ANTARA CINTA DAN BENCI

Banyak kejadian di atas dunia ini yang  terkadang mirip dan terkadang  sangat berbeda, seperti cinta dan benci.  Terkadang kita sulit membedakan antara cinta dan benci, padahal secara kasat mata  antara keduanya pasti terjadi perbedaan yang sangat tampak, akan tetapi terkadang apa yang kita saksikan di permukaan itu belum tentu mencerminkan yang sesungguhnya, sehingga mungkin kita melihat kebencian yang begitu hebat pada diri seseorang, tetapi nyatanya justru itu merupakan sebuah sikap cinta.

Terlalu banyak untuk docontohkan, sweperti kasus yang terjadi antara anak dan orang tua yang terkadang ada seorang ayah yang marah kepada anaknya dan dalam kenyataannya itu adalah kecintaan.  Demikian juga  penampakan antara suami dan istri yang sering terlihat cekcok itu belum tentu mencerminkan kedengkian atau kebencian, melaionkan itu termasuk warna dari sikap cinta dari masing masing.  Namun demikian tentu ada  diantara contoh yang demikian ternyata merupakan cermin dari kebencian yang sebenarnya.

Kita hanya dapat menilai secara lahir saja, sedanghkan persoalan ssungguhnya itu persoalan Tuhan dengan yang bersangkutan.  Kita tidak berpretensi untuk menilai, melainkan kita hanya ingin mengetahui kondisi cinta dan benci dalam  penampakan lahirnya.   Lebih lebih kalau kita refleksikan dalam kehidupan  politik denagn media social media yang ada saat ini yang penuh dengan rekayasa dan hoaks.

Jika kita memperhatikan social media kita akan dapat menyaksikan betapa banyaknya cara untuk mengungkapkan kecintaan  atau setidaknya kesenangan seseorang kepada pihak lain,  taruh saja dalam kontestasi puilpres yang masih cukup panjangw aktunya, ternyata saat ini sudah banyak terefleksikan dalam media social melalui pernyataan pernyatan yang  sangat tidak rasional.  Sanjungan yang sama sekali tidak berdasar akan selalu muncul dan seolah kehabatannya tidak ada yang melebihi.

Demikian juga sebaliknya ujaran ujaran kebencian yang juga sama tidak rasonalnya akan muncul dalam media social khususnya kepada pihak yang tidak disukai atau dibenci.  Jangankan sesuatu yangpernah dilakukan yang sudah terlalu lama,  sesuatu yang tidak pernah dilakukan saja  kemudian dapat dibuat seolah ada kejadian yang sesungguhnya yang dapat merusak reputasi orang yang dibenci tersebut. Tentu semua itu dengan tujuan agar  calon presiden yang dicintainya tersebut dipilih oleh masyarakat sehingga nantinya akan emmenangkan pertrungan, sekligus juga agar calon yang dianggap jelek tersebt tidak dip[iliha sehingga akan kalah.

Ternyata untuk membuat  sanjungan dan makian itu sama mudahnya melalui soaial media, asalkan orang tersebut tidak takutkepada dosa dan adzab Tuhan, pastilah akan sangat mudah baginya untuk emmbuat sesuatu yang seolah terjadi sesungguhnya, padahal semua itu hanya karangan yang dibuat dnegan keahlian khusus.  Kita memang tidak pernah akan menyetujui hal etrsebt, namun kita tidak mampu untuk mencegahnya, karena kemajuan teknologi zaman ini memang luar biasa sehingga untuk medeteksi dan sekaligus menangkap pihak tyang membuatnya sungguh amat sulit.

Meskipun dmeikian sesungguhnya jika kita mau dan ada keingina kuatpastinya dapat dicari dan kemudian diberikan sanksi hokum sesuai p[ertauran perundangan yang berlaku.  Kita mempunya tenaga ahli yang tahu persis dengan apa yang dilakukan oleh para provokator tersebut, sayangnya hanya kemauan sajalah yang belum muncul dalam benat para penentu kebijakan di negeri ini.

Terkadang kita sangat khawatir dengan ulah para pembenci melalui medsos etrsebut, karean sungguh keterlaluan dan smeua apa yang dilakukan oleh orang tertsebut, dap[at dipastyikan akan emnjadi jelek dimata dia.  Kalauppun ada pemberitaan yang baik dan mungkin juga keberhasilan dalam bidang tertentu, maka pandangan sinis pastilagh segera muncul dan diiringi dengan pernyataan yang sngat memerahkan kuping.

