MARI BERHIJRAH

Kita tahu bahwa nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau yang utama menjalani hijrah yang sungguh berat, yakni berpindah dari Makkah  ke Madinah, sebuah perjalanan panjang pada saat itu karena transportasi yang paling mejungkinkan dan cepat ialah kuda.  Namun dengan penuh keyakinan, mereka semua  tulus menjalaninya hingga pada akhirnya sampailah mereka ke tujuan.  Pada saat memuali berdakwah di Makkah dan sekitarnya, Nabi Muhammad saw selalu saja diganggu oleh kaum kufar Makkah.  Ibaratnya  beliau tidak diberikan kesempatan sedikitpun untuk menyeru kepada Tuhan dan mengajak manusia untuk menyembah Nya.

Pada awalnya memang   tantangan yang dihadapi oleh Nabi tidak begitu keras, karena paling paling hanya diejek saja, namun setelah beberapa lama dan sudah cukup banyak orang yang me gikuti jejak beliau, orang orang kafir mulai sirik dan terganggu, sehingga mereka kemudian menyiksa para pengikut Nabi yang pada saat itu memang  dari kalangan rakyat biasa dan bahkan juga budak.  Namun Nabi tetap berdakwah sehingga semakin hari semakin banyak pengikutnya dan terbukan hatinya untuk menerima kebenaran yang dibawa oleh Nabi saw.

Pada tahap awal Nabi sendiri memerintahkan kepada pengikutnya untuk sementara waktu menyingkir dan berhijrah ke Habasyah atau daerah Etiopia, namun  setelah banyak umat yang mengikutinya, para kuffar Makkah semakin menggila dan bahkan ada rencana untuk menghabisi Nabi sendiri.  Nah, dalam kondisi genting seperti itu, lalu Allah swt memerintahkan langsung kepada Nabi untuk mengugsi atau hijrah ke  Yatsrib atau Madinah.  Tentu tidak mungkin  akan dilakukan secara bersama sama  seluruh pengikutnya, maka Nabi kemudian hanya mengajak sahabatnya, Abu Bakr untuk menemaninya menuju Madinah di tengah malam.

Tentu kita mengstahui cerita detailnya beliau menginap di gua Tsur dan kemudian melanjutkan perjalanannya  pada malam hari juga.  Begitu perjuangan yang sangat berat dijalani oleh beliau  dan pada saatnya  mereka sampai juga ke Madinah yang disambut dengan pebnuh kesukaan oleh penduduk Madinah.  Lalu dengan secara berangsur, para sahabat belau menyusul ke sana. Di Madinah lah Nabi kemudian mendapatkan  kesempatan untuk berdakwah dengan leluasa dan banyak pula yang kemudian mengikuti jejak beliau.

Di tanah  tempat Haijrah itulah kemudian Nabi mendapatkan kesuksesan dalam menjalani dakwah dan  bahkan  umat lain juga tunduk dengan aturan yang dibuat oleh beliau bersama dengan kaum muslim.  Namun Nabi tidak semena mena memperlakukan orang orang di luar kaum muslim, melainkan diajak bersama dalam menanggulangi ancaman yang dating sewaktu waktu.  Namun Nabi juga menyadari bahwa  tidak semua orang suka dengan keberhasilan beliau tersebut.  Di sana ada orang orang  Yahudi yang jahat dan merencanakan untuk  menggerus dari dalam.  Orang munafik itu memang seperti itu sifatnya, selalu saja menebar senyum di hadapan Nabi, tetapi di belakang Beliau, mereka selalu merennakan  ingin menghancurkan.

Itulah sekilas hijra yang dijalankan oleh Nabi Muhammad saw  bersama para sahabat beliau, yakni berpindah tempat karena di Makkah beliau selalu mendapatkan rintangan yang begitu besar. Lalu  apakah kita juga harus berhijrah sebagaoimana dilakukan oleh nabi?  Barangkali sebagaian diantara kita perlu melakukan hijrah yang demikian, yakni manakala  di tempat untuk berjuang dan berdakwah di suatu tempat mengalami kesulitan yang lar biasa dan  tidak mampu untuk ditanggulanginya sendiri.  Namun apabila masih dapat dilakukan upaya upaya untuk tetap menjalankan dakwah dengan damai, maka sebaiknya tidak berpindah tempat, melainkan justru harus membangun daerah tersebit hingga menjadi lebih baik.

