FALSAFAH TERIMA KASIH

Perkataan  terima kasih dalam bahasa Arabnya ialah syukran, artinya bersyukur.  Pengertian syukur itu sendiri ialah  pernyataan kesukaan yang dibarengi atau dipraktekkan dengan menjalankan banyak kebaikan, semacam  amalan shalat, dan juga bersedekah dan lainnya.  Dengan demikian syukur tidak cukup[ hanya dengan perkataan alhamdu lilah saja, meskipun itu juga merupakan bentuk syukur yang paling minim.  Nah, kesyukuran tersebut dalam bahasa kita ternyata diwujudkan dengan perkataan terima kasih.

Mungkin banyak orang yang tidak  menyadari bahwa perkataan terima kasih tersebut mengandung maksud yang sangat luar biasa bagusnya, bukan hanya sekedar basa basi dan  ungkaopan yang tanpa makna.  Ungkapan terima kasih jika di pisah dan dieja menjadi terima kasih.  Terima itu berarti pada saat kita menerima dari pihak lain atau  secara menerima  karunia dari Allah swt, maka secara otomatis kita diwajibakan untuk mengasihkan sebagiannya kepada pihak lain.

Karena itu Tuhan selalu menghimbau kepada seluruh umat untuk selalu berbagi atau berderma atas karunia yang telah diterimanya dari Tuhan. Memang ada kalanya mengasih tersebut  karena kewajiban, seperti zakat, namun mengasih tersebut karena kesyukuran, sehingga berapapun yang kita terima, maka keharusan bagi kita untuk mengasih kepada orang lain.  Jika kita hanya menerima semata tanpa mengasihkan kepada pihak lain, maka itu sama sekali tidak sempurna, karena tidak ada mengasih atau membari.

Itulah maksud pernyataan terima kasih yang  kebanyakan orang tidak menyadarinya. Hidup di dunia ini memang akan terasa sangat nyaman dan nikmat jika kita mau saling memberi, membantu dan berbagi, karena dengan kebiasaan berbagi tersebut kita akan terhindar dari rasa iri, dengki dan swejnisnya.  Demikian juga dengan ebrbagi tersebut akan terasa kekeluargaan meskipun sama sekali tidak ada aliran darah yang tersambung dengan kita maisng maisng.  Kedekatan persahabatan juga akan terasa lebih  kuat jika dibarengi dengan saling memberi dan membantu.

Bagi orang orang yang tergolong miskin juga akan merasa  nyaman jika para tetangganya  mau mengerti kondisinya dan kemudian berbagi dengan mereka.  Namun jika kaum miskin tersebut kerap menerima pemberian dari kita, tentu mereka pasti akan berusah untuk berbagi juga atas apapun yang mereka terima dari Tuhan.  Mungkin nilainya tidak seberapa, akan tetapi jia pemberian itu tulus, pastilah ada rasa nyaman dan damai di dalamnya, dan bagi penerima juga pasti akan merasakan  rasa yang sama, yakni kenikmatan.

Terkadang terjadi jarak dalam pergaulan antara yang kaya dan yang miskin, karena perbedaan harta kekayaan semata, padahal Tuhan sama sekali tidak melihat persoalan harta, melainkan hanya akan melihat dari sisi hati  dan amalannya.  Dengan demikian jika kebiasaan emmberi dan membantu tersebut sudah menjadi budaaya, pastinya akan terjadi keakraban dan hubungan yang semakin terasa menyenangkan,  Bahkan antara kaya dan miskin tidak lagi menjadi penghalang hubungan  kemanusiaan.

Sebaliknya jika ada orang yang selalu mengasih atau memberi, maka otomatis dia pasti akan menerima, apakah  saat di dunia ini ataukah nanti di akhirat, karena itu merupakan  pasangan yang tidak mungkin akan terpecah dan berpisah.  Karena itu sekali lagi jika kita menerima  dari siapapun, pastinya kita juga harus mengasih kepada siapapun.  Artinya pada sat kita mengasih, bukan kepada orang yang memberi kepada kita, melainkan justru dapat mengasih kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang mengasih kepada kita.

Bahkan  akan dianggap lebih baik jika jika kita mengasih kepada mereka yang jarang mengasih kepada kita atau mengasih kepada mereka yang kita tidak menerima dari mereka, baik karena kondisinya yang msikin atau memang  kikir dan sejenisnya.  Artinya untuk mengasih itu bukan saja kepada mereka yang mengasih kepada kita, melainkan justru kepada siapapun yang lebih membutuhkan ketimbang yang lainnya.  Namun dmeikian bukan berarti mengasih kepada yang mengasih kepada kita tidak boleh, tidak seperti itu.

