MENJAGA PERASAAN HEWAN

Mungkin kita sama sekali tidak memperhatikan atau bahkan cuek saja pada saat menyembelih hewan, khususnya kurban.  Karena  hewan kurban banyak, maka pada saat menyembelih biasanya  tanpa ada upaya untuk menutupi hewan yang sedang disembelih dengan hewan lain yang antri untuk disembelih, sehingga sebelum disembelih hewan hewan tersebut mungkin sudah  merasakan betapa sakitnya pada saat disembelih, karena  mereka dapat secara langsung menyaksikan darah yang mengalir begitu deras, dan juga penderitaan saat mereka sudah disembelih dan  sekarat.

Mesakipun  heewan boleh disembelih dan mungkin kita juga berpendapat bahwa hewan tidak mempunyai perasaan, namun jika kita memperhatikan hean heaan yang mengantri untuk disembelih, mukanya  sudah begitu pucat dan mungkin hatinya juga sudah merasa mati sebelum disembelih.  Karena itu seyogyanya  kita berupaya untuk menyembunyikan penyembelihan tersebut dari semua hewan yang akan disembelih agar mereka tetap segar sebelum disembelih.

Pertanyaannya ialah kenapa kita harus  susah susah memberikan tutup atau satir antara hewan yang belum disembelih dengan hewan yanag sedang disembelih?  Jawabannya ialah kalai kita cermat dalam  membaca sebuah hadis riwayat dari nabi Muhammad saw, bahwa jika kita menyembelih hewan hendaklah  dilakukan dengan baik.  Artinya menyembelih dengan baik, yakni memperlakukan hewan dengan baik, seperti tidak menyakitinya, atau memperlakukannya dengan tidak baik semacam tidak memberinya makan, minum dan lainnya.

Sudah barang tentu menggelonggong sapi sebelum disembelih juga merupakan larangan, karena itu sama dengan menyiksanya, atau  menyembelih dengan alat yang tidak nyaman juga dilarang, karena itu berarti juga menyakiti dan menyiksa hewan.  Nabi memerintahkan agar ketika kita menyembelih hewan  haruslah dengan  alat yang sangat tajam sehingga hewan tidak akan merasakan sakit yang berlebihan.  Nah, tentu saja  jangan sampai hewan hewan yang akan disembelih tersebut juga menyaksikan kawannya yang sedang disembelih.

Etikanya ialah pada saat kita sedang menyembelih hewan, jika di sana ada beberaopa hewan lainnya yang akan disembelih, haruslah dijauhkan atau diberikan satir untuk menutup pandangan hewan lainnya etrsebut.  Tujuannya ialah agar hewan hewan tersebut tidak merasakan sakit sebelum mereka sendiri disembelih.  Terkadang jika kita amati ada hewan yang sudah ketakuitan terlebih dahulu sebelum disembelih, karena menyaksikan kawannya disembelih.

Saya menyaksikannya sedniri pada saat penyembelihan hewan di kampus, juga tidak ada satir yang menutup antara hewan yang sedang disembelih dengan hewan hewan yang antri untuk disembelih.  Karena itu ke depan harusnya dicarikan cara bagaimana agar hewan lainnya tidak melihat kawannya yang sedang disembelih sehingga smeua hean yang disembelih dalam kondisi yang normal dan sangat sehat untuk disembelih.

Mungkin tampaknya maslaah ini sepele saja, namun sesungguhnya merupakan hal yang urgen untuk diperhatikan, karena meskipun hewan tetapi mereka tentu juga mempunyai perasaan karena menyaksikan langsung di sampingnya kawan kawannya disembelih.  Itulah ajaran syartiaty yang sudah diajarkan oleh nabi Muhammad saw, secara gambling..  anbi sendiri pada saat menyembelih  hewan juga akan menjauhkan hewan lainnya agar tidak menyaksikan secara langsung kawannya yang disembelih.  Lalu alat yang digunakan untuk menyembelih juga harus tajam sehingga sekali hunus leher hewan sudah putus.

Tentu untuk melakukan penyembelihan tersebut harus mengetahui ilmunya agar tidak menjadi persoalan pada saat menyembelihnya.  Artinya ada cara yang harus diketahui oleh para jagal, karena  di leher hawan itu ada urat yang harus putus pada saat disembelih, dan jika urat tersebut tidak sampai puitus, maka hewan hanya akan kesakitan, namun tidak akan mati, dan hal etrsebut tentu akan menyusahkan banyak orang.

