BERDUSTA

Barangkali kata yang paling tidak disukai oleh orang ialah  dusta, karena bagaimana pun kalau orang didustakan, pastilah akan sakit rasanya, apalagi kalau kemudian dengan dusta tersebut mengakibatkan kerugian secara materi yang sangat banyak.  Namun dmeikian dusta tersebut masih saja dilakukan oleh banyak orang dengan tujuan yang berbeda beda. Bahkan kalapun tujuan berdusta tersebut adalah baik, tetap saja tidak diperkanankan, karena pasti akan menimbulkan efek yang tidak baik.  Misalnya ada orang tua yang berdusta kepada anaknya  pada saat anaknya tersbeut merengek menginginkan sesuatu, lalu orang tersebut menjanjikannya minggu depan, tetapi itu hanyalah sebuah taktik agar anaknya tersebut tidak merengek lagi.

Tetapi hal tersebut tidak disadari bahwa dusta tersebut akan berakibat lebih parah, karena si anak tentu akan memendam rasa tidak senang dengan sikap orang gtuanya dan pastinya hal tersbut akan terus dikenangnya sebagai hal yang buruk.  Akibat selanjutnya  sangat mungkin bahwa si anak tersebut tidak akan lagi mempercaya orang tuanya.  Inilah yang dikatakan sebagai lebih fatal dan tentu kita tidak menginginkannya.  Jadi dusta bagaimanapun tujuannya tetaplah akan berakibat tidak baik, baik pada diri orang yang dusta maupun bagi mereka yang didustai.

Karena efek dusta yang begitu besarnya, maka menurut salah satu riwayat hadi, bahwa nabi Muhammad saw pernah menyatakan bahwa dutsta itu termasuk salah satu tandanya orang munafiq.  Meskipun pada saat kita berdusta sekali saja itu sudah masuk golongan munafiq, tetapi kebiasaan munafiq itu ya kalau berkata dusta, sehingga orang munafiq itu tempatnya ada di nerakan yang paling bawah, alias keraknya neraka.

Kita mungkin pernah didustai oleh pihak lain yang hingga saat ini belum dapat dilipakan dan sakitnya juga terus terasakan.  Namun sebaik baik orang itu kalau mampu melupakan ssuatu yang menyakitkan, seperti didustai lalu tidak merasakannya, bahkan sama sekali tidak dendam  dan membalasnya, karena dengan mengingat kebencian seperti itu hanya akan menjadi beban kita sendiri dan kita sendiri yang menanggung keruiannya. Nah, ketika kita dapat merasakan  sakitnya didustai, maka seharusnya kita tidak akan pernah melakukannya kepada orang lain.

Siapa tahu orang yang kita dustai naninya mendoakan yang jelek pula kepada kita, kan kita sendiri yang rugi. Karena itu dalam kondisi apapun kita haus selalu mengingat  jangan sampai kita berdusta atas nama dan untuk kepentingan apapun.  Kalau harus mengatakan sesuatu yang teras apahit, maka sesungguhnya sudah ada pepeatah yang menganjurkan untuk mengatakannya apa adanya meskipun terasakan pahit.  Katakanlah sesuatu semestinya  mesikpun teraskan pahit.  Karena kalau kita mengatakan sesuatu yang benar meskipun tampak pahit,  akan tetapi pastinya hati kita akan merasa lega seteah mengatakan yang benar tersebut.

Soal resiko, maka hidup di dunia ini memang penuh dengan resiko, namun kalau resiko yang harus kita hadapi tersebut karena kebenaran, maka kita akan terhormat dan Allah pastinya mencatatnya.  Karena itu  pendidikan yang paling baik yang kita berikan kepada anak anak kita ialah jangan pernah dusta, dalam kondisi apapun.  Nabi Muhammad saw sendiri pada saat ada orang kafir masuk Islam dan menanyakan kewajiban apakah yang haqrus dijalankan setelah dia mesuk islam, apakah menjalankan shalat, zakat, puasa  dan kewajiban lainnya?  Nabi menjawab bukan itu, tetapi  mulai sat itu dia harus tidak berdusta.

Mu gkin pada awalnya orang tersbeut mersakan betapa ringannya perintah nabi tersebut, namun setelah ebrjalan beberapa saat, dia baru tahu bahwa untuk tidak dusta itu ternyata begitu beratnya, sehingga membuat kesadarannya   total untuk memasuki Islam, karena melihat betapa mulainya islam itu dan betapa bijaksananya Nabi Muhammad saw sebagai utusan Tuhan. Terkadang kita memang tidak menyadari bahwa berdusta itu sangat  luar biasa akibatnya, bahkan suatu saat akan menenukan mati dan hidupnya seseorang, karena itu dosa dusta itu sungguh mengerikan.

