DERITA DI HARI BAHAGIA

Tidak semua orang merasakan kebahgiaan pada saat masuk di idul fitri, padahal secara teoritis semua orang, khususnya para muslim pasti akan merasakan kebahagiaan  yang hakiki, karena mereka telah lulus ujian puasa selama satu bulan pnuh.  Lalu pertanyaannya mengapa ada sebagian umat muslim yang tidak merasakan bahagia, sebaliknya malah menderita,?  Jawabannya pasti ada sebab yang membuat mereka menderita, dan sebab itu sangat banyak dan bervariasi, seperti kecelakaan kenadaraan di jalan raya, kehilangan barang barang berharga karena dicuri orang dan rumahnya terbakar serta lainnya.

Saat ini  adalah musim kemarau yang semua hal sangat mudah untuk terbakar, termasuk juga jika kita tidak  cermat saat meninggalkan rumah dengan beberapa kabel tidak standar sehingga sangat membahayakan keselamatan, khususnya pada saat arus listrik tersendat oleh sambungan yang tidak tepat atau oleh sebab lainnya.  Sudah banyak kejadian yang membuat pemilik rumah kemudian harus menderita, karena rumah dan sisinya lenyap dalam sekejap.  Tangispun  tidak dapat dibendung, namun harta yang terbakar tidak akan kembali lagi terkecuali setelah berusaha  cukup lama lagi.

Demikian juga sudha kita saksikan betapa saat orang mudik dengan kendaraan sendiri, tetapi terlalu tergesa dan tidak cermat, termasuk pada saat sudah capek dan mengantuk masih dipaksakan, akibatnya kemudian mengalami kecelakaan yang tragis, bahkan sebagian keluarganya meninggal dunia, dan  dia sendiri juga harus terbaring di rumah  sakit tanpa bisa berbuat apa apa.  Menyesal memang ya, tetapi semua yang sudah terjadi tidak akan dapat kembali lagi.  Semua kejadian tersebut adalah kekurang cermatan kita sendiri dan kurang perhitungan dalam melakukan apapun.

Jadinya pada saat seharusnya dia bersenang senang bersmaa dengan seluruh umat muslim dalam merayakan idul fitri, tetapi kenyataannya  malah harus bersedih dan berduka karena  perbuatannya sendiri.  Sungguh penyesalan itu selalu terlambat dan  semua yang sudah terjadi tidak mungkin lagi kembali sebagaimana semula.  Untuk itu  hati hati dan  cermat dalam berbuat apapun menjadi sebuah keniscayaan yang tidak boleh di abaikan begitu saja.

Tidak kalah sedihnya ialah kekurang hati hatian kita dalam merawat dan menjaga barang yang sudah menjadi hak dan milik kita, baik pada saat berada di perjalanan ataupun di rumah, karena  pada saat ini pencuri itu tidak hanya mengincar barang yang ada di jalan, melainkan uga barang barang yang ada di rumah.  Untuk itu terhadap persoaan ini kita harus  cermat, khususnya  pada saat kita meninggalkan rumah, pintu harus terkunci rapat dan kuat, termasuk pada saat malam hari saat kita tertidur.

Kita mengetahui dan mendengar banyaknya orang yang kehilangan barang berharga  yang ada di dalam rumahnya, karena tidak cermat dalam menjaganya, mungkin lupa tidak mengunci pintu rumahnya atau mungkin  tidak melengkapinya dengan pengaman yang diperkirakan akan aman dari sambaran pencuri dan lainnya.  Jika barang tersebut berupa uang, sebaiknya memang tidak  berupa uang kes, melainkan cukuplah disimpan di bank yang aman dan ketika bertransaksi cukup memakai  transasksi ala elektronik sehingga tidak  membahayakan  kehilangan.

Apalagi ketika  idul fitri tiba, dan semuanya sibuk  untuk urusan idul fitri, terkadang kiat menjadi lupa juga untuk menjaga barang kita.  Sementara para pencuri juga selalu  melihat keberadaan kita untuk mencari kelengahan yang mungkin akan dimaanfaatkan untuk melakukan aksinya.  Terutama lagi jika kita  sedang mudik ke kampong halaman, terkadang pitu rumah sudah dikunci sekalipun, meerka juga nekat untuk memasukinya dengan paksa dan lainnya.  Karena itu sebaiknya ada yang dipasrahi secara umum untuk menjaga keamanan rumah kita sehingga kita merasa aman dan nyaman saat mudik ke kampong.

