MARI MENJADI TAQWA

Secara formal kita semua tahu bahwa tujuan pua ialah agar pelakuknya menjadi taqwa, yakni manusia salih yang taat terhadap semua perintah dan menjalankannya serta menjauhi larangan.  Namun pengertian formal tersebut masgih banyk yang belum mampu mendapatkannya, yakni menjadio taqwa setelah selesai menjalani puasa.  Perintah Tuhan dalam alquran sangat jelas bahwa  tujuan berpuasa ialah agar menjadi manusi tang bertaqwa, yakni manusia ideal yang didambakan oleh semua pihak.

Pastinya untuk menjadi taqwa memang tidak mudah, karena kecenderungan manusia itu  biasanya terbalik dengan tujuan syariat, sehingga akan sangat sulit untuk memutarkan arah untuk mencapai tujuan yang baik.  Sebagai contohnya bahwa manusia itu cenderung untuk melakukan jhal hal yang  enak dan ringan, dan hal tersebut tentu bertentangan dengan perintah agama yang dirasakan secara umum tidak enak dan terasa berat, terkecuali bagi mereka yang sudah menghayatinya secara benar.

Jika taqwa itu identic dengan menjalankan shalat secara konsisten misalnya, maka itu akan terasa berat bagi  orang umum yang ingin bebas  dalam hidupnya.  Jika taqwa itu mengharuskan pada bulan Ramadlan harus menjalankan puasa selama satu bulan penuh, maka itu menjadis esuatu yang tidak ringan dan  tidak menyenangkan, sementara kalau hanya bebas dalam segala macam ,termasuk makan dan minum, maka itu akan sangat jauh dari kata taqwa.

Karena itu untuk menjadi taqwa sekali lagi ialah persoalan berat yang tidak semua orang mampu menjalaninya. Oleh karena itu perintah untuk ebrpuasa muaranya ialah juga agar menjadi taqwa, dengan dmeikian tanpa mau menjalani puasa  di bulan ramadlan itu berarti tyidak mungkin akan mencapai taqwa.  Sudah barang tentu bukan hanya puasa saja yang akan secara otomatis menjadikan seseorang taqwa, melainkan masih banyak prasyarat lainnya yang harus dijalani dengan seksama dan ketulusan.

Taqwa itu  sekaligus merupakan kondisi ideal  seseorang, sehingga dnegan kondisi tersebut dia akan senantiasa mengingat Tuhannya dalm setiap kesempatan, dia juga pasti akan memperhatikan kewajiban terhadap Tuhannya, dan  juga memperhatikan sesamanya  untuk diberikan pertolongan agar menjadi nyaman dan senang.  Demikian juga  dia harus  selalu menjaga dirinya untuk tidak terjerumus kepada persoalan yang bermuara  masalah bagi dirinya maupun pihak lain.

Dengan pendek kata taqwa itu ialah kondisi yang mengharuskan seseorang selalu menjaga dirinya untuk selalu dalam ketaatan penuh dan tidak berani untuk melanggar sedikitpun terhadap smeua ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan, bahkan dia akan selalu memperhatikan smeua hal yang dianjurkan untuk dilaksanakan dengan penuh ketulusan, baik yang terkait dengan persoalan individunya maupun yang terkait dengan  aspek social.

Nah, mumpung saat ini kita sedang menjalankan kewajiban puasa ramadalan yang salah satunya juga untuk mencapai derajat taqa, maka marui kita gunakan kesempatan ini untuk  latihan mendapatkan kataqwaan tesrebut meskipun belum dalam taraf yang sempurna.  Artinya selam menjalankan ibadah p[uasa kali ini, kita berusaha dengan seluruh kemampuan yang kita miliki untuk melakukan hal terbaik sesuai dengan  pandangan  syariat.

Beberapa  perbuatan baik tersebut ialah disamping menjalankan puasa dengan tulus dan menjauhi segala hal yang dapat mencederai puasa, kita juga berusaha untuk melakukan  yang terbaik, semacam  giat untuk tadarrus kitab suci, giat untuk  memberi dan sedekah, giat untuk menjalankan  shalat berjamaah, giat untuk shalat malam, giat untuk shalat dluha, giat untuk berdzikir kepada Allah swt, dan  giat dalam semua kegiatan baik lainnya.

