KEMBALI KE HABITAT SEMULA

Saat ini kita mengenal banyak orang berspekulasi dalam hidupnya.  Mungkin hanya sekdar mencoba coba, siapa tahu ada  yang cocok sehingga dapat dipertahankan, namun kebanyakan dari mereka justru tidak mampunyai prinsip yang jelas menganai masa depannya.  Dengan begitu dapat dikatakan bahwa mereka sesungguhnya belum siap untuk hidup di tengah tengah masyarakat yang serba kompetetif.  Lalu apa yang harus dilakukan oleh mereka dalam kondisi yang dmeikian?

Sebelum menjawab pertanyaan tersbut ada baiknya jika kita menyimak terlebih dahulu mengenai cara  studi mereka, apakah mereka bersungguh sungguh dalam belajar atau hanya sekdar supaya dianggap tidak putus sekolah atau pengangguran.  Jika pada awalnya  dia berungguh sungguh dalam menuntut ilmu, maka satu hal yang mampu mengubah gaya dan tujkuan hidupnya ialah pengaruh lingkungan dan pergaulan.  Bisa saja pada  awalnya dia serius dalam belajar, namun kemudian dipengaruhi oleh kawannya danjadilah dia seorang yang pendiam dan  susah berkomunikasi.

Pikirannya ingin memberontak  karena kondisi lingkungannya tidak sebagaimana yang diinginkan, bahkan lama kelamaan dia berani untuk memberontak kondisi yang ada, abhakn pada saatnya dia juga berani mati demi keinginannya tersebut.  Pengaruh ideology yang merasuk demikian hebat dan kuatnya sehingga mampu mengubah pikirannya menjadis eorang yang ektrim dan jadilah dia seorang yang radikal dan mungkin nanti akan menjadi seorang teroris.

Sedangkan mereka yang  belajarnya hanya sekedar untuk tidak dikatakan sebagai pengangguran, pastinya tidak akan mendapatkan apapun dari sekolahnya.  Merka ini biasanya hanya dapat bermimpi dan hidup enak tanpa harus berusaha. Tentu pada saatnya merk hanya akan menjadi  pengangguran dan ungkin juga akan meresahkan masyarakat dan menyusahkan keluarganya.

Akhirnya kita semua yang akan menanggung akibat dari eprbuatan mereka yang tidak mau bekerja dan berusaha, melainkan hanya dapat mengganggu pihak lain.  Barangkali kita dapat menolong mereka dengan memberikan motivasi agar mereka menyadari  keberadaan mereka yang terus menerus meresahkan masyarakat, tetapi hal tersebut tidak akan m udah dan tidak akan mempan jika kita hanya bermodal lisan saja, padahal mereka menginginkan tindakan langsung semacam memberikan modal usaha atau sejenisnya.

Kita juga banyak menyaksikan betapa saat ini orang tergiur mencari rizki di ibu kota yang dianggapnya  memberikan seribu harapan  manis, padahal dalam kenyataannya banyak diantara mereka yang tertipu. Bukannya mendapatkan harapan manis tersebut, melainkan justru malah terjerembab ke lubang yang sangat mengerian.  Mereka menjadi pengemis dan peminta minta di jalanan, tanpa masa depan yang jelas.

Sebagian diantar mereka masih tetap bertahan di ibu kota karena maum pulang malu dan tidak mampu memberikan apapun kepada keluarga yang ditinggalkan. Namun sebagiannya nekat pulang kampong  untuk kembali menekuni pekerjaannya sebagai petani di sawah  atau kembali ke habitatnya yang asli.  Beruntung bagi mereka yang menahan rasa malu dan kembali berkumpul dengan keluarga, meskipun dengan hasil tani yang tidak seberapa tetapi hatinya sangat tenteram, hidup berkumpul dengan sleuruh keluarganya.

Memang benar di manapun kita hidup dan berada, pasti Tuhan akan memberikan rizki nya kepada kita, meskipun menjadi pengemis di ibu kota dan tinggal di bawah jempatan sekalipun, mereka tetap saja akan dapat makan.  Namun manusia tentu mempunyai keinginan yang lebih dari sekedar makan, karena itulah  ketika manusia jatuh ke dalam kubangan, sebaiknya dia cepat cepat mengentaskan dirinya dan melakuka  usaha yang memungkinkan dia lepas dari kubangan tersebut.

