KETENANGAN JIWA MENJADI SEBUAH KENISCAYAAN

Akhir akhir ini  kita  mendapatkan informasi tentang orang yang  bunuh diri, atau membunuh istri atau anaknya sendiri, dengan motivasi beratnya hidup atau  cupetnya pikiran dan tentu kosongnya keimanan kepada Allah swt.  Lalu pertanyaannya ialah mengapa mereka sampai menghabisi anak dan istrinya sendiri, bahkan dirinya sendiri?  Salah satu sebabnya ialah karena k3mungkinan dia  tidak mempunyai cukup iman sehingga menganggap beban hidup di dunia yang dirasakan begitu berat akan selesai jika dia mati.

Bagi orang beriman hal tersebut tentu sama sekali tidak benar, karena dunia ini hanyalah satu tahap kehidupan yang dilalui oleh setiap manusia, dan setelah kematian, pasti aka nada tahap berikutnya yakni alam bawrzah dan tentu  semua beban yang masih belum selesai di dunia pasti akan menjadi tanggungan di alam tersebut.  Bahkan justru nantinya akan  memasuki alam akhirat dan di sanalah selutuh perbuatan manusia akn dipertanggung jawabkan secara adil di hadapan Allah swt.

Jadi anggapa bahwa  jika sudha mati maka seluruh beban akan berakhir adalah anggapan yang keliru.  Justru dengan bunuh diri tersebut bebannya akan semakin berat karena  bunuh diri juga hal yang diharamkan.  Mungkin bagi yang masih hidup tidak akan mengetahui penderitaan mereka yang sudah mati dan banyak menanggung dosa, namun jika kita mempercayai ajaran  agama yang kita anut, pastinya kita akan semakin berat menanggung beban  dan kita pasti akan mendeerita di akhirat nanti.

Pada saat menghadapi kompetisi hidup yang begitu tinggi seperti saat ini  sangat dibutuhkan keimanan yang kokoh agar kita tetap dapat melakukan hal hal yang baik dan  dapat menenangkan hati dan pikiran kita.  Ketenangan hati menjadi sebuah keniscayaan karena  tanpa  ketenangan hati, kita akan dengan mudah digoyang oleh  kehidupan duniawi, bahkan mungkin akan diplesetkan oleh musuah abadi kita yakni setan dan iblis terkutuk.

Lantas bagaimana caranya kita mampu menenangkan hati dan pikiran, padahal kehidupan dunia sangat banyak macamnya dan membutuhkan pikiran yang maksimal?  Sesungguhnya orang hidup memang harus berpikir dan tidak boleh berhentui untuk memkikir, tetapi memikir itu tidak identic dengan ketidak tenangan, sebab banyak orang hidup denagn ketenangan sehingga pikirannya akan tetap positif dan konsdisiten dalam koridor kebajikan.

Jika kita mampu terus menrus mengingat Allah swt dalam  kondisi apapun, insya Allah hati kita akan tenang dan rasa nyaman itulah yang akan menuntun pikiran kita untuk dapat berpikir secara jernih dan  juga akan menghasilkan sesuatu yang positif juga.  Untuk itulah ketenangan hati harus diraih terlebih dahulu  yakni dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, dengan memperbanyak bacaan yang baik, seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan juga membaca kitab suci alquran.

Tentu kita dapat meniru apa yang selalu ditampilkan oleh para ulama, meskipun mereka tetap berpikir untuk kepentingan umat, namun mereka tampak tetap teduh dan tidak pernah merasakan  kesdedihan.  Kita juga dapat mencapai hal tersebut jika kita terus berusaha untuk menenangkan hati tanpa harus menghentikan berpikir, sebab dengan berpiki yang positif justru manusia akan mampu mendapatkan tambahan ketenangan dan menghasilkan sebuah kondisi yang sangat bermanfaat.

Sebanyak apapun pekerjaan seseorang jika  dia mampu untuk menata hatinya, pasti seluruh pekerjaan tersebut akan dengan mudah diselesaikannya tanpa harus membuat dirinya sewot atau melupakan yang lainnya.  Hidup ini memang harus dijalani dengan santai, tetapi tetap serius.  Artinya kita tidak boleh memaksakan diri untuk semua hal, namun jika di hadapan kita akan pekerjaan, kita harus focus untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.  Mintalah pertolongan kepada Tuhan agar dapat melaksanakan peekrjaan dengan baik dan tetap dalam kondisi sehat.

