MENJAGA PERASAAN PIHAK LAIN

Ada  diantara sekian banyak manusia yang  hidupnya tidak memerulikan pihak lain, sehingga seolah dia itu hidup sendirian di dunia ini.  Tingkah lakuknya juga seringkali meresahkan dan merugikan pihak lain, tetapi dia tetap saja cuek sekan tidak menanggung doasa apapun.  Kita menjadi yakin pada saatnya nanti dia pasti akan merasakan betapa sakitnya saat dia membutuhkan perhatian pihak lain dan dicuekin  saja, bahkan untuk sekedar membantunya pun juga  orang menjadi enggan.

Kebiasaan mencuekin tersebut terkadang dapat terbawa hingga sampai kepada saudara sendiri, bahkan mungkin kepada orang tua sendiri.  Nah, kalau sudah dmeikian tentu sangat tidak layak untuk diteruaskan karena pasti akan banyak meruygikan dan menyinggung perasaan pihak lain.  Jika sampai orang tua sendiri merasa dicuekin dan tidak dijaga perasaannya, maka  mungkin dia akan termasuk anak yang durhaka kepada orang tuanya.  Bayangkan saja misalnya  biasanya orang tua selalu ingin anak anaknya senang dan bahagia, namun jika bertemu dengan orang tuanya selalu saja mengeluh, pastinya orang tua akan sedih.

Seharusnya kalaupun dalam kesehariannya dia memang sulit dalam hal harta,  maka sebaiknya ketika berjumpa dengan orang tua tidak menampakkan kesedihannya, bahkan sebisa mungkin harus menunjukkan bahwa dia itu bahagis adalm hidupnya sehingga orang tua akan tenang dan bahagia pula.  Memang ada kalanya kita tidak boleh bertrus terang tentang keadaan kita, terutama jika kita tahu orang tua kita sedang mengalami kesedihan. Jangan sampai keterus terangan kita jutru akan menambah beban orang tua dan akan menyebabkan sakit dan kemudian lebih fatal lagi sakit parah.

Tentu ada kalanya sedikit tidak berterus terang akan berbohong untuk kebaikan dan kesenangan orang tua itu dapat dimaklumi.  Biarlah kesidihan  ditanggung sendiri, sementara orang tua tidak boleh tahu kondisis ebenarnya.  Orang tua harus dimuliakan dan  kita harus menujukkan bahwa kita  baik baik saja dan bahagia dengan kehidupan kita.  Menyenagkan orang tua tentu merupakan bagia dari birrul walidain yang wajib kita jalankan, walaupun dalam kenyataannya kita sendiri merasakan kepedihan hidup.

Demikian juga  kita harus mau mengerti perasaan saudara kita yang kebetulan sedang eksulitan. Jika kita mempunyai kelebihan dalam hal harta sebaiknya memang kita mau membantunya, apalagi kalau mereka sampai dating ke tempat kiota untuk emminta bantuan atau sekdar utangan, pastilah kita harus mebngupayakannya, termasuk bilamana kita sedniri sedang membutuhkan uang banyak, tetapi  kepentingan saudara terkadang justru lebih penting dan harus ddahulukan.

Dalam kenyataannya kita sering menyaksikan betapa ada orang yang sangat tega dengan saudaranya sendiri, padahal dia sesungguhnya mampu dan mempunyai banyak harta yang berlebih, tetapi selalu saja mengeluh jika didatangi oleh keluarganya dengan berbagai alaan yang dicari cari.  Kita tidak pernah membayangkan bagimana jika kita yang mengalami kesulitan dan kemudian datang kepada saudara sendiri dan kemudian ditolak, padahal kita tahu bahwa dia mempunyai harta yang kita butuhkan tersebut.

Barangkali kita memang harus sering sering membayangkan  kondisi sulitan yang mungkin akan kita alami sehingga kepekaan kita akan muncul dan akhirnya kita akan mau menolong sesame kita. Hanya saja kita jangankan untuk membayangkan kesedihan, hanya sekdar untuk berp[ikir sedikit saja untuk menolong orang yang benar benar sulit yang duisaksikan di depan matanya sendiri saja  agak susah.  Karena itu orang yang dmeikian biasanya akan semakin sulit dan berperghitungan dalam segala hal.

