HARI HARI TASYRIQ

Urgen utnuk dimengerti oleh semua orang muslim tentang hari hari tasyriq, karena ada bebrapa hal yang penting terkait dengan hari hari tersebut. Ada cerita sangat menarik, yakni seornag muslim yang sangat gemar untuk berpuasa semenjak masuk Islam, dan hamper seluruh hidupnya selalu berpuasa senin kamis tanpa ada jedanya.  Tentu hal tersebut sangat bagus, termasuk untuk menjaga kesehatannya, namun hanya  mengetahui hal serba sedikit tentang beribah dalam Islam itu juga akan tidak mencukupi.

Orang tersebut kemudian ketahuan pada saat bertamu ke salah satu kaannya dan kebetulan hari itu kamis dan kebetulan pula hari tersebut masih termasuk hari tasyriq, dan pada saat ditawari minum oleh kawannya etrsebut, dia  menolak secara halus dan mengatakan bahwa dia sedang berpuasa sebagaiman biasanya, yakni senin kamis.  Kawannya etrsebut tentu sangat terkejut mendengar jawaban kawannya trrsebut, karena menurut dia pada hari tasyriq tersebut siapapun dilarang untuk berpuasa, sebegaimana dilarang berpuasa pada dua hari raya, yakni idul fitri dan idul  adlha.

Orang yang  mendawamkan puasa senin kemis tersebut  terkejut  dan baru mengerti kalau pada hari tasuyriq tersebut dilarang untukl berpuasa.  Kejadian tersebut sesunguhnya tidak luar biasa karena  orang yang berpuasa di hari tasyriq tersebut kemudian menyadari bahwa dirinya memang belum tahu dan karena sudah diberi tahu lalu dia membatalkan puasanya dan  minum berama kawannya tersebut dengan diiringi tawa yang renyah dari keduanya.

Hari tasyriq adalah tiga hari setelah idul  kurban atau idul adlha, yakni pad tanggal 11,12, daan 13 Dzul Hijjah dimana hari tersebut termasuk hari yang mulia dan semua orang dilarang untuk berpuasa di dalamnya.  Bagi yang belum tahu tentu tidak mengapa jika berpuasa hingga selesai, namun bagi yang sudah tahu, hal tersebut termasuk perbuatan melanggar aturan syariat dan haram hukumnya.

Kisah sedikit antar dua teman tersebut menjadi menarik untuk dikaji oleh kita, karena ternyata masih banyak diantara umat muslim yang belum mengeyahuinya.  Mungkin juga karena baru Islamnya, ataukah karean selama hidupnya tidak pernah mengaji  atau berguru tentang hokum Islam, dan baru ada kesadaran untuk melaksanakan ibadah kepada Tuhan setelah usia tua dan lainnya.  Akan tetapi fakta tersebut sungguh luar biasa karena hal yang elementer tersebut ternyata belum diketahui oleh masyarakat.

Lalu dimana peran para dai yang selama hidupnya selalu mengajarkan  tausiha  tentang ajaran Islam, kenapa selam ini hal hal urgenseperti itu tidak sampai dipahami oleh masyarakat muslim, apakah karena memang terlupakan dan dianggap hanya sebuah ajaran yang tidak terlalu penting, ataukah  kesibukan tausiahnya ialh tentang ibadah yang seringdijalankan oleh umat seeprti shalat dan sejeenisnya, atau mungkin tidak  sengaja ada hal yang terlupakan dan kemungkinan kemungkinan lainnya.

Ada kecendrungan para dai justru banyak menyampaikan hal hal yang sengguhnya sudah dimengerti oelh masyarakat banyak, dan kehadirannya hanya memberikan  penekanan semata denagn bumbu bumbu lainnya yang lebih banyak berupa komidi.  Ada kecenderungan para dai sangat bangga jika  uraiannya tersebut ternyata menjadi sangat lucu dan para pendengarnya tertawa bangga, namun lupa dengan isi dan kandungan cermahnya.

Kenapa tidak ada  yang membawa atau menyusun kurikulum ceramah kepada masyarakat sehingga nantinya harus diadakan evaluasi apakah masyarakat sudah mengerti dan mengamalkan apa yang disampaikan atau tidak.  Dalam kenyataannya banyak dia yang materinya sama pada saat didatangkan. Namun anehnya masyarakat juga masih tetap enjoi dengan ceramahnya etrsebut yang sama persis dengan  yang disampikan beberapa aktu sebelumnya, karena yang pwenting itu lucu dan mampu membuat puas hadirin.

