UKT

Apakah maksud tiga huruf tersebut? Mungkin bagi banyak orang yang tidak berada di perguruan tinggi tidak akan mengerti apa itu UKT. Sejak beberapa tahun yang lalu perguruan tinggi negeri memberklakukan UKT karena memang regulasinya menghendaki seluruh PT yang negeri harus memberlakukan UKT dan tidak lagi menggunakan  cara lama, yakni  SPP dan lainnya.  Dengan UKT tersebut dimaksudkan bahwa masyarakat yang  kuliah di perguruan tinggi negeri akan mampu mengukur dirinya untuk menyelesaikan kuliahnya.

Sebab dengan UKT tersebut orang akan dapat mengukur dirinya mampu ataukah tidak mampu untuk terus  di perguruan tinggi negeri bersangkutan. UKT itu singkatan dari uang kuliah tunggal.  Artinya dengan UKt yang dibayarkan setiap semester tersebut, mahaaiswa tidak akan dikenalah iuran apapun hingga mereka selesai kuliah.  Jadi semua keperluan selam proses belajar di perguruan tinggi tersebut akan  dibiayai oleh UKT. Bahkan seluruh pembiayaan yang biasanya dibebankan kepada mahasiswa sudah tidak lagi, seprti prkatikum, KKN, dan bahkan  saat proses menjalani wisuda.

Namun demikian UKT ini biasanya dianggap sebagai memberatkan karena  secara nominal tampak lebih besar, karena seluruh komponen yang nantinya dipergunakan oleh mahasiwa sudah dihitung   dan masuk dalam UKT. Walaupun dmeikian saat ini sesunguhnya sudah bukan lagi persoalan komponen apa saja yang masuk dalam UKT, melainkan sejauh mana sebuah UKT tersebut dapat dijangkau oleh masyarakat sesuai dengan penghasilan orang tua mahasiswa.

Dengan demikian bagi mahasiwa yang oprang tuanya mampu untuk memberikan pembiayaan, sudah seharusnya diambuilkan  pada UKT tertinggi dengan logika bahwa yang kaya harus membantu yang miskin.  Dengan skema tersebut sesungguhnya ada subsidi silang yang dijalankan, walaupun tidak secara transparan dapat dilihat subsidi siap[a untuk siapa. Memang  pada kenyataannya masih banyak diantara calon mahasiswa yang merasakan keberatan atas ketetapan UKT yang  ada, namun dengan penjelasan yang demikian gambling pada akhirnya mereka  membayarnya.

Namun demikian jika pada kenyataannya  memang mahasiwa sangat keberatan dengan UKT yang ada,  ada mekanisme untuk meminta keringanan, yakni melalui banding yang biasanya akan dibuka pada pertengan semester pertama. Namun demikian bukan secara otom,atis jika meminta banding, akan dikabulkan, melainkan akan dilihat keseluruhannya, yakni  kondisi riil dari yang bersangkuitan, sehingga data data lama memang harus diperbarui agar ada pertimbangan untuk menurunkan UKT tersebut.

Namun secara umum permohonan banding tersebut ada tiga kemungkinan, setelah dilihat dengan cermat data yang valid.  Kemungkinan diturunkan memang ada, namun ada juga kemungkinan masih tetap sebagaimana semula dan ada pula kemungkinan malah menjadi naik, karena secara riil mungkin sangat layak untuk ditetapkan UKT yang tinggi.

Persoalan UKT ini sesungguhnya juga menimbulkan kesulitan, bukan saja dari sisi mahasiwa, melainkan juga pada sisi kampus, karena harus memprediksi masa depan hingga  setidaknya empat tahun, karena kemungkinan inflasi harga harga juga tidak dapat dielakkan.  Di samp[ing itu pihak kampus harus juga mampu memprediksi semua kemungkinan yang bakal terjadi sesuai dengan jeperluan mahasiwa, seprti praktikum.  Untuk prkatikum ini bagi beberapa program studi tertentu memang menyulitkan karena banyaknya frekwensi praktikum, kemudian juga KKN dan juga wisuda dan lainnya.

Pada masa awal tentu banyak kelemahan dan itu membuat pihak kampus harus memutar otak untuk dapat memenuhi kebutuhan mahasiwa yang tidak tercover dalam UKT.  Namun saat ini  sejalan dengan berlalunya waktu, maka semua kebutuhan untuk mahasiwa sudah dimasukkan ke dalam komponen  UKT sehingga tidak lagi  harus mencari anggaran yang diperguanakan untuk keperluan mahasiswa.  Demikian juga dengan mahasiwwa juga sudah relatuif mengerti dengan UKT tersebut, sehingga tidak salah paham, seolah pihak kampus menaikkan SPP dan lainnya.

