MENGUBAH KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN

Mungkin ada yang mempertanyakan judul tersebut, karena karakter itu sangat sulit untuk diubah, lalu mengapa harus susah susah mengubahnya?  Memang benar sebuah karakter itu terbentuk secara berangsur dan melalui sebuah proses panjang, mulai pembiasaan dan  mengikatnya dengan regulasi, namun bukan berarti tidak dapat diubah, melainkan hanya sulit.  Nah, kalau sesuatu yang sulit, tentu masih dapat dilakukan, walaupun harus mengerahkan banyak energy untuk itu.

Dalam banyak hal dan kalangan karakter itu disamakan dengan akhlak dalam pengertiannya yang luas, karena akhlak yang luas itu meliputi seluruh kehidupan, bukan hanya hubungan antara sesma manusia saja.  Karena itulah akhlak nabi Muhammad saw itu adalah alquran, karena  semua yang dijalankan oleh Rasulullah saw, merupakan pelaksanaan dari kandungan alquran.  Nah, kalau maksud dari akhl;ak tersebut ialah deikina maka penyamaan antara karakter dan akhlak dapat diterima.

Secara umum bangsa kita ini juga sudah menyusun nilia nilai karakter yang seharusnya dipahami dan dijalankan  agar manusia menjadi berkarakter, yakni religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,menghargai prestasi, komunikatif/ bersahabat, cinta damai, gemar membaca, psduli lingkungan, paduli social, dan  tanggung jawab.  Rumusan nilia  nilai karakter tersebut sungguh sangat bagus dannjika itu dikuasai dan direalisasikan oleh anak anak bangsa, maka kita akan menjadi bangsa yang sangat luar biasa.

Namun pertanyaannya ialah apakah semua nilai yang bagus tersebut sudah diperkenalkan kepada semua peserta didik kita? Dan kita sudah berusaha dengan maksimal untuk memberikan pendidikan kepada  anak anak kita?  Tampaknya kita memang harus jujur  kepada diri kita sendiri bahwa  selama ini  kita belum mengajarkan dan memberikan keteladanan kepada anak anak kita dalam hal karakter tersebut, terkcuali hanya sebagian kecil saja.

Kita memang  banyak lupa untuk memberikan yang terbaik untuk anak anak kita termasuk kepada peserta didik kita, karena sejak awal tidak diingatkan untuk hal tersebut.  Sesungguhnya menganai pendidikan karakter tersebut sudah  ada  di dalam undang undang dasar kita yang diamandemen, yakni Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”: juga Pasal 31, ayat 5 menyebutkan bahwa, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

 

Demikian juga dalam  undang undang tentang system pendidikan kita juga telah dijelaskan, yakni UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II pasal 4 menyebutkan: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan , sehat jasmani dan rohani , kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan “

 

Juga UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 mengemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Idealnya pendidikan  karakter dimulai sejak usia dini hingga perguruan tinggi, karena pembentukan karakter tersebut memerlukan proses panjang terutama dalam pembiasaan nilai nilai karakter sebagimana tersebut di atas dalam kehidupan sehari hari.  Itupun masih  dibutuhkan perencanaan yang matang, dan pelaksanaannya yang konsisten serta tanggung jawab, serta pengawasan yang  tersistem.

 

Tujuan pendidikan sebagiamana  disepakati oleh seluruh bangsa Indonesia melalui regulasi yang ada, harus masuk dalam visi dan misi serta tujuan seluruh lembaga pendidikan, sehingga semua unsur yang terlibat dalam proses pendidikan tersebut mampu memahami serta mengamalkan dan berusaha untuk mewujudkan visi misi dan tujuan tersebut.

Disamping itu kita juga harus mengingat bahwa bangsa ini  menganut madzhab paternalistic, sehingga sangat dibutuhkan sikap keteladanan dari seluruh komonen pendidikan seperti pendidik, tenaga kependidikan dan pimpinan yang ada.

 

Sekedar ilustrasi dapat disampaikan bahwa mengapa  banyak diantara siswa kita yang saling berantem, tawuran, terkena masalah hokum, etika, narkoba dan kejahatan lainnya? Itu semua karena minimnya pendidikan karakter terhadap mereka.

 

Parahnya lagi saat ini banyak guru   sudah tidak lagi menjalankan  perannya sebagai pendidik, bahkan  kita sendiri terkadang tidak menyadari bahwa ada sebagian guru yang tidak berusaha memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya, karena guru tersebut juga membuka les privat kepada para peserta didiknya.

 

Dengan gambaran  tersebut, kiranya  peran pemerintah dan seluruh anak bangsa ini perlu ditingkatkan, yakni menjadikan pendidikan sebagai hal yang utama untuk dibenahi secara serius untuk sebuah harapan mengubah bahkan merevolusi karakter bangsa.

 

Sangat mungkin  untuk perubahan tersebut harus mengubah kurikulum, system, dan perilaku semua komponen bangsa.  Tentu ini sebuah pekerjaan berat yang harus  dijalankan oleh seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.

Jadi untuk tujuan tersebut keterlibatan semua  pihak dalam mengegolkan pendidikan karakter dan merevolusi karakter bangsa sangat diperlukan, bukan sekedar pasrtisipasi pasif, melainkan dengan ketulusan dan kesadaran bersama  dan secara sungguh sungguh menjalankan proses pendidikan yang baik.

Memang ada kalanya  untuk mengubah secara drastic karakter sebuah golongan dan komunitas,  diperlukan semacam pemaksaan  dalam arti yang positif, yakni melalui regulasi yang dijalankan secara konsisten dan bertanggung jawab serta berkesinambungan.  Artinya jika kita menginginkan  semua masyarakat dan bangsa ini tertib dalam beberapa hal, ciptakan aturan yang mengikat dan memberikan sanksi berat kepada semua yang melanggar, tanpa pandang bulu pelanggarnya.

Jika hal tersebut  dijalankan, maka  secara otomatis akan terjadi ketertiban sebagaimana yang diinginkan, dengan catatan bahwa pemberian sanksi etrsebut harus konsisten. Lihat saja  Negara tetangga yang berhasil menerapkan disiplin dalam kebersihan, bahkan siapapun yang masuk dalam wilayah tersebut dengan sendirinya juga akan  mengikuti system yang sudah terbentuk tersebut.

Mengingat hal yang demikian, maka  pendidikan untuk karakter tersebut akan dapat terwujud  dengan lebih cepat bilamana diselenggarakan di asrama atau pondoik persantren, karena smeua hal yang diajarkan akan mudah pengawasannya dalam menerapkan dan mengaplikasikan nilai nilai karakter tersebut  dalam diri para peserta didik.

Lingkungan yang  demikian juga akan sangat mendukung  pelaksanaan pembiasaan sebuah nilai yang meang diharapkan akan dijalankan oleh para peserta didik.  Jadi akan lain halnya jika hanya diterapkan di sekolah, sedangkan pada saat mereka pulang ke rumah atau bergaul dengan teman temannya di lingkungan merka, pada galibnya  mereka juga akan terbiasa dengan kebiasaan yang dijalankan oleh teman temannya tersebut.

Itulah mengapa  pesantren merupakan tempat yang sangat cocok  dalam pengembangan diri seorang peserta didik dan paling memungkinkan untuk dimasukkannya pendidikan karakter pada mereka.  Namun dmeikian  jika semua pihak peduli terhadap karakter tersebut, dimana seluruh komponen masyarakat juga ikut andil dalam pengawasan, pendidikan kareakter di sekolah juga akan tetap dapat diharapkan hasilnya.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.