PUASA RAMADLAN

Sebagaimana kita semua paham bahwa perintah puasa selama satu bulan penuh di dalam bulan ramadalan adalah kewajiban yang langsung disampaikan oleh Allah swt, dengan tujuan agar  manusia yang menjalankannya  menjadi taqwa.  Namun dmeikian memang tidak secara otomatis semua orang yang mengerjakan puasa langsung menjadi taqwa, karena ada banyak hal yang  semestinya dijalankan oleh mereka yang berpuasa yang terkadang tidak dijalankan dengan berbagai alasan.

Puasa ramadlan itu tidak sama dengan puasa lainnya yang statusnya hanya sunnah.  Salah satu perbedaannya, disamping pahalanya ialah bagaimana cara menjalankannya, yakni jika puasa Ramadlan maka harus disertai niat yang diungkapkan termasuk dalam hati  pada  sebelum terbit fajar.  Artinya sebelum masuk waktu subuih seseorang harus sudah berniat. Namun jika puasa lainnya, niat dapat dilakukan setelah subuh, bahkan  Nabi pernah melakukannya saat akan sarapan pagi dan kemudian tidak menemukan sarapan, lalu beliau berpuasa sunnah.

Ada  hal yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw  dalam melaksanakan puasa tersebut, yakni agar menyegerakan berbuka puasa jika sudah masuk waktunya, dan  mengakhirkan waktu sahur.  Kalaupun  seseorang memperkirakan bahwa tanpa makan sahurpun  dia akan kuat menjalani puasa, namun  menurut Nabi sahur itu sunnah, karena dio dalamnya ada keberkahan.

Siapapun yang berpuasa Ramadlan maka  malam harinya dianjurkan untuk shalat tarawih,  shalat malam,  bertadarrus, dan memperbanyak sedekah serta amalan baik lainnya.  Demikian pula  orang yang berpuasa agar menjaga dirinya supaya tidak membatalkan puasa tanpa ada alasaan yang benarkan oleh syariat.  Nabi juga  mnegingatkan kepada  umat yang menjalankan puasa agar dapat menjaga  lisannya, jangan sampai mengatakan sesuatu yang menyakitkan, berkata bohong, dusta, memaki maki, marah dan mengatakan sesuatu yang keji.

Sebab semua itu akan dapat menghapus pahala puasa, meskipun secara hokum tidak akan membatalkan puasa.  Termasuk di dalamnya ialah melakukan maksiat, akan dapat menghilangkan pahala  puasa.  Tentu yang harus dijaga ialah bukan sekedar lisan semata, tetapi juga anggota badan lainnya, seperti tidak mengumbar mata untuk melihat hal hal yang jorok atau yang dapat menimbulkan syahwat.  Juga tidak menggunakan tangan untuk melakukan kejahatan atau menyakiti pihak lain. Demikian juga anggota badan lainnya.

Pendeknya semua  anggota badan kita harus kita arahkan kepada hal hal positif dan menghasilkan pahala.  Telinga bukan kita  gunakan untuk mendengarkan percekcokan atau suara suara yang tidak baik, melainkan  arahkanlah untuk mendengarkan bacaan alquran atau bacaan kitab tentang keislaman dan lainnya.

Perintah puasa memang berbeda dengan perintah shalat, karena puasa  ada pengecualian, sementara kalau shalat sama sekali tidak ada pengecualian.  Artinya jika ada halangan yang dibenarkan umat muslim diperkenankan untuk tidak menjalankan puasa, emskipun berada dalam bulan Ramadlan, semisal  ketika sedang sakit, atau ketika sedang bepergian atau lainnya.  Namun tetap ada  ketentuan harus menggantinya sebanyak hari yang ditinggalkannya tersebut.

Karena puasa Ramadlan tersebut dimaksudkan agar  yang menjalaninya  dapat menjadi taqwa, maka puasa bukan untuk membuat orang sengsara atau  menderita.  Dengan ebrpuasa tersebut orang akan merasakan betapa  kalau lapar dan dahaga, betapa harus disiplin dan lainnya.  Dengan dmeikian jika orang tersebut mau berpikir jernih, maka akan dapat menangkap betapa ajaran di dalam puasa itu sungguh liar biasa bagus dan  itu akan bermakna jika  juga dilakukan pada saat sudah di luar puasa.

