MENGHITUNG HARI

Biasanya ada muncul istilah menghitung hari, yakni manakala orang  sedang menghadapi dan  menunggu kelahiran, atau akan terbebasa dari p[enjara misalnya, atau mungkin akan pensiun, atau akan diselenggarakan pemilihan umum untuk memilih pemimpin, baik dalam tingkatan nasional, ragional, local, maupun bahkan kepala desa.  Namun istilah tersebut juga  dapat muncul karena adanya vonis seorang dokter atau ahli medis karena adanya penyakit gawat pada diri seseorang.

Bisa saja  seorang narapidana yang harus menjalani hidup di dalam penjara selama belasan tahun, lalu  dia sudah menjalaninya beberapa tahun,sehingga dia kemudian mengharapkan hari kebebasannya dan setipap hari dia selalu menghitung waktu atau hari. Singkatnya apapun dapat menjadikan orang lalu menghitung hari karena berharap sesuatu yang sangat diinginkannya ataupun bahkan  menjumpai hal buruk yang bakal diterimanya.

Ada seorang petani yang sangat gigih dalam menjalankan kegiatan pertaniannya sehingga  dia  patut untuk berharap terhadap panen atas hasil jerih payahnya. Namun meskipun segala sesuqatu itu terjadi atas ijin dan kehendak Allah swt, akan tetapi secara nalar dan lahir sebagai manusia, tentu kita juga dapat memperkirakan sesuatu, baik secara adat ataupun secara keilmuan bahwa  petani tersebut  akan memanentanaman yang telah dikerjakannya dengan sungguh sungguh.  Ternyata apa yang dip[erkerikan etrsebut benat benar menjadi kenyataan.

Namun di sisi lain ada seorang pedagang yang juga serius dalam menjalankan pekerjaannya, dan secara lhri dia juga pasti akan mendapatkan keuntungan yang berlimpah karena  menurut teori perdagangan, keuntungannya tersebut sudah dapat dipresdiksi sebelumnya. Akan tetapi secara tiba tiba ada sesuatu yang menghalanginya untuk mendapatkan keuntungan tersebut,, dan bahkan akhirnya dia menderita kerugian yang besar, sehingga jnagankan beruntung, hanya untuk kembali modal saja tidak diddpatkannya, dan hanya kerugianlah yang menimpanya.

Dalam menggapai keuntungan dan kerugian etrsebut sesungguhnya sama sama menunggu atau dengan kata lain menghitung hari, tetapi suasananya sanga berbeda., karena bagi yang kemudian benar benar beruntung karena panennya berhasil, pasti selalu diliputi oleh kegembiraan, dan bagi yang merugia karena usahanya tersebut  terkena musibah,  selalu diliputi suasana yang susah.  Itu yang tamp[ak pada permukaan atau secara lahir, namun siapa tahu secara batin mereka justru sebaliknya atau bahkan mungkin sama.

Artinya setiap orang beriman tentu akan mempunyai sikap yang husnudzdzan kepada Tuhan dan semua yang diterimanya sebagai anugerah dari Nya, baik itu kebahagiaan maupun ujian kesusahan.  Memamg kita belum terbiasa dengan mensyukuri  sebuah musibah, karena pada umumnya musiba itu dianggap sebagai malapteka dan ujian dari Tuhan, namun jika orang mukmin menerimanya secara tulus musibah etrsebut, justru akan menjadi sebuah anugerah dan keuntungan yang besar.

Hanya perenungan yang dalam dan kepasrahan yang total dari seorang manusia kepada Tuhannyalah yang akan  mampu menuntun seorang hamba  menjadi selalu optimis dan mensyukuri apapun yang diputuskan oleh Tuhan untuk dirinya. Dia sangat yakin bahwa apapun itu, pastilah  yang terbaik baginya menurut Tuhan, meskipunmungkin menurut manusia atau bahkan dirinya hal etrsebut adalah keburukan yang sedang ditimpakan kepadanya.

Pengambilan hikmah dibalik semua peristiwa  melalui perenungan yang dalamlah yang akan mampu mengantarkan seseorang kepada kondisi pasraha yang sesungguhnya.  Itu disebabkan  sesatu yang secara lahir bagik bagi manusia, belum tentu menjadi baik secara hakiki menurut Tuhan, dan begitu pula sebai=liknya sesuatu yang buruk secara lhir menimpa manusia itu bukan arti yang sesungguhnya, sebab boleh jadi sesuatu etrsebut menurut Tuhan adalah yang terbaik.

