MEMULAI KULIAH DENGAN PERSIAPAN YANG LEBIH BAIK

Kita yakin bahwa sebagaimana guru, diantara para dosen kita ada yang masih  mencukupkan diri dengan mengajar semata, dan tidak perduli dengan kondisi  para mahasiswanya.  Artinya tidak ada ghirah yang kuat untuk mendidik dan mengantarkan para mahasiswa menjadi sosok yang berilmu, berakhlak mulia dan berkarakter kuat, sehingga  mereka diharapkan nantinya dapat menjadi manusia yang bermutu serta bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat di lingkungannya.

Mendidik itu sesungguhnya panggilan hati sehingga jika  kita berhenti mendidik, itu artinya  terputuslah tautan hati dengan dunia nyata, dan kalau itu terjadi, maka dapat dibayangkan bahwa seseorang pendidik tersebut akan merasakan kekosongan dan tidak berarti dalam menjalani hidupnya.  Namun seorang pendidik sejati itu tidak akan pernah berhenti mendidik hanya disebabkan iktan formal, seeprti pension dan sejenisnya.  Meskipun dia sudah pension, namun jiwa mendidiknya masih tetap akan muncul untuk mendidik masyarakat yang tidak terikat dengan formalitas tersebut.

Pertanyaannya ialah jika ada sebagian  mereka yang secara formal menjadi pendidik karena mendapatkan sertifikat pendidik, namun tidak peduli dengan  anak didiknya, maka  sesungguhnya dia itu bukan pendidik.  Lalu bagaimana mengatasi masalah tersebut? Tentu harus ada tindakan den pembinaan secara intensif agar yang bersangkutan tersbeut mau belajar dan beradptasi dengan lingkungan pendidikan, yang harus memperhatikan dan melakukan hal hal yang dip[erlukan sehingga anak didiknya memang benar benar menjadi berubah.

Kita menyadari bahwa pendidikan itu memerlukan proses panjang, dan terkadanh juga diperlukan pemberian sanksi agar mereka mampu melakukan yang terbaik dan mengikuti aturan main yang telah ditetapkan.  Tentu mendidik sangat berbeda dengan mengajar, karena kalu mengajar cukuplah melakukan transfer ilmu kepada  siswa, terlepas mereka mampu mengikutinya maupun tidak, mereka paham dengan materi yang kita ajarkan atau tidak itu semua tidak menjadi kewajibannya, karena dia sudah memenuhi kewajibannya, yakni mengajar.

Nah, kalau pendidik itu juga mengajar, namun dengan perhatian yang besar  dan dengan kesadaran bahwa  dia harus mampu untuk memahamkan kepada peserta didik, mendidik mereka untuk bisa bersopan santun,  mentaati peraturan yang ada dan tidak berani kepada  orang tua dan juga guru atu p[endidik.  Karena itu jika ada   guru atau dosen yang yang  hanya mengajar semata tanpa memperhatikan perkembangan  peserat didiknya, maka itu sesungguhnya buklan lah pendidik, namun hanya sekdar pengajar.

Kenapa semua guru dan dosen kemudian diberikan sertifikat  sebagai pendidik? Tentu melalui proses yang diharapkan akan mampu menyadarkan mereka bahwa tanggung jawab pendidikan itu ada pada pundak mereka.  Nah,  kalau begitu sesungguhnya usaha untuk menadikan mereka sebagai pendidik sudah dilakukan, hanya saja mungkinpembinaannya yang masih diperl;ukan, karena pada kenyataannya masih banyak diantara mereka yang bukan lagi menjadi pendidik melainkan hanya sekdar menjadi pengajar saja.

Memang tidak mudah untuk membina  mereka karena keterbtasan yang ada, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan.  Pembinaan kepada mereka dapat dilakukan scara formal dan secara tidak formal, dengan senantiasa  menyampaikan pesan  pendidikan yang  disampaikan kepada mereka.  Jika  dengan pembinaan yang dilakukan masih saja tidak berubah, maka  harus ada upaya paksa  untuk dilakukan oleh mereka, dan jika itu juga tidfak dihiraukan, maka  dapat dilakukan upaya untuk menurunkan dari pendidik ke pegawai semata, karena  sesungguhnya saat ini yang diperlukan ialah pendidik, dan bukan pengajar.

