MAULUDAN DI KAMPUS

Terkadang kita menjadi aneh dengan kondisi yang ada, karena antara ekspektasi dngan kenyataan ternyata jah berbeda.  Salah satu contohnya ialah pada saat memasuki bulan Maulid kali ini kita menyaksikan betapa ramai dan semaraknya  masyarakat dalam menyambutnya dan setiap malam mereka membacakan  sejarah nabi melalui Diba’, barzanji dan lainnya, sehingga  suara shalawat begitu menggema.  Bai mereka yang dapat merasakan kenikmatan bacaan shalawat tersebut tentu akan merasa tenang dan bahagia.

Namun di sii lain, yakni di kampus kampus  Islam, masjid masjid menjadi sangat sepi, bahkan nyaris tidak terdengar suara shalawat. Jangankan menyelenggarakan bacaan bacaan tersebut, untuk sekedar berjamaah shalat maktubah saja  hanya dihadiri oleh pas pasan orang.  Entah mengapa kita juga tidak mengerti, padahal seharusnya masjid masjid kampus diramaikan oleh para mahasiswa dengan menggelar berbagai kegiatan, termasuk di dalamnya peringatan Maulid Nabi atau kajian kajian tertentu.

Mungkin ada jawaban klasik yang  dapat terdengar jika kita menanyakan hal tersebut, yakni bahwa para mahasiswa sudah menggelar mauled di tempat masing masing, dan bahkan banyak diantara mereka yang justru mengisi peringatan Maulid tersebut di beberapa tempat, karena diundang oleh masyarakat.  Sehingga dengan dmeikian meskipun masjid tampak sepi, namun aktifitas para dosen dan mahasiwanya sangat padat dalam mengisi peringatan Maulid nabi tersebut.

Beruntung memang kalau memang hal tersebut menjadi kenyataan, namun akan celaka jika  mereka yang tidak mengadakan kegiatan di kampus juga sekaligus tidak melaksanakan kegiatan di kampong dan di manapun, alias malas untuk melakukan kagiatan.  Idealnya memang masjid masjid kampus juga diramaikan oleh mahasiwa yang kebetulan dekat dengan kampus, karena dengan menghidupkan masjid tersbeut berarti  juga menghidupakn kajian keislaman.  Akan jaug lebih bagus jika sesekali waktu dilakukan acara yang luar biasa dan spektakuler.

Tentu kita akan menjadi tidak mampu menjawab jika ada pihak lain yang mempertanyakan  kenapa kampus Islam  justru malah akrab dengan kegiatan yang non Islami, seprti  konser music dan eprtunjukan kesenian lainnya, namun tidak menyelenggarakan kegiatan keislaman.  Anadi  diselenggarakan  kegiatan seni dan juga kegiatan keislaman, maka  uitu akan semakin memberikan penguatan bagi kita untuk mampu menjelaskan kepada masyarakat bahwa kampus kita itu memang memberikan banyak nuansa kepada masyarakat dan mahasiswa.

Beruntung kita secara rutin menyelenggarakan  peringatan mauled Nabi, khususnya untuk para dosen dan karyawan, meskipun antusias meeka tidak sebagaimana diharapkan.  Kalaupun mereka dating, maka itu dengan cara yang kurang bergairah dan datangnya juga terlambat.  Kita tidak mengerti mengapa mereka tidak  bergairah memperingati kegiatan mauled etrsebut, padahal secara teori, mauled banyak memberikan harapan kepada kita tentang  kemungkinan kita mendapatkan pertolongan Rasul  di ahirat nanti.

Mungkin mereka memang belum mampu merasakan betapa nikmatnya bershalawat dan  menghormati rasul, sehingga ketika ada kegiatan yang  seperti itu mereka belum dapat menyesuaikan diri.  Ke depan kita sangat berharap bahwa mereka yang mengabdikan dirinya di kampus Islam , utamanya  di UIN Walisongo, akan semakin mencintai berbagai kegiatan  keagamaan, seperti peringatan mauled dan sejenisnya.

Terkadang kita menjadi “iri” saat menyaksikan  para mahasiswa di kampus lain yang notabene bukan kampus Islam, yang begitu antusias dalam menghadiri peringatan mauled Nabi.  Bukan saja membacakan shalawat kepada Nabi semata, melainkan juga sekaligus melakukan kajian keislaaman dengan mengundang penceramah dari lain kampus.  Rupanya gejala tersebut menjadi umum di berbagai kampus.  Artinya banyak kampus Islam yang sepi dari kegiatan kajian keislaman, sementara kampus lain justru sangat antusias untuk melakukan kajian kajian tersebut.

