SELALU BERSEMANGAT

Kalau secara teoritis pada saat berpuasa orang mukmin diharapkan akan semakin  bersemangat untuk bekerja untuk menunjukkan bahwa puasa itu tidak akan mengurangi gairah kerja, namun dalam kenyataannya  berbalik seratus delapan pulus derjat, karena  orang orang yang berpuasa, khususnya setelah dhuhur, biasanya  menjadi lemas dan kurang bergairah, maka seharusnya pada saat kita sudah tidak berpuasa kita akan mampu mengembalikan gairah tersebut. Toh pada kenyataannya kita tidak sedang berpuasa dan  tentu perut juga tidak kosong.

Namun boleh jadi dengan penuhnya perut dengan makanan dan minuman justru juga akan dapat membuat semangat kita menjadi kendor.  Dengan begitu ada alasan lainnya bahwa kenapa kita tidak bersemangat untuk melaksanakan pekerjaan kita, karena  kekenyangan atau karena habis makan.  Lalu kalau demikian kapan lagi kita mampu untuk membuat diri kita ebrsemangat dan bergairah dalam menjalankan pekerjaan?.  Barangkali itu hanyalah jawaban yang selalu dijadikan alasan bagi mereka yang memang malas, dan bukan alaan yang maton.

Seharusnya kalau kita sedang berpuasa, aspek sedikit lemas itu mamang merupakan kewajaran, meskipun jika sudah terbiasa akan tidak berpengaruh besar.  Nah, kalau tidak sedang berpuasa, lalu  mempunyai alasan  yang akan membuat diri kita tidak bergairah, maka itu tidak dapat diterima oleh akal sehat, karean kapan lagi kita akan mampu mensupport diri kita untuk mekaismal dalam menjalankan kewajiban?

Sesungguhnya semangat dan gairah etrsebut  dapat ditimbulkan dari dalam diri kita dan motivasi niat kita sendiri. Jika kita mempunyai niat yang kuat dan motivasi untuk bekerja dengan bagus, pastinya akan mampu menimbulkan gairah dalam diri kita untuk melaksanakan tugas dan kewajiban.  Dan sebaliknya jika niat kota memang lemah dan  motivasi kita jufga klendor, maka apapun kondisinya tetap saja akan menjadi lemah dan tidak akan muncul gairah dan keinginan  kuat untuk menjalankan tugas dengan baik.

Biasanya orang baru akan bersemangat ketika di hadapannya ada hal yang memaksanya untuk bergairah, semacam ditunggui oleh bossnya atau dalam upaya mendapatkan bonus tertentu yang ditawarkan oleh perusahaan atau instansinya atau lainnya.  Motivasi yang ditimbulkan ioleh adanya sesuatu yang baru  tersebut dapat dikatakan bahwa motivasi kerjanya hanya untuk sebuah tujuan tertentu yang sifatnya sementara dan itu tentu merupakan kebiasaan yang kurang bagus untuk sebuah kerja yang  menerus.

Demikian juga ada sebagaian diantara kita yang  akan muncul gairahnya  jika di hadapannya ada sebuah sanksi yang siap akan emmberikan hukuman bagi kita jika kita tidak mencapai target, semacam akan dikurangi gajinya atau akan diberikan hukuman tertentu jika tidak menjalankan pekerjaan dengan baik.  Nah, hal demikian tentu juga tidak bagus untuk kita, karebna kerja yang kita jalani bukan muncul dari dalam diri atas kesadaran bahwa smeua itu memangmenjadi kewajiban kita, karena kita telah diberikan gaji dan upan yang rutin.

Seharusnya  dalam menjalankan kerja kita  harus merasa selalu diawasi oleh dua malaikat yang setia menemani kita, yakni malaikat Raqib dan Atid dan Al;lah juga pasti akan mengetahui apapun yang kita jalankan, bahkan apapun yang ada dalam benak kita.  Jika motivasi ini dapat mengisi keseluruhan jiwa kiota, pastilah kita akan mampu memunculkan gairah dalam diri kita, terlepas ada atau tidaknya  sesuatu yang akan kita peroleh sebagai sebuah tambahan dari hak yang pasti akan kita terima.

Ada sebagian diantara kita yang sukanya kalaun ada uang baru bergairah untuk melakukan pekrjaan, sementara jika kita ada uang, maka kerja menjadi malas.  Padahal setiap bulan sudah secara rutin mendapatkan gaji secara utuh.  Kondisi tersebut sesungguhnya merupakan sebuah penyakit yang jika dibiarkan akan semakin menggerogoti iman kita dan pada saatnya pasti akan semakin menerpurukkan diri kita sendiri.