Kita tentu juga tahu bahwa pada saat itu ada  seorang nabi yang berbohong dan kemudian mendapatkan kesulitan tersendiri, meskopun kebohongannya terebut untuk tujuan yang baik dan kalua didalam hakekatnya tidak termasuk bohong.  Nabi Ibrahim pada saat  menghancurkan seluruh berhala yang ada dan hanya menyisakan satu yang terbesar, lalu diinterogasi oleh anak buah Namrud, dan saat itu nabi Ibrahim ditanya tentang siapakah yang teleh berani menghancurkan berhala dan tuhan tuhan mereka, lalu  nabi Ibrahim sambal menunjuk kepada berhala yang masih utuh tanyakan saja kepada dia kalua memang dia mampu berbicara.  Kalua dia tidak tahu apa apa dan tidak mampu berbuat apa apa, mengapa kalian semua menyembahnya?

Dengan jawaban tersebut sesungguhnya nabi Ibrahim tidak berbohong namun hanya ingin mengingatkan kepada kaumnya bahwa menuyembah kepada sesuatu yang tidak dapat menolong dirinya sendiri itu merupkan perbuatan bodoh dan tidak patut diteruskan, namun kemudian nabi brahim dianggap berbohong dan akhirnya disiksa oleh mereka.  Meskipun dmeikian Tuhan tetap menolong nabi Ibrahim dan mengatakan kepada  api yang dibuat membakar nabi Ibrahim dengan perkataan yang sangat terkenal yakni wahai api jadilaj kamu sebagai dingin dan menyejukkan serta menyelamatkan bagi nabi Ibrahim.

Demikian juga kebohongan yang pernah dibuat oleh saudara saudaranya nabi Yusuf pada saat menyinkirkan Yusuf kecil saat itu dnegan mangatakan bahwa Yusuf telah dimangsa oleh serigala sehingga mereka berbohong dengan mebawa bukti baju Yusuf yang berdarah, walaupun darah tersebut hanyalah darah satu kambingnya yang sengaja di bunuh untuk membohongi ayahnya, yakni nabi Ya’qub.  Nah, dengan perbuatannya tersebut, akhirnya mereka tertimpa  kemalangan berupa  paceklik yang panjang. Walaupun yang terkena paceklik bukan hanya mereka melainkan sleuruh penduduk.

Tentu masih banyak lagi kisah kisah menyedihkan  pihak pihak yang sebelumnya telah berbuat kebohongan atau dusta.  Kiranya cukup bagi kita untuk dapat menyimpulkan bahwa  dengan berdusta, orang akan menjadi sengsara atau akan mengalami penderitaan yang sangat.  Sebalimnya bagi mereka yang selalu memepertahankan kejujuran, meskipun secara lahir sengsara, namun hati mereka tetaplah  tenang dan tidak menderita.  Karena itu jika kita ingin hidup kita berkah dan  hati selalu tenang,  haruslah menghindari dusta dan segala macam kebohongan lainnya.

Hal paling harus kita ingat ialah Tuhan itu tudak menyukai orang orang yang berdusta, dalam hal apapun.  Jika kita tetap nekat melakukana hal hal yang tidak disukai atau bahkan dilarang oleh Tuhan, sudah pasti kita termasuk pembangkang dan igtu sudah cukup untuk menetap di neraka.  Artinya  berdusta itu bukan hanya  merupakan aib di dunia saja melainkan juga akan berdampak hingga di akhirat, meskipun dusta  yang dilakukannya tersebut bukan terkait dengan keimanan dan hanya berkaitan dengan kehidupan duniawi semata.  Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan di atas disebabkan ada pihak yang didustai yang merasakan akibatnya secara langsung, yakni sakit dan sangat kecewa.

Sekali lagi jika kita ingin kehiduan yang nyaman dalam arti yang hakiki, tanpa diwarnai oleh  sesuatu yang sewaktu waktu  dapat mencederai kehidupan kita, maka syarat mutlaknya ialah mempertahankan kejujuran dan menjajuh dari kedustaan, bahkan  nabi kita Muhammad saw senndiri sampai harus mengancam orang orang yang befusta atas nama beliau untuk masuk ke dalam neraka.  Semoga kita  mampu untuk menjauhi diusta dan selalu mempertahankan kejujuran dalam kondisi apapun, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.