MENJELANG PERGANTIAN TAHUN BARU

Uforia dan gegap gempita pergantian tahun baru Islam atau Hijriyyah memang tidak seperti pada saat pergantian tahun bari Miladiyyah, namun kekhidmatannya justru terkadang malah melebihi kegiatan lainnya.  Hal tersebut disebabkan oleh konsentrasi pada saat memperingati malam tahun baru Hijriyyah etrsebut.  Kita dapat menyimak tausiyah yang disampaikan pada saat renungan malam tahun baru Islam tersebut, yang rata rata terkait dengan bagaimana kita  mengingat amalan amalan jelek kita  dan kemudian bagaimana pula kita beraubat dan berkomitmen untuk menjalankan amalan yang baik di tahun mendatang.

Pada saat kita diajak untuk merenungi amalan jelek kita masing masing, terkadang kita  sampai menangis karena  amalan jelek yang pernah kita lakukan tersebut. Bagaimana kita  dapat menjalanai amalan sejahat itu, dan menyakitkan saudara saudara kita serta merugikan mereka.  Pada saat itu di manakah hati nurani kita dan juga pikiran kita.  Kenapa tidak muncul pada saat itu sehingga kita akan berpikir dan akhirnay menggagalkan kejahatan tersebut.  Rasa penyesalan selalu menghantui diri kita karena dosa yang berat, dan itulah sesungguhnya awal dari sebuah proses pertaubatan.

Dalam memperingti pergantian tahun baru Islam tersebut dapat dipastikan tidak ada pertunjukan music atau keramaian yang bersifat hura hura, melainan semua yang memperingatinya akan berkumpul di suatu tempat, lalu merenung dan muhasabah.  Justru kebanyakan diantara mereka sedang berkonsentrasi kepada permohonan maaf kepada Tuhan, melalui mujahadah, bertasbih, bertahmid, bertahlil dan membaca bacaan bacaan yang baik untuk mengawali tahun.

Bahkan yang bergema dalam perkumpulan tersebut ialah suara shalawat kepada Nabi Muhammad saw, bacaan alquran dan juga dzikir.  Sungguh mjulia sekali jika kita tidak meyia nyaiakan kesempatan tersebut untuk mengevaluasi diri dan berkomitmen untuk menjalankan esatu yang lebih baik.  Jika kita sedang berada di tempat, dimana banyak orang sedng bermujahadah dan berdzikir kepada Tuhan, pastilah hati kita akan tertarik untuk ikut melakukan kabaikan sebagaimana mereka melakukannya, sebaliknya jika kita berada di tempat dimana banyak orang lagi melakukan hal hal yang tidak baik, biasanya kita juga akan mudah untuk menrukan dan mengikutinya.

Pada saat ini tidak banayk orang menyiapkan peringatan memasuki pergantian tahun baru Islam itu, meskipun mayoritas masyarakat kita adalah kaum muslim.  Mereka seolah tuidak mengetahui bahwa sebentar lagi aka nada pergangtian tahun, sehingga mereka membiarkannya begitu saja tanpa kesan.  Namun memang sebagian diantara umat muslim sudah ssiap siap, terutama  untuk menyambut malam pergangtian tahun baru tersebut, ykni dengan memeprsiapkan segala macaam makanan yang akan menjadi hidangan khas  malam tahun  baru tersebut.

Kita juga tahu  bahwa sebagiannya telah mempersiapkan tempat yang akan memuat banyak masyarakat pada saatnya.  Artinay mereka sudah memasang tenda sebagai bagian  dari tempat untuk menjalankan malam tirakatan atau perenungan  sekaligus nanti juga akan dijadikan tempat mengaji atau mendapatkan tausiyah dari ulama tenar yang sengaja didatangkan  dalam rangka  menyambut tahun baru Hijriyyah.  Semengtara itu para remaja dan anak anak  tidak ada kegiatan persiapam apapun, karena mereka biasanya hanya mengikuti saja acara yang sudah disusun oleh para orang tua.

Tentu akan lain dengan peringatan lainnya seeperti kemerdekaan atau menyambut tahu baru Miladiyyah dan sejenisnya.Biasanya kalua menyambut hari hari tersebut, para remaja begitu sibuk dan memperiapkan berbagai acara pada malam puncaknya, baik dengan mendatangkan tontonan maupun unyk pentas mereka sendiri.  Syukurlah dalam peringatan pergantian tahun baru Islam ini kegiatan serupa tidak dilaksanakan, karena biasanya kegiatan kegiatan hiburan tersbeut akan lebih banyak madlaratnya ketimbang manfaatnya.

