BENARKAH PUASA RAMADLAN AKAN MAMPU MENGHAPUS DOSA?

Begitulah pernyataan dalam riwayat hadis yang shahih bahwa siapapun yang berpuasa Ramadlan dengan didasari oleh iman atau keyakinan yang benar dan juga hanya semata karena Allah, maka  segala dosanya akan diampunkan oleh Allah swt.  Kiranya riwayat inilah yang telah memberikan motivasi lebih kepada umat untuk mau bersusah susah menjalankan puasa sebulan penuh.  Namun keyakinan tersebut belum tentu sepenuhnya benar, karena ada beberapa ketentuan lainnya yang tetap harus dipertimbangkan.

Kalaupun  riwayat tersebut adalah benar, maka hanya mereka yang menjalankan puasa dengan benar dan mengikuti cara cara Nabi sajalah yang akan mendapatkannya, bukan asal berpuasa.  Sebagaimana  seringkali saya nyatakan bahwa hanya puasa yang benar dan menghadirkan keseluruha jiwa   untuk mengabdi kepada Tuahanlah yang akan mendapatkan puasa tersebut.  Namun jika dalam menjalankan puasa tersebut seseorang juga  menyertakan niatan lainnya selain dari kepada Tuhan, maka bisa jadi puasanya tersebut tidak mendapatkan pahala dan juga tidak mendapatkan ampunan.

Lantas untuk apa riwayat tersebut disaampaikan kalau realisasinya tidak demikian? Memang bisa saja  orang yang menjalankan puasa dengan benar yakni didasari oleh keyakinan yang benar dan hanya berharap kepada Allah semata, lalu mendapatkan pengampunan dari Allah swt, tetapi itupun hanya dosa dosa yang terkait dnegan haqqullah bukan dosa dosa yang terkait dengan haqqul adami, sebab kalau itu terkait dengan hak adami, maka Tuhan  akan mengampuni jika  manusia yang disalahi sudah meberikan maafnya.

Itulah mengapa kemudian muncul tradisi setelah ramadlan selesai umat lalu saling meminta maaf dalam  idul fitri karena untuk menyempurnakan ampunan yang telah diberikan oleh Allah kepada para hamba Nya yang sudah menyelesaikan puasa dengan benar.  Dengan melanjutkan   tradisi saling meminta dan memaafkan tersebut diharapkan manusia akan benar benar menjadi fitri atau bersih, karena dosa yang teriat dnegan hak Allah sudah diampunkan dan kemudian juga dosa diantara sesame  sudah beres.

Barangkali hanya mereka yang  berpuasa hanya untuk menghapus dosa atas semua perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya, tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya, karena  tentu pengharapannya bukan murni karena tulus menjalankan ibadah karena Allah, melainkan karena menginginkan sesuatu yanglain dari Allah, yakni ampunan atas dosa dosanya.  Jadi memang sulit untuk menghadirkan  puasa yang benar benar ihtisab tersebut yang menjadi syarat untuk diberikannya ampuna  oleh Allah swt.

Secara umum kita akan dapat mengatakan bahwa janji Tuhan itu pasti benarnya dan pasti akan direalisasikan, hanya saja tentu tidak semudah yang kita gambarkan dalam memenuhi persyaratannya.  Ada dua kata kunci yang dipersyaratkan yakni imanan dan ihtisaban.  Kata imanan akan dapat diartikan sebagai  didasarkan atas  iman atau kepercayaan yang benar, bukan kepecayaan yang semu atau apalagi  bohong bohongan.

Kita tahu bahwa dalam surat alankabut, Allah swt  menyatakan bahwa  bagi orang yang menyatakan dirinya beriman tidak akan dibiarkan begitu saja menyatakannya, melainkan akan diuji oleh Nya untuk mengetahui apakah dia benar benar beriman ataukah hanya bohong semata. Jadi kalau  orang menyatakan dirinya beriman kepada Allah bahwa Allah lah Tuhan yang Maha menentukan segalanya, Yang maha Kuasa atas segala sesuatu dan lainnya, tentu kita harus mewujudkan hal tersebut dalam kehidupan nyata kita.

