MARI NGAJI ALQURAN

Terkadang kita menjadi aneh dengan apa yang kita lakukan, karena secara  pikiran kita membenarkan bahwa alquran itu merupakan kitab suci bagi umat muslim yang kandungannya menjadi pedoman dalama mengarungi hidup di dunia  hingga di akhirat nani, akan tetapi dalam praktek  amalan, kita  sering tidak konsisten dengan pikiran tersebut.  Artinya  meskipun pikiran kita membenarkan alquran sebagai pedoman bagi kita, namun kita tidak pernah menyentuhnya atau membacanya, sehingga tidak mungkin kita akan mengetahui isi kansungannya.  Lantas bagaimana kita menjadikannya sebagai pedoman hidup?

Inilah keanehan yang kita dapati dalam diri kita dan kebanyakan umat muslim.  Jika memang kita meyakini bahwa alquran itu merupakan kitab pedoman hidup kita, seharusnya dikaji dan dipahami isi kandungannya sehingga kita akan dapat mengamalkannya sebagai manifestasi melaksanakan pedoman yang kita yakini tersebut.  Pertanyaannya ialah lalu bagaimana caranya kita memedomani alquran kalua kita sendiri tidak tahu isi kandungannya?

Barangkali  sapa saat ini yang kita ketahui dan  oleh banyak umat ialah tentang kewajiban kewajiban yang harus dijalankan, seperti  menjalankan shalat lima waktu, berpuasa ramadlan, berzakat,  dan juga haji.  Meskipun secara detail  tidak mengetahui perintah perintah tersebut, namun karena sudah banyak ulama yang mengatakannya, maka kita  mempercayainya.  Hanya saja  masih terlalu banyak hal yang belum kita pahami sehingga kita tidak melakukannya dalam praktek sehari hari, yakni  perintah kebajikan dan berbagai teladan yang seharusnya juga kita lakukan.

Apakah cukup sebagai hamba yang baik, kita hanya menjalankan kewajiban semata, sementara terkadang kita juga masih menabrak larangan yang ada. Apalagi  untuk berbagai perbuatan baik yang ada dan dianjurkan oleh alquran, semacam berbuat  ihsan kepada semua makhluk Tuhan, perintah bersedekah, dan menolong mereka yang dalam posisi lemah, berbakti kepada kedua orang tua  yang sudah sedemkian  repotnya mengurus kita saat kita masih kecil, bahkan saat kita masih dalam kandungan ibu kita.

Tentu saja  jawaban terhadap persoalan gtersebut ialan bahwa kita tidak cukup hanya menjalankan kewajiban semata, karena masih ada gtungunan yang banyak yang harus kita lakukan sehingga kita akan menjadi hamba yang baik, bukan sebagai hamba yang minimalis.  Untuk itu garakan untuk membaca dan memahami alquran memang harus digalakkan, bukan semata  pada bulan ramadlan belaka yang hanya menyentuh kulitnya saja.  Meskipun menggerakkan membaca alquran di bulan Ramadlan itu juga penting dan mempunyai nilai yang baik.

Barangkali memang harus dimulai dari bulan suci seperti ini untuk menggalakkan membaca alquran, karena ini merupakan momentum yang sangat memungkinkan banyak orang dengan semangat membaca alquran, dengan catatan nanti setelah usaia ramadlan haruslah diingatkan kembali mengenai pentingnya membaca alquran tersebut.  Jika  kebiasaan membaca alquran sudah dimulai, maka untuk meneruskannya tentu lebih mudah ketimbanga sama sekali belum dimulai.  Akan tetapi juga harus diimbangi dengan himbauan untuk memahami kandungannya, meskipun melalui terjemahan dan tentu harus melalui guru yang mampu memahaminya secara baik.

Kita harus menekankan bahwa alquran itu merupakan kitab pokok yang semesatinya harus dikuasai oleh seluruh umat, seharusnya melahan harus dikaji sebelum mengkaji buku lainnya.  Hanya saja  kebanyakan  masyarakat kita rupanya  para lalai dan mungkin juga tidak mengetahuinya sehingga membiarkan anak anak mereka tidak  melakukan kajian terhadap kirtab suci tersebut.  Pada zaman dahulu, meskipun tidaka mengkaji  sampai kandungannya, namun setiap anak anak  pasti akan melakukan nagji alquran setia hari, dan biasanya pada setiap sehabis maghrib.

Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang keudian menghafalkan  beberapa surat  tertentu, seprti surat yasin,  waqiah dan tabarak, dan bagi orang orang tertentu juga  akan menghafalkan juz amma dan bahkan ada yang menghafalkan seluruh alquran.  Mmang agak saying kalau hanya mengaji  membacanya saja tanpa mengenal makna kandungannya, namun itu sudah cukup bagus, ketimbang saat ini  banyak sekali generasi muda yang sudah menjadi remaja dan tidak mampu membaca alquran.

Brangkali ada kemungkinan pemahaman merka didasarkan kepada pernyataan banyak guru guru dan ulama yang menyatakan bahwa alquran itu dibaca saja akan mendapatkan pahala meskipun tidak memahami kandungannya.  Nah, kemudian masyarakat lebih menitik beratkan kepada persoalan pahala sehingga substansi memahami alquran menjadi terabaikan dan jadilah mereka hanya pandai membaca semata, tetapi tidak memahami isinya.

Mungkin sudah waktunya bagi kita sekarang untuk memulai menggalakkan  mengkaji alquran beserta isi kandungannya, khsusunya dimulai dari diri kiat sendiri, lalu  kita  tularkan kepada anak anak kita sehingga mereka pada saatnya memang benar benar akan  dapat mengetahui isi kandungan alquran yang menjadi pedoman hidup mereka.  Harapan selanjutnya ialah bahwa  sikap dan perilkau mereka  nantinya akan mengacu kepada alquran sebagimana yang kita inginkan.

Pada saatnynmereka juga akan mengetahui bagaimana pendidikan ala alquran dengan mengacu kepaa kisah lukman hakim misalnya yang mengajarkan banyak hal, meulai dengan mengenalkan kepada Allah sebagai Tuhan sekalian alam yang Maha menentukan segala sesuatu, kemudian mengenal syariat serta mampu menghargai dan menghormati orang tua yang sudah membesarkan dan mendidik kita, tidak sombong  saat mendapatkan nikmat Tuhan dan juga saat kita merasa lebih pintar dari yang lain serta peduli kepada sesame.

Kita juga  menjadi tahu bagaimana seharusnya kita hidup berdsmpingan dengan masyarakat yang beraneka ragam, kita juga akan mengetahu bahwa  semua harta yang kita miliki hakekatnya adalah titipan Tuhan, sehigga kita harus  menyampaikan amanah kepada yang berhak, termasuk kita  harus mau bersedekah dengan sebagian harta kita tersebut, mau membantu anak anak yatim, fakr miskin dan lainnya.  Pada saatnya kita juga akan mengetahuo sejarah umat terdahulu yang diantara mereka ada yang baik  tetapi ad pula yang membangkang perintah Tuhan dan berakibat binasanya mereka.

Kita juga nantinya akan mengathaui bahwa  sejatinya kita hidup di dunia ini hanyalah sementara  saja, dan kehidupan yang kekal ialah yang ada di akhirat, karena itu kita memang harus menabung sejak saat ini untuk kebshagiaan di akhirat nanti. Tidak seperti saat ini dimana banyak umat muslim yang sama sekal tidak mengetahui isi kandungan alquran sehingga mereka banyak yang meninggalkan amalan baik yang seharusnya dijalankan.  Mungkin ada sebagian diantaravmereka yang  mampu berbuat baik karena  meskipun tidak mmahami kandungan alquran namun mau mendengarkan nasehat para ulama.

Namun tentu akan jauh lebih mantap jika kita sendiri dan anak anak kita nanti mengetahui sendiri  dari sumbernya yang otentik.  Hanya saja memang untuk me gaji tersbeut diperlukan guru yang mumpuni dan tidak hanya belajar sendiri dari terjemahan atau dari internet, karena  sangat mungkin pemahamannya  bisa salah dan mengakinatkan paham yang  idaka benar.  Jika hal tersebut dibiarkan dan mereka nantinya meyakini bahw apemahamannya itulah yang benar dan kemudian menyalahkan pemahaman lainnya yang tidak sejalan, maka  akan ti bul pemahaman yang radikal dan ektrim serta menyalahkan pihak lain.

Itulah mengapa factor guru itu sangat menentukan dan  mari sejak dini  kita mencarikan guru untuk anak anak kita sehingga mereka nantinya tidak tersesat dan bahkan kemudian menyesatkan. Semoga Allah swt senantiasa memberikan pertolongan Nya kepada kita semua. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.