SANTRI SEKARANG BERBEDA DENGAN SANTRI ZAMAN DAHULU

Kalau pada zaman yang lalu, santri selalu diidentikkan dengan kejorokan, keterbelakangan, kebodohan dan kolot, maka pada saat ini kondisinya sangat jauh berbeda, karena para santri sudah sangat akrab dengan internet, dengan teknologi modern dan tidak lagi kudisan.  Memang kita harus akui bahwa para santri di pesantren pada zaman dahulu kurang menjaga sisi kesehatan, sehingga ketika ada satu santri yang sakit tertentu, maka akan dengan mudahnya menular kepada yang lain, sehingga hamper seluruh santri akan menderita sakit tersebut.

Kekurang perhatian para santri zaman dahulu jjuga dipicu oleh kekurangan informasi dana pengetahuan mengenai kebersihan dan kesehatan, meskipun untuk kebersihan sendiri sudah diajarkan secara teori, seperti pelajaran tentang kebersihan itu bagian dari iman, namun sekali lagi dalam prakteknya mereka belum serius dalam hal menjaga kebersihan dan kesehatan.  Kita juga  memaklumi jika dahulu santri diberikan label sebagai gudikan, karena pada kenyataannya memag seluruh santri pada sakit gatal di kulit yang lebih dikenal dengan penyakit gudik.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kesadaran dalam hal kesehatan yang dialami oleh para pengelola pesantren, akhirnya mereka menerapkan perubahan dalam pesantren, seperti kolam yang biasanya terbuka dan digunakan secara bersamaan oleh sleuruh santri, kemudian diganti dengan air melalui kran sehingga air yang digunakan tidak akan digunakan lagi, sehingga air relatif bersih dan tidak akan menularkan penyakit yang diderita oleh salah satu santri misalnya.  Para pengelola pesantrena juga lebih perhatian dalam hal kebersihan santri, sehingga tempat tinggal mereka tampak lebih bersiah dan sehat yang berbeda jauh dengan zaman dahulu.

Hal yang lebih penting lagi ialah sikap para santtri yang kemudian sedikit demi sedikit berubah menjadi peduli terhadap kesehatan dan kebersihan mereka sendiri.  Inilah yang kemudian mempercepat perubahan itu sendiri dan saat ini  pesantrena tidak lagi jorok dan kotor, melainkan sudah sangat ebrsih  dan tertib.  Seriring dengan itu pula para pengasuh pesantrena kemudian mengembangkan pembelajaran kepada para santri, yang tidak saja hanya melulu mengajarkan kitab kuning, melainkan juga diberikan tambahan pelajaran mengenai teknologi sehingga mereka menjadi tidak asing lagi dengan teknologi tersebut.

Para santri kemudian juga terpikat untuk memeprdalam  dan menggunakan internet untuk mencari sius situs yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan mereka.  Jadi tidak heran kalau saat ini banyak santri yang berprestasi dalam bidang bidang pengetahuan.  Kita sudah tidak heran lagi ketika mendengara seoranag santri menjuarai olimpiade matematikan, atau memenangkan perlombaan robot dan lainnya.  Namun ada satu hal yang tidak akan dilipakan dan digani, yakni pengajaran kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren dan pengamalan ajaran aislam secara langsung.

Memang kita mendengar bahwa ada sebagian pondok peantrena modern yang tidak mengajarkan kitab kuning, melainkan sudah berganti dengan mengajarkan berbagai pengetahuan umum untuk memebrikan pengalaman kepada para santrinya tentang dunia ini.  Tentu kalau pesantrena tersebut menyebut dirinya sebagai pesantrena, seharusnya juga tetap mengajarkan kitab kuning dengan pendalaman yang lebih baik.  Artinya pengajaran kitab kuning yang lebih kreatif, yakni dengan pemberian komentar atau bahkan kritik terhadap kandungan kitab kuning yang sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman saat ini.

Dalam hal yang tamak secara lahir pun santri saat ini berbeda dengan santri zaman dahulu, seperti pakaian mereka dimana santri zaman dahulu akan selalu idekntik dengan sarung yang selalu dikenakan ke manapun merek pergi, namun bagi santri sekarang tidak lagi mengandalkan sarung, melainkan juga celana panjang dan terkadang juga tidak mengenakan peci, melainkan cukup dengan topi atau bahkan tidak memakai penutup kepala dana itu dianggap baisa saja, sedangkan pada zaman dahulu jika santri tidak memakai peci, maka itu dianggap sebagai tabu dan tidak sopan.

