MENGAWALI TAHUN BARU DENGAN KOMITMEN BERBUAT BAIK

Sebagaimana kita tahu bahwa saat ini kita  masih  di awal tahun baru Hijriyyah dan sebgaimana kita tahu pula bahwa  lembaan tahun baru ini kiranya akan jauh lebih bagus jika digunakan untuk kebajikan dan menjauh dari hal maksiat yang hanya akan mengotori jiwa dan hati kita.  Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengawali dan mengisi lembaran tahun baru ini.  Setidaknya dapat dimulai dengan komitmen untuk melakukan  kebaikan demi kebaikan.  Namun  bukan hanya  niat baik saja, melainkan harus diusahakan agar nita baik untuk menjalani kebaikan tersebut dapat diwujudkan.

Kita dapat mengawalinya dengan sesuatu yang mudah dan dapat kita lakukan, semacam bersedkah, berapapun yang kita sedekahkan yang terpenting ialah dengan hati yang tulus.  Kita juga  dapat melakukan ibadah tambahan atau kesunnahan, lalu kita juga dapat membanti siapapun yanag membutuhkan bantuan.  Setidaknya kta  mampu meberikan wajah yang ceria bagi siapapun yang bertemu dengan kita atau senyum yang manis tanpa tujuan apapun melinkan hanya karena Allah swt.  Jika memungkinkan kita  selalu mengarahkan pikiran kita untuk kebaikan dan buakan keburukan, baik yang terkait dengan diri kita, keluarga kita, maupun masyarakat secara umum.

Kita harus  mampu berkompetisi dengan yang lain tentang amalan baik tersebut, karena kita kita akan pernah tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah swt, sebab usia orang itu haya Tuhan yang mengetahuinya.  Kita harus selalu mengingat kematian tersebut, sebab itulah yang selalu dipesankan oleh Rasulullah saw, karena dengan mengingat mati tersebut kita akan terpacu untuk melakuan hal hal baik dan mengabaikan kehidupan yang tidak berguna.  Namun untuk kehidupan duniawi, kita juga haus tetap memikirkannya, bukan diabaikan secara menyeluruh.

Kalau sebelumnya kita terbiasa mengabaikan keluhan pihak lain dan acuh saja saat menyaksikan penderitaan orang lain,  mujlai saat ini di tahun ini kita dapat berempati dengan siapapun yang sedang menderita dan membutuhkan uluran tangan kita. Kalua selama ini kita terlalu sibuk bekerja sehingga tidaka pernah memperhatikan tetangga, mulai saat ini kita harus memperhatikan keberadaan tetangga kita, syukur kalua mereka baik baik saja, tetapi jika mereka kebetulan sedang sakit, maka kita harus mau menolongnya sesuai dengan kemampuan kita.

Hasil muhasabah pada akhir tahun biasanya akan melahirkan keadaran diri untuk melakukan kebajikan pada tahun mendatang, itu disebabkan kesadaran bahwa dalam tahun yang lalu telah melakukan hal hal yang kurang baik, di samping juga telah banyak menyia nyiakan kesempatan untuk berbuat kebaikan.  Kesadaran tersebut ditambah pula  pada ke nyataannya  telah banyak orang musa yang kemudian dipanggil oleh Tuhan, sehingga membuatnya sadara akan kematian.  Siapa tahu sebelaum menjalani kebaikan nanti Tuhan sudah memanggilnya.  Jadi sebelum itu smeua terjadi, dan akan merugikan diri sendiri, maka  melakukan kabajikan itulah jalan satu satunya yang akan menyelamatkannya.

Jadi semakin banyak momentum untuk bermuhasabah, tentunya akan semakin baik bagi manusia. Kalua selama ini biasanya muhasabah terjadi pada pwegantian tahun, maka pada umumnya  masyarakat kita  menendai muhasabah tersebut melalui pergantian tahun MIladiyyah dan juga Hijriyyah.Coba kalua etiap manusia mau menjadikan setiap bulannya sebagai  sarana untuk bermuhasabah, tentu akan menjadi lebih bagus lagi, karena semakin banyak bermuhasabah, tentu akan semakin baik dan  banyak pula kesadaran diri sebelum menumpuknya dosa dan keburukan dalam dirinya.

