BABAK BARU KONFLIK DI TUBUH GOLKAR?

Sebagaimana kita ketahui bahwa DPP partai Golkar sepakat untuk mengganti wakil ketua dari kadeer Golkar mahyudin dengan titik Soeharto, Namun ternyata rencana penggantia tersbeut tidak mulus sebagaimana diprediksi, karena  Mahyuidin yang akan digantikan tersbeut banggel dan akan melawan denagn alasan bahwa penggantian tersebut melanggar UU MD3 yang kalusulnya ialah  pimpinan MPR dapat diganti manakala, mengundurkan diri,  meninggal dunia atau  berhalangan tetap.

Sebagai ketum partai besar Airlangga hertanti tentu tidak mau  rencananya etrsebut gagal, karena itu dia terus melakukan usaha untuk mengegholkan hal tersebut, termasuk di dalamnya bertemu dengan ketua MPR yang kemudian mengatakan bahwa pergantian pimpinan MPR itu haknya golkar, karena itu emmang jatahnya pasti Golkar.  Namun rupanya apa yang dikatakan oleh ketua MPR tersebut  tidak didasari oleh alasan yang formal dan kuat, sehingga partai Golkar harus mencari cara agar rencana penggatian tersebut tetap berjalan tanpa menimbulkan huru hara.

Namun sayangnya  mahyudin tetap besikeras jika rencana tersbeut dipaksakan dia akan memprosesnya swecara hukum, apalagi kemudian sudah ada  contohnya, yakni Fahri hMazah yang melawan PKLS dan ternyata secara hukum memenangkannya.  Alaan mahyudin memang  secara formal ada tertulis dalam UU MD 3 yang sudah berlaku, karena itu golkar harus em,ncari jalan yang lebih damai dan tidak emnimbulkan konflik internal.

Apalagi kalau diingat baha pilkada dan pileg sudah di depan mata, lalu begaimana persiapannya  mengikuti pileg jika koflik internal malah timbul, bukannya merda sebagiaman saat pergantiamn kepemimpinan  beberap saat yang lalu.  Kalkulasi  politik yang dmeikian tentu juga pasti akan dipertimbangakn oleh para tokoh di dalamnya.  Karena itu kemudian dicarilah cara yang lebih menyejukkan.  Satu satu caranya ialah dengan mendekati mahyuddin agar mau mengundurkan diri, namun hal itu erupanya sulit, karena dia mengatakan tidak ada agenda mengundurkan diri.

Namun kita  sebagai orang luar terkadang harus mempercayai bahwa politik itu tidak hitam putih sehingga potensi untuk  islah juga pasti terbuka.  Kalau dengan jalan berhadap hadapan, justru akan semakin runyam. Apa yang dihimbaukan oleh salah seorang  ketua DPP  Ace hasan sadzili bahwa  seluruh kader harus tunduk kepada keputusan DPP, secara  teoritis dan nalar memang benar, namun kalau  persoaln pribadi sudah disentuh, terkadang akan dipertahnkan  sampai dimanapun.

Karena itu yang paling tepat ialah pendekatan langsung kepada mahyudin untuk  berdiksusi dari hati kehati, dan ketua umum tentu akan jauh lebih mandi atau manjur jika diskusi etrsebut dilakukan.  Kita yakin bahwa maslah ini  pasti akan mendapatkan jalan keluar, karena politik itu segala  serba mungkin, termasuk yang  paling sulit sekalipun.  Hanya saja  terkadang harus melalui proses yang cukup seru, tetapi endingnya  islah dan smeuanya menjadi  akur kembali.

Kita sangat yakin bahwa  para politisi partai Golkar  sudah  kaya dengan pengalaman dan tidak akan mungkin membiarkan konflik menjadi liar dan tidak terkendali yang hanya akan merugikan partai sendiri.  Lenih lebih jika diingat sudah dekatnya pemilu legislatif.  Aprtia ini sudah merasskan betapa  pahitnya menjadi  partai yang  hanya mendapatkan kepercayaan  sedikit dari masyarakat, padahal dahulunya menjadi partai terbesar.