Barangkali kalau memang sulit untuk mengubah diri menjadi sadar atas kewajiban, mungkin ada benarnya jika dalam menjalankan perkjaan, seseorang perlu mendapatkan sebuah atuan khusus yang memberikan ancaman sanksi tertentu jika tidak memenuhi kewajibannya, atau mungkin agak sedikit  diperlukan tambahan kesejahteraan yang akan diberikan kepada para pekerja jika mampu menyelesaikan pekrjaan sesuai dengan target yang ditetapkan.  Mungkin kita tidak lagi mengandalkan kesadaran yang timbul dari dalam dirinya, karena itu mungkin sangat sulit untuk didapatkan.

Jika kita mengarahkan pandangan kita kepada persoalan kedisiplinan juga ada hal yang relative sama untuk menimbulkan dan memunculkan kesadaran yang timbul dari dalam diri, karena itu beberapa Negara kemudian menerapkan sanksi kepada siapappun yang tidak disiplin.  Ambil contoh di Singapura, bahkan di sana sanksi pelanggaran tersebut sangat berat sehingga siapapun akanberpikir untuk tidak melanggara kedisiplinan, sebab jika sedikit saja mereka melanggarnya, maka  mereka harus membayar denda yang sangat berat.

Kondisi tersebut pada akhirnya akan membentuk sebuah kebiasan berdisiplin diri karena diawali oleh ketakutan untuk membayar denda yang akhirnya membuat mereka dapat ebrdisiplin dan itu pada saatnya menghasilkan sesuatu yang sangat bagus.  Barangkali untuk  kinerja juga diperlukan penerapan sanksi seperti itu, asalkan  pelaksanaan sanksinya memang dilaksanakan secara konsisten sehingga  perilaku manusia juga akan secara konsisten.  Kelemahan yang biasanya ada di diri kita ialah tidak konsistennya pelaksanaan sanksi sehingga orang kemudian berpikir meremehkan, yakni tidka patuh terhadap aturan, toh sanksinya tidak akan diberlakukan.

Namun terlepas dari itu semua  sesunguhnya kita sudah mempunyai cara terbaik  untuk menyadarkan ditri kita memenuhi semua kewajiban kita dengan tulus, yakni melalui puasa ramadlan, karena jika hal tersebut dijalankan dengan konsisten dan  tujuan kita juga sama dengan keinginan Tuhan, yakni agar kita menjadi taqwa, maka tanpa sanksi yang demikian sesungguhnya kita akan mampu membangkitkan semangat dan gairah untuk menjalankan kewajiban dan  semua yang menjadi tanggung jawab kita.

Sekarang tinggal kita mau atau tidak mempergunakan cara yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan keagamaan kita. Jika kita menjalankannya secara konsekwen tentu akan banyak hal positif yang dapat kita petik, yang salah satunya ialah kita akan semakin emmpertebal ketaqwaan kita dan sekaligus juga semakin membuat diri kita dekat dengan keidealan sebagai seorang mukmin yang senantiasa berharap banyak kepada Tuhan dalam hal kebaikan demi kebaikan dalam menjalani hidup di dunia.

Disamping itu untuk meraih kebaikan tersebut sesungguhnya kita memerlukan pemaksaan diri  kita sendiri  untuk meraih yang terbaik.  Artinya jikalau kebiasaan kita ialah  tidak melakukan segala sesuatu dengan penuh kesungguhan, maka kita perlu untuk mengingatkan kepada diri kita sendiri bahwa kerja yang kita laksanakan tersebut adalah merupakan bagian dari ibadah kita kepada Allah swt.  Dengan demikian memaksakan kebaikan untuk diri kita adalah salah satu cara untuk  menjadikan diri kita menjadi hamba yang baik.

Kita pasti akan mampu memebrikan pemaksaan kepada diri kita untuk bersemangat bekerja meskipun tidak ada tambahan kesejahteraan secara materi kepada kita, tetapi kita harus yakin bahwa dengan kerja yang semangat tersebut pasti akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.  Dengan begitu pada saatnya pasti aka nada imbal balik kebaikan yang kita dapatkan, meskipun kita tidak tahu kapan itu akan kita dapatkan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.