MEMAKNAI IDUL FITRI

Kalangan awam muslim dan juga non muslim hanya mengetahui bahwa idul fitri itu identic dengan saling memafkan, bahkan seringkali kita juga mendengar salah kaprah yang terus diucapkan dan dianggap benar, yakni ucapan khas idul fitri minal aidin wal faizin yang berkonotasi mohon maaf lahir dan batin, pdahal makna kat kata tersebut sesungguhnya merupakan penggalan dari kata yang terbuang yang artinya “jadikanlah kami ya Allah termasuk golongan mereka yang kembali suci dan beruntung”.  Namun mayoritas umat muslim juga tidak mempersoalkan masalah tersebut karena dianggap sebagai hal yang lumrah.

Biasanya  mereka yang sebulan lamanya menjalankan ibadah puasa, lalu pada akhirnya akan  merayakan hari raya idul fitri, sebagai rangkaian yang tidak terpisahkan, karena  sesungguhnya makna idul fitri yang berkonotasi dengan kembali kepada firth dan kesucian tersebut didasarkan kepada  informasi dari Rasululllah saw sendiri yang pernah mengatakan bahwa siapapun yang menjalankan puasa dengan didasari oleh keyakinan yang benar dan hanya  meninginkan keridlaan dari Allah semata, maka segala dosanya akan diampuni oleh Allah swt.

Kita juga tahu dan yakin bahwa manusia saat dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci bersih dari segala dosa dan noda, tentu tidak sebagaimana keyakinan  penganut agama lain yang  dianggap manusia itu membawa dosa bawaan.  Nah, dalam perjalanannya mengarungi dunia ini, manusia kemudian tidak akan lepas dari melakukan berbagai aktifitas yang sebgiannya adalah merupakan larangan atau meninggalkan kewajiban, sehingga setiap manusia pasti mepunyai dosa, karena itu  puasa Ramadlan yang dijalankan, salah satunya akan mampu menghapuskan dosa dosa tersebut.  Dengan dmeikian setelah selesai menjalani puasa, manusia akan kembali lagi kepada kefitrahannya.

Hanya saja memanag tidak semua dosa akan terhapuskan dengan menjalani puasa tersebut, karena ada kalanya dosa yang bersangkutan dengan sesame manusia, maka dosa tersebut hanya dapat dihapus jika yang bersangkutan telah meminta  maaf kepada yang terkait.  Meskipun  orang tersebut kemudian menjadi hamba Allah yang sangat shalih dan selalu berada dalam kebajikan sekalipun, akan tetapi dosanya kepada sesame manusia belum dimaafkan, tetap saja  dosa tersebut belum akan hilang.  Untuk itulh kemudian para ulama mentradisikan halal bi halal sebagai sarana untuk saling memaafkan salah dan dosa   dengan sesame manusia.

Sungguh indah sekali apa yang sudah didesaian oleh para ulama kita yang mengetahui bagaimana umat harus berbuat dan tidak dibiarkan sendiri mencari yang tidak diketahuinya.  Dengan  semua tradisi baik yang sudah diciptakan tersebut, pada akhirnya seluruh umat muslim, khususnya yang ada di Indonesia dapat menikmati indahnya hidup dan kepuasan rahani.  Bahkan tradisi halal bi halal tersebut saat ini sudah menjadi milik bangsa  dan gtidak saja milik umat muslim.  Hal tersebut tercermin dari kegiatan umat lainnya yang juga mengadakan acara halal bi halal, meskipun  mereka tidak berpuasa ramadlan.

Tentu kita patut bersyukur karena tradisi baik tersebut akhirnya dimiliki oleh sleuruh komponen bangsa dan  dengan begitu ada jalan untuk meperbaiki masing masing orang, khsusnya yang gterkait dengan hubungan diantara sesame umat manusia.  Pada umumnya masyarakat awam tidak memerlukan penjelasan mengenai tradisi idul fitri tersebut, karena sebagiannya justru memaknai bahwa idul fitri itu ialah identic dengan mudik ke kampong halaman untuk bertemu dengan family dan juga para sahabat dan tetangga.

