SEKALI LAGI TENTANG CADAR

Tertnyata sampai saat ini persoalan cadar masih mengemuka, terutama bagi mereka yang menganggap bahwa cadar itu merupakan bagian dari syariat.  Mereka rupanya terus berusaha untuk mengegolkan keinginannya untuk dapat memakai cadar di manapun mereka berada, termasuk di sekolah atau di perguruan tinggi.  Padahal kita juga tahu bahwa masing masing lembaga pendidikan tersebut juga mempunyai aturan dan tata tertiba nya masing masing yang sangat mungkin tidak sejalan dengan merka yang menginginkan cadar tersebut.

Akibatnya  secara terus menerus masih menjadi persoalan, dan bahkan hingga pengadilan. Kita memang menganut paham bahwa masing masing  warga bangsa ini untuk melakukan refleksi keberagamaannya sesuai dengan keyakinan, namuan pada saat berhubungan dengan pihak lain, seharusnya juga mengetahui cara nya sehingga tidak akan memaksakan kehendaknya, dan dapat mengerti aturan dan ketentuan yang diberlakukan oleh masing maisng pihak.  Dalam hal ini semua warga bangsa harus mampu mengembangkan sikap teposeliro atau toleransi dalam hal pengamalan agamanya.

Memanga yang terkait dengan sebuah keyakinan, kita semua memahami tidak ada kompromi dengan pihak manapun, sebab pihak lain juga tidak dibenarkan untuk mencampuri urusan sayariat yang tetap tidak berubah tersebut, seperti kewajiban menjalankan kewajiban shalat maktubah lima kali sehari semalam dengan rakaat yang berbeda, menjalankan  puasa di bu;an Ramadlan, menjalankan ibadah haji dan menunaikan zakat.  Namun ketika menjalankan hokum fiqh yang masih debatebel, tentunya kita juga harus mampu untuk memehami pendapat pihak lain sehingga kemungkinan ada perbedaan di sana.

Nah, untuk menciptakan kondisi yang kondusif, tentunya semua pihak harus mampu menahan diri tidak memaksakan kehendaknya dan mau mengikuti apa yang ada  dengan pwerbedaan yang ada pula.  Jika kita mempermasalahkan khilafiyah sedemikian rupa seolah itu merupakan syariat yang tidak berubah, maka  pasti akan terjadi benturan demi benturan yang tidak akan terelakkan dan akibat lebih lanjutnya pasti akan terjadi ketegangan dan bahkan mungkin peperangan diantara kawan sendiri.

Terkait dengan pemakaian cadar, kita tahu bahwa tidak semua umat sepakat  untuk memakai cadar karena itu bukan syariat, meskipun ada yang menganggapnya itu syariat, tetapi denganb ukit tidak semua umat mewajibkannya, maka itu cenderungnya hanya merupakan persoalan fiqh semata.  Untuk itu bagi yang menginginkannya, dapat memakainya sepanjang tidak berbenturan dengan aturan lain secara khusus.  Artinya jika orang di rumahnya sendiri atau di tempat umum yang tidak ada aturan larangan memakai cadar, maka dipersilahkan untuk memakainya.

Namun jika   berada di dalam sebuah tempat yang mengatur secara khusus tentang cadar,  merweka juga harus rela untuk menanggalkannya, demi ketertiban bersama.  Semisal di sebuah lembaga pendidikan mengatur bahwa setiap  mahasiswa atau setiap siswa yang sedang menjalani proses pendidikan di lembaga tersebut tidak boleh memakai cadar dan harus membuka wajahnya, maka itu tetap harus dihormati.

Persoalannnya ialah pada saat berada di tempat tertentu tersebut, mereka masih menginginkan memakai cadar dan bahkan menuntut untuk diberikan kebebasan dalam meakai cadar dengan alasan aturan yang melarangnya tersebut bertentangan dengan HAM.  Sesungguhnya persoaan HAM itu jauh dari sekedar memakai cadar, karena  cadar itu merupakan budaya sebagian masyarakat saja, sehingga jika ada yang tidak memperkenankan memakainya di wilayah tertentu, maka itu sama sekali tidak melanggar HAM.

Sudah barang pasti akan berbeda halnya dengan jika  larangan tersebut berupan memakai jibab yang memang secara syariat diatura agar perempuan itu menutup seluruh tubuhnya mengecualikan wajah dan telapak tangan.  Rupamnya hingga saat ini masih ada yang beranggapan bahwa cadar itu sama dengan jilbab, padahal  sama sekali berbeda, karena jilbab cukup menutup kepala  dan leher, sesdangkan kalau cadar itu menutup seluruh wajah.

