MEMBERI TANPA HARAP KEMBALI

Kata ikhlas memang menjadi kata kunci, setidaknya dalam ajaran Islam dalam menjalankan  kegiatan apapun, termasuk beribadah kepada Tuhan.  Mungkin bagi seorang muslim ketuusan itu merupakan sebuah amalan yang cukup berat dijalankan, manakala berkaitan dengan  amaloah  dunia biasa, seperti aktifitas memberi dan menolong.  Namun jika  orang tersebut secara sunghguh sungguh berkeinginan untuk memberi dana mendapatkan pahala dari Tuhan, mungkin dia akan mendapatkan ketulusan tersebut.  Jika kondisinya seperti itu maka bagi para  kekasih Tuhan, juga masih belum dapat dikatakan sebagai tulus atau ikhlas, karena masih ada harapan untuk mendapatkan  balasan dari Tuhan.

Adakah orang yang mampu  mengjilangkan segala macam keinginan balasan dari siapapun datangnya, termasuk dari Tuhan dan juga Rasul saw.  Kita masih saja mendengar dan mengetahui bahwa ajaran para ulama sekalipun selalu memberikan pendidikan yang tidak mengarah kepada ketulusan yang sesungguhnya, karena  selalu saja  semua amalan akan dihubungkan dengan balasan nanti di akhirat, semacam  akan mendapatkan pahala di akhirat atau  siapapun yang membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw, nantinya akan mendapatkan syafaat atau bantuan dari Rasulullah  saw.  Dan kita sama sekali tidak pernah mendapatkan arahan agar kita tidak  berpengharapan apapun dari siapapun pada saat  melakukan sesuatu.

Itu disebabkan tugas para ulama dalam menyampaikan  dakwah ialah untuk mereka yang dalam  tingkatan  biasa atau bahkan umum, sehingga sangat diperlukan sebuah harapan pada saatnya nanti.  Di samping Tuhan sendiri juga memberikan janji tentang hal tersebut, semacam pernyataan Tuhan tentang perbuatan baik, yakni  barang siapa yang dating dengan satu kebaikan, maka dia akana mendapagkan balasan sepuluh kali lipat kebaikan tersebut.  Bahkan dalam ayat yang lain Tuhan juga menyatakan bahwa siapapun yang berinfaq di jalan Allah swt , maka itu bagikan  menanam setangkai biji, lalu biji tersebut akan tumbuh  menjadi 7 cabang dan setia cabang akan menumbuhkan buah serratus, sehingga balasan orang yang berinfa di jalan Allah, maka dia akan mendapatkan balasan 700 kali lipat dan bahkan bisa lebih banyak lagi.

Kalua begitu sesungguhnya berharap  atas karunia dan pahala dari Tuhan itu tetap saja dikaakan sebagai ikhlas, karena ketulusan itu bilamana dilihat dari apakah dia itu hanya menginginkan pahala dari Tuhan ataukah ingin sesuatu dari selain Tuhan. Jadi jika hanya berharap pahala Tuhan, maka itu sudah ulus karena Tuhan.  Akan tetapi sekali lagi bila hal tersebut dihubungkan dengan para hamba Tuhan yang menjadi wali, tentu akan berbeda, yakni mereka itu sama sekali tidak berharap mendapatkan apapun dari uhan, karena semua itu  dilakukan karena memang merekalah yang membutuhkan Tuhan.  Mereka hanya ingin Tuhan rela kepada mereka atau mereka hanya ingin cinta dari Tuhan semata.

Bahkan ada pernyataan dari para wali tersebut bahwa jika mereka beribadah hanya ingin masuk surge TUhan, maka  jauhkanlah  dari surge tersebut, dan jika mereka beribadah hanya ingin terjauhkan dari neraka, maka masukkanlah ke dalamnya, dan begitu seterusnya.  Mereka benar benar tulus dalam mengamalkan apapun yang ada di dunia, dan mereka sama sekali tidak tergiur dengan surge dan segala nikmat di dalamnya, karena yang gterpenting bagi mereka ialah kecintaan mereka kepada Tuhan dan Tuhan memberikan krdaan Nya.