Karena itu orang yang berpuasa juga masih dapat melakukan hal hal yang dapat memberikan kesenangan seperti berkumpul dengan isteri atau suami pada saat malam hari, makan dan minum di malam hari dan lainnya.  Hanya saja memang segala bentuk perbuatan yang dilarang, selama bulan ramadlan dan juga di luar tetap tidak boleh dilakukan, karena hal tersebut hanya akan mengotori kesucian yang sedang dijalani.

Sementara itu bagi perempuan yang sedang mendapatkan haidl atau dating bulan, juga tidak diperkenankan untuk beruasa, dan juga harus menggantinya di lain waktu, demikian juga perempuan yang sedang melahirkan dan nifas.  Sedangkan bagi orang yang karena usia dan kondisi badannya tidak memungkinkan lagi berpuasa dan tidak ada harapan untuk  menjadi kuat, maka juga diperbolehkan untuk tidak menjalani puasa dan hanya cukup menggantinya dengan makanan pokok untuk diberiikan kepada para fakir miskin.

Tentu tidak ada kewajiban lainnya, yakni mengganti puasa, karena  kalau factor usia itu tidak akan mungkin usia seseornag akan kembali menjadi muda dan kuat.  Sedangkan bagi mereka yang sakit dan masih ada harapan untuk sembuh dan kuat, maka  harus menggantinya di hari lain setelah sembuh dari penyakitnya.  Jadi ketentuan dalam islam itu ternyata sangat hebat dan  sangat memeprtimbangkan kondisi amsing masing orang sehingga tidak kaku.

Ada keistimewaan yang dimiliki oleh puasa ramadlan, yakni apabila dikerjakan dengan didasari oleh kepercayan yang penuh dan ihtisab atau hanya ingin memperoleh balasan dari Allah swt semata, maka segala dosa orang yang menjalani puasa tersebut akan dihapuskan.  Sudah barang tentu ketentuan ini tidak boleh dipahami secara serampangan bahwa  setelah menjalankan puasa seseorang pasti tidak mempunyai dosa, karena  masih ada dosa yang harus dimintakan maaf secara langsung oleh yang bersangkutan jika  terkait dengan hak adami atau hak khalayak.

Sebagai contoh jika seseorang menyalahi dan membuat kesalahankepada  orang lain, maka tidak akan dapat terhapus kesalahan etrsebut hanya dengan berpuaa ramadlan, karena  maaf dari yang disalahi tersebut harus didapatkan.  Demikian juga jika ada orang yang menyalahi atau berbuat salah kepada masyarakat banyak, semacam merlakukan korupsi, maka  tidak akan hilang doanya hanya dengan berp[uasa ramadlan, melainkan harus mendapatkan  pengamp[unan dari masyarakat, namun mungkin dapat melalui perwakilan  alat Negara dan lainnya.

Untuk memberikan  harapan dan optimism yang tinggi bagi para muslim yang berpuasa, Allah swt memberikan kebahagiaan yang dapat langsung dirasakan dan kebahagiaan yang akan dinikmatinya di akhirat nanti, yakni kebahagiaan saat berbuka puasa dan kebahagiaan nanti sat di akhirat.   Karena itu kita dapat menyaksikan saat ini bahwa setiap orang yang berpuasa, maka pada saat berbuka dia pasti akan senang, apalagi nanti di akhirat pasti akan mendapatkan balasan kesenangan yang lebih hebat lagi, termasuk alkan dapat melihat Allah swt.

Pada prinsuipnya bulan Ramadlan dikatakan sebagai bulan suci karena  akan mampu mensucikan hati, pikiran, dan rahani orang yang menjalani puasa.  Namun itu sekali  lagi tidak akan secara otomatis, melainkan harus diusahakan dengan penuh kesungguhan.  Puasa itu ibarat latihan untuk menahan lapar dan haus akan melatih  menjadi orang yang peka terhadap sesame, pada saat disunnahkan untuk memperbanya  ibadah, dzikir dan tadarrus, agar mampu mensucikan hati dan pikiran dan jug aperilaku lainnya.

Pendeknya bulan suci Ramadlan yang kita diwajibakan berpuasa ini merupakan  bulan yang  dapat diibaratkan sebagai panen atau kesempatan untuk memperoleh banyak pahala dan kebaikan, serta  akan sangat bagus jika digunakan sebagai waktu untuk mengubah diri menjadi lebih baik serta bwermanfaat bagi sesame.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.