Santri zaman ini  memang tidak dapat dibedakan dengan yang bukan santri, terutama tampilannya di depan publik, karena  ciri khasnya sudah membaur dengan masyarakat  lainnya.  Dengan dmeikian yang membedakan antara santri dan yang bukan santri ialah perilakunya yang secara umum memang berbeda, dan itulah yang masih kita banggakan karena santri masih menjaga  marwah akhlak yang santun dan mulia, di manapun mereka berada.  Artinya kalaupun mereka sedang menjalani kegiatan yang begitu padat sekalipun, namun pada saat datangw aktu shalat, maka mereka akan menjalankannya.

Sikap kemandirian santri zaman dahulu juga berbeda dengan santri zaman sekarang, karena  kalau pada zaman dahulu sama sekali tidak ada santri yang negkos makannya, sehingga mereka tidak ada yang tidak mam;pu memasak sendiri.  Mereka terpaksa memasak dan belajar bagaimana  mampu menghidupi dirinya dengan tangannya sendiri, meskipun modalnya dari orang tua.  Dengan begitu jiwa kemandiriannya cukup kuat, bahkan dalam menghadapi kesulitan pun mereka akan mampu mencari jalan keluarnya sendiri.

Sementara itu para santri zaman ini pada umumnya mereka tidak masak sendiri dengan berbagai alaasan, kepraktisan dan efektifitas waktu dan lainnya. Mereka pada umumnya juga bersekolah sehingga waktunya akan sangatterbatas ika harus memasak sendiri.  Akibatnya ada santri yang sudah bertahun tahun berada di pesantrena yang ternyata tidak mampu memasak atau setidaknya tidak kenal dengan dunia memasak meskipun hanya sekedar sederhana.

Ada sisi perbedaan yang kita sayangkan, seperti kemampuan dan ketrampilan mereka dalam hal memenuhi kebutuhan sendiri, namun ada sisi perbedaan yang justru membanggakan kepada kita, semisal mereka sudah menguasai internet dan teknologi yang pada saat dahulu sama sekali tidak dikenal, sehingga mereka dianggap sebagai pihak yang bodoh, tertinggal dan tidak mampu mengikuti perkembangan zaman.  Sanri zaman sekarang juga tidak mau ketinggalan dalam hal informasi terkini sehingga mereka tidak lagi dianggap kolot dan tertinggal, melainkan sudah sejajr dengan masyarakat lainnya.

Jadi  untuk saat ini kita dapat melihat dengan   gamblang bahwa memang ada beberapa kebiasaan santri yang baik  dan perlu dilestarikan, semacam keuletan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuahnnya sendiri, ketaatan kepada kiyai dan juga  komitmennnya terhadap pengembangan dan pelaksanaan ajara Islam secara konsisten, akhlaknya  dalam kaitan dengan penghargaan kepada sesama umat manusia dan kepeduliannya untuk saling menolong sesama, dan lainnya.  Namun juga ada beberapa kebiasaan sangri yang memang harus ditinggalkan agar santri ke depan lebih baik dan berperan lebih nyata di masyarakat, seperti keingian tahuan mengenai informasi dan penguasaan teknologi dan lainnya.

Kebutuhan  tentang kesehatan dan kebrsihan harus terus diupayakan karena itulah yang memang harus diwujudkan sesuai dengan  ajaran islam itu sendiri yang mengajarkan bahwa kebersihan itu merupakan bagian dari keimanan seseorang.  Sikap keingin tahuan tentang berbagai ilmu pengetahuan juga harus tetap digelorakan dan  jangan sampai muncul anggapan bahwa santri hanya mampu membaca kitab kuning saja, melainkan juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu menciptakan berbagai inovasi dan membuat berbagai  peralatan yang bermanfaat bagi uamat manusia.

Kita berharap bahwa santri di masa mendatang akan jauh lebih baik dan memberikan manfaat bagi masyarakatnya dalam bidang apapun yang dibutuhkan oleh mereka.  Kita sangatyakin bahwa para santri masa depan akan mampu menyahuti keinginan tersbeut dan tentunya akan semakin membanggakan kita semua, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.