USWATUN HASANAH NABI

Ada pertanyaan besar yang hingga saat ini  belum ada jawaban yang memuaskan smeua pihak, walaupun bagi orang orang tertentu tidak perlu memerlukan kepuasan jawaban tersebut karena sudah sangat jelas jawabannya.  Pertanyaan tersebut ialah kalau nabi Muhammad saw sebagai teladan bagi seluruh umat muslim bahkan umat manusia seluruhnya, lalu kenapa mayoritts mereka justru kelakuannya sangat bertolak belakang dnegan apa yang sudah dipraktekkan dan diteladankan oleh beliau?  Lalu apakah  pernyataan bahwa  Nabi Muhammad saw  adlah teladan yang baik bagi semua orang itu hanya sebuah selogan tanpa makna?

Bagi umat muslim yang sadar dengan kenyataan tersebut sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, karena  dengan jelas sudah terliohat, yakni bahwa keberadaan nabi Muhammad saw sebagai teladan memang benar adanya, karena itu  sudah dijelaskan dalam alquran oleh Allah swt sendiri.  Keberadaan beliau sebagai teladan itu pasti benarnya dan seluruh teladan yang sudah dipraktekkan sangat patut dan indah untuk ditiru oleh seluruh umat manusia.  Hanya persoalannya ialah factor manusia itu sendiri yang  kebanyakan tidak mau mengikutinya dengan seksama sehingga banyak hal baik yang ditinggalkan.

Keteladanan nabi Muhammad saw adalah dalam semua aspek, dalam kehidupan rumah tangga, dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat dan dalam semua  komunitas, namun manusia seringkali tidak mau tahu atau mungkin merasakan berat saat berhadapan dengan dua kemungkinan yang saling tarik menarik, seperti antara kepentingan maslahah untuk banyak orang dan kemaslahatan dirinya sendiri.  Pada ghalibnya manusia kemudian memanangkan kepentingan dirinya sendiri dan mengalaghkan kepentingan banyak pihak.

Dalam kaitannya dengan hubungan dengan masyarakat lainnya, nabi juga sudah memberikan teladan yang sangat baik, namun kemudian  manusianya sendiri yang tuidak mau mengikutinya.  Sebagai contoh kecil, pada saat Rasul akan makan di rumahnya sendiri, padahal yang dipunyai hanya makanan yang akan dimakan etrsebut, lalu dating tamu yang tidak diundang, lalu mengatakan bahwa dirinya snagat lapar dan meminta makan kepada Nabi, lalu Nabin malah memberikan makanan tersbeut kepada tamunya, meskipun kemudian beliau sendiri menjadi lapar.

Lalu mampukan  umatnya meneladani hal tersebut? Bukankah mereka kebanyakan malah berani berbohong bahwa merka sendiri juga belum makan dan tidak ada makanan yang dapat diberikan kepada mereka, pasahal ada tersedia makanan tersebut?  Bahkan ada yang dengan disertai perkataan yang mungkin sangat mneykitkan bajhwa enak saja meminta makanan, kita saja yang mencarinya belum merasaknmekanan etrsebut.  Kalu ingin makan ya harus bekerja jangan hanya meminta   dan lain perkataan  yang intinya  membuat mereka menjadi kikir terhadap sesuatu yang akan diminta oleh pihakmlain yang sangat membutuhkan.

Nabi digambarkan juga selalu memberikan maafnya  termasuk kepada mereka yang selalu menyakiti beliau, menghina beliau dan menyudutkan beliau.  Beliau sama sekali tidak pernah menyimpan dendam dalam hati atau menyimpan  sakit hati atau dengki dan sejenisnya.  Siapapun yang berbuat salah kepada beliau, pasti beliau akan memaafkannya sebelaum yang bersangkutan tersbeut memintanya. Bahkan dalam sebuah cerita ada seorang Yahudi yang selalu saja mencaci beliau padahal dia itu buta, namun Nabi selalu saja menyuapinya, tanpa menyatakan beliaulah  Muhammad itu.

Sampai suatu saat yahudi buta tersebut mengetahui bahwa slama ini orang yang setia menyuapi dirinya sambil  dirinya mencaci Muhammad saw adalah sosok yang mulia nabi Muhammad saw, dan akhirnya yahudi tersebut meminta maaf dan kemudian menyatakan dirinya masuk islam. Kalaupun tidak persis sebagaimana dicontohkan oleh beliau, adakah umtanya yang berusaha untuk meneladaninya dalam kebaikan?.  Kita yakin pasti ada sebagian yang meneladaninya, meskipun masih lebih banyak yang tidak meneladaninya.

