MARI KITA URI URI PROGRAM STUDI AGAMA

Terkadang kita memang  sangat heran, kenapa di perguruan tinggi Islam, program studi agama justru malah langka peminat. Bahkan lebih heran lagi ketika menyaksikan bahwa  kebanyakan lulusan dari madrasah Aliyah justru malah lebih memilih program studi sciens dan teknologi, ketimbang program studi agama.  Semakin terbelalak lagi ketika kita mendapati bahwa para lulusan MA tersbeut ternyata sama sekali tidak mempunyai penguasaan materi keagamaan yang cukup, bahkan ada sebagiannya yang membaca kitab suci alquran saja kedodoran.

Ini tentu sangat memperihatinkan kita semua, karena pendidikan yang diharapkan akan mampu mengantarkan mereka menjadi insan yang berpengetahuan luas, ternyata malah gagal membekali mereka dengan dasar dasarnya saja.  Kita memang menyadari bahwa kebanykan masyarakat kita saat menjalani studi orientasinya kepada pekerjaan masa depannya, bukan semata mata ingin mendapatkan ilmupengetahuan yang  dalam. Jqdilah mereka lebih memilih prodi prodi yang dianggap akan emmberikan masa depan yang lebih baik.

Piliha tersebut sesungguhnya tidak salah, karena setiap orang meang harus mampu merencanakan hidupnya di masa mendatang.  Namun kebanyakan mereka lupa bahwa  masa depan itu bukan ditentukan oleh jurusan atau pengetahuan ap[a yang ditekuni, melainkan seberapa dalam  mereka mendapatkan dan menguasai ilmu pengetahuan etrsebut.  Kita harus percaya bahwa  Allah swt telah menjajikan bahwa siapapun yang  berioman dengan benar dan  diberikan ilmu pengetahuan yang banyak, pastilah akan diangkat derajatnya.

Kenyataan tersebut saat ini banyak dilupakan  atau mungkin tidak lagi dipercaya oleh masyarakat muslim sendiri, sehingga mereka lebih memilih jalan tersendiri, meskipun terkadang harus melalui jalan yang berliku dan tidak benar.  Orang lebih memilih jurusan tertentu, meskipun bukan  yang diingini oleh hati nuraninya, sehingga  pada saat proses studinya jauh ketinggalan, karena semuanya serba terpaksa.  Akibat lebih lanjutnya ialah pada saat nanti sudah selesai, mereka tidak mampu menguasai ilmu yang menjadi kajiannya.

Itulah mengapa saat ini kita dapat menyaksikan betapa jurusan agama dalam perguruan tinggi islam, sangat sepi peminat,  padahal seharusnya  para lulusan MA akan berebut untuk mendapatkan kursi kuliah di jurusan agama tersebut, yakni untuk lebih memperdalam ilmunya dan  pengethuan lainnya sehingga pemahamannya terhadap agama, khususnya terkait dengan  dua dasar islam, yakni alquran dan hadis akan semakin mantap dan sesuai dengan harapan semua orang.

Bahkan pada saat ada keberpihakan pemerintah dalam menghidupkan jurusan agama tersbeut dengan meberikan bea siswa sekalipun, juga masih tetap sepi peminat.  Kondisi demikian tentu membuat kita berpikir kembali untuk bagaimana caranya  mampu menghidupkan kembali minat masyarakat untuk menekuni bidang agama ini.  Tidak ada jalan lain harus di[ikirkan bersama dengan semua komponen pendidikan lainnya, khususnya di pendidikan dasar dan menengah yang dikoordinasikan oleh kementerian.

Bagaimana mungkin  dapat melangsungkan kajian agama secara baik dan  detail jika para peminatnya sangat sedikit dan itupun mungkin hanya mereka yang terpaksa memasukinya karebna sudah tidak ditampung di jurusan lainnya.  Seharusnya sejak mereka masih di sekolah dasar dan menengah sudah terarah dan selalu ada keinginan untuk mendalami ilmu agama tersebut, sehingga persiapannya di sekolah menengah sudah  tertanam dan tinggal pengembangannya saja saat mereeka memasuki perguruan tinggi.

Artinya harus ada keseriusan dari kementerian untuk memberikan tekanan kepada  para siswa di madrasah, apakah mereka ingin  mendalami bidang agam ataukah bidang lainnya, sehingga pada saat mereka kelas dua ALiyah sudah dapat dipetakan dan  kemudian dikelompokkan pada  masing masing pemintan, atau akan jauh lebih bagus jika  dihidupkan kembali madrasah aliyah khusus keagamaan sehingga sejak kelas satu sudah dipersiapkan untuk kajian agama tersebut secara lebih detail dan mendalam.

