MEMBAYANGKAN RAMADLAN

Memang masih beberapa hari lagi untuk memasuki bulan suci Ramadlan, akan tetapi bagi mereka yang merindukannya, seolah tidak sabar menunggu waku tibanya.  Ada ketenangan tersendiri dalam jiwa jika kita sudah memasuki bulan suci tersebut, karena semuanya seolah larut dalam  suasana Ramadlan yang damai dan sedikitpun tidak menyisakan nuansa pertentangan dan perseteruan.  Kalaupun sebentra lagi akan digelar pilkada serentak di beberapa daerah di Indonesia, namun seolah semuanya menjadi terlupakan saat  Ramadlan tiba.

Namun demikian kita juga harus terus waspada karena boleh jadi pertentangan  pilkada  tersebut hanya sembunyai sebentar dan kemudian pada saatnya akan muncul dengan kekuatan yang lebih dahsyat.  Namun kita berharap bahwa  fungsi Ramadlan dan tuahnya akan mampu meredam semua yang bernuansa emosi, karena seharusnya hikmah puasa selama satu bulan penuh akan mampu mengendalikan nafsu kita dan menggantinya dengan sifat yang kasih, saying, toleran dan saling mengerti dan memahami keinginan pihak lain.

Demikian pula setelah puasa tersebut bukankah kita juga saling memaafkan untuk semua kesalahan dan kekhilafan yang ada.  Nah, karena bulan bulan tersebut merupakan bulan yang mengajak kita untuk berbuat kebaikan, maka kita tentu berharap bahwa  apapaun yang terjadi, termasuk pilkada yang segera akan digelar tetap dalam suasana yang sejuk tanpa keributan dan pertentangan.  Bukankah kita akan sangat rugi jika kebersihan yang sudah kita dapatkan tersebut harus kita kotori sendiri dengan ulah bodoh kita?.

Bayangan kita tentu tidak akan jauh dari kenyataan, karena didasarkan atas pengalaman bertahun tahun yang kita jalani saat Ramadlan.  Nah, dalam mempersiapkan me njemput Ramadlan kali ini kita harus benar benar pikirkan untuk berbuat yang terbaik dan juga  partisipasi kita untuk menciptakan pilkada serentak di daerah kita sedemikian tertib, damai dan menghasilkan pilihan rakyat yang memang benar benar tepat sehngga harapan untuk bisa sejahtera bersmaa memang benar benar dapat diraih.

Kita juga dapat membayangkan betapa umat muslim begitu senangnya tanpa beban yang harus dipikul mereka, karena Ramadlan akan dipenuhi oleh rahmat dan juga maghfirah Allah swt.  Lihatlah betapa mereka sangat senang dengan mendatangi tempat tempat diselenggarakannya tarawih bersama, baik di masjid, mushalla dan juga tempat tempat lainnya.  Muda mudi dan juga anak anak begitu gembiranya mengikuti shalat tarawih dan sekaligus mendapatkan tausiyah dari ustadz yang bertugas.

Meskipun kita masih menyayangkan  konsistensi mereka, terutama jika sudah mendekati akhir Ramadlan, rupanya  mereka mempunyai kesibukan tersendiri, yakni mempersiapkan hari raya  Idul fitri dan juga persiapa mudik dan lainnya.  Padahal Nabi  Muhammad saw sendiri telah memberikan  warning bahwa di sepuluh taerakhir Ramadlan itu ada keungungan yang lura biasa dan akan amat saying jika kita melewatkannya begitu saja.  Ada salah satu malam yang keutamaannya melebihi seribu bulan dan  dengan dmeikian amaliah yang kita kerjakan di dalamnya tengu akan mendapatkan balasan yang sangat luar biasa banyak.

Namun secara keseluruhan kalaupun para muda mudi dan anak anak menjadi berkirang semangatnya jika sudah mendekati akhir Ramadlan, namun kita tetp dapat berbangga karena nuansa Ramadlan telah mampu menciptakan kondisi yang begitu damai dan  mereka yang biasa ya suka tawuran juga berhenti dengan sendirinya saat memasuki Ramadlan.  Sekali lagi kita  terus berharap bahwa tuah Ramadlan akan memenuhi lingkungan kita sehingga tahun politik kali ini tidak akan dipengaruhi oleh nuansa perebuatan dan peftentangan yang hanya akan memeca belah umat saja, melainkan justru akan dipenuhi oleh suassana kekeluargaan dan persahabatan.

