SEMAKIN MENDEKATI HARI H, SEMAKIN BINGUNG

Jagat perpolitikan Indonesia, sebentar lagi akan menjadi ramai lagi, yakni pada saat pendaftaran calon presiden dan wakilnya dimulai pada awal Agustus mendatang.  Meskipun pelaksanaan pilpres dan pileg masih  pada tahun 2019, namun diyakini bahwa konstalasi politik dalam negeri akan mengalami peningkatan  yang signifikan. Kalaupun pada saat ini baru hanya satu calon presiden yang sudah memastikan diri maju, yakni petahana, namun diyakini bahwa pastinya akan muncul pesaing.

Bahkan sangat  mungkin pula bahwa pendatang baru juga akan muncul untuk menantang sang petahana.  Namun demikian haingga saat ini pula  petahana juga masih belum menentukan calon wakilnya, karena masih banyak pertimbangan yang harus dipikirkan masak masak.  Meskipun kabarnya sudah ada ccaloan yang mengerucut, setelah pertemuan petahana dengan ketua umum PDIP di istana Batu tulis, namun belum jelas pula siapakah gerangan orangnya.

Para pengamat biasanya suka menebak nebak, dan kali ini sepertyinya  ada nama mahfudh MD, sang mantan ketua MK yang dianggap  paling memungkinkan untuk mendampingi petahana. Namun sesungguhnya banyak isyarat yang telah disampaikan oleh calon petahana kepada beberapa tokoh pada berbagai kesempatan.  Dengan dmeikian sebelum diumumkan nanti tentu semuanya hanya menebak nebak semata dan belum dapat dipastikan.  Di samping juga belum ada pertemuan diantara para ketua umum partai koalisi untuk menentukan siapakah yang akan mendampingi calon petahana tersebut.

Sementara itu untuk  yang dianggap potensial untuk mencalonkan diri sebagai penantang petahan, yakni Prabowo Subiyanto sendiri hingga kini juga belum mantap untuk maju, karena belum ada kesepakatan koalisi, dan bahkan akhir akhir ini  calon partai koalisinya bahkan mengancam akan memutuskan hubungan jika tidak diberikan jatah calon wakil presiden.  Pada sisi lain mungkin dianggap di partai PKS tidak ada calon yang “kemedol” sehingga prabowo  tentu akan mikir mikir terl;ebih dahulu untuk memenuhi keinginan partai PKS tersebut.

Sepertinya memang partai p[olitik bertujuan utama  ingin mendapatkan kekuasaan, sehingga kalau hanya sekedar mendukung tanpa mendapatkan jatah jabatan, tentu akan sulit untuk merealisasikannya.  Sedangkan rencana untuk membentuk koal;isi baru yang dimotori oleh partai Demokrat, rupanya juga tidak mendapatkan respon yang positif dari banyak kalangan parpol, sehingga kemungkinannya ialah akan layu sebelum berkembang.  Itu salam satunya karena Demokrat juga mematok agar AHY mendapatkan tempat yang bagus, setidaknya sebagai wakil presidennya.

Terakhir ini banyak isu yang menyatakan bahwa pada akhirnya prabowo juga tidak akan maju dan hanya akan menjadi king maker dan memberikan kesempatannya kepada  orang lain yang dianggap mampu memberikan perlawanan kepada petahana.  Mungkin dapat jendral Gatot bersama dengan  Anis Baswedan atau  tokoh lainnya.  Namun semua itu rasanya akan sulot terjadi, karena mereka atidak mampunyai basis partai poltik, sehingga akan sangat berat untuk melangkah.

Inilah sesungguhnya yang menjadi kelemahan kita, yakni tidak mampu mempersiapkan diri dengan seksama jauh jauh hari sebelumnya, sehingga akan mendapatkan kepaduan yang sempurna.  Kalaupun calon petahana posisinya sudah aman sebagai calon, karean telah didukung oleh paratai koalisi beberapa partai politik, namun untuk menentukan calon wakilnya, masih sangat berat, karena harus dipikirkan juga tentang elektabilitas calon dan kesungguhan partai politik koalisi.

Jangan jangan ketika mereka berharap banyak bahwa  dari parpol tersebutlah yang akan dipilih untuk mendampingi calon petahana, lalu ternyata tidak, maka dukungannya secara riil menjadi melorot, atau bahkan mungkin secara terang terangan beralih dukungan kepada calon lainnya.  Demikian juga tentu dipertimbangkan bahwa jika salah satu calon dari partai pendukung yang dipilih, maka dikhawatirkan partai lainnya yang juga berharap laku kurang sungguh sungguh dalam mendukungnya.

