MEMBUANG SELURUH KOTORAN HATI

Setelah kita  menjalani puasa ramadlan sebulan penuh, harapannya ialah kita menjadi muttaqin sejati yang dihiasi dengana sifat sifat terpuji dan kebrsihan hati, namun  semua itu bukanlah sebuah kondisi yang mudah didapatkan karena masih banyak keinginan manusiawi yang jauh dari idealitas tersebut.  Keinginan maanusia untuk mempunyai harta yang banyak, hidup enak, makan enak, tidur nyenyak dan kemudahan demi kemudahan yang didapatkan, pastinya akana sedikit  ataupun banyak bertentangan dengan idealitas  manusia yang muttaqin tersebut.

Dapat dibayangkan bahwa  manusia yang taqwa tersebut pastinya akan  selalu merelakan atau mengikhlaskan semua yang sudaha terjadi, termasuk kerugian dan nestapa yang menimpa kita, sementara kemanusiaan kita pasti akan emmberontak kondisi yang tidak nyaman bagi kita. Nah, baru masalah satu saja sudaha ada pertentangan antara kenyataan dengan idealitas kita.  Padahal manusia yang taqwa itu sangat banyak godaannya dan  banyak pula sifat baik yang harus diimplementasikannya.

Sesungguhnya tidak semua keinginan untuk memiliki harta yang banyak itu meripakan kotoran  hati kita, melainkan masih sangat tergantung kepada  motivasi dan niat kita, karena  keinginan untuk mempunyai harta yang banyak itu dapat diterima oleh siapapun, asalkan ada niat untuk berbagi dengan pihak lain yang membutuhkan, tetapi bisa saja terjadi itu merupakan sebuah kotoran hati jika  banyaknya harta tersebut akan digunakan untuk meraih kekuasaan yang lebih, sehingga akan mampu mengendalikan  manusia lain atau menguasai mereka.

Harta itu sesungguhnya milik Allah swt dan  sedikit yang diberikan kepada kita hakekatnya adalah titpan dan amanah yang harus kita jalankan sebaik baiknya.  Nah, itulah persoalannya, karena kebanyakan diantara manusia itu menganggap bahwa apapun harta yang sudah berada di tangannya adalah hak milik mutlaknya, sehingga untuk dipergunakan apapun adalah hak mutlak bagi manusia itu sendiri.  Jika kita menganggap bahwa harta itu milik kita  secara hakiki, maka itulah kotoran hati yang sudah mengganggu kemanusiaan kita sehingga kita akan dikalahkan oleh nafsu yang ada di dalam diri kita sendiri.

Demikian juga keinginan untuk hidup enak tanpa  beban hanya merupakan kotoran di hati kita, akan tetapi jika kita mampu untuk menerjemahkannya  pastilah kta akan selamat dan  dapat hidup enak, nyaman tetapi justru kita akan semakin membaik.  Rasa enak dan nyaman itu sangat bergantung kepada siapa yang merasakan dan dari sisi mana  keenakan dan kenyamanan tersebut dilihat.  Jika dilihat dari sisi nafsu, maka hidup enak itu jika kita  tidak terbebani oleh apapun dan  mampu untuk melakukan apapun yang diinginkannya.  Namun jikan pengertian hidup enak dan nyaman etrsebut dilihat dari perspektif lain, yakni  tanggung jawab, maka hidup enak dan nyaman itu jika kita mampu menjalaninya dengan serentetan kewajiban yang sudah menjadi  kebutuhan kita sendiri.

Artinya jika kita mampu untuk menjalni hidup dengan sederetan amalan baik yang sudah menjadi kebutuhan kita sendiri, maka sesungguhnya kita telah mampu mendapatkan hidup enak dan nyaman, karena  semuanya sudah terpenuhi dan hati akan merasakan enteng serta nyaman.  Bahkan kita akan merasakan adanya kekurangan jika belum menjalani kebaikan tersebut.  Jadi kalua kita hidup dengan tanpa beban dan tanpa perbuatan baik, maka sesungguhnya itu bukan hidup enak, melainkan hidup yang nelangsa dan sengsara, karena  jusgtru beban yang harus ditanggung semakin banyak.