Kenapa Rasulullah saw dahulu selalu sukses dalam pekerjaannya? Kita dapat mencari jawabannya, ialah karena setiap langkahnya beliau selalu mengingat Tuhan dalam hatinya sehingga beliau selalu mantap dalam menginjakkan kakinya untuk menjalani apapun.  Bahkan pada sata tidur pun beliau masih tetap mengingat Tuhan. Nah, kalau kita mampu untuk menjalani hidup sebagaimana dijalani oleh Rasul saw, tentu kita juga akan mendapatkan pertolongan Tuhan dalam menyelesaikan setiap persoalan.

Jika kita tidak mampu persis sebagaimana Rasul, namun kita  dapat menirunya sekuat kemampuan kita, dan itu tentu juga sudah akan menolong kita  dalam menjalani smeua pekerjaan.  Kita harus yakin bahwa jika kita mengandalkan Tuhan, pasti Tuhan akan membantu kita  dalam hal apapun yang kita kerjakan.  Sebaliknya jika kita menjauh dari Tuhan  pastinya kita tidak akan ditolong oleh Nya.  Jika Tuhan tidak menolong kita pasti apa yang kita kerjakan akan tidak maksimal dan bahkan pikiran kita juga akan  tidak tenang sehingga hasil peekrjaan kita pasti tidak mamuaskan.

Persoalannya saat ini ialah bagaimana kita mampu menyertakan Tuhan dalam setiap langkah kita? Tentu hartus dimulai dengan usaha kita untuk selalu mengingat kepada Tuhan karena bagaimanapun semua  hal itu  ditentukan oleh Nya meskipun melalui  atau lantyara pekerjaan kita.  Mulailah semua peekrjaan dengan berdoa kepada Tuhan dan berusahalah mengingat Nya pada saat mengerjakan sesuatu dan setelah selesai bersyukurlah kepada Nya.  Dengan membiasakan diri seperti itu kita akan merasa ringan dan pekerjaan juga akan tuntas.

Twerkadang kita uring uringan karena pekerjaan menumpuk dan belum lagi  dikerjakan  beberapa perkjaan yang masih belum beres, kita sudah dihadapkan kepada pekerjaan lainnya, sehingga pikirna menjadi kusut dan akhirnya  tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang ada.  Ini banyak dialami oleh banyak orang.  Lalu kenapa tidak mau mencari cara lain yang memungkinkan  dapat menjalani selmua pekrjaan dengan enak, nyaman dan rampung.  Cara satu satunya ialah jika hati kita riang dan gembira serta tenang, pasti semua peekrjaan akan dapat diselesaikan dengan baik.

Semua orang pasti sepakat bahwa pekerjaan akan teras ringan jika dijalankan dengan penuh kegembiraan, dan sebaliknya pekrjaan akan terasa berat dan mungkin juga tidak akan selesai jika dikerjakan dengan keterpaksaan dan  hati yang gundah atau bahkan sedih dan tidak nyaman. Untuk itu kita harus mencari ketenangan tersebut, bukan  ketenangan yang disebabkan oleh materi, karena itu sangat terbatas, melainkan ketenagan karena jiwa kita memang tenang.  Boleh jadi ketika seseorang mendapatkan karunia  berupa benda atau materi, lalu hartanya riang, tetapi itu sifatnya hanya sementara,  dan bisa saja tiba tiba menjadi beruibah darastis, seprti ketika barang atau materi tersebut hilang, karena  ditipu atau lainnya.

Nah, kalau kita ingin semua pekerjaan menjadi tuntas  dan permanen, maka  caranya ialah kita harus mampu menjadikan hati kita terikat kepada Tuhan.  Artinya  setiap saat kita harus mempu menyertakan Tuhan dalam diri kita, dan smeua hal kita pasrahkan kepada Nya.  Memang tidak mudah untuk diwujudkan, tetapi jika kita mau, pasti ada jalan yang terbuka untuk kita sehingga hati dan jiwa kita benar benar akan tenang sebagimana  yang kita cita citakan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.