Memang  makna idul fitri itu sendiri tidak perlu dijelaskan kepada semja orang, dan hanya kepada mereka yang peduli dan ingin tahu  saja, karena  mereka yang tidak membutuhkan tentu tidak aka nada artinya kalua  dijelaskan, toh pada ingtinya mereka  hanya akan membiarkannya begitu saja.  Bhakan  pengertian yang salah kaprah sekalipun   tidak perlu untuk dijelaskan, karena semua yang berkaitan dengan idul ftri mereka akan memahaminya sebagai sesuatu yang musti terjadi  setelah seluruh umat muslim menjalankan ibadah puasa, dan lalu mereka saling bersalam untuk memaafkan dan saling silaturrahim, bertemu dan mungkin juga kangen kangenan, makan makan dan lainnya.

Lalu kenapa  idul fitri dikatakan sebagai hari raya?.  Kalaupun kita tidak menamakan hari raya kiranya juga tidak menjadi masalah, namun untuk semarak dan syiar bagi Islam, maka idul fitri dianggap sebagai hari raya, karena  merayakan  kemenangan setelah satu bulan berperang melawan nafsu.  Hanya saja  kemenangan tersebut tidak boleh dikotori dengan sesuatu yang justru bertentangan dengan tujuan puasa itu sendiri yakni taqwa.

Twntu kita sangat meyanyangkan  tindakan sebagian anak anak muda kita yang menandai kemenagan tersbeut dengan pesta yang  bertentangan dengan  tujuan puasa itu sendiri, yakni dengan menggelar minuman keras dan tari tarian yang tidak pantas.  Sepatutnya dalam merayakan idul fitri, umat akan  selalu  mengenang amalan terbaik, semacam secara bersama mengunjungi pangti asuhan untuk menyerahkan santunan, atau membantu para orang tua yang ada di panti jompo dan sejenisnya.

Hakekat kemenangan dalam akhir ramadlan ialah karena kita merasa sudah melakukan latihan berat untuk menahan nafsu  kita sendiri, baik yang terkaiat dengan nafsu perut, nafsu syahwat, nafsu mulut, nafsu mata, nafsu telinga, nasu pikiran dan lainnya.  Keyakinan bahwa kita telah berhasil memperoleh hasil yang baik dari latihan itulah yang seharusnya dirayakan, bukan karena telah etrbebas dari sebuah kewajiban, sehingga akibatnya pun akan berbeda.

Bagi yang mengartikan kemenangan tersebuat ialah kemenangan dari sebuah pertatungan melawan nafsu, maka  mereka pasti akan mempertahankan tradisi baik yang sudah biasa dijalankan selama menjalani puasa, sehingga nilai nilai ketaqwaan yang sudah dilatihkan pada dirinya  akan tetap dipertahankan untuk seterusnya.  Namun bagi yang mengartikan kemenangan adalah terbebas dari kewajiban, maka biasanya mereka justru akan kembali lagi kepada habitat sebelumnya, yakni yang biasanya malas berjamaah, akan kembali malas , yang sebelumnya kikir dengan hartanya, akan kembali lagi, dan begitu seterusnya.

Jadi kembali  kepada kefitrahan atau kesucian tersebut didasarkan atas keyakinan bahwa Tuhan pasti akan mengampuni segala dosanya setelah menjalankan puasa sebulan penuh dengan menahan nafsu serta melestarikannya setelah usaai puasa.  Dengan begitu memang benar mereka akan kembali kepada kesucian sebagaimana  pada saat mereka dilahirkan ke dunia.  Kalua demikian maka pantaslah jika mereka merayakan  hal tersebut dengan mengumandangkan kagunan nama Allah sepanjang malam, bukan dengan pesta yang justru akan menodai  keimanannya.

Karena itu idul fitri yang sesungguhnya hanya milik mereka yang menyadai tujuan puasa dan latihan menahan nafsu selama satu bulan dan berkomitmen untuk terus mempertahankannya.  Sedangkan bagi mereka yang hanya menjalankan uasa  dengan  keterpaksaan atau karena tujuan lainnya yang tidak sampai kepada keinginan untuk mempertahankan kebiasaan baik yang sudah dijalaninya selama ramadlan, maka  idul fitri hanya bermakna sebuah momen terbebas dari belenggu kewajiban menjalani puasa saja.

Mari renungkan masalah ini sehingga kita akan mampu mendapatkan hikamah besar yang terkandung di dalam ramadlan, idul fitri dan halal bi halal.  Semoga kita memang  mampu untuk menanhkap esensi yang terkandung di dalam ramadlan, idul fitri, dan halal bi halal, sehingga  masa depan kita akan semakin membaik dan kita  akan menjadi mutttaqin yang sejati. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.