Sementara itu bagi yang berminat dalam bidang lainnya tetap diberikan penekanan  dalam persoalan  bidang tersebut, namun tidak kemudian dilupakan  pendalaman mereka dalam bidang agama.  Dengan begitu kualitas lulusan MA akan jauh lebih terjamin  dan menjanjikan.  Setelah mereka lulus dan ingin melanjutkan kuliah pun juga sudah terarah dan akan semakin menguatkan minatnya dalam bidang yang selama ini sudah ditekuninya.

Jadi kita ingin jurusan dan program studi  ilmu alquran dan tafsir akan semakin banyak dimintai orang. Demikian juga dengan program studi hadis dan dirasah Islamiyah.  Karena prodi dan juruan tersebut akan menjanjikan parab lulusannya untuk menguasi lebih baik terhadap  dasar islam, baik alquran maupu hadis dan juga kajian keislaman lainnya.  Tentu pada prodi tersebut juga akan dikaji secara mendalam juga mengenai ushul fiqh, fiqh dan juga sejarah islam, sehingga pengetahuan keislaman secara umum akan dapat dikuasainya.

Bahkan  para pimpinan perguruan tinggi juga sudah banyak yang mulai bosan dengan prodi keislaman tersebut, dan lebih memilih prodi teknologi dan pengetahuan umum, karena  lebih mudah mendapatkan mahasiswa dan juga dosennya.  Namuh mereka rupanya lupa bahwa justru dengan kondisi yang sepeeti saat ini adalah lahan untuk membuktikan hahwa kita memang masih concern terhadap kajian keislaman dan tetap ingin melestarikannya sampai kapanpun.  Kita menyadari bahwa ilmu ilmu keagamaan tersebutlah yang menjadi kekuatan kita selama ini dan di masa mendatang.

Kalaupun program studi teknologi dan pengetahuan umum kita kembangkan tetapi buan berarti kita harus melupakan apalagi mematikan progi keagamaan kita, karena ada sebagian orang yang beranggapan bahwa ilmu agam tersebut akajn  punah sehingga kita tidak perlu mempertahankannya.  Jika ada diantara umat yang berpendapat demikian, maka saya paling awal dan di depan untuk menentangnya dan sekuat tenaga akan tetap mempertahankan prodi agama etrsebut serta akan berupaya untuk mengembangkannya sedemikian rupa.

Ruh dari perguruan tinggi kita sesungguhnya ialah  prodi keagamaan tersebut, sedanghkan p[rodi umum dan teknologi adalah peranghkat lain yang menjadi pendorong kemajuan. Dengan dmeikian keduanya harus tetap kita uri uri dan kembangkan bersama dengan konsisten tanpa harus embedakan.  Bahkan mungkin kita akan berdosa jika  kita harus mematikan prodi keagamaan tersebut.  Atas dasar itulah k3e depan kita tetap akan  selalu meningkatkan kualitas dan keberadaan prodi keagamaan tersebut, tanpa harus merasakan bosan, meskipun kenyataannya minat masyarat untuk memasukinya menjadi semakin minim.

Bagi kita biarlah sebagian pimpina perguruan tinggi islam lainnya  lebnih memilih mematikan prodi agama tersebut, namun untuk di kita tetap akan terus kita pertahankan dan bahkan kita usahakan kemajuannya  sehingga minat masyarakat akan semakin membaik.  Jika masyarakat tahu tentang kualitas lulusan yang kita hasilkan dan peran mereka di masyarakat secara luas, pasti masyarakat akan mampu melihat dengan jrnih dan akhirnya nanti juga akan tertarik untuk bergabung dengan kita.

Karena itu kita memang harus selalu meningkatkan pelayanan dan kinerja kita, khususnya dalam hal pembelajaran kepada para mahasiswa, serta ketersediaan  refensi yang memadahi serta kemudahan dalam kajian danendapatkan referensi. Kita sangat yakin abhwa tidak semua masyarakat anti terhadap prodi agama tersebut, namun melihat para lulusannya yang tidak mampu berbuat banyak di amsyarakatlah yang menyebabkan minat merka menjadi berkurang.  Semoga usaha kita untuk selalu meningkatkan mutu prodi agama tersbeut akan mebbuahkan hasil di masa mendatang, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.