TERNYATA BELUM USAI PEMBICARAAN POLITIK

Banyak kalangan yang memperkirakan setelah gawe besar p[ilkada serentak, lalu akan jeda  dari hiruk pikuk politik, karena  hasil dari pilkada sudah dapat diketahui, namun ternyata manakala kita mengikuti mas media, tidak ada satupun mas media, baik cetak maupun elektronik yang tidak tertarik membicarakan persoalan politik.  Mungkin karena politik itu saat ini lagi seksi sehingga  semua orang ingin mendapatkannya.

Ada saja yang dibicarakan.  Kalau soal p[ilkada serentak barangkali tinggal beberapa  pihak  saja, terutama yang masih mempertanyakan pelaksanaan pilkada dan soal kekalahan [asangan tertentu, namun masalah pilpres, ternyata juga sudah sangat hangat.  Bahkan meskipun  calon yang sudah ready hanyalah satu, yakni petahana, karena telah didukung oleh beberapa partai politik, namun persoalan siapa yang akan menantangnya juga masih sangat seru.

Memang ada sosok yang sudah mendeklarasikan sebagai calon presiden  nanti, namun belum seratus persen mendapatkan tiketnya, karena masih belum ada kesepakatan mutlak diantara calon pendukung.  Barangkali masih berkutat dengan siapakah yang akan mendampinginya.  Nah, kalau sudah berbicara persoalan ini, tentu akan saling tawar, khususnya dengan pendukung yang juga mempunyai sosok calon yang akan dimajukan.  Namun di sisi lain calon yang dianggap kemedol justru bukan dari parpol yang akan mendukung tersebut.

Sama juga ramainya dengan siapakah yang nantinya akan mendampingi  calon petahana, karena hingga saat ini belum ada  satu nama yang mengkerucut, meskipun sudah ada  calon yang mendeklarasikan diri sebagai cawapresnya.  Tentu calon presiden petahana juga sudah mempunyai pandangannya, namun masih belum diumumkan, karena pasti akan mencari waktu yang tepat dan setelah berkonsultasi dengan parttai partai pendukung.  Namun yang sama sekali tidak mungkin ialah jika petahana akan mengambil calon dari partainya sendiri.

Pembicaraan juga menghangat ketika sudah mengarahnkepada siapa, karena  banyak  kalangan yang memperkirakan bahwa  petahana tidak akan mengambil calonnya dari kalangan  kaum nasionalis, sehingga ketua umum golkar, meskipun disodorkan, kiranya tidak akan menarik hati petahana, karena ada pertimbangan yang sangat penting, yakni kemungkinan akan digeruduk dengan isu agama sebagaimana yang sudah sudah.

Karena itu para pengamat lalu mencoba untuk memperkirakan calon wakil presiden dari petahana ialah dari kalangan santri atau Islam. Lalu  dengan dmeikian  akan sedikit mengerucut.  Namun masih ada dua pilihan apakah dari kalangan politisi ataukah dari kalangan non politisi.  Lalu apakah dari partai pendukung ataukah dari luar itu, semuanya masih serba mungkin. Namun jika diperkirakan petahan akan mengambil dari kalangan politisi, khususnya para ketua umum, maka tinggal hanya beberapa nama saja.

Sampai saat ini partai yang mengusung calon wapresnya untuk disandingkan dengan calon petahan hanya ada 3 partai polt8ik, yakni PKB, PPP dan golkar.  Jika diambil kriteria dari kalangan islam, maka hanya tinggal dua saja.  Salah satunya bahkan sudah emndeklarasikan diri dan membentuk satgas satgas pemenangannya.  Sedangkan yang satunya lagi justru  malah enjoi dan melakukan berbagai kegiatan yang diperkirakan akan mampu menarik perhatian petahana.

Dengan kondisi seperti itu pembicaraan lalu mengembalikan semuanya kepada  petahana yang akan ngelakoninya. Bisa saja  yang diambil ialah dari kalangan politisi dan bisa sja dari kalangan non politisi.  Kalkulasi politik tentu akan dijalankan terus menerus, sehingga  akan mendapatkan kata  bulat dan berharap akan menuai kemenngan dengan mudah.  Tetapi memang sangat asyik membicarakan polituik tersebut, khususnya tentang rencana pilpres yang mungkin hanya akan diikuti oleh dua pasang calon saja sebagaimana  tahun 2014 yang lalu.