Memang bagi perguruan tinggi yang takut untuk membuat komponen UKT secara rasional, karena takut  kepada masyarakat yang memprotes tingginya UKT, biasanya tidak akan mampu menyelenggarakan berbagai kegiatan, termasuk yang dilakukan oleh para dosennya, karena memang anggaran untuk kegiatan tersebut tidak dapat diambil terkecuali dari komponen yang seharusnya  dimasukkan ke dalam UKT.

Dengan begitu kita  dapat menyaksikan betapa banyak perguruan tinggi yang memberlakukan UKT rendah kepada para mahasiswanya, namun kemudian kesulitan sendiri dalam menjalankan berbagai kegiatan.  Nah, jika kegiatan kegiatan tidak dapat dijalankan, lantas bagaimana kita akan memajukan dan mengembangkan perguauan tinggi?  Pada akhirnya perguruan tinggi yang bersangkutan sep[ertinya mandek dan tidak bergerak maju sesuai dengan perkembangan zaman.

Sementara itu bagi perguruan tinggi yang bergerak ingin secepatnya maju terbentur dengan persoalan UKT, karena dengan mengandalkan uang APBN rasanya tidak akan memungkinkan mampu menjalankan banyak agenda yang telag dirumuskan.  Demikian juga dengan kegiatan mahasiwa yang juga diambilkan dari aspek UKT, maka ketika UKT sangat kecil dan hanya cukup untuk membiayai yang pokok pokok saja, kiranya perguruan tinggi bersangkutan pasti akan kesulitan untuk menaikkan  rangkingnya secara umum.

Oleh karena itu semua pihak memang harus  bersikap  rasional dan berani untuk memutuskan sesuatu, meskipun pada awalnya mesti harus mendapatkan tentangan dari banyak pihak, sebab jika kita tidak berani untuk mengambil resiko, maka kita juga akan mengalami kesulitan di belakang hari.  Asalkan kita tidak berniat untuk mempersulit dan memberatkan masyarakat, dan apa yang kita putuskan tersbeut sangat rasional dan dapat dipertanggung jawabkan, kiranya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun memang  kita harus pandai untuk menyiasati segala sesuatu, sebab saat ini kondisi masyarakat kita sedang  kurang bagus, sehingga kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan hal yang demikian, namun  pada sisi lain karena kebutuhan untuk mengembangkan perguruan tinggi, maka harus dapat diambil  solusi yang tidak terlalu membuat sulit kedua belah pihak.

Seharusnya untuk uruisan UKT ini  saat ini sudah selesai karena sosialisasi tentang itu sudah berjalan cukup lama dan  dengan berbagai penjelasan tentang betapa beratnya semua pihak menyikapi hal ini.  Namun jika masih ada pihak yang belum tahu mengenai persoalan ini, sesungguhnya pihak kampus masih akan tetap  bersedia untuk menjelaskannya dengan detail.

Persoalan pendidikan memang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun sebagaimana kita tahu masyarakat juga harus ikut menanggung sebagian biaya tersebut, dan itu berlaku pada semua jenjang sekolah dan perguruan tinggi.  Kalau hanay mengandalkan pembiayaan dari pemerintah tentu sangat tidak realistis, kerena meskipun ada 20 % dana pendidikan yang diambilkan dari total APBN, namun itu untuk segala macam urusdan yang terkait dengan pendidikan, sepeti gaji dan tunjangan pegawai pendidikan, sarpras pendidikan dan lainnya.

Dengan begitu dapat dipastikan  anggaran 20 persen tersebut masih teras kurang dan bahkan tidak akan mampu menajangkau keseluruhan sekolah dan perguruan tinggi.  Untuk itu kebersamaan dan saling pengertian diantara pihak lembaga pendidikan dan masyarakat, sangat diperlukan untuk  mewujudkan  keinginan pendidikan yang berkualitas  serta mampu mengantarkan para  peserta didik dan para alumninya  menjadi  sosok yang tangguh, beriman bertaqwa serta berakhlak bagus dan cerdas serta menguasai banyak ilmu pengetahuan yang ditekuni.

Semoga  pada saatnya nanti kondisi pendidikan kita memang  lebih maju, lebih berkualitas dan membanggakan semua masyarakat. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.