Nah, jika kemudian kita kembali kepada dunia riil saat ini, maka  sebagian manusia  masih saja tidak tulus pada saat membantu kepada pihak lain, dalam arti mereka masih menginginkan  ada kembalian dari mereka.  Coba kita lihat saja pada saat mereka mempunyai gawe atau resepsi, dan mereka menyumbang kepada kawananya yang sedang penya gawe tersebut, lalu pada saatnya nangti mereka juga berharap akan ada kembalian dari mereka yang sudah disumbang.  Meskipun  kondisi ini sudah dianggap biasa oleh sebagian besar masyarakat, namun  kalau itu tidak dijalankan dan semua pemberian yang sudah keluar, sama sekali tidak dihitung kembali, maka itulah hal terbaik yang harus dilakukan.

Pada saat orang sedang membezuk orang lain yang kebetulan sedang sakitpun terkadang orang juga masih bisa berharap bahwa suatu saat nanti mereka yang dibezuk tersebut akan mengembalikan pemberian yang sudah pernah diberikan.  Sesungguhnya kalua ini terjadi, secara  etika adalah sebuah londisi yang buruk, karena untuk memberikan bantuan kepada orang yang susah sekalipun, masih saja ditunggu pengembaliannya.  Mampukah kita mengikhlaskan semua pemberian yang kita keluarkan untuk siapapun?  Jika kita mampu untuk itu, maka itulah kondisi yang seharusnya  kita miliki.

Sama pada saat kita memberikan sesuatu kepada seorang pengemis, maka  kita harus tidak pernah berharap kembalinya pemberian tersebut dari pengemis tersebut.  Kalua misalnya kita memberi untuk mendapatkan gangti yang lebih banyak, maka itupun sesungguhnya kurang tulus, karena soa pemberianoleh GTuhan sebagai gangti pemberian itu menjadi urusan mutlak dari Tuhan.  Biarlah Tuhan sendiri yang akan berbuat kepada kita, sehingga kalua pun kita  gterus berderma dan Tuhan tidak memberikan balasan Nya di dunia ini, maka  kita akan tetap memberi kepada mereka yang membutuhkan.

Barangkalai kita dapat memulainya dan latihan dengan memberi kepada pengemis, karena itu akan jauh lebih mudah untuk tidak berharap, karena secara lahir mereka tidak akan mampu mengembalikan pemberian kita, lalu kembangkanlah dengan meebri kepada anak anak yatim yang berada di panti asuhan, karena mereka juga secara lahir tidak akan mengembalikan pemberian kita.  Dengan melaih diri secara demikian, lama kelamaan kita akan terbiasa dengan ketulusan etrsebut, atau tidak banyak berharap dengan penberian yang kita lakukan.

Namun bukan berarti kita kemudian tidak memberi kepada selain mereka, karena para tetangga kita juga terkadang membutuhkan pertolongan dari kita.  Kita tentu juga  swringkali berhadapan dengan masyarakat yang susah yang menarik minat kita untuk memberikan pertolongan kepada mereka.  Namun jika kita belum mampu untuk ikhlas dalam pemberian tersebut, biarlah kita tetap memberi, sambil kita melatih diri untuk menjadi tulus dalam setiap pemberian yang kita lakukan.  Akana jauh lebih baik tetap memberi, meskipun belum mampu untuk ikhlas, ketimbang tidak mau memberi agtau membantu sama sekali, sedangkan untuk keikhlasan dapat dibangun sedikit demi sedikit.

Setidaknya kita harus dapat mengalihkan perhatian kita dari aspek keduniaan, melainkan kita dapat berharap kepada karunia Tuhan. Artinya  bolehlah kita memberi dan bersedekah dengan tetap berharap akan mendapatkan ganti dan balasan dari Tuhan, tetapi bukan dari sesame makhluk Tuhan.  Insya Allah kalua berharapnya tersebt kepada Tuhan, maka itu masih dianggap tetap tulus harnya karena Tuhan, dan  bahkan Tuhan sendiri juga emmberikan harapan yang demikian.  Akan tetapi kalua kita mampu mengosongan pikiran kita dari berharap tersebut pasti akan jauh lebih bagus.

Untuk itu mari kita membiasakan diri untuk tidak berharap pada saat kita memberi, apapun yang kita berikan.  Semoga Tuhan mau memberikan  karunia Nhya kepada kita sehingga apa yang kita harapkan akan dapat dikabulkan dengan sangat baik dan tidak  lama.  Itu juga tefantung pada niat dan keinginan kuat kita sendiri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.