Rasa ingin dihargai dan dihormati oleh pihak lain sesungguhnya juga merupakan kotoran hati, karena  sesungguhnya rasa ingin dihormati oleh pihak lain itu merupakan keinginan nafsu dan  hasrat kekuasaan, padahal justru para orang baik zaman dahulu inginnya menyembunyikan apapun yang ada  dalam diri mereka, agar manusia lain tidak mengetahuinya yang menyebabkan akan menghormatinya.  Merka akan sangat takut jika kemudian setelah tahu diri merekq dihormati  lalu akan timbul keinginan untuk lebih dari itu sehingga riya akan  memenangkan pertarungan dalam diri mereka.

Akibat lebih lanjutnya ialah jika kemudian terdapat pihak lain yang tidak menghormatinya, akan timbul rasa kecewa dan dengki, padahal pihak lain tersebut sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Inilah yang dikhawatirkan oleh orang orang salih zaman dahulu.  Alasan mereka ialah mereka ingin membebaskan dan membersihkan hati mereka dari segala kotoran  yang akan dapat mengalahkan kebajikan yang akan terus mereka lakukan.

Tentu hal tersebut akan sangat bertentangan dengan kondisi kebanyakan orang zaman sekarang, karena apapun yang dijalani dalam hidup ini selalu saja agar diketahui dan dinilai bagus oleh manusia lainnya.  Bahkan kalaupun  orang tidak tahu,  manusia itu sendirilah yang berusaha untuk memberitahukannya bahwa dia sedang  melakukan kebajikan dan atau memperoleh penghargaan dari pihak lain dan lainnya.  Barangkali  mungkin  manusia yang demikian juga secara teoritis akan mengatakan bahwa dirinya ingin kegtulusan dalam semua perbuatannya, tetapi perbuatan nyatanya justru bertentangan dengan pernyatannya sendiri.

Sungguh hidup itu memang tidak mudah.  Artinya untuk dapat menjadi baik dan bersih hati itu memang berat, karena banyak hal yang harus kita kendalikan, termasuk untuk memperkenalkan diri sebagai orang hebat dan  kaalau ada orang lain memuji kita seharusnya kita menjadi sedih karena itu pasti akan melemahkan keimanan kita, bukan sebaliknya akan menjadis emakin bangga jika ada pihak lain yang memujinya atau mengangkat derajatnya.  Hubbul madh adalah awal dari segala dosa, karena dari situlah semuanya akan dapat terjadi, termasuk keterjerumusan diri.

Untuk itu semua  mari kita mengingat ingat kembali tujuan kita berpuasa, yakni agar kita mendapatkan titel ketaqwaan dan dengan begitu kita akan mendapatkan banyak sifat baik yang dapat kita terapkan  pada diri kita.  Semua kebaikan yang sudah kita jalani selama bulan suci ramadlan kemarin itu mari kita lestarikan dan pertahankan dalam hidup kita, agar kita akan semakin mebaik dan  tidak suka untuk dipuji atau tidak keblinger dalam  pandangan sendiri yang sesungguhnya belum pasti benarnya.

Mari bebaskan hati kita dari semua penyakit yang dapat merendahkan  martabat kita sebagai manusia yang telah diangkat derajat kita oleh Allah swt.  Segala penyalkit  riya, sombong, ingin dipuji, ingin dihormati dan sejenisnya kita coba untuk hilangkan dengan segala upaya, karena kalau kita masih menyimpannya dalam hati kita, pastinya kita akan sangat sulit untuk menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang taqwa sejati.

Untuk pertama kalinya memanag kita cukuplah mengawali segala sesuatu dengan tulus karena Allah swt.  Mari mulai  setiap hari dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, membaca kitab suci alquran, dan jangan lupa sedekah kepada mereka yang memb utuhkannya, seberapapun yang mampu kita berikan, karena hakekatnya ketulusan dan kesungguhan kita untuk membantu itulah yang akan menjadi nilai plusnya, bukan seberapa banyak jumlah yang kita sumbangkan.

Semoga kita akan benar benar mampu menjadi pribadi yang muttaqin  dan sekaligus juga  dapat menjadi pelopor kebajikan di tengah tengah masyarakat kita, sehingga  harapan masa depan masyarakat kita yang lebih baik, akan benar benar dapat kita wujudkan sekaligus  juga  kebesamaan dalam semua hal  akan dapat kita jalani dengan baik, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.