BAGAIMANA MENGAKHIRI RAMADLAN

Pada umumnya masyarakat muslim akan merasakan kepuasan dan kesenangan tersendiri pada saat sudah mampu menyelesaikan puasa selama satu bulan penuh,  dan pada  saat itulah mereka kemudian meneriakkan kemenangan dengan membaca takbir untuk menandai telah selesainya tugas dana kewajiban menjalani puasa.  Lalu apakah salah sikap yang demikian? Ataukah memang sudah seharusnya masyaakat muslim merayakan kemenangan tersebut?

Sepintas memang hal tersebut sangat bagus karena  untuk memeriahkan kemenangan setelah berhasil menjalankan ibadah puasa selama satu bulan, lalu dilakukan takbir dengan mengagungkan asma Allah swt sepanjang malam, namun kebiasaan tersebut sesungguhnya tidak pernah atau setidaknya tidak ditradisikan oleh orang orang dahulu, khususnya para ulama, karena justru yang dilakukan oleh mereka ialah merasakan kesedihan yang mendalam karena segera akan ditinggalkan oleh bulan suci ramadlan. Mereka bahkan menangis tersedu sedu, bukan seperti kebanyakan kita yang justru merasakan kegembiraan yang luar biasa.

Cara pandanglah yang membedakan antara para ulama dahulu dengan kita, sebab mereka kebanyakan ialah mampu meresapi setiap apapun yang disabdakan oleh Nabi, sementara bagi kebanyakan kita justru hanya melihat lahirnya semata.  Artinya ketika kita diperintahkan oleh Allah swt untuk berpuasa di bulan ramadlan, maka ketika kita mampu melakukannya , itu berarti kita berhasil dan kita perlu bersyukur dengan keberhasilan tersebut.

Namun bagi mereka justru sebaliknya karena melihat bahwa bulan suci ramadlan itu merupakan ladang yang sangat subur dalam menjalankan ibadah, serta banyak keistimewaan di dalamnya, maka ketika  mereka akan berpisah, sangat berat bagi mereka sehingga mereka sampai harus menangis untuk meratapi kepergian ramadlan.  Nabi Muhammad saw sendiri sesungguhnya juga sudah memberikan sebuah statemen yang  bila kita cermati akan dapat mendukung apa yang dilakukan oleh para ulama dahulu tersebut, yakni sabda beliau “andaikan umatku mengetahui apa yang ada di dalam ramadlan, niscaya mereka akan berharap bahwa seluruh bulan dalam satu tahun  dijadikan sebagai ramadlan semuanya”.

Barangkali mereka itu sudah mengetahui dan mencermatinya sehingga sudah melihat dengan jelas apa yang ada di dalam ramadlan sehingga mereka akan sangat saying sekali melewagtkannya begitu saja.  Tidak seperti kebanyakan kita yang terbiasa dengan melakukan hal hal yang  tidak mendukung terhadap kebaikan di bulan ramadlan.  Kita  sangat bias ajika harus membiarkan ramadlan berlalu begitu saja tanpa harus merasakan kerugian besar.

Itu disebabkan karena meskipun kita menyadari ada berbagai kebaikan di dalam ramadlan, namun kita tidak menyadarinya secara  seksama  sehingga seolah tidak mampu merasakan betapa berharganya ramadlan sehingga kita terbiasa membiarkannya berlalu begitu saja, dan bahkan ketika ramadlan berlalu kita justru merasakan kemenangan, karena sudah terbebas dari kewajiban berpuasa.  Itulaj sekali lagi perbedaan  diantara kita dan para ulama dahulu yang sangat meresapi perintah perntah Allah swt.

Namaun demikian kita  masih tetap menyadari betapa pentingnya hari hari terakhir ramadlan, karena didalamnya ada malam lailatul qadar yang dijanjikan dan kebaikannya melebihi seribu bulan.  Hamir seluruh umat muslim menyadari hal tersebut dan juga berusaha untuk medapatkannya, melalui usaha  menjaga kebaikan selama sepuruh hari terakhir tersebut,  bahkan banyak diantara kita yang sanggup melakukan I’tikaf setiap malamnya hanya untuk menjemputlailatul qadar tersebut.

