KENAPA ISLAM NUSANTARA DIGUGAT?

Akhir akhir ini banyak kalangan yang rame rame menggugat islam nusantara, bahkan termasuk  MUI Padang, Bahkan di beberapa daerah ada pihak kepolisian yang juga berrencana akan membubarkan seminar yang bertajuk islam nusantara.  Tentu kita harus perihatin dengan kondisi demikian, karena sesungguhnya islam nusantara itu merupakan  terjemahan dari hakekat islam yang hidup di nusantara, bukan merupakan agama baru atau merupakan bentuk model baru yang biasa disebut sebagai bid’ah.  Islam nusantara merupakan bentuk esensi islam yang hidup dalam bumi nusantara dengan kekhasan dan tradisi yang berbeda dengan islam di luar nusantara.

Namun perbedaan gtersebut bukan dalam arti esensisnyaa, melainkan hanya  asesorisnya, sehingga  justru islam nusantara itu sangat sesuai dengan lingkungan nusantara dengan berbagai kekhasannya.  Islam nusantara itu secara esensi sama dengan islam dimanapun juga, karena Tuhannya ialah Allah swt, nabinya juga nabi Muhammad saw, serta kitab sucinya juga alquran. Lalu apa yang berbeda? Kalau soal  asesoris berbeda itu sangat wajar karena lingkungan nusantara itu sanagt berbeda dengan lingkungan Arab misalnya atau eropa atau amerika misalnya.

Dengan begitu praktek pengamalan  ajaran syariatnya terkadang kita jumpai berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.  Bagaimana cara dakwah yang digunakan oleh ujmat muslim di dunia pastinya berbeda karena perbedaan lingkungan dan masyarakatnya.  Pada waktu para wali di tanah Jawa mengembangkan dan menhyebarkan agama Islam di masyarakat yang mempunhyai tradisi yang sudah mengakar bertahun tahun, pasti akan sulit jikalau harus dihilangkan seama sekali.  Mereka  akan lari dan tidak mau mendengar seruan untuk bersyahadah, karena  kalau itu dilakukan berarti mereka akana kehilangan tradisi mereka.

Karena tulah para wali kemudian melakukana dakwah dengan menggunakan sarana tradisi yang ada di masyarakat.  Bukan mengikuti tradisi tersebut melainkan justru mengubah tradisi tersebut dengan amalan yang diajarkan oleh islam, jadilah kemudian  ada memperingati orang yang sudah wafat tujuh hari, empaat puluh hari, seratus hari dan seterusnya, namun bukan sebagaimana asalnya dengan keyakinan yang bertentangan dengan islam, melainkan  semua itu diisi dengan membaca alquran, tahlil, shalawat dan lainnya.  Dengan cara gersebut, ternyata masyarakat sangat mudah untuk menerima seruan dakwah islamiyah yang dijalankan oleh para walai tersebut.

Jadi tradisi tahlilan, manakiban, shalwatan, ziarah kubur dan lainnya itu merupakan tradisi masyarakat di nusantara yang  kemudian diwarnai  dengan amalan islam.  Itulah kemudian menjadi ciri khas islam di indonesia  atau disebut dengan islam nusantara, yang tentu berbeda dnegan islam di negara lain. Dengan dmeikian islam nusantara bukanlah agama bafru yang bid’ah, melainkan justru merupakan kekayaan islam dalam praktek di masyarakat.  Dengan berbagai sarana  tersebut alhirnya  akan menjadi mudah bagi para ulama untuk menyampaikan pesan agama kepada msyarakat, karena mereka sudah berkumpul dalam satu majlis.

Tradisi pengajian umum yang  selama ini banyak dilakukan oleh umat muslim nusantara juga menjadi kekhasan muslim nusantara  yang kalau kita lihat tidak ditemukan di negara lain. Lebih jauh  dai itu sesungguhnya amalan ala islam nusantara sesungguhnya merupakan penjabaran yang memudahkan kepada umat untuk menjalankan syariat agamanya sekalibgus juga  ada aspek pembelajaran dan pendidikan kepada masyarakat luas.  Tradisi wiridan setelah shalat juga merupakan  penjabaran bagaimana  ulama mengajak umat untuk berdzikir kepada Allah secara bersama sama, karena jika tidak ditradisikan demikian, sangat mungkin umat akan  segera  pergi begitu shalat selesai.

