AYO LARI

Tidak saja lari itu dimaknai sebagai sebuah olah raga, melainkan juga dapat dimaknai sebagai semangat untuk mengejar semua yang masih tertinggal.  Jadi kalau kita diajak lari itu bukan berarti mesti kita harus mengeluarkan energy untuk melangkahkan kaki secara cepat dan kemudian mengeluarkan keringat, namun bisa saja bahwa makna lari tersebut tidak semata mata melangkahkan kaki, melainkan  bersikap mengejar semua yang dianggap masih tertinggal.

Kalau kondisi kita masih tertinggal jauh darinnya, kiranya cukup beralasan jika kemudian kita diajak untuk berlari agar kita dapat menyusul yang lain tersebut.  Artinya jika di lingkungan kita masih banyak orang bodoh tiodak berpendidikan, maka lari yang dimaksud haruslah secepatnya melakukan usaha usaha agar  anak anak di lingkungan kita tidak ada yang tidak bersekolah dan kita juga harus menggiatkan mereka agar selalu belajar.

Jika di lingkungan kita banyak keluarga yang miskin, maka lari dalam konteks tersebut artinya bagaimana kita mengupayakan agar masyarakat di lingkungan kita tersebut dapat memberdayakan dirinya sehingga menjadi kuat dan tidak miskin lagi.  Tentu harus ada beberapa alternative yang dapat ditawarkan dan kemungkinannya dapat dijalankan oleh mereka, sebab percuma saja kalau kita mengemukakan ide yang sangat bagus, tetapi akan sangat sulit untuk direalisasikan.

Jika  lembaga pendidikan yang kita kelola masih  sangat tertinggal, itu artinya lari ialah kita gerakkan smeua organ untuk melakukan perbaikan dan percepatan dalam bidang yang menyebabkan kita tertinggal.  Dengan begitu dalam waktu yang telah ditargetkan kiranya akan dapat dinaikkan menjadi sejajar dengan lembaga lainnya.  Taruhlah kalau kita mengejar akreditasi misalnya, maka kita harus serius untuk memeprsiapkannya sehingga pada saatnya  akan dapat dicapai target yang kita inginkan.

Demikian juga dalam bidang lainnya, semisal dalam rumah tanggal kita.  Jika kita merasa bahwa  secara ekonomi kita tertinggal dengan yang lain, padahal secara lahir sesungguhnya kita mampu untuk melakukan perbaikan, maka lari di sini artinya bagaimana kita mampu untuk memenej ekonomi keluarga dan bagaimana kita mampu untuk mencari sumber rejeki lainnya yang halal dan dapat kita lakukan.  Namun khusus untuk persoaan rezki tersebut kita seharusnya menganut falsafah yang diajarkan oleh para orang tua kita, yakni melihat kepada mereka yang berada di bawah kita.

Dengan falsafah melihat  orang yang berada di level di bawah kita, tentu akan membuat kita banyak bersyukur kepada Allah swt dan pada saatnya kita akan mampu gidup dengan tenang dan  menyenangkan, karena  kerja dapat dijalankan dengan nyaman, serta kita selalu memasrahkan semuanya hanyankepada Allah, serta tidak pernah lupa untuk berbagai kepada yang lain.  Jadi kesimp[ulannya persoalan rezki itu kita mencari keberkahannya, sebab sedikit atau banyak kalau berkah, pastinya menyenangkan dan mencukupi.

Sebaliknya jika rizki kita tidak berkah, meskipun tampaknya bergeliman uang, namun hidup kita tidak akan pernah tenang, dan selalu ada saja persoaan yang menimpa kita atau keluarga kita.  Jadi kalau persoalan lari mengenai hal yang terkait denga rezki  hendaklah secepatnya berusaha untuk melakukan  evaluasi diri agar  semuanya akan menjadi berkah.  Semisal mengevaluyasi diri, apakah kita sudah berzakat, ataukah sudah berderma atau menyantuni mereka yang lemah dan membutuhkan uluiran tangan kita atau belum.