Prinsipnya ialah  jika kita memperoleh atau menerima pemberian  termasuk karunia dari Allah swt, secara otomatis kita seharusnya berkwajiban untuk mengasihkan sebagiannya kepada pihak lain.  Buda saling memberi dan membantu adalah budaya terbaik bai umat manusia di manapun berda, bukan saja  sebagai budaya orang atau masyarakat tertentu.  Karena itu mari kita wujudkan  dan bentuk budaya memberi tersebut di lingkungan kita.  Yakinlah bahwa budaya mengasih tersebut akan emmbawa kita menjadi manusia yang sukses dan dilimpahi banyak rizki oleh Tuhan.

Bahkan keberkahan hidup dan harta kita mungkin juga akan ditentukan   oleh seberapa kita mampu mengasih kepada pihak lain.  Banyak kisa inspiratif mengenai budaya memberi tersebut, yang intinya tidak ada orang yang suka memberi kemudian hidupnya tidak nyaman atau bahkan menjadi jatuh miskin serta tidak berkah.  Justru yang terjadi ialah orang yang demikian malah mendapatkan curahan rizki yang tidak diperhitungkan sebelumnya.  Semakin banyak mengasih, ternyata akan semakin banyak pula pemberian Allah kepada kita melalui jal;ur manapun yang dikehendaki Nya.

Mau bukti apalagi untuk meyakinkan semua itu? Sebab sudah terlalu banyak pihak yang  tulus dalam memberikan bentuan kepad orang lain sesuai dengan kemampuan masing masing, justru malah akan memperolah keuntungan yang berlipat ganda.  Ada orang yang penghasil;annya hanya dari warung makan kecil kecilan, tetapi dengan ketulusannya dia selalu memberi makan kepada orang orang tidak mampu di warrungnya, dan sungguh ajaib, bahwa kemudian  warung tersebut semakin ramai didatangi pelanggan, hingg akhirnya  warung tersebut dibersarkan dan akhirnya  mampu menunaikan rukun Islam kelima yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Ada kisah nyata dari seseorang yang  percaya bahwa dengan ebnayk emmberi secara tulus, pada akhirnya akan dimuliakan oleh Tuhan. Lalu orang tersebut memberikan atau mewakafkan tanah dan rumahnya yang satu satunya tersebut kepada  anak anak  yatim melalui yayasan panti asuhan.  Pada awalnya dia beserta isteri dan  anak anaknya hidup menderita dan hanya  berada di dalam rumah  sangat swederhana terdiri dari pagar gedek dan alas tanah biasa untuk beberapa tahun, namun karena  apa yang diputuskan tersebut  menjadi keyakinannya, pada akhirnya dia mendapatk kepercayan  dari sebuah PT yang mentgembangkan perumahan.

Dialah yang diminta untuk membelikan tanah tanah yang akan dijadikan perumahan. Karena letaknya yang masih di dalam, maka harga tanah pada saat itu masih murah dana dia mendapatkan komisi dari setiap pembelian tanah tersebut.  Singkat cerita, akhirnya dia mampu membeli rumah berserta tanahnya yang cukup luas dan  rumahnya juga lebih bear ketimbang rumahnya yang diwakafkan dahulu.  Singkat ceria  akhirnya dia menjadi kaya raya dan bahakn kemudian mampu membeli tanah yang sangat banyak sehingga hidupnya  serba berkecukupan.

Banyaknya bukti tersebut ternyata belum mampu menggugah  hati banyak orang yang meskipun secara normative mereka sangat mampu untuk memahaminya, namun belum mau bersedekah dengan harta yang didapatkan dari Tuhan..  Ternyata memang untuk berbuat kebaikan tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu atau  membuktikan terlebih dahulu. Justru untuk membuktikan kebenaran tersebut, kita harus melakukannya terlebih dahulu dengan syarat kita hartus tulus dan  tidak menghiraukan apapun yang datng dari  pihak manapun.

Mudah mudahan kita mampu untuk mengimplementasikan falsafah terima kasih tersebut, dan kita akan selalu mengasih kepada pihak lain setelah kita menerima dari manapun, termasuk yang dating ari Tuhan. Insya Allah kta akan selalu diberikan bimbingan oleh Allah swt untuk terus menjadi teladan dalam se,luruh kebaikan, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.