MEMAAFKAN DAN BERSIKAP BIJAK ITU HEBAT

Akhir akhir ini begitu ramainya mengenai tindakan sebagian anak bangsa kita yang membakar semacam bendera atau kain yang bertiliskan kalimat tauhid atau syahadat, pada saat peringatan hari santri nasional di Garut Jawa Barat.  Sudah barang tentu tindakan tersebut menuai banyak komentar dan juga protes, baik dari kalangan santri sendiri maupun kalangan di luar santri.  Mungkin ada juga yang kemudian tertawa ria karena menyaksikan diantara umat muslim saling menghujat sendiri.  Wallahu a’lam.

Tindakan emosinal itu memang mengakibatkan banyak hal yang cenderung merugikan.  Memamng masing masing orang mempunyai alasannya sendiri sendiri, namun tentu harus dibatasi oleh norma  yang berlaku umum.  Kenapa sih harus membakar sesuatu yang dapat menimbulkan kontroversi.  Kan kalau berpikir rasionla, akan jauh lebih bagus ketika  kain atau bendera tersebut diambil lalu dilempit dan disimpan, sehingga tidak akan digunakan untuk memprovokasi atau untuk apapun.

Menganalogkan dengan sobekan alquran memang banyak kelemahannya, karena karena kalau sobekan alquran itu biasanya tidak diopeni sehingga dikhawatirkan akan terinjak injak oleh banyak orang secara tidak sengaja, namun kalau itu sebuah bendera atau kain yang bertuliskan kalimat tauhid atau kalimat syahadat tentu tidak demikian, karena pasti akan dijaga oleh siapapun yang mengetahuinya.  Kita memang tidak mempersoalkan mengenai symbol atau bendera siapa, melainkan  hanya eman rasanya kalau itu ada kalimat syahadat atau kalimat tauhidnya.,lalu dibakr ramai ramai.

Mungkin maksudnya  itu dianggap bendera salah satu ormas yang sudah dilarang di negera kita, namun  harus diteliti terlebihd ahulu apakah memang itu bendranya  karena biasanya kalau bendera itu ada tulisannya yang jelas.  Pendeknya kita memang menyayangkan tindakan emosional etrsebut, terlepas dari niatan yang mungkin dianggap baik, tetapi kalau tindakannya menimbulkan kontroversi, maka itu merupakan tindskan yang tidak bijak, apalagi dipertontonkan seolah didemonstrasikan sedemikian rupa.

Sangat pantas kalau kemudian ada pijhak yang emosi pula menanggapinya dan mengatakan sangat tidak rela  dengan tindakan tersebut, bukan karena lambing sebuah ormas, melainkan semata mata karena itu kalimat tauhid. Bahkan  mereka kemudian berketetapan untuk melaporkan tindakan etrsebut kepada pihak berwajib agar diproses secara hokum yang berlaku di Negara kita.  Mereka juga pastinya melaknat perbuatan tersebut dengan kemarahan yang luar biasa.

Kejadian tersebut seharusnya mampu menyadarkan diri kita bahwa tindakan sembrono dan emosional pasti akan menimbulkan  reaksi yang sama.  Kenapa kita tidak mampu mengendalikan diri kita  untuk terbiasa memaafkan semua kesalahan yang terjadi dan kemudian kalau itu merupakan tindakan hokum, biarlah aparat keamanan saja yang melakukan prosesnya.  Kita akan jauh lebih bagus jika selalu mempertimbangkan akal sebelum melakukan perbuatan, apalagi yang jelas jelas  akan menimbulkan kontroversi di masyarakat.

Paling tidak kalau kita tidak suka dengan sesuatu barang dan kita ingin agar barang tersebut tidak muncul kemabnli, sebaiknya kita ambil dan simpan, dan kalau kita menginginkan memusnahkannya, sebaiknya dilakukan secara diam diam saja bukan dipertontonkan secara luas.  Kita harus mampu menjaga perasaan orang lain yang belum pasti akan setuju dengan tindakan kita, bahkan sebagian malah bertentangan dengan apa yang kita lakukan.

Selebihnya kita memang harus bertindak bijak dalam melakukan apapun, termasuk jika harus menghadapi sesuatu yang  sulit untuk dipilih. Hal yang tentu lebih bagus ialah jika kita tidak bertindak serampangan dan baru menyesal setelahnya.  Untuk itu segala sesuatu harus dipikir terlebih dahulu sebelum dikerjakan.  Memang ada kalanya kita harus secepatnya melakukan seuatu karena jika kita menundanya, pasti akan  menjadi lebih buruk, sepeti jika kita melihat ada kebakaran, maka tidak perlu kita berdiskudsi atau  meminta pertimbangan terlebihd ahulu sebelum bertindak menyelamatkan sesuatu.