Kita pernah menyaksikan ada orang yang menyembelih hewan namun karena uratnya tidak sampai putus, maka hewan tersebut tidak mati dan malah mampu untuk berdiri dan berjalan.  Sekali lagi  para jagal harus mengetahui tata cara menyembelih hewan.  Dalam kasus yang saya ceritakan tersebut, akhirnya hewan tersebut dirobohkan kembali dan diulang oleh jagal yang sama, namun juga belum mati dan masih mampu bangkit berdiri dan jalan kembali, hingga disembelih beberapa kali.

Tentu kalau kita kembali kepada fiqh penyembelihan yang demikian menjadi tidak sah dan kalau tidak sah, maka dagingnya juga tidak halal tentunya.  Inilah yang saya maksudkan sangat penting untuk mengetahui tata cara menyembelih agar aman dan halal.  Menyembelih hewan, kalau alatnya sudah diangkat dan hewannya ternyata belum mati juga lalu disembelih lagi, maka itu dianggap tidak boleh dan tidak sah.  Ketentuan ini harus juga dimengerti oleh para jagal agar  tidak terjadi peristiwa hokum yang akan merugikan banyak pihak.

Demikian persoalan yang terkadang luput dari pengamatan kita ialah bahwa hewan yang disembelih tersebut harus dibiarkan beberapa saat sampai benar benar mati, karena kalau  hewn yang disembelih tersbeut belum mati, lalu digantung dan dikuliti, maka itu sangat dilarang, sebab boleh jadi matinya nanti bukan  sembelihan dan ternyata justru karena digantung dan dikuliti, atau kalau hewan tersebut sapi, yang biasa ialah dipotong kepalanya terlebih dahulu.

Jika sapi tersebut belum benar benar mati, jangan jangan kematiannya tersebut disebabkan oleh pemotongan kepala setelah disembelih dan atau karena sebab lain.  Intinya kta harus memastikan terlebih dahulu bahwa hean yang disembelih tersbeut sudah benar benar mati, barulah dilakukan tindakan selanjutnya, seprti pemotongan kep[ala, pengulitan dan lainnya> jjadi secara praktis sesungguhnya banyak hal yang harus diketahui oleh masyarakat, khususnya para jagal agar dalam menyembelih hewan itu benar secara syariah dan juga tidak menyakitkan pada hewan.

Ternyata untuk saat ini masioh banyak hal yang perlu untuk diinformasikan atau mungkin perlu adanya semacam pelatihan bagi para jagal dalam melaksanakan tugasnya memnyembelih hewan, baik   dalam tata caranya, maupun bagaimana memeprlakukan hewan sebelum disembelih.  MUI Jawa tengah pernah mengeluarkan fatwa baha menyiksa hewan sebelum disembelih adalah pervbuatan haram yang harus dihindari, seperti menggelonggong  hewan atau mungkin tidak memberikan makan sebelum disembelih dan lainnya.

Bahkan ada  pandangan p[ula yang menyatakan bahwa  sebelum hewan disembelih, sebaiknya harus diistirahatkan secara total dan diberikan makanan dan minuman yang cukup.  Itu artinya bahwa sebelum disembelih, hewan harus diperlakukan secara baik, bahkan untuk dipekerjakan saja  dilarang.  Meskipun hean mungkin tidak mampu memberiian keterangan mengenai ketakutan mereka sebelum disembelih, namun kita sebagai manusia yang mempunyai perasaan, tentunya juga mengerti bahwa  hean itu juga mempunyai sifat takut dan negri.

Pendeknya untuk menyembelih hewan itu memang diperlukan ilmu dan pengetahuan mengenai tata cara menyembelih dan juga hal lain yang terkait dengan penyembelihan tersebut.  Jika tat cara penyembelihan tersebut tidak diikuti dengan baik,  bisa jadi justru akan merugikan hean dan juga orang yang mempunyai tujuan dalam penyembel;ihan hewan etrsebut.  Artinya niat yang diucapkan  atau dimaksudkan dalam hati para jagal harus tegas dan jelas bahwa sembelihan tersebut untuk apa, apakah untuk kurban, untuk aqiqah atau untuk membayar denda dan lainnya.  Mudah mudahan dengan pengetahuan tentang p[enyembelihan tersebut, semua jagal akan  dapat melaksanakannya dengan baik dan benar. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.