Pada saat ini hijrah  berpindah tempat sesungguhya bukan priortas karena pasti akan dapat ditemukan cara yang baik untuk tetap tinggal di tempat tersebut dan tetap menjalankan misi dakwah.  Untuk itu haijrah yang lebih tepat pada saat ini ialah berpindah dari jalan yang buruk menuju jalan yang baik.  Berpindah dari kemaksiatan menuju jalan keridaan Tuhan dan berpindah dari kondisi yang tidak baik menuju kondisi yang jauh lebih baik itulah yang harus kita jalani saat ini.  Jadi makna hijrah saat ini harus sudah ebrgeser dari makna hijrah pada awalnya, karena bagaimana pun kita memang harus terus menerus menjalani hijrah tersebut agar hidup kita semakin bermakna dan mendapatkan pahala dari Tuhan, seraya terus  mendapatkan hidayah  Nya.

Seluruh umat muslim memang harus menjalani hijrah, sebab kalua tidak menjalaninya, pasti dia akan tercebur dalam keburukan yang lebih parah.  Kita tahu  bahwa godaan hidup di dunia ini sungguh sangat luar biasa, dan smeua orang pasti akan mengalaminya, meskipun kadar ketrgodaan masing masing orang itu berbeda, namun pastinya semua manusia pernah melakukan hal hal  buruk yang akan menjadikannya jaun dari Tuhan.  Nah, pada saat ingat tentang hal tersebut, segeralah untuk bertaubat dan hijrah menuju yang lebih baik dengan menjalani amalan ibadah yang diperintahkan oleh Tuhan dan meninggalkan segala keburukan yang dilarang Nya.

Terkadang orang memang tidak menyadari bahwa  dia berada di jalan yang tidak benar dan nyaman di dalamnya, padahal itu merupakan jalan yang buruk dan segera harus ditinggalkan.  Hanya kesadaran yang diperoleh dari Tuhanlah yang akan memberikan pencerhan dalam dirinya bahwa apa yang dijalani selama ini ternyata tidak baik. Untuk itu semua orang harus selalu berdoa memohona kepada Tuhan agar terus diberoka cahaya hidayah dan keimnanan yang sempurna sehingga akan terkjauhkan dari semua kemungkaran dan diekatkan dengan kebaikan.

Mata manusia terkadang terhalang oleh kabut dosa  sehingga tidak mapu melihat dengan jernih setiap persoalan, sehingga  ada kemungkinan bahwa  apa yang dilakukan dan dianggap sebagai sebuah kebaikan, ternyata itu merupakan keburukan.  Hanya hati dan pikiran yang jernihlah yang akan mempertimbangkannya.  Jika seseorang terus dalam mondisi  demikian, yakni  tidak pernah dzikir dan berdoa kepada Tuhan untuk diberikan hidayah, pastinya dia akan gterus  berada dalam kondisi yang  buruk tersebut dan mungkin dia akan terus nyaman di dalamnya.

Kita harus mampu mengukur diri kita dan kemudian bandingannya ialah sosok Rasulullah saw. Meskipun tidak mampu untuk mebandingkan secara keseluruhan, namun kita masih mampu juntuk membandingkan dan kemudian mberusaha meneladaninya. Ambil contoh misalnya sejauh mana shalat yang sudah kita jalani atau lakukan. Nabi selalu berjamaah dan juga shalat Sunnah  rawatib, shalat dluha, shalat tahajjud dan lainnya.  Pertanyaannya ialah apakah kita sudah mampu menjalani yang demikian? Ika jawabannya belum, maka kita harus segera hijrah menuju kondisi sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul, meskipun hanya beberapa amalan saja.

Jika Rasul selalu memaafkan kepada siapapun yang salah atau bahkan sengaja  menyalahinya, lalu apakah kita sudah mampu untuk melakukan hal tersebut. Jika jawabannya belum, maka segeralah hijrah untuk berada pada  kondisi sebagaimana dilakukan oleh Rasul, dan begitu seterusnya.  Siapa bilang  pintu hijrah sudah ditutp, karena masih banyak kekurangan kita dengan acuan Rasulullah saw, maka hijrah dalam makna berpindah dari keburukan  me uju kebaikan atau berpindah dari kebaikan menuju uang lebih baik lagi. Semoga kita mampu menjalani hijrah berkali kali agar kita mendapatkan kebajikan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.