Sudah barang tentu kita  menjadi semakin yakin bahwa kondisi Ramdalan dan pasca Ramadlan akan jauh lebih tenang dan baik ketimbanga sebelumnya, karena kita juga gtahu dan menyaksikan sendiri bahwa umat muslm selalu melakukan kebajikan selama bulan suci tersebut.  Mereka yang biasanya malas membukan kitab suci, juga rajin membacanya, mereka yang biasanya enggan untuk melaksanakan shalat secara berjamaah, juga dengan begitu antusiasnya melakukannya di masjid atau mushalla yang ada. Demikian juga bagi mereka yang biasanya sangat pelit atau kikir, namaun kita saksikan betapa mereka kmudian menjadi dermawan.

Semua itu hanya berharap terhadap ganjaran di bulan suci yang akan dilipat gandakan oleh Allah swt.  Suasana yang baik tersebut tengunya juga akan mempengaruhi lingkungan dan perilaku masing masing orang.  Kalaupun masih ada yang melakukan kemaksiatan, maka kadarnya juga pasti berkurang.  Para koruptor yang biasnya bergentayangan dis etiap kesempatn, juga  merkea merasa tahu diri untuk tidak melakukannya pada bulan suci tersebut.  Bahkan  ada diantara mereka yang kemudian menjalankan ibadah umrah atau kebaikan lainnya.

Kita juga menyaksikan sendiri bahwa  pada malam malam ramadlan setiap masjid atau mushalla selalu saja diperdengarkan  bacaan alquran dan juga bacaan kitab kuning, dan smeua itu tentu ada tujuan yang ingin didapatkan yakni  mendapatkan pahala yang besar deari Tuhan dan sekaligus juga untuk mensyiarkan Islam sehingga siaapapun yang ada niat tidak baik, akan terssadarkan diri sehingga akan mengurungkan niat buruknya tersebut.

Meskipun kita juga menyaksikan betapa ada sebagian orang yang menjadi malas pada saat Ramadlan dengan alasan berpuasa, tetapi bagi mereka yang mengerti justru akan menujukkan  sesuatu yang lebih dan sekaligus membuktikan bahwa puasa itu tidak akan menghalagi orang untuk beraktifitas sebagaimana biasa, bahkan mungkin  malah akan lebih produktif.  Memang masih ada hal yang harus kita beritahukan dan informasikan kepada msayraakat luas bahwa puasa itu bukan merupakan hambatan bagi siapapun yag menjalankannya untuk ebrbuat yang labih baik.

Justru secara pandangan agama kita harus membuktikan bahwa dengan berpuasa tersebut kita akan lebih produktif dan akan lebih bersemangat untuk melakukan dan menyelesaikan pekerjaan kita.  Bukankah kita menyadari bahwa  bulan puasa adalah buulan terbaik untuk melakukan kabaikan, dan akan mendapatkan pahala yang lebih?. Lalu mengapa harus mengurangi semangat dan kinerja kita?  Kalua kita masih terkebk dalam kondisi demikian berarti kita belum mampu meresapi dan sekaligus mengamalkan  kebaikan dan  manfaat Ramadlan.

Mungkin kalau kita menuruti nafsu kita mungkin kita akan terjebak pada kelesuan karena  berpuasa, namun jika kita mampu memerangi nafsu kita sendiri,  insya Allah kita akan lebih bergairah untuk menjalankan aktifitas keseharian yang menjadi tanggung jawab  bagi kita.  Karena itu  mari kita pahami kondisi kita dan  kondisi dimana kita berada dengan sebaik baiknya, sehingga kita tidak akan menjadi pihak yang menyerah kepada keadaan, melaonkan justru kita akan memompa diri agar tidak terpengaruh dengan kondisi yang melingkupi kita.

Kalau hanya sekedar membayangkan saja kita akan mampu men jadikan diri kiyt asebagai pihak yanag seolah sudah berada di dalam hal yang kita bayangkan, apalagi jika nanti kita benar benar sudah berada di bulansuci yang penuh berkah tersebut, sudah pasti kita akan berbodng bonding dan berkompetisi untuk menjadi umat yang yterbaik, baik dalam hal ibadah mahdlah maupun dalam hal ibadh social dan lainnya.  Kita harus yakin bahwa kita akan mampu menjadi yang terbaik, dank arena itu kita harus mempersiapkan diri secara baik unuk menyongsong bulan suci tersebut. Semoga kita mampu meraih kebajikan yang ada di dalam ramadlan, amin

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.