MEMENUHI JANJI

Pada saat kita masih  berada di sekolah menengah pertama, kita selalu dikenalkan dengan berbabagi sifat, baik yang harus diikuti maupun yang harus ditinggalkan.  Sifat sifat baik sebagaimana sifat nabi, yani  jujur atau sidiq, dapat dipercaya atau amanah, menyampaikan sesuatu yang memang harus disampaikan dengan apa adanya atau tabligh dan juga  cerdas dan dapat memilah antara yang baik dan manfaat dan yang tidak atau fathanah.  Semuanya itu memang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan kita.

Sementara sifat buruk, seperti suka iri, dengki, dendam, sakit hati, suka fitnah, suka menyakitkan pihak lain, inkar janji,  bohong dan sifat munafik lainnya, semuanya itu haruas kita jauhi dan tinggalkan.  Nah, salah satu sifat baiik ialah jika kita mau memenuhi jani yang pernah kita ucapkan kepada siapapun, sebab janji dalam pandangan ajaran  agama kita itu bagaikan  hutang yang harus dibayar.  Mnegingkari janji sama dengan ingkar terhadap hutang yang  kita lakukan sehingga kita tidak mau membayarnya, dan itu pastinya dilarang dan dosa.

Membuat janji itu begitu mudah, namun untuk melaksanakannya itu begitu susahnya sehingga  kita dihimbau untuk tidak mudah menyebar  atau mengumbar janji, karena kita akan kesulitan tersendiri.  Orang yang mempunyai keingiann besar terhadap pihak lain, biasanya akan mudah untuk berjanji, namun saat akan memenuhinya kemudian menjadi sangat berat.  Atas dasar hal tersebut sebaiknya kita memang tidak usah berjanji dan cukuplah kalau ingin memberikan sesuatu kepada pihak lain, berikan saja ketika minat tersbeut muncul dan barang yang akan diberikan sudah wujud atau berada di tangan.

Biasanya pihak yang suka berjanji ialah para politisi yang padav saat akan mencalonkan diri sebagai caleg ataupun sebagai salah satu kandidat dalam jabatan tertentu. Nah, untuk mendapatkan dukungan yang besar, biasanya mereka akan mudah mengumbar janji untuk hal hal yang sesungguhnya sangat berat, namun demi tujuan etrsebuit mereka tetaplah berjanji. Pikir mereka toh nanti setelah seleai pemilihan, mereka tidak akan menuntut dipenuhinya janji, atau kalau mereka meminta mewujudkan janji etrsbeut akan dengan mudah mereka akan mengelak dan tidak ada sanksinya.

Lihatlah mereka yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah, sebagai pejabat teinggi Negara, bahkan presiden sekalipun biasanya suka mengumbar janji, namun begitu sudah benar benar jadi, lalu mereka dengan mudah pula melupakannya.  Masih beruntung kalau penajbat tersebut berusaha untuk memenuhinya dengan sungguh sungguh, meskipun kita pasti tahu untuk memenuhi seluruh janjinya etrsebut merupakan hal yang dapat dikatakan mustahil.  Demngan dm,eikian sebagian janjinya sudah dipenuhi, hanya saja tidak akan mungkin memenuhi keseluruhan janjinya dan kita tentu harus maklum dengan hal tersebut.

Di dunia ini  sepertinya memang tidak ada satu pihakpun yang akan mampu memenuhi keinginan masyarakat yang bahkan mungkin tadinya sudah dijanjikan oleh calon yang kemudian jadi.  Masyarakat tentu akan memahami jikalau pemimpin tersebut sudah berusaha dnegan baik untuk memenuhinya. Masyarakat juga pasti mau memahami kalau pejabat etrsebut tidak melakukan hal hal tercela untuk kepetningannya sendiri, sepertyi korupsi dan lainnya, melainkan  dia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mensejahterakan rakyatnya.

Tidak ada  manusia yang sempurna, sehingga seluruh harapan masyarakat tidak akan mungkin dipenuihinya, karena kekuatan  yang ada sungguh tidak akan mungkin.  Karena itu sebaiknya  sebagai calon p[emimpin, tidak perlu menjanjikan sesuatu yang berat diwujudkannya atau sebaiknya  cukuiplah akan berusaha memperbaiki kondisi yang saat ini teras buruk dan akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk mensejahterakan masyarakat, sehingga tidak menujuk sesuatu yang jelas berupa  proyek tertentu.