Dalam hal beribadah, beliau juga memberikan teladan yang sangat bagus, meskipun tidak semua umatnya mau mengikuti jejaknya.  Beliau selalu menjaga shalat maktubah  dengan cara berjamaah, juga selalu menjaga shalat malam dan dhuha serta sunnah lainnya, namun apakah  seluruh umatnya mau mengikuti jejaknya? Jawabannya ialah tidak, meskip[un tentu tetap ada yang mengikutinya tetapi sekali lagi jumlahnya  lebih sedikit ketimbang yang mau mengikutinya. Lalu apa penyebabnya banyak diantara umat beliau yang lebih memilih tidak mengikuti jejaknya?

Padahal kita tahu bahwa Allah swt akan mencintai seseorang jika dia mau mengikuti rasul dan juga akan mengampuni segala dosanya.  Kemungkinan  pada saat kebanyakan masyarakat menerima ajaran tentang kesunnahan dan keteladanan dari rasul mereka mengetahui bahwa  semua itu hanyalah sebuah anjuran yang jika dikerjakan  akan l;ebih baik dan jika tidak pun tidak akan berdosa.  Begitulah pengertian sunnah yang dirumuskan oleh para ahl;I fiqh yang akhirnya mayoritas manusia  lebih memilih yang mudah meskipun itu tidak mengikuti jejak Rasul.

Mereka tentu akan lebih memilih tidur nyenyak ketimbang harus bangun dan menjalankan shalat tahajjud, mereka akan lebih suka untuk bekerja dan mempersiapkan segala sesuataunya ketimbang harus shalat dhuha.  Mereka juga akan lebih suka untuk menyimpan hartanya untuk diri sendiri ketimbang haruis diberikan kepada pihak lain.  Merka akan lebih memilih mengerjakan sesuatu yang lain setelah shalat wajib, ketimbang  berwirid dan mengerjakan shalat sunnah rawatib dan begitu seterusnya, sehingga kesunnahan kesunnahan akan ditinggalkan demi untuk menyenagkan dirinya.

Mereka menganggap bahwa kalau sudah mengerjakan sesuatu yang wajib maka mereka sudah lep[as tanggung jawab dan mereka sudah merasa cukup dengan pahala untuk periaspan akhirat.  Mereka lupa bahwa  sesungguhnya kesunnahan etrsebut adalah pelengkap dan sekaligus mungkin mampu untuk menambal kekurangan yang wajib wajib.  Apapun yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw pasti akan jauh lebih baik jika diikuti ketimbang kalau ditinggalkan.  Setidaknya  bagi umat Muhammad saw harus berusaha untuk meniru dan melakukan apapun yang teladankan oleh beliau sesuai dnegan kekuatan masing masing.

Kita tentu menyadari bahwa kita tidak seperti Nabi sehinggakalau harus mengikuti seluruh yang diteladankan ol;eh belia mungkin kita tidak akan sanggup, namun jika kita  berusaha untuk melakukan hal hal yang mungkin kita jkerjakan, tentu itu jauh lebih bagus, sebab apa yang dijalankan oleh beliau sudah diukuir dengan kemampuan seorang manusia.  Jika orang meraskan berat untuk bengun dan shalat malam, maka itu hanya perasan danmungkin juga pengaruh  gangguan setan, namun jika diniati dengan sungguh sungguh dan diawali dengan semacam paksaan sedikit pada diri sendiri, pada akhirnya akan menjadi ringan dan kebiasaan.

Demikianjuga dengan memberikan harta milik kita  yang biasanya dirasakan sangat eman untuk dilepas, jika kita paksakan dengan keyakinan bahwa itu jauh akan memberikan kebaikan kepada kita, maka  lama lama akan menjadi kebiasaan dan bahkan mungkin jika kita tidak berseedekha, kita akan merasa ada sesuatu yang hilang dari kita.  Tidak berbeda pula dengan memberikan maaf kepada pihak lain, sebab jika kita memendam dendam dalam diri kita sesungguhnya akan menambah beban dalam diri kita. Namunjika kita mampu memaafkan orang maka hati akan menjadi plong dan puas.

Untuk itu mari kita biaakan untuk mengikuti keteladanan yang dicontohkan oleh nabi Muhammad saw.  Kita harus yakin bahwa jika kebaiakn yang diteladankan oleh beliau kita ikuti, pastinya akan semakin membuat diri kiat menjadi lebih baik dan perjalanan hidup k9ta akan semakin bermakna, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.