Walaupun umat muslim  akan lebih memeriahkan  malam asyura ketimbang malam pergantian tahun baru, akan tetapi  mereka juga akan me nunggu malam tersebut untuk muhasabah dan mendengarakan tausiah dari seorng tokoh atau ulama .  Mereka juga sudah terbiasa untuk menyuguhkan bubur syura, meskipun yang terbanyak ialah nanti pada malam sepuluh baulan Muharram ini atau yang biasa disebut dengan malam asyura.  MUngkin sebagian umat islam tidak memperhatikan pergangtian tahun ini, karena mereka emang tidak terbiasa dengan tahun Hijriyyah, erkecuali pada saat Ramadlan dan haji saja.

Bahkan untuk menyebtkan bulan bulan tahun Hijriyyah saja banyak yang tidak mengetahuinya.  Untuk itu baiklah saya akan sebutkan  bulan bulan dalam kalender Hijriyyah yang dimulai pada bulan Muharram, lalu Shafar, Rabiul awwal, rabius Tsani, jumadil ula, jumadil Tsani, rajab, sya’ban, Ramadlan, Syawwal, dzul Qa’dah dan dzul Hijjah.Namun bagi orang muslim yang hidup di Jawa, terkadang  mbeberapa  nama bulan tersebut diganti dengan sebutan yang mudah, yang sesungguhnya merupakan penangga;an yang lain, seperti Muharram itu disebut dengan Syura, Rabiul awwwal diganti dengan maulud, Rabius Tsani diganti dengan bakdo maulud, Sya’ban diganti dengan  ruwah, Ramadlan diganti dengan puasa, Dzul qa’dah digangti dengan apit dan dzul Hijjah diganti dengan besar.

Sesungguhnya penyebutan  bulan dalam kalender Hijriyyah tersbeut tidak mutlak harus persis sama denan aslinya, karena yang terpenting ialah bagaimana kita mampu mengenalnya dan mengetahuinya sehingga kita akan dapat mengamalkan bebefrapa syariat Islam yang pada  dasarnya dikaitkan dengan bulan bulan qamariyyah.  Bagimana munkin kita akan mampu menjalankan ibadah dengan baik jika kita sama ekali tidak mengetahui bulan bulam dalam kalender Hijriyyah tersebut.  Pelaksanaan haji tentu juga memakai kalender Hijriyyah, memperingati maulid Nabi, Isra’ dan mi’raj Nabi juga  harus mepedomani kalender hjriyyah tersebut, apalagi kalua berpuasa Ramadlan pastinya  menggunakan kalender Hijriyyah tersebut.

Kalaupun  kita tidak terbiasa meperingati tahun baru Hijriyyah dengan megah dan ramai, namun  kiranya sanat perlu kita mengalokasikan sebagaian waktu kita untuk mempersiapkan peringatan pergangtian tahun Hijriyyah tersebut.  Barangakali hanya sekeedar mempersiapkan makanan dan  minuman yang nantinya diperuntukkan bagi siapapun yang ikut memperingati pergangian tahun tersebut.  Jika kita mau bersedekah pada saat yang baik dan diperuntukkan bagi mereka yang melakukan hal hal baik, insya Allah Tuhan akan meberikan balasann yang terbaik.

Jangan sampai kita sebagai kaum muslim tidak mau mengerti dengan tahun barunya sendiri atau jangan sampai kita mengabaikan  tahun baru kita sendiri, sementara kita selalu sibuk dengana peringatan tahun barunya orang lain.  Sanbgat perlu jua kiranya kita  membuat sebuah event yang besar  dalam memperingatai tahun baru Hijriyyah tersebut, semacam seminar atau pengajian akbar dengan mendatangkan fdai yang kondang sehingga akan menyedot banyak hadirin untuk mendpakan tausiyah yang sangat bagus dari dai tersebut.

Kita hanya saling mengingatkan saja, karena kalua misalnya kita tidak mampu untuk melaksanakan kegiatan kegiatan tersebut, tidak menjadi masalah, namun tentu kita akan melewatan sebuah event yang sangat strategis  begitu saja, dan tengtu kita akan merasa rugi karena tidak mam;pu untuk melaksanakan syiar Islam, khususnya pada saat momentumnya sangat tepat.  Untuk itu marilah kita menyongsong peringatan tahun baru Islam tersebut dengan sepenuh hati dan mengerahkan semua kekuatan agar  menjadi meriah dan syiar. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.