Pakaian cadar tersebut  pada suatu ketika dapat dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan, seperti misalnya  seorang laki laki dengan memakai cadar akan tidak kelihatan wajahnya dan kemudian memasuki wilayah khusus perempuan.  Dengan begitu  ada kemungkinan laki laki tersebut dengan mudah melakukan kejahatan yang ditujukan kepada perempuan permpuan yang ada di dalam wilayah khusus tersebut.

Pada saat tertentu, seperti pada saat menjalani ujian juga dapat digunakan sebagai alaat untuk joki, karena wajahnya tidak terliohat. Makanya pada saat ujian yang demikian biasanya  semua peserta harus membuka wajahnya dan tidka boleh memakai cadar, dengan tujuan agar dapat diketahui bahwa yang melaksanakan ujian adalah benar benar yang bersnagkutan dan tidak digantikan oleh yang lain.

Untuk itu smeua  sekali lagi kita  tidak pwerlu lagi membicarakan soal cadar karena hanya akan menghabiskan energy kita dan pada akhirnya tidak akan tercapai kesepakatan, karena masing masing  membawa alasannya sendiri sendiri yang tidak mau dipertemukan.  Cukuip[lah bagi kita memdomani bahwa jika urusan syariat, maka kita harus sepakat untuk menjalankannya dan tidak boleh menghalnginya dengan alasan apapun, seperti shalat, puasa dan lainnya.  Tentu siapapun tidak boleh menghalangai orang untuk menjalankan ibadah shalat atau orang lain yang ingin menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan mereka.

Tetapi dalam urusan sesuatu yang dihasilakn dari pikiran manusia, meskipun kemudian dilabeli dengan hokum tertentu, semacam hokum islam, maka di situlah perbedaan mulai muncul.  Karena pemahaman masing masing orang berbeda, maka kita harus mengembangkan sikap toleran kepada pemahaman pihak lain, sebab kalau masing masing bersikeras untuk mempertahankan dan memaksakan kehendaknya yang dianggap paling benar, maka  pasti akan terjadi pertentangan sengit dan bahkan mengarah kepada perpecahan dan peperangan.

Kita sesungguhnya dapat melihat kenyataan yang sudah terjadi di beberapa Negara yang rakyatnya saling mengklaim kebenaran dan masing masing tidak mau toleran terhadap lainnya, sehingga mengakibatkan perang saudara yang tidak pernah berakhir.  Apakah kita akan melakukan seperti mereka?  Kenapa kita tidak menggunakan akal sehat kita, bahwa Allah memberikan akal pikiran kepada smeua manusia, sehingga pasti mereka akan berpikir, dan hasil dari pikiran tersbeut pastinya akan berbeda, klarena latar bel;akang dan dsar berpijaknya juga mungkin berbeda.

Nah, kalau kita menyadari masing masing orang berbeda pandangan dan pemahaman, lalu kenapa kita harus memaksakan satu pandangan saja?  Tentu hal tersebut tidak masuk akal, dan kalau terus dipaksanakan, pasti terjadi benturan dan  akhirnya akan semakin besar dan tidak dapat dihentikan.  Mari gunakan akal sehat kita untuk memahami ajaran agama kita sehingga ada ada kompromi dan pada akhirnya akan tercipa kedamaian dan kenyamanan.

Kembali kepada persoalan cadar yang  sekali lagi hanya merupakan produk budaya, dan bukan merupakan syaraiat dari Allah swt, terbukti tidak ada ayat ataupun sunnah yang terkait dengan kewajiban memakai cadar tersebut, maka  sebaiknya kita dapat menyepakati bahwa bagi siapapun yang bwerkinginan memakinya dipersilahkan tetapi  jika pada saat berada di tempat yang di situ ada larangan memakainya, maka harus dihargai dan ditaati.  Toh dengan menanggalkannya tidak akan berdosa.

Karena itu jiakl ada sebuah lembaga pendidikan yang melarang mahasiswa atau siswanya memakai cadar, harus dihormati sebagai bagian dari ikhtiyar mereka  untuk menciptakan ketertiban dan kenyamanan dalam berkomunikasi dan proses pendidikan secara umum.  Dengan saling menghargai tersebut insya Allah akan dapat diciptakan kondisi yang sangat nyaman dan damai sehingga tujuan yang ingin dicapai akan dapat diraih dengan mudah,semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.