Demikian juga  pada saat setelah adzan dikumandangkan, lalu dengan menunggu jamaah  berkump;ul lalu dilakukan puji pujian berupa shalawat dan lainnya, tentu itu merupakan amal perbuatan yag baik, ketimbang diam saja  tan pa melakukan amalan apapun.  Sangat mungkin malahan  menjadi bosan daan mungkin juga akan mengantuk atau bahkan malah ngobrol tidak karuan dan sejnisnya.  Lalu apakah karena  amalan tersebut berbeda dengan tradisi di negara lain, seumpama arab, atau mungkin dibandingkana dengan informasi yang diterima melalui riwayat bahwa hal tersebut tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, lalu islam nusantara digugat.

Persoalan alat untuk mengundang umat muslim untuk berjamaah secara umum disepakati oleh seluruh umat ialah adzan,  namun karena di nusantara sudah ada tradisi yaang urun menurun bahwa untuk mengumpulkan umat dalam berbagai keperluan biasanya menggunakan bdug dan atau kentongan, maka  para ulama nusantara lalu juga menggunakan bedug dan kentongan tersebut untuk memanggil umat, disamping juga dengan adzan.  Untuk saat ini  mungkin adzan akan terdengan sampai jauh jika menggunakan pengeras suara, maka dipakailah pengeras tersebut.  Namun jika kebetulan listrik mati, maka bedug masih dapat didengar hingga jauh juga.  Itulah kekhasan lainnya yang digunakan dan dipraktekkan oleh para ulama nusantara.

Pendeknya  tradisi yang sudah baik di masyarakat tidak lalu dibuang begitu saja, melainkan justru tetap dipertahankan dengan memberinya nilai keislaman di dalamnya. Inilah kreasi para ulama zaman dahulu ujntuk memudahkan umat menjalankan ajaran syariat agamanya.  Bayangkan saja seandainya para ulama pada saat itu keras dan tidak mau  melihat segala sesuatu yang berbau tradisi, lalu  semua itu dihanguskan, maka umat pasti akan lari dan tidak mau mendekat kepada ulama dan islam.  Karena itu  kreasi ulama tersebut justru harus kita apresiasi sebagai bentuk pengembangan asesoris islam, sehingga kemudian disebut dengan islam nusantara.

Sekali lagi islam nusantara bukanlah agama baru dan keluar dari substansi ajaran Islam, melainkan hanya  memberikan  asesoris saja, sehingga umat akan mudah mengamalkan ajaran agamanya dan sekaligus juga menambah pahal dalam berbagai amalan yang dijalankan oleh umat.  Barangkali masih dapat digambar di sini bahwa  esensi Islam itu mengajarkan agar umat  berbagi dan sedekah kepada pihak lain atau paling tidak mampu menyenangkan kepada pihak lain.  Nah, wujud dari perintah dan anjuran tersebut dapat dipraktekkan melalui pemberian  berkat setelah mereka berdoa bersama  melalui tahlilan dan sejenisnya.

Tradisi umat sebelum kedatangan Islam juga terbiasa memberikan makan kepada masyarakat ketika mereka berkumpul dalam sebuah keperluan, maka pada saat ada orang berduka karena ada salah seorang anggota keluarganya yang meninggal dunia, para ulama saat itu tidak menyalahkan dan bahkan membolehkan kepada  yang sedang kesusahan untuk memberikan makan kepada  mereka yang datang melayat.  Walaupun kemudian kalau tidak memberikan makan juga  tetap baik dan bahkan  dianjurkan kepada yang melayat justru yang meberikan bantuan kepada shahibul musibah.

Pada ulama  nusantara sangat  bijaksana dan tidak mudah menyalahkan  tradisi yang masih dipertahankan oleh umat, bahkan terkadang malah melestarikannya dengan sedikit memberikan isi tradisi islam seperti membaca alquran, membaca  riwayat  nabi dan juga orang orang shalih, memberikan mauidlah hasanah dan lainnya.  Nah,  itulah hakekat islam nusantara sebagaimana dimaksudkan oleh para ulama tersebut.  Lalu apa keberatannya terhadap islam nusantara?  Apakah karena  gtradisi tersebut tidak dijalankan oleh umat di negara lain, sepeti Arab, atayukah tradisi tersebut dahulu tidak dijalankan oleh Nabi dan para sahabatnya?

Jika kita kaku  dalam menjalankan ajaran agama,  sangat mungkin dakwah kita akan sulit menembus masyarakat tertentu yang  biasa menjalankan tradisi setempat.  Demikian juga mungkin kita akan merasakan kesulitan yang amat untuk mengamalkan  syariat Islam itu sendiri secara umum.  Semoga  semakin hari para umat kita akan semakin dapat memahami apa itu islam nusantara dan demikian juga para tokoh dan ulamanya, sehingga justru Islam nusantara itulah  Islam yang sangat cocok dengan umat di indonesia.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.