NGURI URI LEMBAGA KEUANGAN MICRO

Mungkin bagi sebagian orang  tidak akan pernah memikirkan betapa pentingnay lembaga ekonomi dan juga keuangan mikro, karena disamping memang tidak fokus juga disebabkan biasanya  orang akan lebih menyukai menjadi konsumen ketimbang produsen dan atau pengusaha atau pelaku usaha.  Akibatnya banyak orang mengabaikan dan tidak peduli dengan lembaga ekonomi dan atau keuangan mikro tersebut.  Padahal itulah yang selama ini menghidupkan perekonomian kita.

Jika seseorang memang tidak mempunyai latar belakang dan pengertian mengenai kewirausahaan biasanya memang tidak dapat merasakan betapa pentingnya lembaga kecil tersebut yangkemudian menyangga lembaga yang lebih besar.  Kalau hal tersebut terus menerus berjalan tanpa ada upaya untuk memperbaikinya atau tanpa ada usaha untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya persoalan ini, boleh jadi pada saatnya nanti tinggal hitungan jari yang masih dapat bertahan dalam dunia ini.

Kita harus terus mendorong mereka yang saat ini menggeluti bidang ini, terutama pemerintah khususnya dalam bidang regulasi yang biasanya justruu menjadi hambatan bagi mereka.  Perijinan menjadi semakin ruwet dan berbelit, padahal presiden sendiri sudah berusaha untuk melakukan deregulasi besar besaran, namujn prakteknya di lapangan masih saja terjadi kesulitan yang luar biasa.  Bahkan tidak saja mempermudah regulasi dan perijinan, namun diharapkan juga akan dipermudah  pelaksanaan usahanya itu sendiri, dan juga penyediaan barang baku yang dibutuhkan.

Pengusaha pengusaha kecil dan mungkin juag menengah harus terus disupport agar mereka mampu mengembangkan diri dan usahanya etrsebut dan bukan malah semakin menyusut karena desakan dari berbagai pihak yang tidak berpihak kepada pengusaha kecil tersebut.  Pengusaha besar harus didorong dan bahkan diwajibakan untuk membimbing dan membantu pengusaha kecil, bukan malah sebaliknya mengeksploitasi mereka sehingga mereka menjadi  bergantung sepenuhnya kepada pengusaha besar.  Pada akhirnya para pengusaha kecil tidak mampu mengembangkan usahanya sendiri.

Demikian juga dengan lembnaga keuangan mikro seperti koperasi dan juga secara khusus, BMT yang selama ini tidak mudah untuk mengembangkan dirinya menjadi lebih besar, karena berbagai faktor yang menghadangnya.  Beberapa regulasi bukannya lebih memudahkan bagi usaha tersebut, melainkan jutru semakin mempersulitnya.  Kita akan sangat yakin bilamana regulasinya diubah sedemikian rupa yang menguntungkan dan memungkinkan bagi  mereka untuk memperbesar kiprahnya,  mungkin akan lain ceritanya.

Bahkan saat ini sudah banyak  koperqasi dan juga BMT yang gulung tikar dan tidak lagi mampu menghidupkan dirinya.  Seharusnya secara teoritik kioperasi dan BMT akan dapat bertahan dan  bahkan memajukan dan mengembangkan dirinya, namun dalam kenyataanya hal tersebut menjadi sulit karena  persoalan eksternal yang tidak mampu diterobos oleh para pengelolanya.  Bayangkan saja  usaha yang dengan semboyan dari oleh dan untuk mereka sendiri dapat merugi dan bangrut.  Hal tesebut tentu ada beberapa faktor yang menyertainya

Salah satunya ialah mengenai kesadaran para anggotanya untuk membesarkan koperasi atau BMT nya.  Kalau para anggotanya yang diharapkan akan mampu mengembangkan koperasi, kalau kemudian sama sekali tidak mempedulikannya, pastilah koperasi tersebut akan mati. Kelangsungan hidup sebuah koperasi  itu ialah disebabkan bahwa para anggotanya merasa memiliki  dan bertanggung jawab atas keberlangsungannya.

Jika koperasi tersebut berbentuk toko, maka  para anggotanyalah yang berkewajiban belanja sehingga koperasi akan mendapatkan keuntungan dan itu smeua juga akan kembali kepada para anggota. Jika koperasi etrsebut ialah simpan pinjam, maka para anggotanya  harus meminjam dan menyimpan uangnya di koperasi, bukan malah dibank atau di tempat lainnya, karena kalau  di kiopersasi maka  yang akan mendapatkan keuntungan ialah diri sendiri, bukan pihak lain.  Hanya saja  memang  kondisi seperti ini belum dihayati oleg  para anggota, sehingga masih sulit untuk mengharapkan kesadaran mereka.