Harus kita sadari bahwa untuk mencapai derajat taqwa sebagaimana yang diharapkan etrsebut memang harus dilakukan secara bertahap, bahkanmungkin harus menyita waktu yang cukup panjang, karena sifat taqwa itu sangat banyak dan akan sangat  mustakhil kita capai dalam sekali perjalanan ramadlan.  Karena itu kita memang harus menyusun strategi untuk  menjalankannya secara bertahap, dimulai dengan sesuatu yang menurut kita akan mudah kita lakukan.

Memang harus ada komitmen diri yang kuat, sebab semua  akan etrasa berat jika kita belum ada niat yang kuat, seperti misalnya kita merencanakan untuk melakukan  sedekah dan  tadarrus kita suci untuk tahun ini, maka itu akan etrasa ringan jika kita emmang berkomitmen kuat untuk mewujudkannya  dan keinghiann untuk menjadi taqwa yang sangat kuat.  Dengan begitu mulai bulan syawwal nanti kita harus membiasakan diri secara rutin untuk bersedekah, berapapun yang kita  lakukan dan juga  menyediakan waktu untuk tadarrus kitab suci.

Jika itu sudah mampu kita wujudkan rutin selama satu kemudian, maka pada ramadlan berikutnya kita juga harus merencanakan untuk meningkatkannya lebih baik,yakni menambah amalan lainnya tanp ahrus mengurangi atau mengorbankan amalan yang sudah kita jalani secara rutin selama satu tahun, dan begitu seterusnya.  Jika ini dapat kita lakukan, maka  derajat taqwa pastinya akan mampu kita gapai dengan sikap kita yang semakin membaik dan tulus dalam menjalani apapun juga.

Tanpa kita harus  berjibaku untuk mendapatkan kemuhan demi kemudahan insya Allah jika kita sudah mendapatkan derajat taqwa tersebut, Tuhan pasti akan membuat mudah hidup kita.  Janji Allah swt dalam kitab suci Nya ialah bahwa siapapun yang benar benar taqwa, maka Tuhan akan menjadikan jalan keluar bagi setiap masalah apapun yang dihadapinya dan akan memberinya  rizki dengan jalan yang tidak disangka sangkanya.  Artinya Allah akan mencukupi dirinya  sehingga dia tidak akan membutuhkan yang lainnya lagi.

Persoalannya ialah mampukah kita membuat perencanaan yang dmeikian tanpa harus mengurtangi kegiatan baik yang sudah kita jalankan?  Karena biasanya  orang itu akan segera bosan dengan kegiatan rutin yang  dilakukannya. Namun jika dia percaya bahwa hanya dengan jalan itulah kebahagiaan akan dapat digapaionya, maka semuanya akan terasa mudah dan Tuhan pastinya juga akan senantiasa memberikan pertolongan Nya.

Kalau kita yakin dengan status taqwa tersebut Tuhan akan mencukupinya, maka tentu orangb pasti akan tertarik untuk menjalaninya, namun persoalan yang biasanya terjadi ialah keyakinan tersebut hanya sebats di dalam lisan saja dan belum merasuk ke dalam hati dan jiwanya, sehingga tawqran yang menggiurkan sebesar apapun tidak akan mampu menggerakkan hatinya untuk menggapainya.

Lihatlah begaimana orang sudah sangat yakin bahwa siapapun yang bersedekah  dengan tulus, maka dia akan diberikan balasan sepuluh kali lipat, bahkan  dalam kesempatan lainnya akan dibalas dengan 700 kali lipat, namun sampai saat ini belum banyak yang tertarik dengan iming iming tersebut, sehingga keyakinan yang ada itu hanya sampai sebatas di liasan belaka dan belum meresap sampai hati dan jiwanya.

Namun bagi mereka yang sudah  meyakininya secara total, dan ini hanya sedikit saja, pasti akan tergerak terus untuk berbuat  yang dapat mendapatkan keuntungan bear etrsebut, yakni bersedwkah kepada merekl yang membutuhkan dengan rasa tulus tanpa pamrih apapun.  Tentu kita  hanya dapat menghitungnya dengan jari jumlah orang yang sudah menjalankan  kebajikan etrsebut, dan selebihnya masih dalam batas slogan dan anjuran semata.  Semoga kita memang dapat mewujudkan derajat taqwa tersebut dalam diri kita khususnya melalui puasa ramadlan yang kita jalani, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.