WUKUF DI ARAFAH

Pada tanggal 9 Dzul Hijjah kali ini seluruh jamaah haji dari seluruh dunia tumplek blek berada di Arafah untuk menunaiklan rukun haji, yakni wukuf, bahkan samppai  mereka yang sakit dan dirawat di rumah sakit pun juga harus bersafario ke Arafah dengan  ambulance, karena wukuf itu merupakan rukun haji yang sama sekali tidak boleh ditinggalkan.  Beruntung hujan deras disertai angina kenang terjadi seharui sebelum para jamaah haji berkumpul di Arafah sehingga  tidak mengalami dan merasakan betapa dahsyatnya hujan dan angina tersebut.

Memang kali ini  penanggalan hijriyyah berbeda antara di Saudi Arabia dengan di Indonesia, sehingga pada saat umat muslim di Indonesia sedang menjalankan ibadah  puasa Arafah, para jamaah haji sudah berhari raya  Iadul adlha. Bahkan sebagian diantara mereka sudah ada yang ikut shalat Isul Adlha di masjidil Haram.  Pada saat tanggal 10 itulah seluruh jamaah haji melempar jumrah aqabah, dan tentu sangat berat karena seluruh umat se dunia berada di tempat yang satu untuk melempat jumrah aqabah tersebut.

Kita semua berdoa semoga sel;uruh jamaah haji, khususnya yang dari Indonesia, diberikan keselamatan dan kesehatan sehingga dapat menjalankan rukun, wahjib dan juga sunnah haji.  Hanya saja kita secara khusus juga mendoakan agar  semua jamaah mampu menjaga hajinya dari hal hal yang merusak, sepeerti tidak mampu mempertahankan  pakaian ihram atau melakukan hal hal yang dilarang saat ihram dan lainnya.

Mereka semua secara umum sudah diberikan bekal yang cukup tentang manasik oleh petugas yang memang dibentuk oleh pemerintah, baik sejak mereka masih di tanah air maupun pada saat mereka berangkat hingga  pelaksanaan haji selesai.  Dengan  keberhasilan menjalankan haji tersebut, haraopan terakhirnya ialah semua jamaah akan mendapatkan haji yang mabrur, yakni haji yang diterima oleh Allah swt, dan akan emmberikan dampak positif bagi kehidupan mereka selanjutnya, khususnya pada saat sudah sampai di tanah air.

Kembali pada pelaksaan wukuf di Arafah.  Wukuf pada saat ini tentu tidak sama dengan wukuf pada zaman nabi Muhammad saw, karena  pada saat itu seluruh umat yang berwukuf dapat dipastikan mengalami kesulitan yang sungguh berat, utamanya karena tidak ada naungan dari panas matahari.  Arafah saat itu merupakan padang tandus yang sangat kering dan panas sekali.  Namun saat ini seluruh jamaah yang berwukuf dapat tempat yang sangat nyaman di dalam tenda  dengan pendingin  yang memungkinkan mereka dapat menjalankan wukuf dengan sangat  enak.

Namun demikian terkadang  ada diantara mereka yang kemudian lupa bahwa mereka sedang menjalankan ibadah haji dan sedang wukuf, sehingga mereka hanya tidur dan setelah itu hanya bercerita  dengan kwaan, bukan membaca alquran, atau berdzikir serta meminta ampunan kepada Allah swt.  Padahal saat wukuf itulah saat  yang manjur untuk meminta kepada Allah swt  agar diberikan kehidupan yang berkah, anak anaknya juga berkah, hartanya  berkah dan kesleuruhan hidupnya juga berkah.

Sungguh amat saying sekali jika ada dinatara mereka yang justru tidak memanfaatkan  keadaan tersebut untuk berdoa dan berdzikir kepada Nya dengan keseluruhan jiwa.  Namun kita  sangat yakin bahwa  para petugas yang menyertai jamaah pasti  sudah mengingatkan kepada mereka dan sekaligus juga memimpin doa dan selalu mengontrol semua  aktifitas jamaah, sehingga mereka semua akan mendapatkan pahal dan  kemabruran hajinya.

Meskipun waktu wukuf itu dimulai sejak  matahari bergeser sedikit ke Barat alias  setelah dhuhur, namun para jamaah sudah diantarkan oleh maktab masing masing sehari sebelumnya, yakni sore hari pada hari Tarwiyah sehingga mereka akan dapat  beristirahat semalaman dan paginya juga dapat digunakan untuk melakukan hal hal terbauik sebagai persiapan wukuf, Karena itu seharusnya seluruh jamaah haji pada saat wukuf memang dalam kondisi yang fress dan dapat menjalankan banyak doa serta dzikir, serta setelahnya dapat melakukan perjalanan menuju Muzdalifah dan selanjutnya ke Mina.

