MENCARI SOLUSI TERBAIK

Di  dunia ini tidak akan pernah lepas dari persoalan, karena itu setiap persoalan yang muncul harus disikapui dengan bijak agar tidak semakin menimbulkan maalah baru dan menyebar lebih besar.  Kita tahu bahwa saat ini kita akan sangat sulit untuk membedakan mana yang niat tulus memperbaiki keadaan  dan mana yang ingin menghabisi yang lainnya dengan memanfaatkan kesalahan  yang dilakukanoleh pihak lain tersebut.  Jika masing masing tidak mampu mengendalikan dan menahan diri, maka akan membahayakan keadaan, dan mungkin juga akan terjadi perkelahian dan  permusuhan yang sulit didamaikan.

Banyak kejadian yang kemudian dimanfaatkan oleh golongan tertentu untuk menghabisi  lainnya dengan berdasar kepada kesalahan kecil yang dilakukan oleh bagian dari sesuatu yang besar.  Ada ormas atau p[artai [politik yang ternyata sebagian anggotanya melakukam hal buruk dan mendedrai banyakm umat, lalu rame rame melakukan demonstrasi menuntut pembubaran oramas datau parpol tersebut.  Tentu hal tersebut sangat tidak pada tempatnya. Jika ada pihak yang salah, maka harus diproses kesalahannya jika ternyat berkaitan dengan persoalan hokum.

Tentu mengecualikan jika sebuah ormas atau parpol tersebut memang secara terang terangan atau secara organisatoris memang melakukan kesalahan fatal terhadap Negara dan bangsa, tentu  harus dilakukan penelaahan secara cermat  dan kemudian diproses secara hokum. Kasus yang menimpa sebagian  warga banser saat membakar bendera HTI pada sat peringatan hari santri nasional, tentu itu kalau dikatakan sebuah kesalahan, maka  cukuplajh kalau kemudian dimaafkan, namun jika berkaitan dengan masalah hokum ,amaka biarlah aparat penegak hukuim yang melakuikan prosesnya.

Namun dalam kenyataannya kemudian muncul banyak pihak yang memanfaatkan hal tersebut untuk memusuhi yang lebih bear dan menuntut agar banser dibubarkan di seluruh wilayah Indonesia.  Tntutan tersbeut tentu sangat tidak ebrdasar dan mengada ada karena selama ini banser  setia menjaga NKRI dan menjaga para kiyai dalam kiprahnya sebagai  warasatul anbiya’.  Apalagi ketika polisi kemudian membebaskan mereka yang tadinya diamankan karena membakar bendera HTI  karena terbukti tidak ada unsur pidana di dalamnya.

Seharusnya masalahnya sudah selesai dan  oknum banser yang membakar bendera HTI tersbeut diberikan peringatan oleh atasannya agar ke depan kalau ingin bertindak harus berpikir terlebih dahulu dan meminta pertimbangan kepada atasannya sehingga tidak akan menimbulkan persoalan yang lebih besar.  Kita juga tahu mereka kemudian juga sudha meminta maaf atas peristiwa tersebut, Karena mereka sama sekali tidak mengira akan menjadi besar eprsoalannya sehingga menimbulkan kegaduhan masyarakat.

Dengan kejadian tersebut seharusnya kita kemudian  melakukan evaluasi untuk melakukan ebrbagai  upaya agar perostiwa serupa tidak akan terulang kembali di maa mendatang.  Artinya meskipun bendera sebuah organisasi terlarang sekalipun, sebaiknya jika kita emngetahuinya  akan jah lebih bagus jika kita amankan dan berikan kepada pihak berwajib, biar mereka yang melakukan penyelesaiannya.  Tentu bukan hanya GP Ansor saja yang melakukan  upaya tersebut melainkan semua organisasi apapun, dengan maksdu agar ke depannya lebih tertib dan tidak smeua orang akan seenaknya saja melakukan hal hal yang sesungguhnya merupakan wilayah aparat keamanan.

Sebagai orang terpelajar dan beripikir jernih kita tentu tidak boleh melakukan hal hal yang nyeleneh dan  akan berdampak merugikan pihak lain. Karena itu melakukan pencegahan atas berbagai kemungkinan itu jauh lebih bagus dan bermartabat, ketimbang melakukan perbuatan yang sama sekali tidak masuk akal.  Meminta organisasi banser dibubarkan atas perbuatan salah seorang  anggotanya tentu tidak masuk akal dan itu merupakan perbuatan yang emosional atau mungkin justru perbuatan yang dibarengi dnegan ras dendam dan lainnya.

