padahal belum tabayyun.  Ada kemungkinann bahwa yang dimaksud Usama ialah oknum banser yang menyimpang, atau dapat dikatakan sesat tersebut, dan bukan oraganisasinya, apalagi NU nya.  Nah, kalua maksudnya itu berarti PBNU terlalu tergesa sebelum tabayyun lalu sudah bereksi keras, yang hanya akan merusak hubungan baik yang selama ini sudah terjalin saja.

Hal yang paling pentiong ialah bagaimana kita mampu mengambil hikmah dari kejadian tersebut, agar ke depan l;angkah kita tidak akan menemui kesulitan dan kita akan selalu menjalin hubungan baik dengan semua pihak, dimanapun kita berada dan bekerja, smeoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.