MEMBANGUN DENGAN DANA PINJAMAN ISLAMIC DIVELOPMENT BANK

Rupanya memang sudah menjadi lazim pemerintah Indonesia membangun sarana pendidikan mellaui pinjaman Islamic Development Bank, tidak saja  untuk kampus di lingkungan kementerian agama, melainkan juga untuk universitas di lingkungan kementerian riset terkonolgi dan pendidikan tinggi, bahkan juga di kementerian lainnya.  Kita semua tentu tahu bahwa investasi di bidang pendidikan itu tidak akan pernah rugi, bahkan sebaliknya pasti beruntung, karena  sumber daya manusia akan selalu diharapkan selalu bertambah kualitas dan kuantitasnya.

Sementara itu membangun kampus hanya dengan  mengandalkan uang APBN, pastinya tidak akan  mampu dalam  jumlah yang besar, karena sebagaimana kita tahu bahwa peruntukan APBN dalam pendidikan itu  masih banyak untuk membangun  sarpras di sekolah dan juga unyuk membayar tunjangan para pendidik, sehingga kalua harus membangun kampus dengan APBN mungkin  dapat dilakukan, hanya saja volumenya pasti lebih kecil.

Nah, salah satu pilihannya ialah dengan  meminjam dari Islamic Development Bank yang dianggap sebagai masih mungkin dan wajar untuk investasi dalam bidang pendidikan.  Saat ini  ada juga pinjaman dari SBSN yang lebih mudah dan memungkinkan untuk dilakukan dalam tahun anggaran tertentu.  Jika pembangunan sarpras unversitas dengan menggunakan SBSN tersebut dijalankan dengan rutin setiap tahunnya, maka dalam jangka waktu  tertengu, pasti sudadung yang dapat diwujudkan sebagai kelengkapan sarana pembelajaran.

Saat ini sudah cukup banyak kampus yang dibangun dengan menggunakan pinjaman dari IsDB dan telah menjadikan universitas menjadi lebih bagus dan berkembang lebih cepat. Karena itu ke depan mash dibutuhkan  pembangunan dengan menggunakan pinjaman dari luar, khususnya untuk investasi dalam bidang pendidikan.  Jika dievaluasi pinjaman tersebut menguntungkan dan berjalan dnegan baik, sudah pasti hal tersbeut akan dilanjutkan namun jika tidak mengungtungkan pasti juga akan dialihkan dan diutuskan hubungan pinjaman tersebut.

Sudah pasti pemerintah akan berpikir kembali setelah banyak kritikan atas kebijakan utang luar negeri yang saat ini sudah begitu banyak, namun sesungguhnya jika utang tersebut untuk bidang pendidikaan, tentu tidak akan pernah rugi, melainkan malahan akan beruntung. Karena itu pemerintah tidak perlu ragu untuk melakukan utang luar negeri dalam bidang pendidikan tersebut.  Memang kalua utang untuk selain pendidiana, apalagi kalua kemudian uangnya dikorups oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab, pastinya  akan muncul masyarakat yang mengkritik tajam.

Pastinya kalua dalam bidang pendidikan saat ini  masih sanagt dibutuhkan, karena kalua dilihat dari sisi akses para anak bangsa terhadap pendidikan, khususnya pendidikan tinggi masih sangat terbatas, bahkan hanya sekitar 30% saja.  Nah, kalau kondisinya demikian lalu pertanyaannya, di manakah selebihnya, yakni sekitar 70%, apakah mereka tidak mampu kuliah karena keterbatasan tempat di universitas ataukah mereka kemudian memasuki dunia kerja atau pertanyaan lainnya.

Hal yang  mudah untuk dijelaskan ialah bahwa daya tampung universitas negeri itu sangat terbatas dan tidak sebanding dengan lulusan SLTA. Sementara itu perguruan tinggi swasta, meskipun cukup banyak jumlahnya, namun masih banyak yang dikelola dengan seadanya, sehingga tidak mampu menarik minat kepada calon mahasiswa.  Akinatnya banyak masyarakat yang lebih memilih dunia lain, seperti kursus, kerja dan atau menunggu untuk tahun depannya.

