PETAN, JANGAN LAKUKAN

Petan itu merupakan salah satu kebiasaan para ibu yang sedang kumpul dan melakukan aktifitas mencari kutu di kepala kawannya dengan  mengumbar cerita bohong dan juga hoax, Nmaun mereka sangat asyik membicarakan hal hal yang tidak masuk akal sehingga mereka kemana mana dengan mengumbar kebencian dan juga terkadang dengan bumbu yang sangat menyakitkan.  Meskipun sudah banyak yang mengingatkan bahwa hal tersebut merupakan perbuatan yang dilarang dan berdoa, namun para ibu biasanya  tetap saja tidak menghentikannya, karena memang dianggap mengasyyikkan.

Jika ada kabar burung yang baru dan menyangkut orang baik baik, mereka semamkin bernafsu untuk membicarakannya dan menyebarkannya sedemikian rupa sehingga seolah berita palsu tersebut benar adanya.  Sudah barang tentu hal tersebut akan menyakitkan pihak pihak tertentu yang mengakibatkan dosa  yang berkepanjangan.  Kita tidak habis piker mengapa mereka dapat melakukan hal yang dmeikian padahal secara sadar mereka tentu juga mengerti bahwa menyebarkan berita  bohong itu sangat besar resikonya dan mungkina  malahan akan berdampak buruk bagi diri mereka sendiri.

Hal yang paling mengasyikkan ialah karena  mereka membicarakan aib orang atau bahkan  membuat kegaduhan dengan sama sekali tidak memikirkann akibatnya, karena mereka sambal mencari  kutu yang biasanya juga  hanya sebagai pemanis semata.  Artinya  maksud yang sesungguhnya dari petan tersebut ialah ngerumpi  dengan bebas tentang apa saja yang dapat dibicarakan, baik itu sebuah berita kebenaran maupun kebohongan.  Sementara itu kaum pria tentu tidak akan terliat dalam pembicaraan yang demikian, karena disamping mereka tidak akan bisa ikut nimbrung dalam  perkumpulan mereka, juga biasanya pria tidak suka mengumbar cerita murahan.

Bahkan baru saja mereka mentas dari puasa ramadlan yang  diharapkan akan mampu  mencegah hal hal yang buruk dan mampu menahan diri dari nafsu apapun, ternyata mereka sudah ebrkumpul untuk ngerumpi dan membicarakan aib orang.  Lebih lebih jika ada tetangga mereka yang  pulang mudik dengan hanya  membawa barang yang minim yang dianggap tidak sukses dan mesti mereka akan dibully sedemikian rupa, bahkan dikarang karang pekerjaannya di tanah rantau yang semakin menerpurukkannya di mata para tetangganya saja.

Kalaupun misalnya ada  tetangganya yang tidak berhasil di rantau, seharusnya mereka dapat menghargai usaha yang telah dilakukan, karena semua orang itu sesungguhnya sudah ada garis rizkinya masing masing.  Bilamana di desanya mereka tidak mampu sukses dan kemudian merantau juga tidak atau belum sukses,  seharusnya disupport agar mereka terus berusaha sehingga akan mendapagtkan  kesuksesan yang diharapkan, bukannya malah dibulli yang hanya akan semakin meredupkan semangatnya saja.

Kebiasaan buruk yang dilakukan oleh para ibu ibu tersebut tentu harus dihentikan dengan cara yang baik, yakni melalui para suami mereka dan juga melalui majlis taklim yang diselenggarakan  secara rutin di desa tersebut.  Tentu akan sangat rugi jika  mereka melakukan shalat, ;puasa ramadlan dan  kebaikan lainnya, tetapi selalu saja membuat dan merugikan pihak lain melalui mulut mereka yang sangat  tajam dan mengerikan.  Bykankah mereka  merasakan betapa sakitnya jika diperlakukan demikian oleh pihak lain?

Jika mereka kemudian mikir dan merenungkan bagaimana rasanya jika mereka difitnah dengan sebuah kekejian dan sesuatu yang tidak menyenangkan, tentu mereka akan sakit pula.  Nah, kalua dirinya diperlakukan demikian juga merasa tidak nyaman, lalu kenapa mereka dengan mudahnya memperlakukan orang lain sedemikian keji ya? Lalu apakah mereka tidak mempunyai nurani dan akal sehat? Banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh mereka sehingga mereka pada akhirnya akan menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah sebuah kebodohan dan kekonyolan yang menyakitkan pihak lain.