Lalu terpikir juga untuk mencari dan menggaet calon pendamping dari  non partai politik, tetapi mempunyai nama dan  setidaknya penggemar cukup banyak, sehingga akan menaikkan  calon pemilih dan tidak ada kekhawatiran  larinya  sebagian parpol pendukung.  Hanya saja kemungkinan tersebut dapat muncul jika sudah sangat sulit untuk mendapatkan calon yang tidak menimbulkan  kekhawatiran dan waktunya juga sudah sangat mendesak.  Jadinya  duet tersebut kurang solid karena dibentuk dalam waktu yang tergesa gesa.

Sebagai rakyat tentu kita berharap akan muncul calon lain yang mampu memberikan harapan kepada rakyat tentang kesejahteraan yang lebih melalui program programnya yang jauh lebih bagus.  Jika ada beberapa calon presiden  dan smeuanya bagus, tentu kita tidak akan khawatir siapapun yang nantinya terpilih, karena pastinya akan focus untuk mensejahterakan rakyat.  Sudah pasti masing masing orang pasti sudah mempunyai pilihannya masing masing, akan tetapi jika ada banyak pilihan baik, tentunya kita menjadi semakin optimis dengan pilpres tersebut.

Bukan berarti calon yang saat ini mulai muncul; tidak bagus, melainkan  jika ada lagi yang lain dan dinilai cukup bagus dan mampu untuk memimpin negara, tentu itu akan jauh lebih bagus.  Sebagai rakyat biasa yang tidak mempunyai kepentingan apapun dalam puilpres nanti tentu hanya menginginkan  kondisi yang aman, damai, dan juga kondusif dalam proses pelaksanaan pilpres dan pileg tanpa adanya  kejadian yang  mengkhawatirkan apalagi kalau harus terjadi ketegangan dan kekerasan.

Partai partai politik memang sedang menentukan arahnya sendiri yang tentu dianggap menguntungkan, karena orientasi partai poliitik tentunya kekuasaan.  Karena itu  ketika tidak mempunyai kemampuan untuk mencalonkan diri dan melihat ada peluang yang lebih besar dengan bergabung dan berkoalisi dengan partai lain, tentu ityulah yang akan dilakukan.  Peroalan visi dan misi masih dapat dibicarakan kembali dan masalah lainnya juga tentu akan dengan mudah untuk dilakukan revisi.

Dalam menentukan arah koalisi etrsebut paertai politik tentu juga akan mengkalkulasi berapakan nantionya mendapatkan jatah menteri, setelah  calon yang didukungnya  terpilih menjadi presiden, sebab hal tersebut tentu akan sangat menentukan arah poltik berikutnya.  Artinya kesinambungan partai politiknya juga akan terjamin jika  mempunyai wakil menteri dalam cabinet yang sedang berjalan.  Itulah saat ini semua partai politik sangat sibuk untuk memeras otak agar dapat berlabuh di tempat yang tidak salah.

Rupamnya  partai politiik mantan penguasa yakni partai Demokrat juga lagi pusing untuk menentukan arah koalisinya, karena  suara yang diperoleh dalam pemilu tahun 2014 yang lalu tidak mencukupi untuk mengusung presiden dan wakilnya sendiri, sehingga harus mencari partner untuk dapat mengusung calon tersendiri. Akankah partai Demokrat akan terus menjadi partai non partisan dan hanya menjadi partai politik penyeimbang saja?.  Sudah siapkah untuk berpuasa setidaknya lima tahun lagi?

Lalu untuk partai PKS akankah bertahan dengan syarat  sebagimana disampaikan kepada kawannya yakni partai Gerindra, yakni eminta jatah calon wakil presiden?  Lalu kalau itu dilakukan  apakah mereka sudah siap untuk kalah telak dari petahana?.  Kita juga masih menunggu sikap partai PKB yang masih belum menentukan rah koalisinya, meskipun mendukung petahana, namun dengan menyodorkan ketua umumnya untuk diduetkan dengan petahana.

Mari kita tunggu saja ending permaian ini, apakah nantinya petahana akan benar benar mengusung calon wapresnya bukan dari parpol ataukah sebaliknya mebuat kejutan dengan memilih salah satu kader parpol pendukungnya.  Lep[as dari siapapun yang nantinya akan diduetkan dengan petahana, kita cukuplah mendengar saja, tanpa berkomentar, karean itu pastinya sudah diputuskan dengan mempertimbangkan banyak hal.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.