Karena itu kehadiran Islamic Development Bank untuk membangun  kelengkapan kampus menjadi urgen dan tidak terbantahkan.  Sudah barang tentu dengan kelengkapan kampius yang demikian diharapkan kam;pus akan mampu untuk menigkatkan kualitas dan daya saingnya.  Harapan selanjutnya ialah bahwa daya saing bangsa kita ke depan akan lebih menggiurkan dan mereka gtidak akan lagi kesulitan untuk mengabdikan dirinya  atau berkontribusi untuk bangsanya.  Kita tentu tidak lagi berpikir mengenai pekerjaan, karena kalau kampus berkualitas, pastinya akan menghasilkan lulusan yang handal dan mereka pastinya juga akan mampu menciptakan lapangan pekerjan bagi pihak lain.

Tantangan terberat perguruan tinggi kita saat ini ialah bagaimana  meningkatkan  kualitas lulusan kita, yang tidak saja mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga  mampu menguasi ketrampilan yang dibutuhkan secara nyata di masyarakat.  Inilah yang saat ini belum tersentuh oleh kebanyakan perguruan tinggi kita, sehingga kemudian yang terjadi ialah banyak  lulusan perguruan tinggi yang kebingungan untuk hidup di masyarakat, karena mereka hanya ingin bekerja  dalam kondisi yang tidak sulit dan mendapatkan upah yang banyak.

Memang tugas untuk mencetal sarjana yang berlualitas dlam arti keseluruhan itu menjadi sebuah keniscayaan.  Artinya ada bidang yang dahulu tidak menjadi prioritas, namun saat ini justru menjadi hal yang urgen, seprti  tentang akhlak yang harus menyertai setiap lulusan, dengan tujuan  di manapun dan dalam posisi apapun mereka nanti akan dapat mengabdi dengan  baik dan akan menjadi integritas serta  nama baik dirinya, keluarganya dan juga almamater dan bangsa serta negaranya.  Akhlak yang baik tentu akan mencegah dan menjauhkan pemilik nya dari hal hal buruk dan membahayakan.

Namun secara kasat mata kita juga mengetahui bahwa lulusan kebanyakan perguruan gtinggi kita itu mskin ketrampilan sehingga mereka tidak siapa untuk terjun di masyarakat.  Salah satu penyebabnya ialah karena minimnya peralataan laboratorium di perguran tinggi tersebut, karena  peralatan laboratorium itu biasanya cukup mahal.  Karena itu dengan memimnjam dana dari luar, diharapkan akan mampu  menambal kekurangan yang saat ini ada di perguruan tinggi.  Harapan selanjutnya tentu para lulusan perguruan tinggi akan lebih mampu untuk berbuat dan secara keseluruhan akan mengungtungkan bangsa ke depan.

Kita memang harus ingat bahwa meskipun penganggaran bidang pendidikan di naraga kita  sangat  besar, yakni minimal 20% dar total APBN, namun untuk saat ini dimana pembangunan fisk untuk lembaga pendidikan masih  menyerap anggaran yang banyak, maka ursan  kualitas belum menjadi hal utama yang  dibiayai secara besar.  Memang bukan berarti urusan kualitas sama sekali tidak dipikirkan, namun anggaran yang banyak tersebut terserap untuk infra struktur bangunan fisik yang masih banyak membutuhkan sentuhan anggaran.

Jika dibandingkan dengan beberapa negara yang sudah mapan  lembaga pendidikannya, khususnya mengenai fisiknya, maka  Indonesia memang kalah jauh.  Artinya mereka sudah tidak lagi memikirkan persoalan fisik bangunan  dan gedung yang dibutuhkan, sehingga mereka  mudah memfokuskan anggaran ungtuk peningkatan mutu dan kualitas.  Sedangkan kita meskipun dianggarkan cukup banyak, namun kebanyakan anggaran tersebut diperuntukkan bagi pembangunan fisik dan itu akan masih gterus berlangsung untuk beberapa tahun ke depan, apalagi kalau diingat  banyaknya fasilitas gedung yang rusak dengan datangnya gempa bumi dan lainnya.

Kita berharap bahwa dengan  meminjam dana dari luar tersebut, akan semakin mempercepat selesainya infra struktur fisik pembangunan kampus, sehingga ke depannya, anggaran pendidikan akan dapat difokuskan untuk peningkatan mutu dan kualitas  lulusan. Sudah barang tentu kita sangat menantikan waktu seprti itu dan kita mempunyai cukup anggaraan ungtuk meningkatkan kualitas  penelitian, hingga lulusan yang dihasilkan akan benar benar mempunyai daya saing yang tinggi dan pastinya akan membanggakan kita.

Semoga apa yang kita bayangkan tersebut tidak akan lama lagi  dapat kita nikmati dan saksikan secara langsung di hadapan mata kita sendiri, amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.