BELAJAR DARI SIKAP ORANG ORANG KAFIR MAKKAH

Kita tahu bahwa pada awal Islam, tidak mudah bagi nabi Muhammad saw beserta para sahabat beliau untuk berdakwah menyampaikan ajaran syariat, bukan karena ajaran tersebut jelek dan tidak diterima oleh masyarakat, melainkan disebabkan para tokoh kafir Makkah saat itu yang tutup mata dan telinga terhadap apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw, sehingga apapun yang keluar dari Nabi, pasti akan ditolak mentah mentah dengan alasan apapun.  Dengan begitu dakwah Nabi memang tidak sampai ke telinga masyarakat Makkah secara umum.

Kebencian yang begitu mendalam terhadap nabi Muhammad saw yang dianggap hanya seorang anak yatim, lalu malah menjadi pimpinan umat atau Nabi, sehingga mereka tidak rela untuk dipimpin oleh anak yatim.  Itulah yang berkecamuk dalam pikiran mereka sehingga tidak mungkin  akan dapatt menerima ajaran sebaik apapun. Nmun sayangnay mereka juga menghalangi orang lain untuk mendengarkan dakwah Nabi tersebut, padahal seandainya masyarakat dapat secara langsung mendengar ajaran tersebut, pastilah banyak yang akan mengikutinya.

Buktinya ialah sebagian kecil diantara masyarakat, khususnya dari kalangan miskin yang  tahu tentang syariat tersebut, kemudian mau mengikuti dan berikrar untuk tetap  mengikuti dan mempertahankan syariat tersebut.  Bahkan ketika mereka kemudian disiksa oleh para tokoh kafir Makkah sekalipun, mereka tetap dalam keyakinan yang sudah masuk dalam nurani mereka.  Jadi pada prinsipnya para kufat Makkah tidak mau menerima ajaran syaraiat yang dibawa oleh Nabi  Muhammad saw, bukan karena  substansi ajarannya yang tidaka baik atau tidak bisa diterima oleh akal mereka, melainkan semata mata  disebabkan oleh kebencian  mereka sejak awal sehingga hati mereka tertutup oleh kebencian tersebut.

Sesungguhnya menganai umat yang  menolak mentah mentah tanpa mengetahui isi kandungan sepeeri juga sudah terjadi sejak zaman dahulu.  Semisal pada saat zaman nabi Isa menyebarkan  dakwah untuk mengajak umat menyembah kepada Allah swt, utusan tersebut disutakan begitu saja tanpa melihat ajarannya. Lalu disusuli orang ketga agar ikut meperkuat dakwah tersebut juga didustakan lagi sehingga Allah pun kemudian mellaui nabi Isa memberikan mukjizat sebagai bukti bahwa ajaran mereka itu benar, dan Tuhan yang ingin diperkenalkan adalah Tuhan yang memang pantas disebuta sebagai Tuhan.

Bukti mukjizat tersebut berupa penyembuhan penyakit yang secara akal tidak mungkin disembuhkan semacam belang, dan puncaknya juga menghidupkan orang yang sudah mati.  Namun dasar mereka sudah tidak mau menerima ajaran yang benar tersebut, maka bukti apapun yang memperkuat keberadaan dan kemaha kuasaan Tuhan yang memang pantas disebut Tuhan, mereka tetap saja tidak mau mengikutinya.  Sebenarnya hati kecil dan pikiran mereka dapat membenarkan dakwah yang dibawa oleh para utusan tersebut, tetapi keangkuhan dan kebencian merekalah yang akhirnya menutup hati dan pikiran mereka untuk tidak menerima ajaran tersebut.

Jai sesungguhnya sikap orang yang antipasti terhadap sesuatu atau seseorang itu bukan disebabkan karena apa yang diperbuat orang tersebut tidak baik dan secara rasional memang harus ditolak, melainkan semata disebabkan oleh kebencian saja sehingga kabaikan aapapun yang datangnya dari orang yang dibenci tersebut, pastilah menjadi tampak jelek atau  harus dikatakan sebagai sebuah kejelekan.  Kita dapat menilai bahwa  mereka yang tidak mau menerima kebaikan dana kebenaran hanya didasarkaan kepada kebencian tersebut sesungguhnya sedang sakit yang sangat akut dan mereka sendirilah yang mampu menyembuhkannya.