Tidak justru berprinsip sudah jatuh sekalian basah, akhirnya hanya menjadi gelandangan yang tidak tentu arah dan masa depan.  Ternyata tidak sedikit jenis manusia yang lebih suka hidup menggelandang di ibu kota ketimbang pulang kembali ke kampong halaman untuk meneruskan usaha pertanian atau bakulan yang sudah dilakukan sebelumnya.  Mungkin para tokoh di kota kota besar sering menemukan jenis manusia yang dmeikian. Kalau memang benar, sangat diharapkan bahwa  mereka juga sebaiknya menghimbau kepada mereka itu untuk kembali saja ke kampong halaman agar lebih terhormat hidupnya.

Sering pula kita emndapai orang yang nekat untuk melakukan  sesuatu di tanah yang sama sekali masih asing baginya, semacam ingin bertransmigrasi, padahal  sebelumnya tidka pernah mempunyai pengalaman menggarap tanah dan berusaha menjadi petani.  Nah, kenekatan tersebut akhirnya berbuah malapetakan baginya, karena di tanah yang dijanjikan oleh pemerintah tersbeut hanya diberikan  rumah sederhana untuk sekedar bernaung dan lahan yang diharapkan untuk ditanami sehingga nantinya akan semakin mampu untuk mengembangkannya.

Bahkan sebagian diantara mereka yang tidak siap etrsebut justru malah menjual pemberian pemerintah tersebut kepada kawannya sesame transmirgran, dan dia kemudian kembali lagi mencario temp[at lainnya yang dianggap akan menguntungkannya.  Pengalaman etrsebut tentu harus dijadikan sebagai pertimbangan pemerntah  baha harus ada persyaratan bagi calon transp=migran untuk mempunyainpengalaman mengolah tanah dan menjadi petani.

Memang tidak salah pada saat pemerintah memberikan lahan dan sekedar rumah swedehrhana kepada mereka karena harapannya merka akan mampu mengolah tanah tersebut dan menjadikannya sebagai lahan untuk bertani, namun pada saat awal memang tidak terpoikir oleh pemerintah tentang adanya masyarakat yang nekat dengan mendaftar sebagai calon transmigran tanpa diseleksi terlebihd ahulu tentang ketramp[ilan yang dimiliki.

Maisng masing orang memang mempunyai bakatnya masing masing, namun yang terpenting ialah bagaimana mereka mampu melakukan usaha yang ditekuni.  Jika memang habitatnya menjadi petani sebaiknya tekuni saja dan jangan beralih menjadi pedagang, karena pasti akan gegal atau sebal;iknya mereka yang habitatnya sebagai nelayan sebaiknya ditekuni saja sedemikian rupa sehingga nantinya akan menjadi nelayan yang sukses, bukan malah kepingin beralih ke usaha lainnya seperti pedagang.

Biasnya orang memang hanya melihat saat ada orang berhasil dan nampaknya suaha yang dijalankan sepertinya mudah sehingga dia tertarik emnekuni bidang tersebut, namun dalam kenyataannya  malah justru  babak belur karena belum mengenal medannya dan memang tidak tahu cara yang harus dijalankannya.  Akibat lebih lanjutnya usah barunya tersebut tidak akan bertah lama dan  kerugain pun  akan dialaminya.

Karena itu  apapun usaha yang digeluti, sebaiknya memang diyakini akan mampu mengentaskannya dari keterpurukan, sehingga dengankeyakinan etrsebut dia akan mampu mengembangkannya sedmikian rupa menjadi lebih besar dan emmberikan keuntungan yang lebih banyak. Dengan kata lain kembalilah kepada habitat yang sesungguhnya, karena hanya itulah yang akan memberikan harapan terbaik bagi usaha yang  dikembangkan.

Memang  ada kalanya Tuhan memberikan kemudahan kepada pihak pihak teretntu, yakni hanya dengan usaha sekenanya ternyata mendapatkan keuntungan banyak dan usaha yang sederhana tersebut ternyata masih bisa berkembang lebih cepat ketimbang usaha lain yang ditekuni dengan serius. Lalu di mana keadilan Tuhan dalam amsalah ini.  Untuk menjawab ini kita tidak perlu tergesa memvonis eadilan Tuhan, karena  Tuhan mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan keadilan Nya. Belum pasti pandangan kita akan sama persis dengan pendangan Tuhan, karena itu kita tetap harus berbaik sangka kepada Tuhan bahwa apapun yang terjadi itu pasti yang terbaik bagi kita.  Itulah keadilan Tuhan yang sesungguhnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.