Namun jika untuk hal hal yang dapat ditunda atau setidaknya untuk dipikirkan terlebih dahulu, maka sebaiknya dipikir atau bahkan dimintakan pendapat terlebih dahulu kepada mereka yang dianggap lebih dewasa.  Dalam urusan  menangani orang yang membuat onar atau setidaknya dalam menangani sesatu yang dianggap dapat mengganggu sebuah kegiatan, maka akan jauh lebih baik jika dipikirkan terlebih dahulu mengenai tindakn apa yang akan kita lakukan agar tidak semakin mebuat gaduh suasana.

Bertindak sabar dan bijak dalam semua hal adalah hebat, karena biasanya banyak orang tidak mampu melakukannya.  Demikian juga dengan tindakan memaafkan juga merupakan perbuata yang hebat karena biasanya orang suka mendahulukan emosi ketimbangan pertimbangan akal dan hati.  Lebih lebih jika kita mampu memaafkan atas perbuatan yang jelas jelas merugikan diri kita atau melanggar hak hak kita, pastinya kita akan selalu mendahulukan emosi.nah, dalam kondisi demikian jika kita mampu menahan emosi dan memaafkan pihak yang melakukannya tentu itu merupakan sesuatu yang hebat.

Dalam kasus pembakaran kalimat tauhid atau kalimat syahadat  pada  sebuah kain yang dapat dinamakan sebagai bendera atau lambing  atau apapun, tentu hal terebut akan menimbulkan persoalan dikemudian hari, meskipun dengan alasan yang bagus sekalipun, karena yang dibakar adalah kalimat tauhid yang kalau digoreng sedemikian rupa bahkan akan mampu menimbulkan goncangan dan menimbulkan atau meluapkan emosi masyarakat muslim di manapun berada.  Dan benar  sudah ada pihak yang merasa disakiti dan kemudian mengutuk pelakuknya serta  mengancam akan menindak secara hokum.

Tentu kita dapat memaklumi mereka yang merasa tersinggung, meskipun mereka juga tidak suka dengan penggunaan alat alat tersbeut untuk propaganda atau untuk usaha yang bersifat politis, akan tetapi yang dipersoalkan ialah karena membakar lambing  yang bertuliskan kalimat tauhid tersebut.  Kalaupun kita juga dapat memahami alasan sang pembakarnya, namun itu tidak cukup untuk menghentikan usaha pihak lain yang mempersoalkannya.

Sekali lagi sikap yang  aman dan menenteramkan ialah jika kita tidak bertindak gegabah, melainkan sikap bijak yang selalu kita kedepankan.  Kita tentu harus dapat menyelami masing masing orang, kecenderungannya, kesukaannya, dan juga  hal hal yang tidak disukai serta sensitive  dalam pergaulan.  Kasus pembakaran lambing kalimat tauhid tersebut harus mampu kita jadikan sebagai pengalaman yang sangat ebrharga untuk kita  sehingga ke depannya kita tidak akan mengulanginya atau akan melakukan hal yang serupa sehingga akan merepotkan kita sendiri.

Persoalan pembakaran tersebut biarlan berlalu dan jika ada  aspek hukumnya, biar pihak polisi yang akan menanganinya, sedangkan kita cukuplah mendapatkan hakmahnya saja.  Setyiap kejadian seharusnya memang  dapat kita jadikan aebagai pelajaran berharga agar kita tidak melakukan hal serupa jika hal tersebut berakibat buruk, tetapi sebaliknya akan kita tiru jika  hal tersebut berakibat baik bagi kita.  Tentu itupun tetap juga harus dilihat aspek lainnya, apakah jika kita meniru kegiatan yang berkibat baik bagi pihak lain, juga akan berakibat baik pula bagi kita.

Intinya kita akan selalu selektif untuk melakukan apapun, meskipun di tempat lain tampak bagus, tetapi kita masih harus memeprtimbangkannya jika dijalankan di tempat kita. Semoga ke depan kita akan selalu mendapatkan hidayah dari Allah swt sehingga kita akan terus dibimbing Nya ke jalan yang lurus dan memberikan manfaat, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.