Bahkan kita juga harus sesering mungkin untuk melatih diri memahami perasaan keluarga kita sendiri, semisal isteri atau suami atau pun anak anak kita sendiri.  Setiap orang pasti mempunyai keinginan berbeda beda dan  semuanya  diharapikan akan dapat dipenuhi. Kalau saja kita sendiri berharap mendapatkan layanan skedar membuatkan  kopi, lalu kita tidak dilayani dengan bagus, mungkin kita akan marah marah dan kemudian memunculkan jasa kita yang telah mencari harta untuk kepentingan keluarga, namun hanya untuk sekedar membuatkan kopi saja mereka enggan.

Bagiamana rasanya kita tidak dihargai perasaan kita.  Seharusnya kondisi tersebut akan dapat menyadarkan kita bahwa tidak smeua  jasa kita itu harus dihargai secara terus menerus, karena masing masing orang terkadang juga mempunyai kebutuhan yang  harus mereka sendiri perjuangkan.  Bahkan mungkin untuk memberikan kesadaran tersebut, anggota keluarga perlu memberikan pelajaran kepada  seorang ayah agar  menjadi sadar dan mau mengerti perasana orang lain.

Demikian juga orang tua perlu memberikan keasaearan kepada anak anaknya agar mau menyadari bahwa orang lain juga mempunyaiperasaan dan kepentingan yang sama dengan kepentingan kita, sehingga kita tidak boleh mengabaikan kepentingan mereka.  Bahkan kalau bisa kita harus menolong mereka untuk meraih keinginan tersebut.  Ajarkan kepada mereka bahwa siapapun yang mudah menolong pihak lain, pasti pada saatnya akan mudah untuk ditolong oleh pihak lain.

Sebaliknya siapapun yang membuatkecewa dan mempersulit pihak lain, pada saatnya kita juga akan mendapatkan perlakuan yang relative sama, bahkan mungkin malah akan lebih menyakitkan lagi.  Pelajaran yang langsung dalam praktek keseharian etrsebut etntu akan jauh lebih manjur jika kita selalu memberikan keteladanan dalam hal kebaikan, semacam m,enolong pihak lain, bukan sebaliknya menolah membantu orang lain dan bahkan justru malah menyakitkannya.

Menjaga perasaan pihak lain sesunggunya juga menjaga perasaan kita sendiri, karena  sebuah perbuatan pasti akan dibals denagn perbuatan apapun yang dilakukannya, dan terlepas siapapun yang nanti akan membalsakannya, tetapi yang jelas itu pasti akan terlaksana. Untuk itu tanamkanlah kebaikan, pasti kita pada saatnya akan mengunduh  kebaikan tersebut.  Sebaliknya siapapun yang menanam keburukan, pasti dia juga akan memanennya.  IOtu sudah menjadi hokum alam dan tidak akan mampu dihindari terkeculi bilamana kita sudah melakukan pertaubatan sebelum balasan etsrebut muncul dan mengenai diri kita.

Kalau kita dihardik atau tidak diindahkan itu sakit, maka jangan sekali kali kita mengabaikan dan menyakiti pihak lain.  Demikian juga kalau kita  mengabaikan perasaan pihak lain tentang apapun, maka pada saatnya kita juga akan mengalaminya dan bahkan apa yang akan kita rasakan tentuny ajauh ;ebih berat dan sakit, karena kita sudah terbiasa diperlakukan dengan baik, dan tiba tiba kita mengalami sesuatu yang sangat buruk dan kita mendapatkan perlakuan yang jauh lebih buruk.

Itulah hokum karma yang kkita yakini pasti akan terjadi dan menimpa kepada siapapun.  Untuk itu agar kita mendapatkan karma yang baik, mulailah dengan memperlakukan kepada siapapun dengan sangat baik, terutama kepada orang tua kita sendiri, mertyua kita dan juga smeua saudara kita.  Sahabat dan teman dekat kita juga  sangat  perlu untuk kita perhatikan dan bantu seperlunya sesuai dengan kemampuan kita, insya Allah  kita akan mendapatkan kemudahan.

Pada akhirnya siapapun yang berbuat baik dia akan  mendapatkan kebaikan dan siapapun yang berbuat kejahatan, pasti dia juga akan mendapatkan balasannya. Kalau misalnya Allah belum membalsanya di dunia, maka balasan di akhirat pastinya akan jauh lebih dahsyat. Untuk itul;ah sekali lagio mari  mulailah hidup kita dengan membuat kebajikan dan menolong pihak lain.  Semoga kita akan mendapatakn eprtolongan dari Allah swt,. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.