Apapaun yang terjadi itu sesungguhnya atas kehendak Allah semata dan karena itu kita harus menerimanya dengan sepnuh jiwa dan tidak ada keraguan sama sekali.  Jika kemudian kita tiba tiba bangrut  dalam urusan duniawi, maka  mampukah kita tetap bertahan untuk meyakini bahwa semua ini hanyalah ujian dari Tuhan dan kita mampu menunjukkan bahwa kita memang tidak berubah dan masih tetap meyakini  keadilan Nya dan lainnya.

Jadi sesungguhnya masih banyak jhal yang harus dijalani dan ditempuh untuk sampai pada sebuah keyakinan yang benar.  Dengan begitu puasa yang dijalaninya juga memang atas ddasar keyakinan etrsebut dan bukan karena yang lainnya.  Dalam dataran ini pada kenyataannya banyak orang yang gagal melalui ujian sehingga gagal pula  puasa yang dijalani dan gagl juga beberapa hal yang ememrlukan persyaratan keyakinan.

Sementara itu syarat keduanya ialah ihtisab yang bermakna menghitung.  Artinya  dia berpenghitungan bahwa hanya Allah sajalah yang dituju bukan lainnya, apalagi manusia  atau makhluk lainnya.  Jika iman kita sudah benar dan kokoh  kemudian juga ditopang oleh kenyataan bahwa  hanya Tuhanlah yang menjadi tujuan puasa tersebut sehingga ada keinginan untuk memasrahkan segalanya hanya kepada Allah, maka kondisi etrsebut akan memperkokoh  kondisinya sebagai hamba yang kuat keyakinannya.  Dengan demikian insya Allah akalu hal tersebut dipenuhi, Tuhan akan mengabulkan  pengampunan yang dijanjikan tersebut.

Sedangkan bagi mereka yang masih  berani mempermainkan agama sebagai alat semat, tentu tujuan pengampunan tersebut tidak pernah dicapainya.  Orang yang sudah berkali kaoi menjalankan praktek korupsi misalnya dan kemudian di bulan suci ini akan menghapus dosanya melalu puasa ramadlan, maka usaha tersebut hanya akan sia sia belaka, karena korupsi itu bukan  hak Allah, melainkan itu merupakan hak adami karena terkait dengan uang rakyat dan keduanya ialah niat dan tujuannya yang sangat meremehkan  fungsi puasa  yang akan menjadikan orang menjadi taqwa.

Tentu kita sudah tahu bahwa dosa kepada sesame manusia atau hak adami itu hanya akan terhapus jika sudah dimaafkan oleh manusia yang didlalimi atau disakiti tersebut. Kalaupun orang  senantiasa memohon kepada Allah bahkan di raudlah sekalipun dan dilakukan setiap minggu misalnya, tetap saja tidak akan pernah terhapus itu dosa karena itu hubungannya adalah sesame manusia atau itu merupakan hak adam, bukan hak Allah.  Nah, korupsi itu hak adam karena menyangkut uang rakyat, karena itulah kasus korupsi tidak akan mungkin diputihkan dengan hanya menjalani puasa semata.

Karena itu sebaiknya ketika kita berpuasa harus ada keinginan bahwa kita memang sedang bertobat untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan, sembari kita juga harus mengikutinya dengan membersihkan  salah kita terhadap sesame umat manusia.  Sudah barang tentu kita juga harus mau berusaha untuk  berbuat kebaikan yang akan  disayangi oleh Tuhan. Kalau Tuhan sudah saying kepada kita, jangankan hanya untuk menghapus dosa, untuk memutuskan apapun tentang kita pasti akan dilakukan oleh Nya.

Pendeknya Tuhan memang telah berjanji akan menghapus dosa dosa hamba Nya yang  menjalani puasa dengan baik dan benar, serta mampu menjaga segala anggota tubuhnya untuk ikut berpuasa.  Jadi puasanya bukan hanya sekdar  perutnya untukl tidak makan dan minum, sementara anggota badan yang lainnya masih tetap bebas melakukan apapun yang disukai.  Lebih dari itu dosa dosa yang akan diampuni tersebut juga hanya yang berkaitan dengan dosa kepada Allah, dan bukan yang terkait dengan dosa dengan sesame umat manusia.

Siapapun pasti akan menginginkan mendapatkan balasan pahala dari Tuhan, bahkan kalau mungkin  termasuk mendapatkan pahala yang sangat besar, karena itu memang  dimungkinkan, tetapi untuk mendapatkan semua itu tidaklah mudah, melainkan harus mau menjalankan puasa dengan benar sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh rasulullah Muhammad saw.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.