Jika  secara terus menerus mereka diingatkan yang dmeikian kemudian mereka juga  ikut merasakan bagaimana rasanya  disakiti,  tentu secara nalar mereka akan mau menghentikan perbuatan jelek mereka dan kembali kepada perbuatan baik yang seharusnya dipertahankan, khususnya mengingat pula bahwa puasa yang dijalani selama satu bulan tersebut juga  seharusnya menghasilkan makna yang jelas, yakni menjadi taqwa dengan sejumlah sifat baik yang akan menghiasi dirinya selama  menjalani hidup di dunia ini.

Orang itu akan selalu mengikuti kebiasaan yang dilakukan, jika suka berkumpul dengan sesame ibu ibu, biasanya akan mudah ikut larut dalam pembicaraan yang sedang hangat dibicarakan.  Hamper mustakhil bagi sekumpulan ibu ibu yang berada di sebuah tempat, lalu mereka smeuanya diam membisu tanpa membicarakan apapun.  Mungkin kalau saat ini orang akan mampu diam membisu pada saat berkumpul dengan kawan kawannya, karena masing masing  asyik dengan HP nya masing masing, namun tidak dengan para ibu, karena mereka pasti akan membuka pembicaraan deengan topik tertentu.

Bahkan pada saat mereka sedang mendengarkan pangajian sekalipun, terkadang mereka tega untuk menggunjing pihak lain.  Itulah  kenyataan dan kebiasaan para ibu kalua sudah berkumpul dengan sesame mereka.  Ibaratnya  satu crita dapat  diubah menjadi sepuluh cerita yang berbeda.  Sementara  ibu lainnya juga suka menambahi atau  mensupport  dengan menanyakan sesuatu yang sesungguhnya tidak terkait dengan cerita yang ada, tetapi kemudian malah berkembang sedemikian rupa yang menyebabkan ceritanya menjadi semakin rusak dan  kemana mana.

Pada saat mereka arisan  yang dibicarakan  biasanya juga tentang gossip murahan, dan bukannya bagaimana caranya mendidik anak sehingga akan menjadi shalih dan bermanfaat bagi masyarakatnya serta keluarganya.  Masih mending kalua di acara arisan, terkadang mebicarakan tentang karir suami atau anak anaknya yang sedang sekolah atau kuliah, meskipun pasti masih tetap dibumbui dengan hal hal aneh dan tidak masuk akal. Namun tidak demikian jika mereka  sudah berkumpul dan petan, pastinya tidak ada hal baik yang menjadi topik pembicaraan.

Jangankan pada saat tidak sedang beribadah puasa, pada saat ramadlan saja merka masih tega untuk menggunjing orang lain dan berdusta.  Inilah yanag seharusnya diberantas oleh kita semua sebagiamana  tersebut.  Uma persoalannya tidak semudah  membalikkan tangan karena banyak aspek yang harus dipertimbangkan.  Hanya saja kalua kita memang bertekad untuk melakukannya, pasti aka nada jalan dan Tuhan pasti akan menolong kita dengan cara yang kita dapatkan setelah melalui banyak tahapan.

Mungkin timing yang sangat tepat ialah pada saat syawwal seperti saat ini karena mereka baru saja menjalani puasa dan seharusnya  mereka baru saja menghiasi seluruh laku hidupnya dengan akhlak mulia sebagai tanda bahwa mereka telah berubah menjadi muttaqin, namun karena masih banyak diantara umat manusia yang belum mampu mengubah secara baik,  maka harus ada usaha tambahan yang dilakukan, yakni  melalui kegiatan, semacam hala bi halal dengan pesan khusus untuk mengingatkan para ibu yang suka  menggosip mirahan, agar mereka menyadari betapa  rusaknya masyarakat jika  semua  bertindak seperti yang mereka lakukan.

Semoga kita mampu  melakukan hal tersebut dan seluruh ibu ibu, kalaupun sedang ebrkumpul alan selalu membicarakan hal hal positif dan berguna  dalam memperbaiki hidup, baik di keluarga maupun di masyarakat, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.