Kita semua menyadari bahwa bulan September memang merupakan awal tahun akademik baru, sehingga semua dosen harus bersiap diri untuk masuk dalam kelas bertemu dengan para mahasiswa, baik mahasiswa lama maupun mahasiswa baru.  Sudah barang tentu materi perkuliahan yang sudah dipersiapkan dan juga sudah direncanakan sebagaimana tertuang dalam RPS harus dikuasai dengan baik  serta  pengembangannya, baik melalui berbacai contoh riil maupun  mengenai perkembangan ilmu sejenis yang ada.

Sebagaimana biasanya semua dosen berkewajiban untuk menyampaikan visi dan misi serta tujuan UIN Walisongo, dan menjelaskannya tentang maksud dari visi misi tersebut.  Demikian juga dosen wajib menyamp[aikan penjelasan mengenai perkuliahan yang akan dilaksanakan dan garis besar hal hal yang terkait dengannya, seprti kewajiban hadir dalam perkuiliahan,melaksanakan tugas tugas yang diberikan oleh dosen dan juga etika saat perkuliahan berlangsung, termasuk juga etika berpakaian dan lainnya.

Jika setiap dosen mampu menjelaskan  materi perkuliahannya dengan baik dan kaya wawasan, maka mahasiswa akan semakin percaya bahwa meeka akan mendapatkan ilmu  setelah menyelesaikan kuliah di UIN kita ini.  Jangan sampai kita memberikan kesan kurang siap dan hal hal lain yang membuat mereka menjadi pesimistis mendapatkan pengetahuan dan ilmu setelah menyelesaikan perkuliahan  di UIN.  Untuk itu mutlak hukumnya bagi dosen untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan khususnya dalam bidang mata kuliah yang diampunya.

Persiapan yang baik ialah jika kita melakukan  peran sebagai dosen dengan sungguh sungguh. Artinya  kita harus mau membaca dan membaca, karena dengan membaca, pengetahuan kita akan semakin bertambah dan  wawasan keilmuan kita juga luas, sehingga kita akan mampu menjelaskan dan memberikan  argumentasi tentang apapun yang kita sampaikan.  Tentu berdbeda dengan  yang tidak mempersiapkan diri, pada saat ada pertanyaan dari mahasiwa selalu saja kesulitan untuk menjawab dengan baik, dan akhirnya mereka tidak merasakan kepuasan dengan jawaban tersebut.

Idealnya seluruh dosen memang sudah  menguasasi materi yang disampiakn dalam kuliah kerena itu sudah menjadi kewajiban dan profesinya, namun jika masih ada yang tidak siap untuk menjadi dosen, maka itu perlu dievaluasi kembali dan sangat mungkin kalau memang tidak perform, dapat ditinjau kembali keberadaannya sebagai dosen.  Tentu kita tidak menghendaki yang seperti itu, karena  kita sudah snagat yakin bahwa keberadaan semua dosen sudah sesuai dengan aturan main yang ditetapkan.

Sebentar lagi kita memang sudah akan memasuki masa perkuliahan tahun akademik 2018/2019 yang berbarengan dengan masuknya tahun politik, namun sebagai dosen yang bergelut dalam bidang akademik seharusnya tidak ada satupun diantara para dosen yang terlibat secara langsung dalam pemenangan  salah satu calon, apalagi mengingat kedudukan kita sebagai ASN yang haram hukumnya terlibat dalam politik praktis.

Mari kita persiapkan segalanya agar kita mampu mengantarkan mahasiswa kita menjadi sosok yang pintar, cerdas, berakhlak dan peka terhadap persoalan kemasyarakatan.  Tentu kita akan mendorong kepada mahasiswa untuk  tidak hanya  kuliah semata, tanpa memperkaya diri dengan berbagai kegiatan yang akan mematangkan dirinya untuk menjadi masyarakat dan hidup di tengah tengah mereka.  Sangat dianjurkan  mereka  mengikuti berbagai kegiatan yang disediakan oleh kampus, termasuk berorganisasi dengan baik.

Meskipun dmeikian jikalau ada mahasiswa yang tidak mau terjun dalam bidang organisasi dan hanya menekuni buku  dan menyelesaikan kuliah saja, juga tidak akan dilarang, karena semua itu kembali kepada masing masing orang, apakah dia ingin mendapatkan pengalaman tambahan sebagai bekal hidupnya nanti ataukah mencukupkan diri dengan ilmu pengetahuan yang didaptkannya melalui belajar dan belajar.  Semoga kita semua mempunyai empati kepada mahasiswa sehingga kita akan melakukan uapaya agar mereka menjadi yang terbaik dan bermanfaat bagi banyak pihak. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.