SIKAP BIJAK ITU PENTING

Bijak itu lain dengan sikap lain, seperti takut atau menghindari masalah atau sikap lainnya, sebab bisaa jadi suatu saat bijak itu memang menghindar dari sesuatu yang berpotensi menimbulkan masalah, namun  suatu saat lainnya biojak itu justru  diam dan tidak bereaksi sebelum mendapatkan data yang akurat dan jalan keluar yang baik.  Sifat hrusa grusu dan emosional tentu bukanlah sikap bijak, karena biasanya kalau terbawa emosi itu akan lebih banyak membawa madlarat ketimbang manfaatnya.

Pada saat terjadi permasalahan dan banyak orang menyalahkan  salah satu pihak, seolah keberpihakan etrsebut menjadi, namun sikap bijak kita tidak boleh langsung mengikuti sikap bantyak orang tersebut.  Sikap bijak harus merunut kejadian yang sebenarnya dan setelah mendapatkan data yang benar benar valid dan akurat, barulah kita bersikap.  Itupun juga tidak boleh disertai emosi karena sekali lagi emosi itu biasanya akan membawa  masalah baru yang terkadang malah lebih sulit.

Mungkin ada sebagian orang akan menuduh bahwa sikap bijak tersebut justru akan menghambat sesuatu.  Tuduhan etrsebut tentu harus dapat dijelaskan bahwa  bijak itu tidak identic dengan menghambat, karena bisaa saja orang secara cepat menangani sebuah persoalan, namun ternyata  apa yang didugakan ternyata salah besar, maka  ketegesaan etrsebut akan menimbulak kerugian dan  merugikan pihak lain.  Sementara jika sikap bijak yang dimunculkan, mungkin tidak segera  tertangani sebuah perkara, namun itu tidak akan sampai menimbulkan persoalan baru.

Bijak itu tentu bukan pelan atau  lemah, melainkan sikap yang senagja diambil untuk memperjelas dahulu persoalan yang ada sebelum diambil tindakan. Bijak juga dapat disejajarkan dengan meminta klarifikasi dari dua belah pihak yang sedang bersengketa atau sedang bermasalah, sehingga persoalannya menjadi jelas.  Bisa juga sikap bijak itu menyerahkan persoalan kepada yang berwenang memprosesnya atau bijak itu kalau kita mampu untuk mendamaikan dengan cara win win solution.

Sikap menantang kepada pihak yang sudah jelas  salah dan dinyatakan klalah dalam sebuah perebutan atau pertentangan, itu juga sama sekali jauh dari bijak, karena bagaimanapun jika arogan,meskipun  didukung oleh data dan keputusan pengadilan misalnya, maka itu tetap akan menyakitkan dan tidak akan menjadikan persoalan selesai dnegan damai, melainkan  selesai dengan kterpaksaan dan bahkan secara substansial malah belum dapat dianggap selesai.

Kelemahan kebanyakan kita ialah jika dalam sebuah pertentangan atau perebutan terhadap sesuatu, lalu  sampai ke pengadilan dan kemudian diputus dan salah satunya dimenangkan,  maka kemudian yang menang malah semakin menggila dan mengejek kepada yang dkalahkan.  Kenyataan etrsebut justru akan semakin membuat yang kalah akan emosi dan  akan melakukan perlawanan dnegan cara lain.  Sebaiknya kalau kita bijak, justru yang kalah kita dekati dan diajak bicara dengan cara yang baik, sehingga akan mersakan kenyamanan dan tidak terhina.

Sikap bijak  dalam keluarga misalnya kita dapat lakukan seatu yang tidak membebani  anak misalnya, melainkan sekdar menyadarkan dari perbuatan yang salah dan kemudian akan memperbaikinya.  Tentu itu merupakan perbuatan yang sulit dilakukan, karena pasti akan banyk hal yang melingkupi, namun dengan rasa saying dan kebapakan  serta  pendekaatan yang baik, tentu  semua akan dapat diraih dengan tanpa menyinggung perasaan anak yang terdalam.

Jika kita menyaksikan pasangan kita  berbuat kesalahan, dan kesalahan tersebut tidak fatal, dan hanya kesalahan biasa yang dapat saja dilakukan oleh banyak orang, maka kita harus pandai untuk mengambil hatinya sehingga  pasangan kita tidak akan menjauh melainkan akan segan kepada kita dan kemudian akan menyadari kesalahannya sendiri serta memperbaikinya, tanpa harus kita suruh atau paksa. Kesalahan kita biasanya ialah  kita langsung emosi dan menyudutkan pasangan yang berbuat salah tersebut, sehingga dia akan semakin menjauh dari kita dan sulit untuk diingatkan.

