ANDAP ASOR

Pernyataan  andap asor tersebut sesungguhnya merupakan bahasa Jawa yang sudah dikenal oleh umat sebagai  akhlak yang seharusnya dipegangi oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang  berilmu.  Kata lainnya yang sepadan dengan itu ialah sopan santun, unggah ungguh dan sejenisnya.  Sudah selayaknya  orang selalu menjaga sikapnya terhadap pihak lain, terutama jika  berhadapan dan  berkomunikasi atau sedang berpapasan dengan pihak lain. Misalnya saja pada saat  berjalan dilingkungan orang banyak, seharusnya meminta ijin dan  mengatur jalannya sepelan mungkin agar tidak menyinggung pearasan mereka.

Bilamana kita berjalan begitu saja melewati banyak kumpulan orang dengan  biasa saja, dan tanpa meminta ijin kepada mereka, maka itu namanya kurang ajar atau kurang andap asor, karena pastinya mereka yang sedang berkumpul tersebut diperlakukan dengan sopan dan jika kita mau lewat sebaiknya meminta ijin dahulu baru kemudian lewat dan itupun juga dilakukan dengan baik dan sopan, bukan dengan lari atau jalan dengan cepat.

Demikian juga seharusnya kita tidak berburuk sangka kepada pihak yang lain yang mungkin berpenampilan sederhana dan  sepertinya  termasuk orang miskin, karena belum pasti mereka yang berpenampilan demikian benar benar miskin atau orang bodoh.  Bisa saja  memang orag tersebut ingin sederhana, padahal di samping kaya juga pintar dan bahkan mungkin sangat alim.  Bukankah Tuhan juga sudah memperingatkan kepada kita agar kita tidak  menghina  siapapun, sebab bisa jadi orang yang kita hina etrsebut sesungguhnya lebih mulai ketimbang diri kita sendiri.

Dalam bahasa yang lebih umum, nabi Muhammad saw juga sudah memberikan informasi tentang unggah ungguh tersebut melalui sabda beliau bahwa bukanlah termasuk umatku mereka yang tidak mampu untuk menghargai dan menghormati yang lebih tua dan mereka yang tidak mampu untuk menyayangi mereka yang lebih muda.  Semua itu tentu dalam rangka untuk menciptakan  hubungan yang harmonis diantara umat, baik yang tua maupun yang muda.  Bahkan tradisi kita juga sudah menggariskan  bahwa mereka yang alaim itu sudah seharusnya dihormati dan ditempatkan pada tempat yang terhormat.

Dalam falsafah Jawa sering kali disampaikan bahwa hidup itu seharusnya  meniru falsafah padi, yakni semakin berisi, maka akan semakin menunduk, bukan malahan menyombongkan diri, karena hanya mereka yang  bodoh dan  pengikut setan saja yang  selalu berlaku sombong.  Biasanya memang orang yang tidak berilmu, pada saat mengerti sedikit saja tentang sesuatu, lalu  belaku sombong seoah dia telah menguasi ilmu yang snagat banyak.  Sementara orang yang benar benar pandai dan alim pastinya akan berlaku sangat sopan dna andap asor kepada siapapun.

Sikap andap asor juha seharusnya dimiliki oleh mereka yang kaya, karena kekayaan tersebut sesungguhnya berasal dari pemberian Allah swt, dan jika mereka menyadari kenyataan tersebut, pastinya mereka akan bersikap tawadldlu’ dan tidak akan pernah berlaku sombong kepada siapapun, termasuk mereka yang miskin.  Hanya mereka yang kaya dan tidak berpkkir sajalah yang akan menyombongkan diri seolah dunia dan hartanya adalah abadi dan akan menyelamatkannya.

Kita sudah diingatkan oleh Tuhan berkali kali bahwa  sifat sombong itu hanya pantas dimiliki oleh Allah swt saja,sedangkan saat ini orang yang sombong itu selalu saja menjadi pengikut setan.  Manusia itu lemah dan selalu bergantung kepada Tuhan dalam hal apapun.  Nah, kalau manusia itu bergantung  kepada Tuhan, lalu dengan alasan apa manusia kemudian berlaku sombong.  Harta yang diberikan oleh Allah swt kepadanya juga tidak akan abadi, sewaktu waktu Tuhan mencabutnya, pastilah akan sirna seluruhnya.

