TETAP KONSISTEN MENJALANKAN KEWAJIBAN

Rasa khawatir dan was was tentu muncul sehubungan dengan  gegap gempitanya persoalan yang  mengarah dan berbau politik. Kita tentu menyadari bahwa tahun ini dan tahun depan adalah tahun politik, sehingga semua aktifitas yang dijalankan selalu saja ada nuansa poltiknya, apalagi kalau kegiatan tersebut  berkenaan  dengan pengerahan massa yang besar.  Kekhawatiran kita tersebut  beralaan karena  kalau semua focus kea rah poltik, maka  kewajiban dan tugas pokok akan terabaikan, setidaknya akan terkurangi sehingga tidak maksimal.

Sebagai  contohnya ialah jika ada  pegawai di lingkungan kita yang aktif mengikuti kegiatan semacam itu dan harus menghabiskan banyak waktu, maka  tugas pokoknya pasti akan terganggu dan merugikan banyak pihak.  Jika karyawan tersebut bukan pegawai negeri, TNI ataup[un polri, mungkin secara aturan tidak dilarang untuk memihak kepada salah satu calon, namun secara etika tentu itu akan berakibat buruk, karena  kewajiban utamanya malah terabaikan dan lebih mementingkan persoalan politik yang hanya sesaat saja.

Memilih dalam percaturan kontestasi itu merupakan hal yang  boleh boleh saja terutama jika memang tidak ada halangan untuk itu. Namun kalau kita mempunyai kewajiban utama yang harus dijalankan, maka  seharusnya kita lebih mengutamakan tugas kita tersebut, sedangkan untuk mendukung calon tertentu dapat dilakukan di luar jam kerja yang sudahnmenjadi kesepakatan kita.  Sekali lagi itu terutama bagi mereka yang memang tidak ada larangan untuk itu. Kalau ada larangan untuk mendukung, seperti keberadaannya sebagai ASN, TNI atau pOLRI, tentu tidak boleh melakukan dukungan secara  terang terangan kepada salah satu calon.

Dunia politik memang  sangat menarik, terutama bagi mereka yang suka dengan itu, sehingga banyak orang yang sesungguhnya tidak mempunyai kepentingan tertentu saja  akan tertarik memasukinya, apalagi kalau kemudian ada tarikan yang didasarkan kepada keyakinan atau agama tertentu.  Padahal semua orang tahu dan membuktikan bahwa tarikan  yang didasarkan kepada agaa tersbeut merupakan  pembohongan karena tidak pernah diupayakan secara nyata oleh mereka yang  kemudian mendapatkan amanah untuk itu.

Namun kenyataannya umat masih terlalu p[olos dan terus mengikuti keinginan beberapa oerang yang mengaku berusaha untuk memperjuangkan kepentingan  umat.  Masyarakat seharusnya l;ebih melek dan cerdas dalam menyikapi semua hal yang berkaitan dengan ajakan untuk mendukung, karena jangan jangan umat hanya dimanfaatkan saja untuk kepetningan mereka dan setelah itu ditinggalkan begitu saja, tanpa  memberikan sedikitpun manfaat bagi masyarakat.  Inilah kenyataan yang semestinya disadari oleh masyarakat secara luas.

Sebaiknya masing masing kita yang tidak terkait langsung dengan masalah polit6ik tersebut, kembali saja kepada habitat yang sesungguhnya.  Para kiyai dan ulama sebaiknya segera kembali ke pesantreen dna umat untuk memberikan pencerhan kepada mereka dan ngaji agar umat menjadi cerdas dan mempunyai pengetahuan.  Demikian juga para tokoh masyarakat yang biasa membina mereka dengan ketekunan dan  kepandaian mereka, sebaiknyajuga kembali membina umat agar mereka benar benar menjadi umat yang berkualitas.

Para guru di madrasah juga sebaiknya kembali saja menekuni  sebagai pendidik di madrasah agar  para murid menjadi pandai dan  bijak dalam menjalani hidupnya kelak kemudian hari seraya tetap memebrikan keteladanan dalam semua aspek kehidupan.  Tentu sel;uruh masyartakat yang tidak berkepentingan secara langsung dengan perpolitikan sebaiknya segera sadar dan kembali kepada tugas masing masing untuk mampu memberikan yang terbaik kepada masyarakat, bukan malah akan menjadi pembicaraan mereka.