Sama ketika ada salah seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi yang melakukan kejahatan, semisal menjambret atau bajhkan melakukan pembunuhan sekalipun, lalu  ada tuntutan agar universtitas tempat mahasiwwa tersebut studi lalu dibubarkan.  Ada solusi yang lebih nyaman tanpa harus menyenggol keberadaan institusi, seperti memproses mahasiswa etrsebut sesuai dengan hokum yang berlaku, dan pihak universitas mengeluarkannya dengan tidsk hormat atau tindakan lainnya.

Demikian juga jika ada santri dari sebuah pesantren yang kedapatan melakukan perbuatan melanggar hokum, bukan kemudian pesantrennya yang digugat agar dibubarkan, melainkan cukuplah santri yang bersnaghkutan yang diproses dan kelau kemudian terbukti bersalah harus diberikan sanksi yang setimpal.  Tentu kita tidak boleh melakukan penyamaan terhadap sebuah peristiwa, karena  kesalahan yang sifatnya incividual harus dilakukan proses sebagaimana  mestinya, bukan kemudian melibatkan semua komponen yang ada.

Jika anak kita ada yang melakukan kesalahan  dengan menyakiti anak lainnya, bukan berarati penyelesaiannya dengan meminta  seluruh keluarga  diberikan hukuma dengan melakuan demonstrasi untuk menolak keluarga tersebut tinggal di tempat tersebut, melainkan cukuplah kalau anak yang nakal etrsebut diberikan sanksi agar ke depannya  tidak akan emngulangi perbuatan jahatnya. Begitulah seharusnya kita memperlakukan  sebuah kasus dan  dengan dmeikian kita berharap akan tercipta kedamaian dan ketenteraman dalam lingkungan, bukan sebaliknya malah akan terjadi huru hara yang mmebuat kita semakin sulit.

Bahkan jika ada  oknum penegak hokum yang juga melakukan pelanggaran hokum sepertyi adanya oknum polisi, jaksa , hakim dan lainnya yang ternyata malah melakukan tindakan kejahatan, bukan lalu kita ramai ramai meminta  lembaganya dibubarkan, melainkan harus dilakukan pengusutan terhadap oknum tersebut.  Ini ternyata  sudah seringkali kita jumpai adanya beberapa komponen masyarakat yang memang sengaja untuk menuntut agar lembaga penegak hokum dihilangkan atu dibubarkan karena adanya  kesalahan, bahkan hanay kelamahan saja di dalamnya.

Betapa kita menyaksikan adanya pihak yang ramai ramai meginginkan KPK dibubarkan karena dianggap terlalu over acting dalam menangai perkara.  Tentu kita dapat membaca bahwa mereka yang tersudut dengan gerakan KPK lah yang kemudian berusaha untuk memeranginya, bahkan selalu saja ingin membubarkannya  melalui berbagai cara yang memungkinkan dilakukan.  Namunkarena cara etrsebut tidak mempunyai  alasan yang dapat diterima akal sehat, maka usaha tersbeut selalu akan ditentang oleh mereka yang berpikir positif tentang penegakan hokum.

Kita harus membiasakan diri dengan mencari solusi terbaik atas permasalahan yang terjadi, yakni dengan meminimalkan  dampak yang akan ditimbulkan  namun  tujuannya dapat dicapai. Dengan dmeikian ibaratnya kita akan mendapatkan ikannya tetapi airnya tetap jernih dan tidak menjadi keruh.  Kita tentu sepakat jika kondisi Negara kita akan semakin membaik dan kondiusif sehingga tidak akan timbul hal hal yang  justru akan merugikan masyarakat kita, karena itu kita harus mampu mengendalikan dan menahan diri untuk tidak grusa grusu, melainkan berpikir jernih dan mendapatkan solusi terbaiknya.

Jika kita semua khususnya para peimpinan atau tokoh mau memebrikan keteladanan dalam hal menangani kasus yakni dengan encari solusi terbaik dan tidak terbawa oleh emosi dan  dendam ekpada pihak lain, tentu kondisi amsyarakat kita akan semakin membaik dan kita akan mampu menyaksikan betapa indahnya berbangsa dan bernegara dalam  Negara kesatuan republic Indonesia.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.