Tentu terkecuali jika  pasangan kita sudah sangat jauh melakukan kesalahan fatal yang sulit untuk ditoleransi, maka kita dapat melakukan hal yang sedikit keras, namun bukan menyakitinya.  Bolehlah kita menasehatinya dengan kata yang tegas dan keras, meskipun tidak boleh menghinanya dan atau mengatakan sesuatu yang mencederai perasaanya. Jika dengan kata kata tersebut dia kemudian mau insaf dan kembali ke jalan yang benar, tentu kita harus mau memaafkannya, namun jika semakin menjadi jadi dan mungkin memang sudah diniati,maka  keputusan akhir tentu harus berpisah.

Namun sekali lagi ber[isah dengan cara yang terbaik.  Jangn sampai kita menyakiti perasaan atau menyakiti badan ataupun memberikan beban yang terlalu berat kepadanya. Kita harus mampu menjadi orang yang terus ebrbuat baik, meskipun diperlakukan tidak baik.  Percayalah jika kita mampu melakukan yang terbaik, maka Allah juga pasti akan memberikan balasan yang terbaik pula.  Kalau misalnya kita terpaksa harus berbpisah dnegan pasangan karena tidak dapat diselamatkan, maka Tuhan  juga pasti akan memberikan yang terbaik bagi kita.

Sekali kita  mengatakan sesuatu yang jelek kepada pihak lain dan kemudian mereka merasa sakit, maka selama itu pula kita akan menanggung beban dosa yang tidak kita sadari, dan itu pasti akan menghambat diri kita untuk memperoleh sesuatu yang baik. Kita harus mampu meniru sikap bijak Rasullullah saw, terutama  jika berkaitan dengan piahk lain.  Nabi itu tidak pernah menaruh dendam atau sakit hati kepada siapapun, termasuk mereka yang selalu berusaha menyakiti beliau.

Kalaupun kita belum mampu untuk mengikuti secara persis apa yang dilakukan oleh rasul, setidaknya kita mendekati sikap yang selalu ditunjukkan oleh beliau.  Dalam kaitannya dengan sikap bijak tersebut kita tentu akan  berusha auntuk memaafkan siapapun yang bersalah, apalagi yang tidak terkait sama sekali dengan diri kita.  Rasa kebersamaan memang perlu dipup[uk, namun kalau kebersmaan tersebut justru akan menimbulkan persoalan yang lebih luas, pastinya kita harus dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal hal yang justru akan merugikan banyak orang.

Dalam kaitannya dengan  pekerjaan, kita juga harus terus menggelorakan sikap bijak tersebut dalam semua hal.  Semisal kita mendapati ada staff yang tidak bersemangat dalam menjalankan tuasnya, tentu kita harus membinanya sedemikian rupa tanpa harus membuatnya semakin terpuruk, melainkan harus memberikannya harapan yang lebih baik, teruitama jika dia mau mengubah sikapnya menjadi rajin dan produktif. Atau jika kita menyaksikan ada staff yang melakukan kealahan ati indisiplin, jika masih dalam batas yang dpat dimaafkan, tentunya aknlebih bagus jika kitamaafkan.

Namun jika kealahannya tersebut fatal dan harus ditegakkan disiplin, maka kita harus menegakkannya  dengan disertai pembianaan  sehingga dia akan tetap merasa dioramngkan dan tetap akan bersemangat setelah menjalani sanksinya.  Keaalahan dan pelanggaran memang ada  berbagai macam, ada sebagiannya yang tidka mengharuskan kita memberikan sanksi, melainkan cuikup sanksi teguran atau mungkin hanya  pembinaan dan pengawasan saja. Namun ada juga kesalahan yang mengharuskan kita meberikan sanksi.  Meskipun begitu kitanharus tetap menghargainya sebagai  orang yang tetap mempunyai masa depan yang bagus.

Dengan sikap kita yang bijak tersebut diharapkan  smeua orang akan menyadari sendiri kesalahan dan kekurangannya dan dengans endirinay pula kemudian akan mengubah menjadi lebih baik lagi di maa mendatang.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.