Sesungguhnya mudah saja bagi Tuhan untuk membalikkan keadaan secara lahir.  Dahulu ada orang yang marah marah karena tertinggal pesawatpadahal dia hanya terlambat beberapa menit saja.  Masih dengan mengunpat umpat dia lalu terpaksa harus membatalkan kepergiannya hari itu dan kemudian pulang ke rumah.  Nah, sore harinya dia mendengar kabar bahwa peswat yang sedianya dia akan naiki tersebut naas dan jatuh di tengah samudera dan tidak ada  satu penumpanganya pun yang selamat bahkan banyak diantara mereka yang hilang tidak ditemukan.

Saat itulah dia kemudian memuiji Allah swt dan mengucpkan syukur yang berulang kali, karena selamat sebab keterlambatannya  sendiri. Coba jika dia tidak terlambat, sudah pasti dia akan menjadi salah satu korbannya. Dia lalu ingat kepada keagungan dan keadilan Allah swt, tetapi dia menyesal sebab sempat mengungkit dan mencaci serta marah marah atas keselamatannya tersebut, yakni terlambat naik pesawat.

Semua orang dalam  aktifitasnya juga pasti menghitung hari yang telah dilalui baik secara sadar maupun tidak.  Artinya  waktu itu pasti berjalan dan tidak akan kembali lagi. Jadi menghitung waktu tersebut seharusnya diiringi dengan kewaspadaan dan selalu evalusi diri untuk meningkatkan kualitas dan ketulusan  menerima semua pemberian Tuhan.  Apalagi kalau kita mau mengikuti anjuran dari nabi Muhamad saw  yakni  janganlah kita melihat kepada orang yang ada di atas kita mengenai keduniaan, tetapi kalau dalam bidang ilmu itu justru yang harus dilakukan.

Jangan sebaliknya, yakni melihat ke atas pada aspek keduniaan,  karena kalau itu yang kita lakukan, pasti kita tidak akan pernah bersyukur dan bahkan mungkin kita akan selalu digoda dan disibukkan oleh dunia hingga  mati nanti. Juga dalam hal ilmu kita jangan melihat yang dibawah kita, karena pasti akan membuat kita malas untuk belajar dan menemukan sesuatu yang baru.

Pada hakekatnya kita semua sedang menghitung hari untuk  spspun yasng kita lakukan, saat kita bekerja, saat kita belajar, saat kita bersantai dan juga pada saat kita sedang beribadah.  Karena semua itu merupakan sebuah pekerjaan  atau aktifitas yang kita sendiri tidak mengetahui  seberapa kekuatan kita dan seberapa  yang mampu kita lakukan.  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kita ini setiap saat sesungguhnya sedang menghitung hari, terutama untuk pengabdian kita.

Pada saat kita sedang  menjalankan aktifitas kerja di kantor ataupun di sawah, kita juga berpengharapan akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang kita inginkan, dan itu berarti kita juga menunggu waktu untuk mendapatkan hasil etrsebut.  Karena itu kita selalu menghitung waktu dan hari, bahkan ketika ada orang yang tidak kerja pun dia sesungguhnya sedang menghitung hari untuk mampu emndapatkan pekerjaan atau sampai dia mendapatkan ide untuk melakukan usahanya sendiri.

Kalau kita  selalu menghitung waktu dan hari, lalu  bagaimana caranya kita mampu  menghitung hari tersebut yang dapat memberikan manfaat  bagi diri kita sendiri dan juga pihak lain?.  Sudah barang tentu kalau  dilihat dengan pendekatan   agama, kita harus terus berharap kepada Tuhan agar kita dibserikan sesuatu yang baik dan menguntungkan.  Kita harus terus menrus mengngat kebesaran Nya, mengingat kekuasaan Nya, dan mengingat seluruh kebaikan Nya.

Dengan mengingat semua  sifat siafat Nya tersebut, berartin kita sudah melakukan dzikir dan itu adalah merupakan puncak kenikmatan bagi seorang hamba yang menginginkan keridlaan Nya dalam upaya mendapatkan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat nanti.  Semoga kita dalam menghitung hari di dunia ini tidak lupa  kewajiban dan kedudukan kita sebagai seorang hamba yang harus terus memohon dan mengabdi kepada Nya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.