Kalau kita cermati, ternyata di masyarakat kita masih banyak orang yang belum tahu tentang persoalan yang ergen dalam ibadah itu sendiri, meskipun sudah sering disampaikan lewat pengajian umum.  Praktek shalat dan bagaimana tata caranya yang benar tidak akan mungkin dapat dimengerti kalau hanya disampaikan lewat pengajian umum, karena  untuk hal etrsebut dibutuhkan pelajaran yang detail dan sekaligus juga praktek dengan  ditunjukan kesalahan kesalahan yang mungkin dilakukan.

Kembali kepada hari hari tasyriq yang sedang kita bahas, bahwa dalam hari hari tersebut juga masih disunnahkan untuk membaca takbir, dan tidak hanya pada saat idul adlha semata, namun hal ini terkadang tidak dimengeerti oleh umat sehingga mereka cukup hanya bertakbir pada saat iduil adlha saja, dan selebihnya dalam hari hari tasyriq mereka sama sekali tidak melakukannya.  Meskipun hanya sebuah anjuran, namun jika dilaksanakan tentu akan lebih bagus karena akan mendapatkan tambahan pahala, di samping tentu syiar islam akan lebih kentara dan  diketahui oleh masyarakat secara umum.

Memang kalau  masyarakat tidak terbiasa membaca takbir tersebut, raany ada yang aneh jiak mebacanya bukan pada hari raya, namun jika sudah dibiasakan nantinya juga tidak akan canggung, dan bahkan akan merasakan kebanggan tersendiri, karena  mampu membaca takbir tahmid dan tahlil dalam suasana  hari tasyriq.  Karena itu seharusnya jika kita menghargai keberadaan islam sebagai agama kita dan  tentu  mengagungkannya, maka  hari hari tasyriq tersebut akan bagu juga jika dijadikan sebagai hari libur,.  Namun tentu kita juga harus mengingat kepada  umat lainnya yang hidup di tanah air.

Jika kaitannya dengan libur  tersebut, kita juga menyadari bahwa hari libur di Negara kita sudah terlalun banyak, sehingga kalau masioh ditambah lagi tiga haritasyriq, mungkin akan banyak yang merasa enggan dan protes tentang banyaknya hari libur yang menyebabkan kinerja akan terskurangi, utamanya dari para pengusaha yang akan kehilangan para karyawnnya sehingga mungkin akan dihitung sebagai sebuah kerugian bagi pabriknya.

Pada hari tasyriq tersebut para jamaah  haji sedang melaksanakan  keawajiban haji, yakni menginap di Mina dan kemudian juga melempar jamarat, bagi merek yang mengambil nafar awal setelah dua hari mereka boleh meninggalkan Mina dan melanjutkan  tahwaf  ifadlah, dan bagi yang mengambil nafar akhir, mereka akan berada di Mina sampai hari ketiga dan baru pulang ke Makkah untuk tahwaf Ifadlah untuk menyempurnakan hajinya.

Jika dikaitkan palaksaanaan ibadah haji tentu akan lebih rumit lagi, karena di sana ada  tahallul awal yang itu berarti mereka sudah melempar jumrah aqabah di hari raya tanggal 10 Dzul Hijjah dan kemudian mencukup sebagian rambutnya, dan setelah itu mereka sudah boleh berpakian sebagaimana lazimnya, yakni pakaian yang dijahit.  Namun mereka belum bleh berkumpul dengan suami atau isterinya.  Kalau sudah tahallu tsani barulah  mereka sudah boleh berkumpul dengan pasangannya, yakni setelah mereka menyelesaikan thawaf ifadlah.

Tentu kita tidak akan secara detail menyampaikan hal terkait dengan ibadah haji, karena focus kita saat ini ialah tentang hari hari tasyriq yang harus dimengerti oleh seluruh umat muslim, agar tidak salah dalam melangkah, sweperti menjalankan ibadah puasa misalnya.  Justru pada saat hari tasyriq tersebut kita dianjurkan  memperbanyak sedekah kepada mereka yang kurang mampu, karena pada dasarnya  berbagi tersebut snagat dianjurkan kapan saja dan dalam kondisi bagaimanapun juga.  Semoga semua umat muslim akan  melek terhadap berbagai aturan dalam Islam, lebih lebih tentang hari tasyriq tersebut, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.