Kita juga  mendengar dan menyaksikan sendiri adanya rumah yang terbakar menjelang idul fitri, karena tidak cermat dalam  menyambung sambungan kabel yang teraliri listrik.  Padahal pada saat yang sama  kita masih sibuk dengan kegiatan rutin  shalat tarawih, sehingga pada saat kita sedang sha;at lalu rumha kita terbakar hingga habis dan kita hanya dapat pasrah tanpa dapat menolong diri dan menyelamatkan barang barang yang ada di dalam rumah.  Sungguh tragis nasib yang menimpa saudara kita tersebut, padahal sudah tinggal beberapa hari lagi idul fitri.

Kita tidak mampu untuk membayangkan betapa sedihnya  mereka itu, apalagi  mereka masih mempunyaintanggungan anak anak yang biasanya membutuhkan  pakaian untuk idul fitri.  Nah, untuk  persoalan ini  seharusnya kita yang tidak terkena musibah juga ikut merasakannya sehingga kemudian akan timbul empati dan lalu memberikan bantuan sekedar untuk menghibur mereka yang sedang terkena musibah kebakaran.  Paling tidak mereka kemudian mempunyai nauangan untuk tempat tinggal sementara dan mapu membelikan pakaian untuk anak anak.

Disamping itu penting juga untuk memberikan banguan kepada mereka khususnya terkait dengan pakaian dan peralatan sekolah yang juga ikt terbakar seluruhnya. Itu semua  demi masa depan anak anak yang memang tidka bedosa dan insyaallah jika kita lakukan hal tersebut kita akan menjadi pihak yang peduli dan insyaallah  mengarah kepada titel muttaqin sebagimana yang memang kita kehendaki setelah puasa romadlan  ini.

Tidak hanya  masalah ketidak cermattan diantara kita saja, karena kita juga  tidak bisa menutup mata dari para dluafa’yang memang hidupnya selalu dalam kesusahan, karena memang mereka tidak mempunyai apa apa.  Mereka itulah yang harus mendapatkan perhatian dari kita, karena itu membeli perlengkapan idul fitri tidak salah, tetapi janganlah berboros boros,  akan jauh lebih bagus jika  uang yang berlebih itu kita berikan  sebagai hadian lebaran untuk mereka yang menderita dan memang tidak punya.  Uluran tangan kita itulah yang sedikt akan membuat mereka tersenyum merekah di hari idul fitri ini.

Kita tentu sangat sedih jika pada hari raya idul fitri dimana semua orang berbahagia, ada  pengemis kecil yang masih berkeliaran di lampu lampu lalu lntas untuk mengais rizkinya dari para pengendara.  Kita juga tidak tega menyaksikan banuaknya para pengemis yang tdur di jalanan untuk mendapatkan limpahan rizki dari para pemudik yang simpati atau dari siapapun yang mau berbagi.  Lantas apa yang dapat kita kerjakan atau  apa yang dapat kita lakukan untuk menolong mereka?

Sesungguhnya tidak cukup hanya  melek pada saat ini saja, karena sesungguhnya persoalan social tersebut sudah cukup lama dan usulan untuk menyelesaikan persoaan tersebut dan belum ada tanda tanda untuk kemajuannya, sehinga kita memang harus terus berjuang untuk membebaskan mereka, tanpa kenal lelah.  Jiwa kepedulian diantara seluruh umat memang diperlukan, bukan hanya sekdar ucapan, melainkan tindakan nyata yang akan mampu untuk sedikit mengurai persoalan ini dengan  tuntas.

Siapapun pasti akan sangat  puas jika dalam perjalaan kita  selama ramadlan dan kemudian diakhiri dengan oidul fitri, semuanya dalam kondisi menyenangkan, dan tidak ada yang menderita, khsusnya  terkait dengan kepapaan mereka.  Jika  umat ini peduli terhadap kemiskinan, pastilah ada jalan keluara yang bagus dan dapat dierealisasikan dengan cukup cepat, semisal melalui zakat atau sedekah dan lainnya.  Semoga kita akan senangtiasa diinbgatkan oleh Allah swt  dalam hal saling membantu yang lemah dan yang sedang menderita, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.