Hanya saja  masih cukup banyak pula diantara kita yang pada saat sat tersebut justru lebih mementingkan urusan duniawi, yakni mempersiapkan  idul fitri, baik dari sisi pakaian  untuk berlebaran maupun suguhan untuk para tamu yang pasti pada dating dan lainnya,  bagi yang jauh di rantau juga sibuk mempersiapkan diri untuk mudik ke kampong halaman untuk bertemu dengan sanak family dan keluarga besarnya di kampong.  Nah semua kegiatan persiapan tersebut biasanya menyita  waktu dan perhatian ssehinngga shalat tarawih pun terkadang ditinggalkannya.

Masih beruntung jika mereka masih tetap mempertahankan puasa dan shalat wajib, sebab saat ini sudah banyak yang melupakannya, demi  mudik ke kampong tersebut.  Beruntung bagi kita yang tetap konsisten dengan memluk dan memilih Islam sebagai agama dan pegangannya, sebab tidak sedikit saat ini ada yang sudah menyerah kepada keadaan dan lebih memilih sesuatu yang instan yang tampaknya  enak, tetapi tidak disadarinya bahwa keputusan memutuskan dengan Islam itu merupakan kebodohan yang sangat jelas.

Jika sikap anak anak kita  merasakan kesenangan yang luar biasa  dalam mengakhiri ramadlan, apakah kita juga akan sepetri mereka?  Bagi anak anak, yang terpenting ialah mendapagtkan baju baru dan persiapan makanan yang enak, sedangkan untuk kewajiban puasa menjadi semakin menambah kesenangan mereka karena sudah terbebas dari menjalankan puasa tersebut.  Kita tentu dapat menyadrarinya karena tlah dunia anak anak yang belum menyadari benar tentang arti sebuah ibadah dan persiapan hari akhir.

Namun amat disayangkan kalua masih ada orang orang dewasa yang juga bersikap seperti itu, karena pasti mereka akan merugi pada saatnya.  Manusia di dunia ini  seharusnya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhiratyang lebih nyaman dan menggembirakan, yakni mempunyai investasi pahala yang banyak.  Salah satu investasi pahala yang dapat diandalkan ialah saat berada di bulan suci ramadlan dengan melakukan bebagai amalan baik, terutama jika dapat menjumpai lailatil qadar.

Kita sangat berharap bahwa Tuhan masih akan senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan kepada kita sehinga kita mampu menyelesaikan ibadah ramadlan kali ini dengan sempurna, baik ibadah di siang harinya maupun di malam harinya.  Kenikmatan yang paling besar bagi orang beriman ialah ketetapan iman dan kesehatan jiwa serta fisik, sehingga mampu menjalankan ibadah dengan sempurna.  Untuk itu kita perlu selalu bersyukur kepada Allah swt atas segala karunia yang selama ini telah diberikan kepada kita, khususnya terkait dengan  pelaksanaan ibadah di bulan suci ini.

Tentu kita juga  berharrap dan memohon kepada Allah swt agar kita masih dapat dipertemukan kembali dengan ramadlan tahun depan dan kita akan semakin melakukan kebaikan di tahun depan.  Untuk mengakhir puasa di tahun ini kiranya kita tidak melupakan kewajiban lainnya yang masih terkait dengan ibadah puasa yakni ibadah zakat fitrah.  Meskipun ini sangat ringan dan murah, namun jangan sampai dilupakan dan diabaikan, karena ini juga menentukan ibadah puasa kita nangtinya diterima oleh Allah swt ataukah tidak.

Sementara itu mengenai persoalan yang terkait dengan  social kemasyarakatan, sebagaimana kebiasaan  dan tradisi kita, tengtu juga akan bagus jika kita  memperhagikannya, tetapi tidak harus mengorbankan ibadah kita, seperti pmempersiapkan  suguhan untuk para tahu yang bersilaturrahim ke rumah kita.  Mungkin juga membeli baju baru, khususnya untuk anak anak kita, sehingga mereka juga akan dapat mersakan kebahagiaan bersama dengan anak anak lainnya.

Syukur kita  teringat kepada anak anak hyatim di pangti asuhan, kemudian kita menyantuni mereka sebelum memasuki idul fitri sehingga mereka akan meraskaan kesenangan, maka itu sunggun merupakan perbuatan yang terpuji. Mudah mudahan kita  mampu menjadi pihak yang terbaik dan layak untuk diteladani oleh sesame kita, karena kebaikan kita, bukan hanya individu, melainkan juga  kebaikan social kita, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.