Bahkan kalaupun  mereka juga berjanji untuk melakukan sesuatu sekalipun masyarakat juga sudah mengetahui abhwa janjinya tersebut hanya akan  menjadi janji semata dan tidak akan dipenuhinya.  Jadi untuk mengurangi sifat bohong atau sifat jelak untuk tidak memenuhi janji, sebaiknya sekali lagi para calon tidak perlu mengumbar janji, melainkan cukup meminta doa agar diberikan kekuatan untuk memperbaiki kondisi dan berupaya untuk mensejahterakan rakyat dengan sungguh sungguh.

Dalam konteks kehidupan rumah tanggapun juga dmeikian.  Artinya  siapapun yang suka mengumbar janji, biasanya akan sangat sulit untuk memenuhinya.  Bila kita sedng mendapatkan laporan dari anak bahwa anak akan segera ujian, lalu kita berjanji kepada anak jika nanti mendapatkan nilai bagus akan diajak ke luar negweri atau dibelikan sesuatu yang sangat diidamkan oleh anak.  Lalu ternyata anak etrsebut benar benar mendapatkan nilai bagus, apakah kemudian orang tua akan dengan serta m,erta  mengajaknya keluar negeri atau mebelikan sesuatu tersebut?

Beruntung kalau saat itu pas ada pelunag dan  ada uang yang cukup, maka tidak masalah, namaun jika pasti saat itu kita sedang kesulitan keuangan, lalu apa yang akan kita katakana kepada anak? Pastinya kita akan emncari seribu alasan untuk tidak memenuihi janji kita, dan itu sudah pasti akan mengecewakan anak, meskipun dia akan dapat menegrti.  Tentu akan lain jika tidak usah janji, namun cukuplah diawal mendoakan agar saat ujian diberikan kemudahan sehingga mendapatkan nilai bagus.

Nah, pada saat sudah selesai dan anak kita benar mendapatkan nilai bagus, maka kta dap[at melakukan sesuatu sesuai dengan  kondisi keuangan kita. Mungkin mengajak rekreasi atau mungkin membelikan sesuatu yang diinginkan anak.  Memberikan hadiah atau kejutan hadiah  tanpa harus diberitahukan terlebih dahulu tentu akan jauh meresap dan memuaskan kepada anak dan  anak tentu akan sangat berterima kasih kepada kita sebagai orang tua yang perhatian kepada mereka.

Kita tentu akan mampu merasakan betapa  sakitnya atau kecewanya jika kita dikhianati atau tidak dipenuhi janji. Bahkan termasuk  diantara  kita dengan pasangan pun juga dapat memunculkan sifat tidak mempercayai kalau kemudian kita sering berjanji dan sering pula mengingkarinya.  Kalau pun kita didesak untuk berjanji kepada  seseorang atau kemluarga sendiri, tetapi janji tersebut harus diberikan syarat, semisal kalau pas ada kelonggaran harta atausyarat lainnya, sehingga pada saat kita tidak mampu memenuhinya, pihak lain yang dijanjika tidak akan terlalu kecewa.

Ambil contoh jika anak kita meminta hadiah umrah saat sudah luilus sekolah misalnya, maka  kita  bolehlah untuk menjanjikannya  tetapi dengan syarat kalau pas ada uangnya untuk syarat berangkat umrah, atau kalau kondisi memungkinkan dan  kalau  sehat dan lainnya.  Namun tentu akan jauh lebih bagus jika kita tidak usah berjanji, namun berkomitmen untuk memenuhi keinginan anak tersebut.

Hanya orang orang yang  tulus sajalah yang akan dengan penuh tanggung jawab  memenuhi janjinya.  Mereka tentu tidak akan mudah untuk berjanji, namun ketika sudah berjanji, maka  pastinya akan diupayakan sekuat tenaga untuk memenuhinya.  Mereka sangat takut dengan sifat yang akan ditempelkan kepada mereka jika ingkar janji, yakni sifat nifaq yang sungguh berat menanggungnya.  Kita tahu bagi mereka yang sudah biaa ingkar janji, sifat nifaq tersebut tidak dipedulaikannya, karena  bagi mereka itu tidak akan merintangi jalannya hidup di dunia. Mereka sudah memprediksi  kondisi masyarakat Kita yang memang mudah melupakan janji atau tidak akan niteni dalam waktu yang lama.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.