Namun sesungguhnya yang lebih penting dari itu semua ialah konsistensi diri untuk terus menjalankan kebajikan dan meninggalkan keburukan, serta terus mengasah diri untuk menambah pengetahuan keagamaan melalui ngaji.  Jika ngaji dan membaca terus dilakukan sambal terus meminta penjelasan kepada ulama yang kompeten, tentu semuanya akan terasakan indah dan  memuaskan.  Ibadah yang dijalankan dengan disertai ilmu yang benar, pasti akan menghasilkan sebuah kondisi yang memungkinkan seseorang memperoleh manisnya menjalankan ibadah tersebut.

Namun kita harus ingat bahwa  Tuhan pasti tidak akan membiarkan hamba Nya  mjudah mengatakan bahwa  dia beriman, karena itu Tuhan pasti akan memberinya cobaan dan nantinya Tuhan akan menguji dan akan mengetahui siapa saja yang benar benar imannya dan siapa saja yang hanya bohongan belaka.  Akan sia sialah siapapun yang ucapan keimanannya hanya sebagai kebohongan belaka dan akan beruntunglah bagi siapapun yang dengan ketulusan menyatakan keimanan dan kemudian juga mengimbanginya dengan usaha menjalankan kebajikan.

Dalam ujian yang dilakukan sndiri oleh Tuhan gtersebut, telah banyak  hamba Nya yang gterbukti tidak tulus dalam keimanannya.  Bisa jadi Tuhan menuji seseornag dengan sesuatu yang menyulitkan dan menyusahkan, semisl diberikan beban yang terlalu berat atau diberikan sakit yang susah sembuh.  Namun jika ujian tersebut dapat dilalui dengan baik, dapat dipastikan Tuhan akan memberikan kebahagiaan yang beelipat ganda dan kesenangan yang sangat banyak.

Akan tetapi terkadang Tuhan juga menguji manusia dengan  sesatu yanag membahagiakan, semisal diberikan harta yang sangat banyak, diberikan kesehatan yang prima atau diberikan kesempatan dalam berbagai event yang menyenangkan dan mengangkat posisinya.  Nah, biasanya  manusia akan  terbuai dengan kesenangan etrsebut dan lupa bahwa itu merupakan sebuah ujian.  Biasnya mereka yang diberikan harta banyak, lalu berlaku sombong dan menjadi kikir, serta tidak mau membantu dan peduli kepada sesamanya.

Bagi mereka yang tidak lolos dalam ujian tersebut, adakalanya  ditunda pemberian sanksi atau balsannya, namun ada juga yang pada saat meeka masih di dunia sudah diberikan balsannya, yakni berupa  kebangrutan dan ksengsaraan yang sangat  luar biasa beratnya.  Banyak diangtara mereka yang kemudian menjadi  miskin dan memnta minta, namun tidak sedikit juga yang kemudian tidak tahan dengan kemiskinan dan penderitaan dan kemduian mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dan lainnya.

Karena itu pada saat kita masih di awal tahun ini  komitmen yang sudah kita  sampaikan tentu juga harus diimbangi dengan pengertian bahwa semua itu pada saat masih di dunia harus kita sikapi sebagai ujian dari Tuhan, baik itu yang berupa kondisi menggemboraan maupun sebaliknya kondisi yang menyedihkan.  Dengan dmeikian kita memang harus mampu menrima apa apun yang diputuskan oleh Allah swt dengan tulus dan berusaha untuk dapat memahaminya.

Muhasabah yang kita lakukan dan kemudian melahirkan kesadaran untuk berkomitmen menjalankan kebaikan tersebut, sehausnya bukan hanya kita lakukan sendiri, melainkan juga harus  berama dengan seluruh anggota keluarga kita, termasuk anak anak dan orang tua kita yang masih hidup.  Kalau kondisi kesadaran tersebut dan kemujdian juga komitmen untuk menjalani kebaikan  telah menjadi consensus bersama, maka kondidi rumah kita apstinya akan seperti surge, sebagaimana  yang pernah dikatakan oleh Nabi Muhammda saw, yakni rumahku adalah surgaku.

Mari wujudkan keinginan untuk menjadikan rumah tangga sebagai surge dengan sellau berbuat yang baik dan juga berdoa meminta kepada Allah swt dengan tulus agar semua keinginan kita dikabulkan oleh Nya.  Siapapun yang menginginkan sebuah kebaikan dan kemudian  berusaha untuk mewujudkannya, pasti Tuhan akan mewujudkannya, entah kapan waktunya yang tepat menurut Tuhan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.