Lepas dari semua perkiraan tersebut, yang terpenting bagi rakyat ialah bagaimana pilpres nanti akan dapat berjalan dengan aman, damai dan menghasilkan pilihan yang terbaik.  Wong cilik yang tidak mengerti politik hanya dapat berharap bahwa kesejahteraan masyarakat akan dapat meningkat dan perhatian pemerintah akan semakin membaik kepada rakyatnya serta semua barang  dapat terjangkau dan relative murah.  Itulah harapan dari rakyat kecil terlepas dari siapapun pemenangnya nanti.

Rupanya para pengamat belum lelah untuk terus membicarakan persoalan politik tersebut. Lalu kenapa mereka juga tidak mau memikirkan persoalan umat secara umum atau mungkin secara khusus dalam beberapa aspek.  Mengapa mereka tidak mau menyoroti semakin mahalnya energy, baik elpiji maupun listrik atau mengapa  mereka tidak pernah menyinggung persoalan lingkungan yang semakin menjepit kehidupan masyarakat.  Kalaupun masyarakat melakukan keberatan atas  limbah sebuah pabrik misalnya, maka itu  tidak akan pernah menjadi isu yang besar sehingga akan menarik perhatian banyak pihak.

Bagaimana dengan tangisan masyarakat di sekitar pabrik yang terus menerus diserang melalui asap yang sangat memekakkan kehidupan, namun  tidak mendapatkan tanggapa yang serius dari para pengambil keputusan.  Polusi udara seolah menjadi hal yang biasa dan tidak dianggap sebagai sebuah ancaman kehidupan manusia.  Terkadang kita menjadi bingung, kenapa banyak ahli dan orang pintar, namun masih saja tidak mampu mengubah hidup masyarakat banyak?.

Kenapa  persoalan moral bangsa yang semakin bobrok juga tidak emndapatkan penanganan yang serius, padahal KPK sudah seringkali menangkap para pelaku korupsi, namun seprtinya  masih banyak saja yang berani untuk melakukannya.  Demikian juga dengan kasus narkoba yang meskipun sudah  dilakukan pencegahannya dengan begitu gegap gempita, namun belum mendapatkan dukungan yang maksimal dari para toloh di negeri ini.

Kita smeua menjadi yakin jika para tokoh ramai membicarakan persoalan penyakit masyarakat tersebut, khususnya tentang praktek korupsi dan narkoba,  insya Allah akan semakin membaik dan berkirang pelanggarannya, namun karena yang bengak bengok hanya petugas saja dan para tokoh masyarakatnya berdiam diri, maka masyarakat  menajdi  tidak terlalu takuit dengan  melakukan praktek kejahatan tersebut.  Kenapa para tokoh kita hanya senang berbicara masalah politik semata yang seolah dengannya semua persoalan akan terselesaikan.

Membicarakan persoalan politik memang tidak dilarang dan bahkan pada saatnya sangat diperlukan, namun  sesekali juga  mereka seharusnya membicarakan persoalan umat yang mendesak.  Ketika  sudah selesai pilkdaa dan msih jauhnya pilpres, seharusnya pembicaraan politik disudahi dahulu dan berganti dengan topic mengenai kebutuhan masyarakat, terutama mengenai energy dan bagaimana mereka dapat hidup dengan nyaman dan mendapatkan  kedamaian.

Hal yang lebih urgen lagi ialah bagaimana para politisi sendiri mau memperbaiki komunikasinya dengan masyarakat, terutama tentang ujarannya  yang selama ini dianggap justru malah melukai masyarakat.  Bukankah mereka itu kebanyakan ialah para wakil rakyat yang seharusnya  terus menerus mendekati masyarakat untuk mendapatkan masukan dan harapan harapan merka.  Ketika  aka nada pileg saja biasanya merka mendekati masyarakat dan sama sekali tidak melakukan edukasi kepada mereka.

Sesungguhnya keinginan masyarakat ialah jika  mereka dibela  dan diperlakukan dengan baik.  Masyarakat pada umumnya memang buta tentang [olitik  namun mereka sedikit banyak juga mengetahui tentang sepak terjang dari para politisi.  Dengan dmeikian  sesungguhnya  p[ara tokoh politik  tidak sehartusnya berbuat  sesuatu yang sifatnya membohongi masyarakat atau menyakitkan mereka.  Jika masyarakat sudah marah dan membelot dari pelaksanaan segala macam pilihan, maka Negara ini akan rep[ot sendiri.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.