Barangkali memang perlu dilakukan evaluasi dan mungkin juga survey mengenai hal tersebut. Jangan jangan para mahasiswa di kampus Islam justru menjadi jenuh dengan berbagai mata kuliah keislaman yang sudah dipelajari di bangku kuliah sehingga mereka mencukupkan diri dengan itu dan menjadi tidak perlu lagi mengadakan kegiatan lain tentang kajian keislaman.  Kalau ini yang terjadi, tentu kita harus merasa p[erihatin, karena  kalau orang sudah merasa puas dengan ilmu yang didapatkannya, itu pertanda bahwa  orang tersebut tidak mampu keluasan islam, dan ini menjadi berhaya.

Siapapun yang merasa sudah cukup dengan ilmu yang didapati, maka biasanya akan mudah menyalahkan pihak lain yang ilmunya dan pemahamannya tidak sama dengannya, karena  pengetahuan yang dimilikinya sangat etrbatas.  Padahal kita tahu bahwa ilmu itu begitu luasnya, termasuk ilmu keislaman yang tentu  tidak akan cukup jika umur kita seluruhnya kita habiskan untuk mengkajinya.

Hanya orang yang berpikiran sempitlah yang merasa cukup dengan ilmu yang sudah dikuasainya. Namun kita berharap bukan itu alasannya kenapa kampus kampus islam justru sepi dari kegiatan kajian keislaman, melainkan ada sebab lain yang belum kita ketahui secara pasti.  Harapan selanjutnya juga ke depan masjid dan kampus Islam akan semakin semarak kegiatan keislamanannya sehingga para mahasiwa akan semakin mempunyai wawasan keislaman yang lebih komprehensif dan luas, sehingga mereka akan menjadi penyiar islam yang bijak.

Tentu kasus peringatan maulidan di kampus  tersebut hanya merupakan titik point saja, dan selebihnya  kita menginginkan adanya kejian kajian keislaman dan pengetahuan secara umum yang digelar di kampus.  Kampus memang tempat yang ideal untuk mengkaji seluruh ilmu pengetahuan dan  memang kampuslah sebagai mimbar akademik yang harus terus digelorakan dan dihargai.  Dengan menggelar kegiatan kegiatan tersebut, diharapkan pada saatnya nanti akan muncul pemikir hebat dari kampus yang tidak kenal takuit kepada siapapun mengenai hasil temuannya.

Seorang ilmuwan memang harus mandiri dan  berani untuk memeprtahankan temuan ilmiahnya, meskipun akan berhadapan dengan siapapun, termasuk penguasa yang tidak  sependapat dengan hasil penemuannya tersebut.  Sebagai ilmuwan memang harus yakin dengan temuannya dan harus terus mempertahankannya serta menyampaikannya kepada masyarakat luas untuk diambil manfaatnya.  Temuan yang dihasilkan dari riset ilmiah tentu akan membawa kemanfaatan dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Bahkan terkait dengan persoalan peringatan mauled Nabi tersbeut sedniri juga dapat dilakukan kajian emndalam, sehingga akan ditemukan sisi lain dari mauled etrsebut, bukan saja dari sisi pembacaan shalawatnya saja, melainkan justru tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat muslim sehingga hidupnya akan memberikan maslahat bagi sesame dan juga kelestarian alam semsata.

Masih banyak teladan nabi yang belum dirumuskan secara apik sehingga masyarakat akan mudah untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata mereka.  Pada umumnya keteladanan Nabi tersebut masih terlalu umum sehingga akan sangat sulit bagi masyarakat awam untuk mencernanya. Karena itu jika kemudian ada kajian mendalam tentang masalah ini dan lalu dirumuskan secara swederhana  teladan Nabi yang harus dilakukan oleh umat muslim, tentu itu akan sangat bagus dan bermanfaat.

Sesungguhnya  apa yang sudah ditulis oleh para ulama tempo dulu dalam  Diba’, barzanji dan lainnya tersbeut sudah cukup bagus, namun  masih tetrlalu umum dan dalam bahasa Aarab, sehingga banyak umat yang sama sekali tidak memahaminya.  Kita berharap  ke depan aka nada rumusan keteladanan Nabi yang sederhana mudah discerna dan sekaligus mudah untuk diterapkan dalam kehidupan nyata, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.