Dengan begitu kita dapat melakukan hal hal baik secepatnya bagaikan lari menuju kebajikan.  Kalau kemudian kita juga mengaitkannya dengan persoalan ilmu, maka makna lari di sini ialah bagaimana kita mampu belajar lebih banyak dan serius sehingga kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak dan dengan begitu kita akan  dapat menyusul mereka yang sudah lebih dahulu banyak membaca.  Jadi pengertian lari, sekali lagi bukan sekedar melangkahkan kaki secara cepat,mmelainkan justru dapat dimaknai sebagai usaha untuk mengejar ketertinggalan yang ada.

Sesungguhnya secara riil kita dapat mengatakan bahwa  seharusnya kita  menyadari  keberadaan kita dan kemudian kita mengusahakan untuk berlari kencang sesuai dengan kekuatan yang ada pada diri kita.  Dengan berlari tersebut diharapkan kita akan dapat menyusul mereka yang sudah lebih dulu mendapatkan sesuatu.  Jangan sampai kita  mempunyai mental menyerah dan tidak pernah optimis untuk mampu mengejar yang lain, sebab mental yang demikian akan  mematikan kreatifitas dan semangat kita.

Namun demikian jika berlari tersebut dimaknai sebagai lari melangkahkan kaki secara cepat yang identic dengan olah raga, juga tidak salah, karena bagaimanapun ajakan untuk berolah raga itu bagus dan akan menyehatkan.  Bukankah  akal yang sehat itu terletak pada tubuh yang sehat pula?. Tentu ajakan tersebut  akan ditanggapi sesuai dengan kondisi yang ada.  Artinya kalau yang diajak etrsebut sudah terlalu sepuh dan tidak mungkin untuk berlari, kiranya cukup ditanggapi dengan jalan santai, namun jika masih mampu untuk berlari, maka  menjalankan ajakan tersebut tentu sangat bagus.

Ketika ada pihak yang mengajak kita untuk berlari, kita harus melihat terlebih dahulu maksudanya, dan jika kita sudah mengetahui maksudnya barulah kita akan bertindak sesuai dengan kemampuan kita.  Ketika yang dimaksuda lari tersebut ialah berusaha sekuat tenanaga untuk menyusul mereka yang sudah maju terlebih dahulu, maka kita harus menumbuhkan semangat untuk bekerja dan melakukan hal hal baik yang dapat  mempercepat pencapaian rtarget yang dicanangkan.

Namun jika maksud dari kata lari tersebut ialah berolah raga, maka kita akan menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh kita dan kita tidak perlu untuk menanggapinya dengan marah atau sikap tidak menyenangkan, karena pada dasarnya ajakan untuk gberlari tersebut ialah bagus dan jika kita mampu melakukannya, maka kita juga akan mendapatkan manfaatnya.  Karena itu setiap ada ajakan dari pihak lain yang nadanya positif, sebaiknya memang ditanggapi dengan baik meskipun kita belum mampu untuk menjalankannya.

Jika  pimpinan kita mengajak lari, maka itu biasanya adalah agar kita serius dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita, sehingga kinerja kita akan mencapai target dan  tempat kita bekerja akan memperoleh keuntungan atas prestasi yang kita tunjukkan.  Jika kita mampu mengembangkan  sikap rasa memiliki terhadap instansi atau perusahaan tempat kita bekerja, maka kita akan menjalankan secara tulus dan bahkan niat yang bagus.

Seharusnya kita semua menyadari dan dengan sendirinya tanpa diajak untuk lari pun kita sudah akan menjalankan sesuatu yang dapat mempercepat kemajuan dan pencapaian target yang sudah ditetapkan bersama.  Kita memang harus melakukan smeuanya dengan tekat untuk mendapatkan ridlo dari Allah swt.  Bahkan kita harus menjauhi sikap yang justru dapat menimbulkan rasa apatis kepada smeua  orang dan atau bahkan dapat menimbulkan kecemburuan kepada pihak lain.

Mengajak lari itu cukup bagus, baik dimaknai sebagai sebuah kegiatan olah raga maupun  dimaknai sebagai ajakan untuk menjalankan agenda tertentu dengan baik sehingga target yang ditetapkan akan dapat dengan mudah dan cepat dicapai.  Tentu kita tidak berharap bahwa  apa yang telah ditetapkan oleh pimpinan akan terbengkelai dan tempat kita kengabdi atau bekerja akan semakin tidak bergairah dan  semakin mundur, sebab kalau itu terjadi, maka kita sesungguhnya sudah andil untuk merusak atau setidaknya melemahkannya.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.