Sikap andap asor tersebut sesungguhnya merupakan akhlak dari rasulullah saw, karena beliaunselalu menghargai  siapapun, termasuk mereka yang selalu memusuhinya.  Pada saat rasul mengalami kesulitan apapun, beliau tetap sabar dan selalu menyarahkan persoalannya kepada Allah tanpa mengeluh.  Beliau selalu optimis bahwa Tuhan pasti tidak akan membiarkan diri beliau sengsara. Karena itu jiak ekmudian beliau mengalami kelsulitan, maka itu dianggapnya sebagai ujian untuk menaikkan posisinya di hadapan Allah swt.

Jadi Beliau sama sekali tidak pernah berperasangka buruk kepada Tuhan, meskipun sedang diberi cobaan, baik yang menimpa diri beliauy ataupun yang menimpa umat beliau.  Keprercayaan yang penuh kepada Allah swt memungkinkan beliau  akan   yakin bahwa  jika Allah menghendaki  apapun, pastinya  hal tersebut akan terjadi dan tidak sulit bagi Nya untuk mewujudkan sesuatu tersebut.  Karena itulah beliau tidak pernah  mendendam kepada siapapun, khususnya kepada merka yang selalu mengganggu dan menyakiti beliau.

Bagi beliau mendendam itu hanya akan menjadi beban saja dan  tidak akan membebaskan pikirannya  untuk berpikir yang positif.  Beliau terbiasa dengan memberikan maaf kepada siapapun yang bersalah kepada beliau meskipun kesalahan tersebut disengaja.  Padahal kita semua tahu bahwa beliau adalah manusia termulia di dunia ini. Entoh demikian jika ada orang kafir yang memperlakukan beliau dnegan tidak sopan dan sama sekali tidak menghargai beliau, maka beliau tetap akan menerimanya apa adanya, termasuk jika ada sahabat yang tidak menrima perlakukan tersebut, biasanya beliau malah meminta kepada sahabat tersebut untuk tidak mempermasalahkannya.

Pernah terjadi suatu saat yakni pada saat beliau sedang sakit, lalu ada salah seorang sahabat yang ingin membalaskan sesuatu yang pernah diterima dari Nabi, beliau tetap saja  menuruti apa yang diinginkan oleh sahabat tersebut, termasuk saat beliau diminta untuk mencop[opt bajunya untuk didera atau dipecut.  Meskipun pada sahabat lainnya sangat marah kepada sahabat etrsebut, namun justru Nabi malah mempersilahkan kepada sahabat etrsebut untuk melaksanakan keinginannya, yakni emmbalsa apa yang pernah dilakukan oleh Nabi meskipun saat itu tidak sengaja.

Hingga pada saatnya sahabat tersebut ternyata bukan ingin menyakiti Nabi, melainkan hanya ingin dapat menempelkan  badannya  kepada badan Nabi yang pasti akan selamat dari neraka.  Lalu terjadilah kedjadian yang mengharukan  dan lalu Nabi pun mengatakan bahwa jika kalian ingin melihat sahabat yang akan masuk surge lihatlah pada sahabat etrsebut, yang ternyata ialah sahabat Ukasah.  Itulah sebagian kisah  kesopanan dan andap asornya Nabi  sebagai oarng termulia di dunia.

Lalu bagaimana dengan kita yang hanya sebagai hamba biasa dan dengan ilmu yang sangat terbatas, bahkan mungkin juga keimanan yang tidak cukup kuat.  Pantaskah kita berlaku sombong dan jumawa kepada  orang yang kita anggap berada di level  bawah kita.  Bukankah nabi adalah manusia sempurna dan kita  bahkan harus  menjadikannya sebagai uswah atau teladan  dari setiap langkah kita?  Pastinya kita  harus terus berusaha untuk menirukan seluruh  sikap beliau dalam hal apapun.

Kalau misalnya kita belum mampu untuk meneladani keseluruhan  sikap, maka setidaknya ada sikap beliau yang kita jadikan sebagai sikap kita dan selalu kita jaga konsistensinya dalam menjalani hiduip, semisal  sikap menghargai pihak lain siapapun  itu an tidka memandang rendah kepada sesame hanya disebabkan harta benda yang ada pada diri kita.  Sikap andap asor itulah yang akan menjaga diri kita dari kemungkinan celaka dan  nista, baik di dunia maupun di akhirat.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.