Mungkin juga penyebabnya  ialah tentang pengelolanya yang tidak mampu mengelola dengan baik, dan hanya mengandalkan cara lama yang tidak emmbuat orang meilirik tokonya.  Jika koperasi berupa toko, sudah seharusnya pengelolanya akan selalu  mengembangkan bagaimana caranya agar isi toko sesuai dengan selera pasar dan juga para anggotanya, bahkan seringkali mengadakan sem,acamk survey kepada para anggotanya untuk mengethui kecenderungan mereka berbelanja.

Hasil survey tersebut kemudian dilakukan pembenahan dan penambahan barang yang diinginkan oleh para anggotanya, lalu juga desain  tokonya  di buat sedemikian rupa sehingga menyenangkan dan membuat siapapun yang berbelanja di situ akan kerasan.  Memang ini  tidak mudah, akan tetapi jika diseriusi, pasti akan dapat dilakukan.  Bahkan kalau  para pengurusnya tidak mampu untuk menjalankannsendiri usahanya etrsebut, mereka dapat pula mengangkat pegawai dan juga meneger yang digaji sesuai dengan kondisi yang ada.

Keprofesionalan tentu harus menjadi aspek yang utama sehingga smeuanya akan dapat diprediksi dan bahkan ditarget.  Memang sudah saatnya semua harus dilakukan secara progesional dan bukan dengan cara biasa saja atau amatyiran yang hanya akan menghabiskan waktu tetapi tidak menghasilkan apa apa.  Penguruas harus berani untuk emmbuat terobosan dan melakukan usaha yang inovatif sehingga pada saat tertentu dapat dihasilkan sesuatu yang diharapkan, dan bukan dengan cara menunggu bola datang sendiri.

Tidak ubahnya dengan lembaga keuangan  mikro seperti BMT yang juga membutuhkan penanganan yang profesional dan cepat, sehingga kemajuan dan perkembangannya akan dapat segera dilihat.  Faktor keberanian memang menjadi faktor utama, tetapi kebernian tersbeut harus tetap juga dibarengi dengan pertimbangan dna kehati hatian, karena kalau keberanian didasarkan atas  perasan saja itu sama dengan ngawur dan pasti akan lebih banyak ruginya ketimbang untungnya.

Mungkin para pengurus harus mau belajar jkepada  yang lain dan keberanian tetap harus dimunculkan dengan resiko  yang sudah diperhitungkan.  Sebab jika tidak berani untuk mengambiol resiko, maka selamanya tidak akan pernah ada kemajuan.  Kalaupun ada kemajuan maka itu hanya sedikit saja dan secara linier semata, dan sama sekali tidak ada yang spektakuler.  Jika  para pengelola berani dengan perhitungan yang matang, sangat mungkin pada saatnya akan dapat memperoleh keuntungan yang berlebih.

Barangkali untuk BMT kepengrusannya tidak  selalu berganti, karena hal itu akan mengurangi efektifitasnya, karena yang lebih penting ialah bagaimana pertanggung jawabannya dan  seberapa dapat menghasilkan SHU atau keuntungan secara umum.  Bagiamanapun  koperasi atau BMT  tujuannya ialah untuk mensejahterakan  seluruh anggotanya, karena itu sudah saatnya  kita semua menyadarkan sleuruh anggota dan juga para calon anggota untuk bergabung dan memajukan yang sudah ada.

Mungkin diantara para anggota ada yang ingin bergabung menjadi pengurus, maka dipersilahkan untuk mendaftar dan kemusian juga harus membuktikan dirinya mampu dan mau bekerja untuk kepentingan lembaga, dan bukan hanya ingin mendapatkan keuntungan secara pribadi semata.  Pada umumnya masyarakat hanya ingin enaknya saja, yakni pada masa wal pendirian, mereka pada menghindar karena takut resiko dan memang tidks mau berkja keras untuk memajukan lembaga, namun begitu tahu ada keuntungannya yang dianggap cukup lumayan, maka kemudian berbondong bondong untuk merebutnya.

Itulah kelemahan yang ada pada kebanyakan diantara kita.  Untuk itu sebaiknya  kita memang selalu mewaspadai segala sesuatu, sehingga kita tidak akan mengoba=rbankan lembaga juga sekaligus tidak akan merugikannya.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.