Karena wukup tersebut merupakan puncak ibadah haji, makanya banyak pula godaan yang  diterima oleh mereka, meskipun terkadang mereka tidak menyadarinya.  Godaan terbanyak diantara mereka ialah godaan untuk lengah dalam bercerita dan terkadang malah membuka aib pihak lain.  Selain itu godaan  berikutnya ialah tanpa asadar mereka telah melanggar saat masih memakai kain ihram. Terutama pada ssat mereka mau melakukan buang air atau berwudlu, dengan ringannyan mereka, khususnya kaum perempuan  membuka baju  dan melingkisnya hingga sampai siku karena keperluan wudlu.

Demikian juga mereka membuka bagian aurat yang seharusnya ditutup pada saat ihram karena akan memasuki  kamar kecil untuk menunaikan hajat, dan masih banayk lagi godaan lainnya yang tanpa disadari oleh mereka ternyata mereka telah melanggar larangan.  Barangkali itu merupakan salah satu hal yang menyebabkan  haji mereka tidak sempurna atau bahkan mungkin juga tidak dimabrurkan oleh Allah swt.  Tentu amat disayangkan kalau ibadah haji yang ongkosnya  sangat mahal tersebut kemudian mereka tidak mendapatkan  hakekatnya.

Tentunya  pada saat wukuf tersebut seluruh jamaah haji mengetahui bahwa sat itulah merupakan saat yang mustajab dan  mereka akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, yakni berdoa dengan sangat khusyu’ dan berusaha untuk melakukan amalan yang baik, seperti membaca alquran,  bertahlil, tahmid, tasbih dan sejenisnya, lalu juga memperbanyak dzikir kepada Allah swt serta tidak lupa pua bersedekah kepada para kaum dluafa’ yang ada di sekitar mereka.

Berbahagialah mereka yang mengingat hal tersebut dan kemudian juga merealisasikannya dalam kenyataan.  Semoga mereka yang menjalankan ibadah haji dengan sempurna, akan mampu mewujudkan kebajikan kebajikan saat mereka sudah berada di tengah tengah masyarakatnya di kampus halamannya.  Masyarakat akan dapat meliohat perubahan kea rah p[ositif  dari seornag yang sudah pulang haji, sehingga keberadaannya semakin memberikan manfaat  dan keberkahan kepada masyarakat secara umum.

Rangkaian ibadah haji sesungguhnya  sudah dimulai sejak mereka melangkahkan kaki menuju tanah suci.  Sebagian diantara mereka ada yang mendapatkan kelompok terbang  gelombang pertama, sehingga mereka akan menuju Madinah terlebih dahulu untuk ziarah makam Nabi dan beberapa tempat lainnya, dan yang penting ialah mereka dapat menjalankan  jamaah shalat maktubah di Masjid  Nabawi sebanyak empat puluh waktu.  Namun sebagiannya pula ada yang masuk gelombang kedua, sehingga akan langsung menuju makkah.

Nah, bagi mereka yang singgah terlebih dahulu di Madinah, maka  awal memulai ihram untuk melaksanakan umrah bagi yang mengambil haji tamattu’ di mulai sejak mereka  berada di Bir Ali hingga mereka menyelesaikan semua  proses umrah, Sedangkan bagi mereka yang termasuk gelombang kedua, mereka akan memulai ihramnya dari bandara  King Abdul Aziz, meskipun ada yang  mengambil batas saat  masih berada di kapal terbang.

Lalu  mereka akan berpakaian biasa dan bermukim sambil menunggu tanggal 8 Dzul Hijjah, dan pada  saat sudah memasuki 8 dzul hijjah, mereka akan dibawa  secara bergelombang menuju Arafah untuk menunaikan wukuf  pada tanggal 9 nya.  Nah , itulah rangkaian pelaksanaan ibadah haji, meskipun tidak seluruhnya harus dijalankan, semacam mampir ke Madinah, itu bukan termasuk rangkaian ibadah haji, namun  bagi masyarakat itu merupakan sesuatu yang wajib dilakukan.

Pada akhirnya kita berharap semoga seluruh jamaah haji khususnya yang berasal dari Indonesia akan diberikan kemaqbulan hajinya dan pada saatnya  mereka akan ikut berperan dalam emmajukan daerah dan lingkungannya, semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.