DISIPLIN BUKAN KARENA ITJEN

Sebagaimana kita tahu bahwa untuk ASN, khususnya di kementerian Agama RI saat ini sudah sangat disiplin, terutama dalam masuk kerja, karena pada saat hari pertama masuk kerja seluruh ASN telah masuk dan bekerja sebagaimana mestinya.  Tentu ada  pandangan yang disampiakn oleh banyak orang, yang sebagiannya masih meragukan keseriusan  mereka, karena pada saat hari pertama dan kedua diawasi secara langsung oleh inspektorat jenderal kemenag  sehingga mereka sangat disiplin.

Untuk itu kita perlu membuktikan setelah itu.  Artinya kalau memang hari hari setelah pengawasan secara langsung oleh inspektorat tersebut sudah selesai dan meeka masih rajin dan giat dalam menjalankan pekerjaan, tentu kita harus mengapresiasi bahwa kedisiplinan mereka memang dating dari dalam mereka sendiri, bukan karena diawasi oleh inspektorat.  Namun sebaliknya jika setelah inspektorat kembali, lalu mereka juga kembali sebagaimana habitat aslinya, maka  klaim bahwa kedisiplinan mereka karena ada pengawasan etrsebut mungkin saja da benarnya.

Lebih dari itu kita semua tentu sangat berharap bahwa  sehabis menjalankan kewajiban puasa ramdalan kita akan semakin termotivasi untuk menjalankan kewajiban atas dsara dorongan Dario dalam diri kita sendiri, bukan atas dorongan dari luar.  Sebagai ASN yang beriman, tentu kita berharap demikian karena secara teoritis kita memang seharusnya semakin meningkat kebaikan dan ketulusannya, setelah menjalani serangkaian latihan  melalui puasa sebulan penuh.

Kita abaikan saja  pernyataan nyinyir daris ebagian orang bahwa kedisiplonan yang ada di awal masuk kerja tersebut adalah disebabkan oleh datangnya tim inspektorat jenderal kemenag, bukan atas dasar kesadaran masing masing orang.  Kita buktikan saja bahwa kita memang bukan tipe mereka yang takut kepada pengawasan melainkan kalau kita takuit ialah karena Allah swt semata.  Kita tidak perlu membalasa pernyataan nyinyir tersebut, dan cuykuplah bagi kita uhntuk membuktikan diri dalam perbuatan.

Jika kita memang serius dalam menjalankan tugas dan kewjiban, tentu kita tidak akan merasakan berat terhadap semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita, karena itulah yang seharusnya kita kerjakan.  Pekerjaan apapun tentu akan menjadi ringan jika kita kerjakan dengan penuh keyakinan dan kesenangan,  sebaliknya sebuah pekrjaan yang sebenarnya sanga ringan, tetapi jika kita kerjakan dengan penuh tekanan dan keterpaksaan, pastilah akan terasa sangat berat dan bahkan mungkin juga tidak akan dapat kita selesaikan tepat waktu.

Saat ini mereupakan waktu yang sangat  tepat untuk membutkikan diri bahwa kita emmang tulus dan serius dalam menjalankan tugas dan kewajiban, bukan karna ada pengawasan dari inspektorat.  Tunggulah beberapa saat kemudian, setidaknya dalam tiga bulan kedepan kita tunjukkan bahwa pekrjaan  seriuas dan disiplin  yang saat ini kita tunjukkan lalu kita pertahankan dengan sangat baik, pastinya pernytaan nyinyir yang ada  dengan sendirinya akan menghilang.

Namun jika kita luntur oleh kritikan tersebut dan lalu kita mengendur dalam kinerja dan ekdisiplinan, pastinya pernyataan nyinyir tersebut justru akan semakin kuat menjustifikasi kebenaran pernytaan tersebut, dan kita akan semakin sulit untuk berargumentasi karena kenyataannya memang sebagaimana yang dinyatakan oleh mereka itu.  Untuk itu sekali lagi mari kita buktikan bahwa apa yang saat ini kita lakukan memang tulus dan semangat yang menyala dari dalam diri kita.

Jika kita memang tulus dalam menjalankan tugas sebagai abdi Negara, kita memang harus membantah pernyataan nyinyir tersebut, yakni dengan menunjukkan diri  sebagai orang terbaik yang mampu menjalankan tugas tanpa ada paksaan atau pengawasan dari inspektorat, melainkan semata mata  menjalankan kewajiban yang diawasi langsung oleh Allah swt dan kedua malaiakt Nya yakni Rakib dan Atid.

