PUASA ASYURO

Perintah puasa memang ada  disamping perintah wajib puasa Ramadlan, dan umat sudah banyak yang menjalaninhya, sepetri puasa dawud, puasa ayyamul bidl, puasa senin kamis, puasa Arafah, puasa enam hari di bulan syawwal dan lainnya.  Nah, puasa ada hari asyuro juga sudah ada, bahkan kemudian juga ditambah dengan puasa tasu’a yakni tangal 9 bulan Muharram.  Kenapa  ada syariat berpuasa pada hari asyuro, yak arena itu merupakan perbuatan nabi Muhammad saw dan juga diperintahkan beliau kepada para sahabat.

Setiap perintah pasti mengandung makna yang dalam, baik kemudian dpat diungkap maupun yang belum dapat diungkap karena belum ditemukan alasannya oleh manusia sendiri.  Kalau perintah puasa asyura, kon karena  siapapun ayng menjalaninya akan diampuni dosa dosanya setahun yang sudah berjalan. Karena itu ini merupakan sebuah motivasi tersendiri bagi umat muslim untuk menabung pahala untuk akhiratnya nanti.  Secara umum berpuasa itu memang baik untuk kesehatan, meskipun secara khusus terkadang kita mengalami sebuah kondisi yang mana  berpuasa itu justru tidak bagus.

Kita diperintahkan untuk berpuasa di hari asyuro karena pada hari tersebut banyak hamba Allah yang salih mendapatkan anugrah dan pertolongan Tuhan dari kemungkinan mara bahaya, sehingga hari tersebut dihormati, ytidak saja oleh umat muslim, melainkan juga umat lainnya, yakni yahudi dan nasrani.  Itu disebabkan bahwa para hamba Tuhan tersebut bukan dari kalangan muslim,melainkan juga para nabi mereka dan orang orang salih di kalangan mereka.  Karena itu snagat pantas kalau kemudian hari asyura dimuliakan oleh banyak umat dan salah satunya umat muslim sehingga dianjurkan untuk berpuasa.

Secara umum pula bahwa orang yang berpuasa itu pasti akan mendapatkan berbagai kenikmagtan, salah satunya ialah kenikmatan pada saat berbuka puasa.  Disamping itu masih banyak sekali keutamaan puasa sunnah tersebut. Tentu disamping kesehatan ialah tentang kejernihan pikiran dan  kemampuan untuk melakukan  benyak hal yang terkait dengan aktifitas otak dan juga fisik.  Karena itulah kita tahu banyak para ulama zaman dahulu yang hidupnya selalu digunakan untuk berpuasa, dan ternyata mereka justru mendapatkan banyak kebajikan dalam menjalani hidup mereka di dunia.

Hanya saja perintah berpuasa pada hari asyuro tersebut memang tidak mengikat atau tidak wajib bagi umat muslim,melinkan hanya bersifat anjuran, sehingga kalau ada umat yang tidak menjalaninya, maka tidak menjadi masalah.  Walaupun dmeikian tentu menjalaninya  akan jauh lebih bagus, bahkan kalaiupun kita belum mendapatkan keuntungannya secara riil di dunia ini, pastilah pada saatnya yang tepat pasti akan diketahui dan itu pasti ada.  Karena itu kalaupun kita tidak menjalaninya, jangan pernah kita meremehkannya dan bahkan menentangnya.

Tidak menjalankan puasa tidak mengapa dan tidak berdoa, akan tetapi jika kita kemudian menghina dan menyalahkan maka itu akan menjadi persoalan serius karena tu snagat jelas perintah dan anjuran dari nabi Muhammad saw.  Masing masing diantara kita memang doberikan pilihan untuk menjalankan puasa asyuro maupun tidak, namun sikap terbaik kita ialah tetap menghargai dan menghormati mereka yang menjalankannya, dan kita sama sekali tidak memersoalkannya, meskipun mungkin sedikt mempengaruhi kinerja mereka di tempat kita.

Bukankah kalau kita mau menormati orang yang menjalankan kabikan, kita juga akan mednapatkan pahalanya?  Nah, demikian juga dengan berpuasa dalam hari asyuro yang itu jelas diperintahkan oleh rasul, tentu kalau kita menghormati orang yang menjalankannya, pasti kita juga akan mendapatkan pahalanya, setidaknya pahala  menghargai mereka yang menjalankan kebaikan.  Tentu akan jauh lebih bagus jika kita mau membantu mereka menyediakan buka puasanya dan bersedkah kepada mereka berupa makanan dan minuman dan lainnya.