Sebalinya kita juga terkadang dibuat tidak mengerti dengan sanjungan pihak tertentu kepada pihak tertentu pula, bukan karena prestasinya, melainkan hanyan karena melakukan sesuatu yang sangat kecil saja atau bahkan tidak ada memon apapun lalu dibuatkan pemberitaan yang seolah  dia telah ebrhasil menciptakan sesuatu yang luar biasa, atau bahikan hanya karena memberikan apresiasi kepada orang lain yang berprestasi, kemudian disanjung  selangit seolah peduli kepada prestasi dan lainnya.

Nah, kalau kita melihat dari sisi tersebut, maka akan sangat jelas Nampak bahwa antar benci dan cinta itu sangat jelas perbedaannya  bahkan seolah antara langit dan bumi. Biasanya pujian yang ebrlebihan itu ada maksud tertentu yang diharapkan dari orang yang dipuji, semacam ada harapan bahwa pada saatnya nanti dia akan  didukung atau akan memperoleh kemudahan dari orang yang dipuji tersebut.  Sedangkan ketika orang membenci pihak lain, biasanya  hanya disebabkan ketidak senangan semata, apalagi kalau kemudian ada niat pula agar  yang bersnaghkutan menjadi jelek di mata masyarakat atau ada rasa dendam dan sejenisnya.

Jika ada  pegawai yang membenci kepada  atasannya  maka itu biasnya disebakan karena da persoalan priobadi antara keduanya dan atau karena keinginannya untuk menjatuhkan pimpinanya sehingga ada kesempatan bagi dirinya atau orang lain yang didukungnya untuk menggantikannya. Namun kalau ada seorang pegawai yang menyanjung atasnnya itu biasanya da maunya agar dia dipromosikan atau disayangi oleh atasanya sehingga dia akan memperolehn keuntungan dari sikapnya tersebut.

Bagi pimpinan yang cerdas dan mempunyai integritas  pasti dapat memahami kondisi tersebut, dan akhirnya bukan saja  dia saying kepada yang memujinya, melainkan justru dia akan  tergur pegawai etrsebut karena itu merupakan sikap yang sangat tidak bagus dan dia juga tidak akan teropengaruh dengan sanjungan tersebut.  Demikian pula  terhadap mereka yang menjelekkannya, pimp[inan tersebut pastinya akan mendekatinya dan meminta agar dia tidak menyebarkan sesuatu yang tidk benar, karena psti Allah akan mengetahui dan tidak seang dengan hal tersebut.

Lain halnya dengan pemimpin penggila hormat dan tidak tahu bagaiman caranya menjadi pemimpin, pastilah dia akan sangat senag jika dianjung dan pastilah dia akan marah jika dia dicaki dan dijelekkan.  Jadi memang pemimpin itu aad a beberapa tipe yang saling berbeda, sebagiannya karena ingin jabatan dan sama sekali tidak mampu melaksanakan kepemimpinannya dan ada pula pemimpin yang genius dan sangat hebat dalam mengatsi persoalan persoalan yang ada.

Sikap yang terbaik yang harus kita ambil tentunya sikap yang normal dan biasa saja, yakni tidak terlalu m,encintai seseorang dan sekaligus juga tidak terlalu menbencinya. Biolehlah kita memuji oprestasi seseornag dengan cara yang baik dan bukan dengan cara vulgar sehingga terkesan menyanjung dan seolah ingin mendapatkan pujiabn balik.  Demikian juga jangan sampai kita  membenci orang meskipun benar benar ebrkelakuan jelek,  namun cukuplah kita  menujukkan sikap yang kurang  suka saja tanpa harus menjelek jelekkannya.  Toh tanpa penjelekan dari kita dia sudah ketahuan jelek.

Sikap terlalu yang ditunjukkan, baik terlalu cinta ataupun sebaliknya terlalu benci, justru akan menimbulkan persoalan bagi kita, baik karena ada pihak lain yang  kemudian menilai  kita ataupun karena pihak yang kita tuju ternyata bukan  sebagaimana kita harapkan.  Dengan dmeikian sebaiknya kita memang  berlaku dan bersikap biasa biasa saja tanpa harus cenderung memihak kepada siapapun dengan pernyataan pernyataan yang bombastis ,baik dalam menyanjung maupun membenci.  Semoga kita menjadi orang yang baik dan disukai oleh semua orang tanpa harus memuji mereka. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.