Kita tentu berharap bahwa  semua pihak  mau memberikan yang terbaik dalam bidangnyanmasing masing, karena umat sangaat menunggu darma bakti mereka untuk memberikan kesejahteraan kepada umat, baik  dalam hal materi maupun yang terkait dengan pengetahuan. Bagaimana jadinya kalau pada saat menjelang pelaksanaan pemilu misalnya, para  guru atau kiyai dan ustadz serta pegawai seluruhnya sbuk dengan urusan politik, sedangkan kewajiban mereka diabaikan?

Pastinya akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, apalagi kalau kemudian mereka justru mengerahkan anak buahnya semacam muridnya untuk mengikuti ikampanye calon yang didukung.  Secara umum kita sudah emmpunyai aturan seperti dilarang berkampanye di  tempat pendidikan, di tempat ibadah dan lainnya.  Namun dengan menge4rahkan para siswa untuk mengikuti sebuah kampanye, tentu itu lebijh parah ketimbang hanya memberikan ajakan kepada mereka di dalam lingkungan mereka.

Bagaimana jadinya jika  isu politik tersebut kemudian merasuk ke dalam benak para pedagang, sehingga mereka meninggalkan kegiatan perdagangan mereka hanya untuk mendukung calon tertentu saja yang  tentunya  sama sekali tidak ada efek atau pengaruh terhadap diri mereka.  Dapat dipastikan akan mengganggu  banyak pihak, mungkin keluarganya sendiri akan terganggu dengan berkurangnya pendapatan, karena tidak berdagang, mungkin juga para pelanggan yang sudah  ingin membeli daganagannya tetapi tidak ada.

Memang kebebasan untuk mendukung dan memilih itu menjadi hak masiong masing orang dan kalau tidak ada halangan, mereka boleh melakukan apapun terkait dengan dukung mendukung, namun sebaiknya dipikuirkan ulang tentang  manfaat dan mafsadatnya secara akal sehat.  Sebab banyak pihak yang menjawab bahwa dengan mendukung salah satu calon, maka pasti ada manfaat yang didapatkan, yang besarnya melebihi aktifitas rutinnya.  Jawaban tersbeut tentu sangat relative, karena tidak mungkin semua sama, bahkan ada yang pasti merugi.

Sudah barang tentu tidak ada tekanan atau perintah untuk tidak mendukung siapapun, karena itu merupakan pilihan masing masing orang. Hanya saja kita hanya mengingatkan bahwa apapun yang kita lakukan jika ada manfaatnya, sebaiknya dilakukan, tetapi jika tidak ada manfaatnya, sebnaiknya kita tinggalkan.  Nah, persoalannnya ialah jika ada manfaat yang lebih besar, sejharusnya  kita tetap konsisten dengan menjalankan kewajiban yang memberikan manfaat yang lebih besar tersebut denganukuran akal sehat.

Bagi yang berkeinginan untuk mendukung salah satu calon dipersilahkan mendukungnya dengan cara yang baik dan sebaiknya memang tidak mengorbankan kewajiban kita sendiri.  Bagi yang tidak ada keinginan untuk terjun ke gelanggang politik karena memang tidak ada keterkaitannya  dan juga masih mempunyai kewajiban yang harus dituntaskan, maka sebaiknya tidak usah diseret seret  atau diganggu untuk ikutan dalam mendukung.  Dalam alam demokrasi seperti saat ini sebaiknya masing masing orang tidak harus merasakan keterpaksaan, baik untuk mendukung ataupun untuk tidak mendukung.

Hanya saja  perlu diperhatikan  secara serius bahwa bagi mereka yang ada aturan khusus untuk tidak melakukan aktifitas mendukung, sebaiknya  menyadari dengan seksama bahwa jika melakukan pelanggaran, pasti akan ada sanksi hokum yang akan diterapkan secara tegas.  Bagi mereka yang suka nekat dan melakukan pelanggaran, sebaiknya segera menghentikannya, karena justru kalau nekat tersebut diteruskan, akan mendapatkan  balasan yang terkadang sama sekali tidak diprediksinya.

Karena itu sekali lagi  kita harus  berhati hati dan waspada terhadap semua kemungkinan yang bakal terjadi.  Untuk itu sikap  bijak memang sangat diperlukan dalam menghadapi  persoalan yang serba tidak menentu ini.  Mari kita piker apa yang kita lakukan tersebut akan memberikan manfaat kepada kita ataukah tidak. Jika memberikan manfaat secara umum, sebaiknya kita jalankan dan jika tidak maka sebaiknya segera kita tinggalkan. Semoga kita  selamat dalam menjalani hidup ini, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.