Bahkan sebagian diantara masyarakat muslim kita akan ada yang menbiasakan puasa sejak hari pertama Muharram, yakni tanggal satu hingga tanggal 10.  Tentu tidak ada larangan, apalagi kalua kita mengingat  bahwa menujrut Nabi Muhammad saw  puasa terbaik ialah puasanya nabi Dawud, yakni sehari berpuasa dan sehari kemudian tidak berpuasa dan terus demikian.  Dengan dmeikian puasa  awal tahun  sebanyak sepuluh hari yang sduah biasa dijalankan oleh sebagian umat muslim juga pastinya  bernilai bagus dan tidak perlu dikritik sebagai hal yang bafru dan termasuk bid’ah.

Hal yang sangatbpelru diberitahukan kepada masyarakat ialah bagaimana seharusnya puasa hari asyuro tersbut agar mereka tidak salah niat dan tujuan, karena sebagaiman akita gahu bahwa asyuro tersebut masih dianggap sebagai sesuatu yang menyeramkan dan ditakuti sehingga da juga yang bepruasa asyuro  akan tetapi niatkan  untuk menolak balak atau nita dengan tujuan lain selain hanya karena Allah.  Persoalan ini menjadi sangat urgen, jika kita menilik kebaradaan  masyarakat kita yang hingga saat ini masih belum berani untuk melakukan hal hal penting di hari asyuro agtau bahkan di bulan asyuro ini.

Kepercayaan yang salah tersebut memang masih sulit untuk dihilangkan begitu saja, dan jalan yang seharusnya dilakukan ialah disamping memberikan pemcerahan dan penjelasan dengan disertai alasan yang kat, sekaligus juga kita dan para tokoh menjadikan diri sebagai teladan bagi merka, seperti menyelenggarakan  pesta pernikahan di blan Muharram, mendiria rumah atau nagnguan apapun di hari asyura, dan juga  mengkhitankan anak di bulan asyuro tersebut.  Denga disuguhi oleh kenyataan demi kenyataa seperti itu kitanya masyarakat akan semakin yakni bahwa bulan Muharram atau hati asyuro tersebut memang tidak menakutkan.

Demikian juga menganai pernik jaburan atau sedekah yang diberikan pada saat memperingati syuronan, tidak harus berupa  bubur syuro, melainkan apa saja  yang penting dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat, karena yang terpeinting ialah bersedkah sesuai dengan kemampuan dan tulus serta tidak berpengharapan apapun terkecuali hanya ridla dari Allah swt.  Karena itu memberikan sedekah makanan  besar seeprti nasi dan lauknya juga boleh, sneak ringat juga boleh, bubur syuro juga tidak mengapa dan berbagai minuman dan makanan kecil juga tidak masalah.

Semua itu harus dipahami oleh umat shingga mereka akan melakukan sesuatu dengan sangat yakin dan tertarik untuk melakukannya.  Bahkan kalau memang tidak ada rizki sama sekali tidak bersedekah juga tidak masalah, dan bahkan ikut menikmati sedekahnya kawan atau tetangga.  Bukankah itu maksud dilakukannya sedekah tersebut, yakni agar mereka yang tidak punya dapat merasakan apa yang kita suguhkan.  Namun jika semua umat membawanya juga tidak masalah, karena dapat disaling tukar makanan dan minuman sehingga akan menambah keakraban dan persaudaraan.

Sekali lagi masalah berpuasa pada hari asyura itu memang ada dalilnya yakni perintah nabi kepada para sahabat beliau, namun kemudian  nabi merencanakan untuk tidak hanya puasa di hari asyuro, melainkan juga hari tasu’anya.  Dengan dmeikian keduanya yakni tanggal 9 dan 10 sama sama diperingtahkan untuk berpuasa, meskipun tidak menjadi sebuah kewajiban bagi umat, melainkan hanya bersifat anjuran aau sunnah semat.  Semoga kita mampu menjalaninya dan menjadikan diri kita sebagai teladan bagi masyarakat kita, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.