Kalau selama ini inspektorat selalu saja mengirimkan orangnya untuk mengawasi secara langsung di bebrerapa satker, maka  kita bwerani untuk tetap disiplin meskipun mereka tidak dating, sebab kita berdisiplin bukan karena mereka, melainkan karena memang itulah yang harus kita jalankan.  Itu memang merupakan tanggung jawab dan tentu hal yang berat manakala kita masih terbiasa dengan ketidak rajinan, namun jika kemantapan hati sudah ada, maka  untuk disiplin tersebut adalah hal yang biasa saja.

Kebanyakan manusia memang  melakukan  sesuatu akan menjaladi lebijh baik jika diawasi dan ada sanksi yang akan diberlakukan jika melakukan pelanggaran. Lihat saja bagaimana orang dapat menjadi baik dan disipln jika ada  ancaman sanksi berat yang mengancam mereka, dan sebaliknya mereka akan meraa nyaman melakukan perlanggaran, manakala tidak ada sanksi tegas yang diberlakukan.

Watak dan kebiasaan manusia tersebut tentu buruk dan tidak patut untuk dijalankan oleh orang beriman, karena seolah mereka hanya takuit kepada ancam,an semata, nemun tidak takuit kepada Tuhan yang pasti ancaman Nya jauh lebih berat.  Bagi kita yang baru saja mentas dari diklat ramadlan kiranya tidak pantas jika kita juga berlaku seperti mereka, karena sesungguhnya kiota sudah menggoreskan nilai taqwa dalam diri kita yang seharusnya juga dapat kita implementasikan dalam kenyataan kehidupan nyata kita.

Justru kita harus dapat memastikan bahwa nilai dan sifat taqwa yang sudah kita kantongi tersebut harus  dapat segera kita buktikan kepada  siapapunbahwa kita emmang layak mendapatkan predikat taqwa  yang sesungguhnya.  Semua itu sangat tergantung kepada  keinginan diri kita masing masing, karena yang dapat membuktikan smeua itu hanya diri kita dan bukan pihak lain.  Pihak lain hanya dapat menyaksikan saja  apakah benar kita sudah mempunyai nilai taqwa dalam diri ataukah hanya teori semata.

Nilai disiplin dalam puasa yang demikian hebat dan tidak mudah digoyahkan oleh godan apapun, harus mampu kita dapatkan setelah tidak lagi menjalani puasa, sebagb jika kita hanya berdisiplin pada saat puasa saja, sementara  di luar puasa kita justru melanggar semua aturan kedisiplinan, maka itu  sama dengan usaha yang kita lakukan gagal total, dan tentu kita tidak mau hal tersebut terjadi pada diri kita.  Namun dalam kenyataannya  masih banyak diantara kita yang justru gagal dalam tahap akhir implementasi setelah puasa tersebut.

Sudah barang  tentu ini menjadi tantangan bagi kita sebagai umat beriman, agar tidak saja  berteori dalam menjalankan ibadah dan menggali hikmahnya, melainkan kta harus berusaha untuk membuktikannya secara riil dalam kehidupan nyata kita.  Termasuk di dalamnya ialah hikmah puasa yang  sangat hebat dan sekaligus juga sebagai pertanda pencapaian ketaqwaan dalam diri kita.

Tentu kita tidak ingin bahwa  puasa yang sudah kita perjuangkan dalam sebulan penuh tersebut kemudian sia sia dalam mengisi kehidupan kita.  Untuk itulah pada tahap awalnya setidaknya kita  akan mampu  mengimplementasikan sifat taqwa tersebut dalam kinerja kita.  Kita harus yakin bahwa jika kita meningkatkan kinerja kita  didasarkan atas semangat pengabdian dan  mengimplementasikan sifat taqwa tersebut, insya Allah yang lain juga akan mengikutinya, yakni kesejahteraan batin maupun lahir.

Semoga  mulai saat ini kita memang  mampu menjadi yang terbaik dalam menjalankan  kewajiban pekerjaan kita sehingga pada saatnya hal etrsebut akan menjadi sebuah kebiasaan yang dapat kita banggakan. Amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.