Jika mereka tidak mau berusaha untuk menyembuhkannya senndiri, maka kemungkinan penyakit tersebut akan lebih parah dan bahkan tidak akan dapat diobati lagi.  Bagi kita yang belum terjangkiti penyakit tersebut, sebaiknya kita  memperbanyak pengetahuan engenai mereka itu sehingga kita akan mampu menggunakan akal sehat kita untuk hal hal yang obyektif dan tidak perlu menyimpan dendam yang brlebihan yang hanya akan mempersubur benih penyakit yang pasti sudah ada di setiap hati masing masing orang.

Jika kita kemudian Tarik ke saat sekarang kita juga dapat menyaksikan betapa banyak pihak yang terken penyakit tersebut, yakni antipasti dan tidak mungkin akan dapat menerima kebaikan apapun dari pihak tertentu.  Mereka pasti akan berkomentar buruk terhadap prestasi apapun yang dicapai, karena memang mereka tidak melihat kenyataan, melainkan  terus membangun emej yang dharapkan masyarakat akan mengikuti pikiran dan hasil dari keburukan hati mereka.  Namun harapan mereka hanya akan ditanggapi oleh mereka yang kebetulan sejenis dengan kondisi mereka.

Sementara bagai mereka yang bertindak dan berpendangan obyektif, pastinya tidak akan terseret untuk mengikuti apaun yang disampaikan aoleh mereka karena dalam kenyataannnya  mereka dapat menyaksikan sendiri kebaikan yang ada di hadapan mereka.  Bagi mereka yang  sejak semua tidak menyukai dan membenci pemerintah yang sedang berkuasa, pastinya akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencitrakan buruk kepada pemerintah yang ada, mereka [astinya tidak akan memnadnag hasil yang nyata melainkan akan selalu berusaha untuk mencari kelemahan yang ada dan kemudian menyampaikannya kepada masyarakat luas.

Biasanya mereka itu adalah rival saat pemilihan  sebelumnya dan kemudian kalah dalam perebutan tahta kepemimpinan, lalu tidak berlaku obyektif untuk berinvesatsi kepada masyarakat sehingga nantinya masyarakat akan bersimpati kepada mereka dan pada saat pemilihan berikutnya masyarakat akan memilihnya.   Kebanyakan diantara mereka menganggap bahwa dengan menyebar keburukan pemerintah, masyarakat akan bersimpati kepada mereka, dan ternyata mereka itu salah besar karena masyarakat tentu tidak akan bersimpati kepada pihak yang selalu ingin menjatuhkan pemrintah yang sah.

Itulaha cara yang selalu diterapkan oleh masyarakat elit kita yang sesungguhnya   salah dan tidak akan mendapagkan dukungan dari masyarakat, tetapi terus dipertahankan.  Karaena yang paling  beruntung ialah mereka yang tidak melibatkan diri kepada semua kubu yang sedang bermusuhan, melainkan kita berlaku obyektif saja dan tidak melibatkan diri pada salah satu pihak.   Biarlah masyarakat sendiri anngi yang akan menentukan pada saat pemilihan, karena  masyarakat pasti sudaha mempunyai pandangannya sendiri dan akan  menentukan sendiri.

Melihat kenyataan tersebut sebaiknya kita memang  banyak membaca sejarah umat terdahulu, baik terkait dengan  para Rasul Tuhan, maupun  sejarah para pemimpin dunia dan juga khususnya sejarah para pemimpin kita sendiri di masa yang lalu.  Semua itu  dimaksudkan agar kita semakin tahu apa yang sesungguhnya saat ini sedang terjadi, apakah merkea benar benar berjuang untuk kepentingan rakyat ataukah untuk kepentingannya sendiri.  Kita jadi dapat belajar dari sikap yang mereka tunjukkan, yang salah satunya bahwa sikap membenci dan antipasti terhadap sosok atau  ajaran seseorang itu hanya akan memperburuk diri sendiri, karena  kondisi demikian tidak akan mampu melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Jadi kita tidak berdosa ketika kita belajar dari sikap para kuffar Makkah yang dahulu antipasti kepada Nabi dan ajaran beliau, sehingga kita  saat ini dan kemudian tidak akan meniru  sikap yang mereka praktekkan, karena jika itu terjadi, maka kita akan semakin tersiksa dengan kenyataan yang setiap hari kita hadapi.  Bahkan apa yang kita inginkan yakni masyarakat ikut mendukung langkah kita juga pasti akan gagal total, karena masyarakta pasti akan melihat kepada kanyataan dan kebenaran, bukan  mengikuti sesuatu yang tidak masuk akal.  Semoga kita mampu menarik kesimpulan dari semua itu dan kemudian akan menjadi  sosok yang benar benar menginginkan kebenaran dan  kebaikan. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.