Saya sendiri memang bukan pengamat politik dan juga bukan simpatisan partai politik, karena itu mungkin apa yang saya tulis ini sangat janggal di mata para pengamat dan politisi sendiri.  Saya hanyalah seorang akademisi yang  sedikit melihat bahwa  partai politik saat ini  memang terlalu gegabah dalam memutuskan sesuatu, tanpa dilambari oleh dasar yang kuat dan akurat  dari regulasi yang ada, sehingga akan mudah muncul konflik.

Jika konflik tersbeut menimpa banyak partai politik, maka yang akan dirugikan ialah rtakyat, karena bagaimanapun di negeri kita masih mengakui dan memberikan ruang yang besar bagi partai politik untuk berkiprah dan bahkan menentukan  sistem perjalanan negara.  Itulah yang menggerakkan saya untuk menulis ini dan bukan  karena saya  ahli dalam bidang pengamatan atau  mampu melakukan analisa politik.

Jika konflik yang sangat berpontensi mengacak acak partai ini  terus dibiarkan, buka tidak mungkin akan semakin membuat hurun hara perpolitikan di negeri ini semakin besar, namun jalan terbaik dalam masalah ini ialah jika mahyudin mau secara suka rela mengundurkan diri dari kursi wakil ketua MPR.  Untuk saat ini, apalagi dengan dibarengi  oleh pernyataan pernyatan dari para punggawa partai golkar yang menyudtkannya, tentu akan sangat sulit didaptkan.

Biasanya  jalan yang paling ampuh dengan dengan lobi politik yang mampu mencairkan suasana yang bagaimanapun.  Para tokoh pimpinan di partai etrsebut tentu tahu cara terbaik  utnuk menaklukkan salah satu kadernya, Mahyudin.  Atau  dengan cara membatalkan rencana mengganti wakil ketua MPR tersebut., meskipun  hal tersbeut tentu demi keutuhan partai, bukan dengan dasar emosi.

Wajar apabila di dalam partai pollitik di sana ada para loyalis  ketua  umum, baik yang sedang menjabat maupun yang lalu.  Dan kalau kemudian muncul analisa bahwa ketum yang saat ini ingin bersih bersih para loyalis ketum yang lama, maka itu akan menjadi senjata  lain dalam konflik ini.  Namun dalam politik hal tersebut menjadi sangat lumrah karena bagaimanapun ketum harus mendapatkan  loyalis yang akan mendukung setiap kebijakan yang dibuatnya.

Seharusnya  loyalis tersebut bukan kepada perorangan, melainkan kepada jabatan karena itu sungguh tidak  aneh jika  semua pengurus adalah loyalis, namun memang  dalam kenyataannya ada yang berbeda, karena sejarah pemilihan yang terjadi misalnya.  Pernyatan bahwa dalam politik itu tidak ada kaan dan sahabat  sejati dan ada adalah kepentingan, sehartusnya  semua menjadi loyal kepada pimpinannya.

Kita memang dibuat tidak mengerti terhadap konflik yang terjadi di partai, baik karena rebutan ketua umum, maupun karena rebutan kursi dan pengaruh terhadap kepengurusan.  Kita merasakan bahwa konflik di golkar kali ini  memang karena  kesalahan langkah yang ditempuh, yakni memtuskan sesuatu tanopa didasari oelh keyakinan bahwa  keputusan tersebut tidak akan mendapatkan tantangan dari manapun, dan kaduanya ialah karena sebelumnya tidak ada komunikasi denagn pihak yang akan diganti, sehingga  ada pihak yang merasa disepelkan.

Sekali lagi  kita sangat percaya bahwa konflik kali ini akan dapat dipecahkan dengan segara dan semuanya akan mulus.  Kepiawian para punggawa partai tentu tidak diragukan dalm kontekls pengalaman, dan  polituisi semacam mahyudin yang sudah berpengalaman dalam politik tentu juga akan berpikir ulang jika tertus berhadapan dengan partainya sendiri.  Nah, ini smeua sebagai  alasan mengapa saya memberanikan diri menyimpulkan bahwa konflik ini akan segera mendapatkan jalan keluarnya.

Namun jika  langkah yang diambil salah dan malah dengan cara yang  dianggap menyentuh diri mahyudin, tentu koflik ini akan semakin besar dan mungkin juga akan panjang, karena kalau sudah masuk  ranah hukum, amkak itu jalannya  sangat panjang.  Kalau itu yang terjaid maka golkar yang akan rugi besar karena  akan ditinggalkan para pemilihnya.  Wallahu a’lam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.